Deadly Fear (The Warrior)

Deadly Fear (The Warrior)
chapter 2


__ADS_3

"Apa yang harus kita lakukan kak? Kita tak tau tempatnya.." aku memandang kakak dari sudut cahaya yang temaram.


Kakak yang terdiam sedari tadi tampak berpikir, lalu berkata. "Sepertinya kakak sedikit ingat, kakak pernah melihat ayah masuk kesana. Tapi itu sudah lama sekali." ah tak mungkin kakak masih mengingat detail tempat nya dengan jelas, Tak ada pilihan lain kami harus mencari ruangan itu.


Menemukan sebuah ruang bawah tanah apakah sesulit ini? Sudah hampir sejam kami mengelilingi ruangan dirumah ini, tapi tak menemukannya, mungkinkah ruang bawah tanah itu benar benar tersembunyi atau memiliki sihir yang bisa membuatnya tak terlihat?


Bila benar mantra apa yang harus kami gunakan untuk membuka sihir itu.


Hah sungguh konyol.


"Dulu kakak melihatnya disekitar sini" kakak menunjuk kelantai dibawah meja bekas yang tak terpakai di gudang.


Yaah terlihat sangat tersembunyi bahkan kami dilarang masuk ke gudang, aku juga pernah beberapa kali melihat ayah ke sini.


Kakak menggeser meja bekas itu perlahan sedangkan aku memegang senter, suara decitan dari meja membuat gigiku ngilu.


"apakah itu pintunya kak?" kataku tak yakin.


Kami membersihkan debu di lantai, walaupun debunya hilang lantai itu sama sekali tak terlihat seperti pintu. untuk membuktikan bahwa lantai itu beneran pintu bawah tanah, kami mendorong lantai itu tapi tidak mau terbuka.


aku sangat letih, ku sandarkan badanku di dinding "sepertinya bukan ini kak" aku melihat kakak yang terus berusaha membuka lantai itu, yah usahanya tak sia sia. lantai itu terbuka. lalu terlihat anak tangga menuruni ruangan bawah tanah. "bagaimana cara kakak membukanya?" kakak menyeringai sombong. "dasar" kataku membuang wajah.

__ADS_1


"yuk turun" kata kakak lalu melangkah masuk kedalam ruangan bawah tanah dan aku mengikutinya, pintu diatas kami menutup dengan sendirinya. lampu menyala di langit langit ruangan walupun tidak terlalu terang.


Kok bisa hidup lampu dibawah sini padahal diatas listrik padam.


"Lala tadi ayah bilang lemari yang pertama terlihat kan?" mata kakak menelisik ruangan.


"Iya, tapi mana yang pertama terlihat?" Lemari buku yang kami lihat berjejer mengelilingi ruangan bawah tanah yang berbentuk persegi.


"Ckckck ternyata ayah penuh dengan rahasia" kakak berdecak. kami tak tau rahasia apa lagi yang akan kami jumpai nanti.


"La kita cari masing-masing saja biar cepat ketemu, nanti kalau jumpa kasi tau"


"Oke" aku menuju ke bagian sebelah kanan, buku buku yang ada didalam lemari itu adalah buku buku tentang ilmiah ayah senang mempelajarinya.


Butuh waktu lebih lama ternyata untuk menemukan pintu tersembunyi.


"Disitu ada La pintunya?" Kakak menghampiriku, dia sudah selesai menggeser lemari buku bagiannya.


"Mungkin ada, tinggal lima lemari lagi yang belum digeser" aku mengusap peluh yang menetes, ya ruangan ini agak pengap.


Wajar kalau kami berkeringat, bahkan kakak saja terlihat kelelahan.

__ADS_1


"Ayo kita geser bersama" kakak berjalan ke lemari sebelah. Kami mencari dengan teliti pintu tersembunyi itu, dua puluh menit pun berlalu.


Apakah benar ini pintu? Hanya dinding kosong yang ada didepan kami, tak berapa lama dihadapan kakak muncul sebuah benda seperti kalkulator,  tapi di tombol nya bukan angka melainkan huruf.


Aku terkejut kok bisa tiba-tiba muncul kalkulator? tanpa sadar tanganku menyentuh dinding kosong didepan ku.


Tiba tiba saja ada getaran, dan getaran itu meluluhkan cat didinding, lalu muncullah sebuah pintu.


Kakak menatapku dengan bangga, kami tersenyum ke pintu penyelamat kami.


Tapi beberapa waktu ke depan kami tau bahwa pintu itu bukan pintu penyelamat yang kami bayangkan.


"Kak ayo masukkan sandinya"


"Jangan sekarang La, ayah bilang kita harus menunggunya selama sehari kalau dia tidak datang baru kita buka pintu ini, dan lagi kita tak tau sesuatu apa yang ada dibalik pintu ini kan?"


Benar kata kakak, kami juga harus hati-hati, tindakan nekat hanya akan membahayakan nyawa.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanyaku menatap kakak.


"Mari kita persiapkan bekal yang akan kita bawa nanti, lalu kita kembali keruangan ini lagi untuk beristirahat"

__ADS_1


"Kita istirahat disini?" Aku bingung kenapa harus disini, disini pengap banget.


"Kakak rasa cuman disini yang ada aliran listrik, kita juga akan bawa kipas angin, biar tidak terlalu panas" hah ya sudahlah kami tak punya pilihan lain.


__ADS_2