
•••
2 bulan kemudian...
Hari ini, Tepatnya hari dimana seorang Adirga Cahya Edlyn, menyandang gelar seorang suami. Dirga memejamkan matanya, sebelum mengucapkan kalimat sakral yang membuat seorang Gadis yang tidak ia cintai menyandang gelar sebagai Istrinya.
Ketika kata Sah terucap dari mulut para saksi yang ada di sana, Dirga menghembuskan nafas berat. Menatap sekelilingnya, hingga matanya bertubrukan pada mata elang seorang Adriano. Tubuh pria itu kaku sejenak, kemudian melemparkan senyum pada Adrian, namun sayangnya dibalas hanya tatapan tajam dan sinis.
Dirga menghampiri dua pasang suami istri itu. Vanya memeluk Dirga, menyuruh Dirga untuk menjauhi Casha. Dirga menolak mentah-mentah, membuat Adrian geram. Pria paruh baya itu tanpa segan menyeret Dirga menjauh dari keramaian, Vanya memekik kaget melihat tingkah suaminya.
Dirga pasrah saat kepalan tangan Adrian kembali melayang di wajahnya. Matanya memejam, merasakan perih akibat pukulan dari Adrian.
"Maaf om. Om bisa pukul saya, sebanyak om mau. Tapi jangan menyuruh saya untuk menjauhi putri om, Saya tidak bisa." Final Dirga. Adrian tidak peduli.
"Maka bersiaplah, karena saya akan memberitahu Casha," Ancam Adrian, Dirga tersentak. Kemudian menatap Adrian tidak percaya.
"Om, saya mohon. Saya mohon, sama Om jangan suruh saya menjauh dari Casha, saya tidak bisa Om," ujar Dirga. Adrian menghela napas, kali ini ia memikirkan perasaan putrinya jika Dirga menjauh darinya.
"Satu bulan. Setelah itu temui putriku, seperti biasanya." Setelah mengatakan itu, Adrian menarik lembut pergelangan Vanya lalu meninggalkan tempat itu.
Dirga menghela napas dan tersenyum, Bahagia karena Adrian masih memberinya kesempatan. Ia sangat berharap, pernikahannya tidak bertahan lama. Sebuah tangan mungil menyentuh pundak Dirga, Dirga berbalik dan mendapati wajah cantik Cishi, tapi lebih cantik Casha.
"Itu Mami sama Papi aku, dia di undang?" tanya Cishi. Dirga tidak menjawab, pria itu hanya berlalu dari hadapan Cishi. Sakit, melihat wajah Cishi yang begitu mirip dengan Casha.
Cishi menghela napas, takut jika Papi sama Maminya berencana menghancurkan pernikahannya. Ia begitu berharap, pernikahannya langgeng hingga mereka berdua menghembuskan napas terakhir.
Pestanya berlalu begitu cepat, Dirga dan Cishi berada dalam satu kamar. Namun tidak seranjang. Sebenarnya Cishi ingin protes, namun kalah telak oleh Dirga yang menatapnya tajam.
Dirga sudah mengganti pakaiannya, berbeda dengan Cishi yang masih berusaha melepas hiasannya. Dirga membuka ponselnya, menghubungi nomor seorang gadis. Tak lama kemudian wajah gadis itu muncul, wajahnya cemberut membuat Dirga tertawa.
"Jangan ketawa ih,"
"Kenapa cemberut kayak gitu, hm?" tanya Dirga sata berhasil menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa baru nelpon? dari mana aja? aku nungguin kamu tau, ih," wajah kesal milik Casha terpampang jelas, Rasanya Dirga ingin memeluk gadisnya, menenangkan gadisnya agar tidak cemberut seperti itu.
"Aku banyak kerjaan, sayang. Kenapa kamu gak nelpon duluan?" Goda Dirga, Casha tersenyum malu.
"Gengsi dong," Casha berucap demikian dengan semburat merah yang ada di pipinya.
"Ih pipinya merah tuh," Goda Dirga, Casha langsung memalingkan wajahnya dari kamera. Dirga terbahak-bahak, dengan tingkah Casha yang begitu menggemaskan.
Sedangkan Cishi, yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka berdua merasakan hawa di kamarnya panas. Gadis itu merasa di khianati, karena suaminya berhubungan dengan wanita lain. Namun ia harus sadar, Wanita yang ia maksud itu adalah kekasih Dirga, Wanita yang lebih dulu mengenal Dirga sebelum dirinya.
Cishi beranjak dari sana, Tidak ingin merasakan sakit lagi. Dirga yang melihat itu tidak peduli. Ia lebih fokus pada gadisnya yang tampak menggemaskan, dengan wajahnya yang memerah.
