
Happy reading!🐎
***
Saat ini Casha sedang ada di depan lapangan. Gadis itu berdiri didepan tiang bendera, Yap. gadis itu di hukum. Tau kan betapa ketatnya sekolah high school.
Beberapa kali gadis itu terus menguap, hingga tiba-tiba ia terjatuh. bukan, bukan karena gadis itu pingsan, melainkan tertidur.
Seorang pria datang, mengangkat tubuh Casha. Pria itu membawa Casha ke unit kesehatan sekolah, atau yang biasa di sebut UKS. Dengan pelan, pria itu meletakkan badan milik Casha di brankar.
Pria itu tersenyum tipis melihat, Casha yang tertidur. Sangat damai.
****
Saat ini, Cishi menatap seorang pria di sampingnya. Dirga? iya pria itu. Mereka berdua berangkat bersama-sama ke sekolah Casha. Cishi yang awalnya risih, kini menjadi sangat nyaman.
Meski sekolah Casha tidak sebagus sekolahnya, tapi ia harus bahagia. Vano dan Sandra begitu menyayangi Casha, dan Cishi senang akan hal itu. Belum lagi Dirga.
Cishi berjalan di lapangan, banyak pasang mata yang melihat Cishi. Oh tentu, itu karena Cishi. Penampilan Cishi yang sangat Feminim.
Ares datang, masih kenal dengan Ares? iya sahabat Casha. Pemuda itu meneliti penampilan Cishi dari atas hingga bawah. Cishi risih, bahkan sangat risih.
"Wow. Ada apa gerangan seorang Cashandra tiba-tiba menjadi wanita Feminim," ucap Ares. Pemuda itu menatap Cishi, iya jelas ada yang beda. Mata hitam itu bukan milik Casha.
"Lo bukan Casha?" tanya Ares, Cishi menelan salivanya susah payah.
"A-ku eh Gue Casha," ucap Cishi terbata-bata. Ares masih tidak percaya.
"Lo tau, gue kenal Casha dari kita lahir sampai saat ini, dan gue tahu betul Casha itu orangnya seperti apa, dan Lo bukan Casha," Tegas Ares. Pemuda itu pergi dari hadapan Cishi.
"Kehidupan Casha benar-benar unik," Gumam Cishi. Gadis itu berjalan menuju kelas Casha.
Kali pertama yang ia dapat adalah, tatapan aneh dari teman-temannya. Jelas, karena seorang Casha tidak pernah datang secepat itu, dan penampilan Casha tidak pernah se feminim itu.
"Gila. Mimpi apa gue semalem, seorang Casha berpenampilan seperti kutu buku sekarang," ucap Salah satu teman kelas Casha. Cishi menunduk, jujur ia tidak sekuat Casha jika sudah berhadapan dengan orang yang suka membully.
"Diem lo Sha, biasanya lo yang paling cerewet," ucap Teman Casha lainnya. Cishi meringis, memberanikan dirinya menatap teman kelasnya.
"Gak mood, G-gue," ucap Cishi. Terbata-bata saat harus mengubah kosa katanya.
Mereka semua ber-oh ria saja, lalu kembali ke tempat duduknya saat guru sudah masuk. Cishi masih menundukkan kepalanya. Kepalanya sakit, karena pelajaran Casha. yang begitu rumit.
"Kamu kenapa Casha?" tanya guru itu, Cishi mendongak. lalu menggeleng.
"Tidak apa-apa bu, saya cuman sakit kepala," ucap Cishi. guru itu mengangguk, Cishi terpengarah. Mana ada seorang guru biarin muridnya kesakitan.
****
Dirga, nama pria itu. Saat ini ia sedang berkutat dengan laptopnya dan mencari sesuatu. Ia mencari sesuatu tentang casha, tunangannya.
Dan selama dua hari, tidak tidur. Akhirnya ia menemukan sesuatu, Mata Pria itu membulat saat melihat kebenarannya.
__ADS_1
Seorang pengusaha ternama, Adriano Holder kehilangan salah satu putrinya. Putri sulung, Adriano di nyatakan hilang saat usianya masih dua bulan.
Cashandra Amuella, Nama putri sulung dari seorang pengusaha ternama itu dinyatakan hilang.
