Demolish This Story

Demolish This Story
11. Baladorado (1)


__ADS_3

"AAAAA."


Teriakan salah seorang Hunter menjernihkan pikiran semua orang dari ketakutan.


Monster ular besar, yang bahkan ukurannya lebih besar dari sebuah mobil. Sisik hitam di seluruh tubuhnya tampak berlendir, mengeluarkan kabut tipis mengerikan.


"I–itu..., itu [Baladorado]!"


[Baladorado], monster ular raksasa, pemimpin dari para serpent.


Monster besar yang tampak bisa memangsa segalanya, dengan tingkat bahayanya berada di Rank B.


"Kenapa monster Rank B bisa muncul di tempat ini!?" Seseorang berteriak, namun tidak ada yang mampu menjawabnya.


Berdasarkan informasi, Dungeon yang mereka masuki adalah Dungeon kelas 4. Boss monster paling kuat seharusnya adalah Monster C Rank.


Mengetahui identitas monster besar di depannya, para Hunter segera bergerak. Dengan kaki yang bergetar, mereka berlari, menjauhkan diri dari si pemangsa.


Untuk mengalahkan monster, minimal dibutuhkan 3 hunter dengan Rank diatas monster tersebut


Hunter paling kuat di tempat ini adalah Nick Cod, seorang mage elemen api yang berada di Rank C. Walaupun kekuatannya hampir mendekati Hunter Rank B, kekuatannya tidak akan cukup.


Baladorado diketahui memiliki skill pasif [Dragon Scale] yang meningkatkan pertahanannya terhadap serangan sihir. Api Nick hanya akan terasa seperti gelitik bagi monster tersebut.


Mereka tahu akan kalah, bahkan sebelum mereka mencoba.


"Lari!!, terus lari!!"


Jadi pilihan mereka satu-satunya adalah berlari, menyelamatkan nyawa mereka.


Sssttt~


Baladorado mendesis di belakang para Hunter yang tengah berlari.


Mungkin itu hanya imajinasi karena ketakutan, mereka merasa Baladorado sedang tertawa, melihat para mangsanya melakukan hal sia sia.


Walaupun labirin yang berliku seharusnya menyulitkan sang ular dengan tubuh besar, namun nyatanya Baladorado bergerak lancar tanpa hambatan.


Sebaliknya, para Hunter lah yang kewalahan. Mereka sibuk melarikan diri, tidak mengingat jalan mana yang menuju pintu keluar.


Semakin mereka berlari, semakin jauh mereka tersesat.


"Jalan Buntu!"


Gerakan para Hunter terhenti tiba-tiba. Dinding besar menghadang jalan mereka.


'Ada persimpangan sebelumnya. Monster itu, masih jauh, tapi apakah kita sempat?' Ash Elliot mulai berpikir.


Dia menatap para Hunter, beberapa diantaranya memiliki keputusasaan di mata mereka.

__ADS_1


"Kita masih sempat! ayo bergerak, cepat!!" Ash menggerakkan tangannya, memberikan aba aba.


Para Hunter kembali berlari mengikuti Ash.


"Cepat!!"


Melihat Baladorado yang berada tidak jauh di depan mereka, Ash mengeraskan suaranya. Para Hunter menambah kecepatan berlari mereka.


Namun begitu sampai di persimpangan,


Wush


Sesuatu kembali menghentikan mereka. Sebuah dinding, terbuat dari api yang berkobar menutup jalan.


"Ha ha ha ha!!"


Tawa mengerikan dapat terdengar di balik dinding api. Para Hunter terdiam, tawa itu sangat akrab di telinga mereka.


"Kau!! Nick! Jangan bercanda denganku!" Ash berteriak, amarah terdengar jelas di suaranya.


"Nyawa manusia yang sedang kau permainkan! "


"Ya! Nyawa kalian, bukan nyawaku!!" Nick berkata, tawanya kembali terdengar.


Mendengar itu, para Hunter diliputi amarah.


