
Aku bergegas mengumpulkan semua barang barang yang diperlukan, dan tak lupa pula membawa buku kuno itu. Kakak juga tampak sibuk dengan semua perlengkapannya.
Kami harus bisa menguasai kekuatan baru ini, karena percuma saja kuat jika tidak bisa menguasainya.
"Ayo La" kakak buru buru mendekati pintu tersembunyi, padahal dia tadi yang tak berminat kesana. Dasar.
"Iya" aku menatap untuk terakhir kalinya ke ruang bawah tanah ini, semoga suatu saat aku kembali lagi kesini.
"Apa ya yang akan kita hadapi dibalik pintu ini? Aku sungguh geregetan" dia bergidik merinding memegang bahunya.
"Mungkin sesuatu yang luar biasa yang akan menyambut kita kak" aku sungguh tak sabar untuk membuka pintu.
Kami mendekati pintu dan kakak memasukkan pin nya, pintu perlahan terbuka. Dari larik cahaya yang ada terbesit sebuah bayangan yang besar.
Apakah monster? Semoga tidak, kami belum siap untuk menghadapi monster.
__ADS_1
Tiba-tiba orang berbadan besar itu memeluk kami dengan erat, sampai aku kesulitan bernapas. Dia melepaskan pelukannya lalu berkata.
"Kalian anak profesor khai? Astaga aku tak menyangka akan bertemu kalian secepat ini? Sudah hampir seratus tahun aku menunggu kalian hoho"
Aku dan kakak saling berpandangan apakah dia hal besar yang kami banggakan itu?
"Kau ini siapa?" Tanya kakak dan menyuruhku mundur ke belakangnya.
"Hoho tenang anak muda, kalian jangan khawatir aku tak menyakiti kalian. Aku dikirim oleh prof untuk membantu kalian, dari yang kulihat sepertinya ditubuh kalian terdapat kekuatan yang besar. Aku akan membantu kalian untuk menguasai kekuatan itu" dia berbicara seolah-olah dia sudah lama kenal dengan kami.
"Tentu saja gadis kecil, aku ini teman lama ayah kalian" dia menunjukkan poto poto dirinya dengan ayah bahkan ada foto dia menggendong si kembar yang masih bayi dan kami yang masih kecil berada di kiri dan kanannya.
"Jadi sebenarnya kami sudah mengenal mu?" Kakak mengambil foto kami waktu kecil
"Tepat sekali, tapi kenapa kalian tidak mengenalku?"
__ADS_1
"Itulah yang ingin kutanyakan, kenapa kami bisa tak mengenali mu?" Apa yang terjadi sehingga kami tak mengenal dia. Menilik dari penampilannya apa dia dari ras Elf? Tapi tak mungkin ras peri seseram ini, ras peri itu menawan dan indah.
Apa ku tanya saja, tapi kalau misalnya enggak, dan dia mengaku sebagai ras peri kami tertipu lalu masuk ke perangkapnya.
"Baiklah paman ayo jalan untuk menemui ayah" aku melangkah maju makhluk besar itu terlihat senang, tapi kakak tampak terkejut.
Kakak menarik bahuku untuk mundur sejajar dengannya "Hey La, kita tak bisa mempercayai nya begitu saja. kita tidak tau dia berbohong atau tidak" dia berbisik di telingaku.
aku menggenggam tangan kakak untuk menenangkannya
"Tenang kak, kita tak perlu percaya pada nya. Kita lihat dulu apakah dia berbohong atau tidak, kan kita sekalian mau mencoba kekuatan baru ini" aku memandangnya tulus.
"Yah baiklah" dia pasrah. "tapi kita harus tetap bersama jangan berpisah ya" kakak ku yang cuek berubah drastis jadi perhatian.
"Iya kakak" aku pun senang dengan keputusannya.
__ADS_1
Aku berjalan beriringan dengan kakak, sedangkan paman itu berada di depan kami.