"Tidur sana," ucap Dirga. Bibir Casha mengerucut, tidak terima dengan perintah Dirga.
"Masih mau telponan,"
"Besok kan masih bisa, sayang." ucap Dirga gemas, Casha tertawa.
"Besok kan kamu kerja. Kamu sekarang selalu hubungin aku, kalau malam aja." Dirga bisa melihat, bibir gadisnya yang masih bergerak. Dirga yakin gadisnya itu, mencibir dirinya.
"Gak mau,"
"Ih gak asik,"
"Biarin."
Dan seterusnya, hingga mereka tertidur tanpa mematikan sambungan telpon mereka berdua. Cishi masuk, menatap Dirga yang sudah terlelap dengan ponsel yang masih di genggamannya. Saat hendak mengambil ponsel Dirga, Cishi terdiam, menatap gadis yang mirip dengannya, benar-benar mirip.
Cishi membatalkan niatnya mengambil ponsel Dirga, merasa tidak enak karena sambungan telpon mereka masih terhubung, Gadis itu memutuskan untuk mengambil bantal dan tidur di sofa. Sejenak, mata gadis itu tidak bisa terpejam. Memikirkan pernikahan mereka berdua, kedepannya akan seperti apa.
***
Matahari menyambut pagi hari ini. Cahayanya masuk ke celah-celah jendela yang masih belum terbuka. Suara cempreng dari sambungan telepon yang semalam belum mati, begitu berisik.
__ADS_1
Baik Cishi maupun Dirga terbangun. Dirga menatap jam di dinding, lalu menatap ponselnya. Menampilkan gadisnya yang sibuk ke sana kemari mencari barangnya yang hilang. Dirga, dengan muka bantalnya menggelengkan kepalanya.
"Cari apa sayang?" tanya Dirga dengan suara seraknya. Dapat Dirga lihat, kegiatan Casha terhenti sekejap lalu kembali bergerak. Casha menghampiri ponselnya lalu menunjukkan kerah bajunya tanpa dasi. Dirga mengangguk mengerti.
"Coba cari di topi kamu," ujar Dirga. Casha mengangguk patuh, dan dapat. Casha berjingkrak kesenangan, lalu mengucapkan terimakasih berkali-kali pada Dirga.
"Hati-hati yah, sekolahnya. Jangan bolos," peringat Dirga. Casha hanya menampilkan deretan giginya yang rapi.
Cishi kembali merasakan sesak itu, ini masih pagi namun Dirga sudah memberikannya rasa sakit yang begitu luar biasa. Bahkan secara terang-terangan Dirga menunjukkan bahwa dirinya selingkuh. Cishi bangkit, menyambar handuk dan hendak ke kamar mandi namun di tahan oleh Dirga. Mata Dirga bergerak, memberi isyarat agar Cishi mandi di luar. Cishi yang mengerti hanya bisa mengangguk patuh.
"Mami Papi Casha berangkat ya, Bye." Spontan Dirga menutup telinganya mendengar teriakan gadisnya di seberang sana. Wajah Casha nampak berseri-seri, membuat Dirga merasa tidak enak jika suatu saat nanti Casha mengetahui semuanya.
Dirga masih mengamati wajah cantik Casha, matanya mengernyit melihat ada olesan make up di wajah cantik kekasihnya.
"Kenapa pake make up?" tanya Dirga. Casha menatap ponselnya, lupa jika sambungan mereka masih terhubung.
"Aku gak pake, Make up," Gadis itu berkilah, Dirga mengangguk, memilih mengalah. Tidak ingin wajah bahagia kasihnya berganti menjadi wajah murung dan cemberut.
"Iya. Aku lupa, sayangnya Dirga kan cantiknya natural," ujar Dirga, wajah Casha kembali memerah.
"Om gombal,"
"Aku serius, sayang." ucap Dirga. Casha mengangguk dengan wajahnya yang masih memerah, menahan malu. Dirga ini memang pintar, membuat wajah Casha memerah.
"Om, telpon aku bentar ya. Bye Om, Casha sayang Om," Ucap Casha sebelum mematikan sambungan telpon mereka.
Niatnya Casha ingin melanjutkan telpon mereka, namun saat guru masuk. Casha membatalkan itu semua, karena Saat ini Casha harus menjadi anak kalem.
***
**Bersambung....
Yah! kaget ga ni, aku update cepat hahahha.
__ADS_1
Lagi sedih nih, viewer nya dikit hiks. Jadi males lanjutin😟 tapi mikir lagi ekhm. kasih end aja lah ya walaupun viewer nya dikit**