
Kami termenung dengan pikiran masing-masing.
Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana kami harus bertahan hidup didunia yang hancur ini?.
Kulihat kakak seperti sedang gusar, wajahnya yang tak pernah menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran. Berubah seperti seorang aktor antagonis yang kehilangan kesempatan untuk menyakiti si pemeran protagonis.
Ya wajar saja raut wajahnya seperti itu, saat ini seharusnya seseorang hanya memikirkan bagaimana cara menyelamatkan dirinya sendiri. Tapi kakak mempunyai beban yaitu aku yang harus dia tanggung. aku sedih karena tak bisa banyak membantu.
"Kakak kok bisa menggunakan senapan?, Aku tak pernah melihat kakak belajar menggunakannya" tanyaku melepas keheningan diantara kami. "Tak perlu belajar, dengan melihat dan memperhatikan kita bisa melakukan hal yang tak pernah kita pelajari" kakak menjawab dengan tenang, walau dia masih gelisah. Ya itu karena dia suka bermain game tembak-tembakan.
kakak ku orang yang cerdas. dia bisa mempelajari sesuatu hanya dengan melihat dan mendengar, berbeda sekali dengan ku yang walaupun sudah belajar mati matian tapi tetap saja goblok.
__ADS_1
"Hmm apakah ayah berada dibalik semua perkara ini kak?" Kali ini aku sungguh penasaran. Kakak menatapku, dan menjawab "tak bisa pastikan, tapi dengan petunjuk yang ada sepertinya iya." Ternyata kakak berfikiran yang sama dengan ku.
Dia mengambil ponselnya, lalu mulai mengetik disana. Aku tak tau apa yang dia ketik, tapi kurasa aku akan melakukan hal yang sama. Aku juga mengeluarkan ponselku dari tas, banyak chat dari teman yang tak sempat kulihat.
Mungkin Google adalah jalan utama untuk mengetahui kekacauan yang terjadi. Ku searching yang ingin kutanyakan ke Google. Tiba-tiba ponselku memunculkan wajah presiden.
Sebenarnya sewaktu listrik masih menyala pidato presiden itu sudah disiarkan, hanya saja karena aku dan kakak baru buka ponsel, jadi baru terlihat sekarang.
Sepertinya dia sengaja berbicara lewat media, walau tau dibeberapa tempat tak memungkinkan melihatnya berbicara seperti itu. -"para monster yang tak diketahui asal-usulnya berada bumi, saat ini pilihan terbaik kita adalah tetap tenang dan jangan panik, tentara sudah dikirim ke masing-masing daerah untuk melawan monster.
Saat ini kita menyalakan kode darurat tingkat satu. Tolong tetap berada dirumah kalian, jika keadaan sedikit aman kita akan kumpulkan warga yang tersisa dan ikut berjuang bersama tentara, kita harus bersama-sama untuk mengamankan negeri kita."
__ADS_1
Begitulah kata pak presiden, dia seolah menjadi penengah diantara kericuhan warga. Ya tak ada yang bisa kami lakukan mungkin mengandalkan presiden adalah jalan yang tepat. Tapi apakah presiden yang diandalkan dapat menghalau kegusaran di hati masyarakat?
Jawabannya adalah entahlah, kurasa suatu saat akan ada demo besar di negara ini.
Sepertinya tentara bisa mengalahkan monster dengan senapan, seperti kakak yang berhasil membunuh monster tadi. "Kak kode darurat tingkat satu apa tak terlalu rendah untuk kehebohan seperti ini? Bahkan kode darurat tingkat seratus aja tak akan mampu mengatasinya?" Aku menatap kakak yang masih fokus dengan ponselnya.
"Yah kode darurat itu hanya sebuah alasan untuk menenangkan warga, tapi sepertinya beda tingkatan beda juga bencananya" dia berbicara dengan tatapan ke ponsel.
benar, harusnya di situasi sekarang bukan tingkat satu melainkan tingkat seribu.
"Dasar, disaat seperti ini pun dia berbicara seolah-olah hal ini adalah masalah remeh." Aku menanggapi ucapan kakak.
__ADS_1
aku berfikir kemungkinan besar presiden dan para pejabat hanya akan lepas tangan dan duduk hengkang, sambil menonton kenyataan dihadapannya.