"Kau b*jing*n!!"


"Seharusnya kau yang mati, dasar bi*dab!!"


Mereka sudah menahannya sejak lama, umpatan demi umpatan mereka keluarkan.


Mereka berada di ambang pintu kematian, namun disinilah dia, mengorbankan orang lain untuk keselamatannya.


"Diam!" Suara Nick kembali terdengar dari balik tembok api.


"Kalian seharusnya berterima kasih! Nyawa kalian yang tidak berharga, akan berguna untuk menyelamatkan seorang pahlawan seperti–"


Chuck!!


Bualan Nick terhenti, suara menusuk sesuatu dapat terdengar. Tembok api perlahan menghilang, dan pemandangan yang berada dibaliknya terungkap.


"...!"


Nick Cod tergeletak di tanah, terdapat genangan darah disekitarnya. Disampingnya, Kevin Patron berdiri diam, menghela nafas berat.


"Pergilah." Kevin berkata, menatap Ash dan para Hunter.


Dia mengangkat perisai besar di punggungnya, lalu menancapkannya ke tanah. Perisai berwarna perak memancarkan cahaya kebiruan, mana dialirkan disekitarnya.

__ADS_1


"Aku akan menahan ular besar ini." Kevin berkata penuh keyakinan. Ada sedikit kilatan terlihat dimatanya.


Ash melihat ke belakang. Baladorado semakin dekat, hanya tinggal waktu sampai semuanya dimusnahkan olehnya.


Dia menatap kembali Kevin, seolah mengatakan 'apa kau yakin?', yang dijawab dengan anggukan kepala ringan.


Walaupun Kevin tidak akan bisa menang melawan Baladorado, seorang Tanker sepertinya setidaknya akan bertahan cukup lama, cukup untuk memberikan waktu bagi yang lainnya untuk melarikan diri.


Ash tahu akan hal itu, tapi jika dia melakukan itu, apa bedanya dia dengan Nick Cod?


Ash menggigit bibirnya, dia kemudian menatap para Hunter di belakangnya.


"Kevin telah memberikan kita jalan, jangan sia siakan pengorbanannya!!"


Mendengar perintah Ash, Hunter kembali berlari.


"Setelah keluar, aku akan memanggil bala bantuan. Bertahanlah, kumohon." Ash berkata, menepuk bahu Kevin, sebelum akhirnya berlari meninggalkannya.


Melihat punggung temannya yang semakin menjauh, Kevin hanya tersenyum kecut. Ada beberapa penyesalan atas tindakan yang telah ia lakukan, tapi itu urusan nanti.


Kevin mengalihkan pandangan ke depan. Baladorado, ular raksasa itu sudah didepan mata.


Ssst


Kevin menelan ludah. Mahluk didepannya sangat menakutkan, keberaniannya termakan oleh kengerian monster didepannya.


Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.


Dia tersenyum getir.


"Biarkan aku mengkonfirmasi ini sekali lagi." Kevin tiba tiba mulai berbicara sendiri. Tentu saja, tidak ada yang membalas perkataannya.


Tap Tap Tap


Namun tiba tiba, suara langkah kaki terdengar, bergema di antara lorong labirin.


Sosok itu keluar dari bayang bayang, perlahan semakin mendekat.


Kevin melirik sosok di sampingnya.


Jimmy, atau setidaknya begitulah anggota party memanggil namanya selama 3 hari ini.


Wajah yang tampak muda itu terasa janggal. Tatapannya kosong, tanpa satupun kehidupan.


Dan sesaat kemudian wajahnya mulai bergerak tidak wajar. Seperti sebuah lukisan yang catnya luntur terkena air.


Topeng putih muncul menggantikan wajah Jimmy yang meleleh


"Benarkah begini rencananya, Tuan Bell?" Kevin kembali bertanya.

__ADS_1


Sosok di yang dipanggil Bell itu diam sejenak, sebelum akhirnya memberikan kata.


"Sempurna."


__ADS_2