Berfikir-berfikir dan Yah! Dirga menemukan sesuatu, Foto bayi kembar di akun seorang Adriano Holder. Ia menatap bayi itu, sangat mirip yang membedakan mereka adalah Mata, Senyum dan tanda lahir.
Seorang Cishandra Imuella memiliki tanda lahir di telapak tangannya, sedangkan Cashandra Amuella memiliki tanda lahir di telapak kakinya. Warna mata Casha cokelat dan cishi hitam. Senyum Casha mirip Adriano dan Cishi mirip Vanya.
Dirga kembali menerawang, tampilan casha yang ia temui tempo hari berbeda, terkesan feminim dan suaranya lembut sedangkan Casha urakan, dan suaranya tidak selembut Cishi. Mata Casha saat pertama kali mereka bertemu adalah Cokelat dan sekarang hitam. Senyum mereka juga berbeda. Dirga mengangguk mengerti.
Ia beranjak dari kursi kebesarannya, berusaha menemui Casha. Jujur, Dirga tidak suka dengan Cishi yang terlalu manja dan Naif.
"Dimana kamu Casha," ucap Dirga. Pria itu mengendarai mobilnya, menuju kediaman Holder.
Saat sampai di sana, Tidak ada siapapun kecuali para pelayan di rumah itu. Dirga merasa kecewa, namun Bi Sum mengatakan bahwa Nona Cishi sebentar lagi akan pulang, Dirga memutuskan untuk menunggu.
Beberapa jam menunggu Akhirnya, Casha kembali. Gadis itu dengan sempoyongan memasuki rumahnya. Ia dikejutkan dengan keberadaan Dirga.
Dirga berbalik menatap Casha, Dirga merindukan Kecerewetan gadis itu. Saat akan memeluk Casha, Casha mundur, Dirga mendesah kecewa.
"Siapa lo?" tanya Casha, pura-pura tidak tahu. Dirga menatap Casha yang sedang ber-akting.
"Jika sama orang lain, kamu bisa memalsukan Dirimu Casha. Tapi tidak dengan saya," suara berat itu, Casha sangat merindukannya. Casha menelan salivanya susah payah saat Dirga berjalan kearahnya.
"Saya merindukanmu. Kenapa pergi dan bertukar posisi dengan Saudara kembar kamu?" tanya Dirga. Matanya masih menatap Mata cokelat milik Casha.
"Apa segitu tidak inginnya kamu menikah dengan Saya Casha?" tanya Dirga lagi. Kali ini matanya Memerah, Dada pria itu sesak. Casha menggeleng.
"Saya merindukan panggilan om, itu pada Saya," ucap Dirga sembari terkekeh kecil. Wajah Casha memerah bak kepiting rebus.
"Tidak om. Kami berdua bertukar secara tidak sengaja, Saat itu aku berlari menjauh dari Om, tiba-tiba ada Papi Adrian yang menganggap saya sebagai Cishi," Jelas Casha. Mata nya berkaca-kaca. Dengan sigap Dirga memeluk Casha, menenangkan gadisnya.
"Maaf kan Saya, jika hari it-
Casha menaruh jari telunjuknya tepat dibibir Dirga, Dirga terdiam. "Sstt...Om tidak perlu menyalahkan diri Om, ini Salah Casha juga yang terlalu cerewet," ucap Casha. Dirga terkekeh. Lalu memeluk kembali gadis itu.
"Iya kamu memanh cerewet. Gadis nakal yang cerewet," ucap Dirga. Menikmati pelukan rindu mereka berdua.
"Kamu tidak merindukan saya?" tanya Dirga. Casha menggeleng.
"Om sok tau," Elak Casha. Dirga tertawa.
"Kamu belum mengatakan pada saya, kalau kamu merindukan saya," ucap Dirga. Mulut Casha terkatup. Kenapa pria di hadapannya sekarang berubah jadi manja.
"Casha sangat merindukan Om. Lebih dari rindu om," ucap Casha. Gadis itu spontan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Dirga. Dirga terkekeh kecil, lalu mencium pucuk kepala Casha.
"Akh..kamu sangat lucu, gadis nakal," ucap Dirga. Casha semakin mengeratkan pelukannya.
Masih berpelukan, Adrian dan Vanya yang sudah datang tampak Shock melihat penampakan di depannya. Matanya Vanya membulat, kecuali Adrian.
