Deadly Fear (The Warrior)

Deadly Fear (The Warrior)
chapter 3


__ADS_3

Kami bergegas keatas lalu menyalakan senter.


menuju keruangan penyimpanan, Kami mengambil tas ransel Hiking yang bisa membawa banyak benda.


Setelah selesai dari kamar masing-masing untuk mengumpulkan barang-barang pribadi, kami berjalan ke dapur. aku melihat mama dengan tatapan sedih, dan air muka kakak juga sedih.


Tapi tak ada waktu untuk menangis, aku teringat kalung yang dipakai mama. Mungkin itu bisa jadi pengobat rindu ku kepada mama. Aku melepas kalung itu dari lehernya, mama orang yang sangat baik tapi harus mati dalam keadaan seperti ini. Kakak memegang tanganku, sambil tersenyum untuk menguatkan ku yang hampir saja lumpuh kembali.


ah Sudahlah itu juga takdir mama, aku juga tak tau takdir seperti apa yang akan ku hadapi.


Kami bergegas mengumpulkan makanan yang ada di kulkas dan tempat penyimpanan makanan.


aku ingat dulu aku sering mengambil makanan diam diam di tempat itu, saat aku terpergok mama, mama hanya tersenyum dan menasehati ku, Aku jadi rindu mama.


Kami membawa makanan ringan dan beberapa makanan berat juga botol botol air minum. Dua tas ransel penuh dengan bawaan kami, serta tas gandeng yang berisi makanan. Aku dan kakak menenteng masing-masing satu tas gandeng. berat, tapi lebih berat cobaan yang ku hadapi sekarang.

__ADS_1


Waktu terus berjalan tak terasa sudah tengah malam.


tiba-tiba suara tangisan mengagetkan, suaranya sangat miris, membuat bulu kudukku berdiri.


"Kak, itu suara tangisan.." kakak langsung menutup mulutku dan menempelkan jari telunjuk di bibirnya yang menandakan jangan ribut.


Kakak mematikan senter sehingga disekitar kami gelap gulita, ruangan itu hanya disinari oleh cahaya bulan, kami berpindah ke sudut ruangan yang gelap.


Jantungku berdetak sangat kencang, aku takut, ku genggam erat tangan kakak. Siluet bayangan muncul dari jendela, kulihat yang barusan lewat berbadan besar dan agak bungkuk, dia berjalan sambil menangis.


aku melihat mayat adikku, jarak kami tak terlalu dekat dari mayat itu, tapi aku bisa melihat walau sedikit buram,


monster yang sedang makan daging tubuh adikku, aku terkejut kakak juga tampak khawatir walau tak begitu jelas, karena tempat kami yang temaram.


Monster itu dengan lahap me makanni sisa sisa daging di tulang itu. Kami berjalan perlahan tapi suara tasku menggesek dinding, monster yang sedang makan itu memalingkan wajahnya ke kami.

__ADS_1


Kakak menyiapkan senapan yang sengaja dibawanya dari ruang kerja ayah, disaat monster itu mulai berlari ke arah kami kakak langsung menembaknya.


Suara senapan itu terdengar keluar sehingga para monster yang lain datang mendekat. Kami pun berlari sekencang mungkin menuju ruangan bawah tanah, pintu itu terkunci otomatis. suara tangisan masih terdengar walau samar, bahkan hentakan langkah kaki nya berada tepat diatas kami, Untung saja pintu itu tak terlihat dari luar.


Kami nyaris saja tertangkap, aku dan kakak melangkah menuruni anak tangga.


Aku langsung terduduk lesu dilantai dan kakak juga sepertinya kelelahan, untung kami membawa persediaan minum yang banyak. Pada akhirnya kami tak sempat membawa kipas angin.


"Kak sepertinya monster tadi tak punya mata?" Kakak memandangku dengan tatapan tak yakin.


"Mungkin" kata kakak lalu meneguk air dari botol


"Sepertinya iya kak, Dan kalau tak salah monster yang kita lihat tak memiliki bola mata. menilik dari kejadian tadi, yang saat monster itu sedang makan. seharusnya dia tau kalau kita berada disitu sebelum tas ranselku menggesek dinding" kakak tertegun sejenak lalu mengangguk


"Benar, harusnya dia sudah melihat kita"

__ADS_1


Satu fakta yang aku pahami bahwa monster itu tak memiliki mata, dan kurasa monster itu mengandalkan instingnya yang tajam.


__ADS_2