"Lepaskan putri saya," suara Datar dan dingin itu menyentak pasangan itu. Casha menundukkan kepalanya, sedangkan Dirga menatap mata elang milik Adrian. Adrian menarik Casha untuk berdiri disampingnya, Dirga hendak protes namun di bungkam dengan perkataan Adrian.
__ADS_1
"Jadi tuan Edlyn, ada hubungan apa kau dengan putriku?" Tanya Adrian dingin. Vanya masih terdiam.
"Tunangan," Balas Dirga tak kalah dingin dan singkat. Vanya semakin terkejut dibuatnya. Vanya hendak pingsan namun di tahan oleh Casha yang dengan cepat menahan tubuh maminya.
"Mami tidak apa-apa?" tanya Casha. Vanya mengangguk. Adrian menghela nafas kasar. Vanya menatap Datar Dirga.
"Atas dasar apa kamu menganggap putriku, Cishi adalah tunangan kamu?" tanya Vanya. Dirga menatap Wanita itu sambil menunjukkan cincin yang ada di jari manisnya dengan jari manis Casha. Vanya terkejut lagi.
"Kenapa kalian tunangan secepat itu? Kamu tahu putriku masih sekolah," ucap Adrian. Dirga mengangguk.
"Keluarga angkat Casha juga mengatakan hal seperti itu, saat kami akan bertunangan. Tapi kakek ku mengatakan bahwa kami hanya bertunangan, menikahnya nanti saja dulu," ucap Dirga tenang. Adrian menghela nafas berat, saat Dirga menyebut nama Casha.
"Casha?" ucap Vanya. Vanya menatap Casha dengan seksama, "Kami Casha? putriku?" Tanya Vanua pada Casha. Casha mengangguk ragu, Vanya langsung memeluk Casha.
"Oh putriku, mami merindukan mu. Sangat," ucap Vanya. Casha mengangguk.
"Saya tidak akan membiarkan mu mendekati putriku begitu saja," ucap Adriano. Dirga menaikkan alisnya, bertanya kenapa.
"Setahu saya, Untuk saat ini kalian belum memiliki hak tentang Casha," ucap Dirga. Adrian menatap Dirga tajam, berani sekali pria ini, batin Adrian.
"Berani sekali kau," geram Adrian. Casha mengentikan kepalan tangan Adrian sebelum mengenai wajah Dirga.
"Jangan menyentuh Dirga, setitik saja wajahnya ada bekal pukulan dari Papi, Casha tidak akan tinggal disini lagi," ancam Casha. Adrian mengalah, melupakan satu hal jika putrinya itu mencintai pria di hadapannya ini.
"Fine! kamu boleh pergi," usir Adrian pada Dirga. Dirga mengangguk.
"Setelah saya mengajak Casha jalan-jalan," ucap Dirga. kemudian menarik tangan Casha. Mata Casha berbinar, lalu pamit pada Adrian dan Vanya.
"Mami, papi. Casha pamit ya, janji gak akan pulang malam," ucap Casha. Adrian menghela nafas lagi.
"Mas kenapa gak bilang sama aku kalau itu Casha," ucap Vanya protes.
"Aku sudah pernah bilang," balas Adrian singkat.
"Mas gak bilang. Mas hanya bilang untuk perbaiki sikap aku terhadap Cishi, padahal itu adalah Casha," ucap Vanya tidak terima.
"Vanya," Adrian memegang pundak Vanya. " Casha berbeda dengan Cishi. Dia anak yang paling ku sayang, begitupun dengan kamu," ucap Adrian. Vanya mengangguk.
"Mas, bukti sayangku ke Casha itu tidak palsu. Itu beneran, aku tahu kalau aku ibu yang jahat. Pilih kasih, tapi jika tentang Casha, tidak ada yang palsu mas," ucap Vanya. Adrian mengangguk lalu memeluk istrinya.
"Buat dia senyaman mungkin, dan jangan terlalu mengekang dia," ucap Adrian. Vanya mengangguk.
"Aku mencintaimu, Mas."
"Mas juga. Sangat,"
****
**Bersambung....
Bertemu lagi guyss, hahaha. Niat hati mau update besok tapi tangan ku gatel banget kalau gak ngetik, jadi yaudah hari ini aja aku update.
__ADS_1
thank you, see you next time and day🐎**