Demolish This Story

Demolish This Story
17. Interlude (1)


__ADS_3

~The Sister


Akhir bulan Maret masih berada di musim dingin. Walaupun salju sudah lama tidak turun, namun udara masih membeku.


Di tengah malam yang dingin, ditemani bulan dan bintang yang lebih terang dari musim lain, gadis itu sibuk menuliskan sesuatu di bukunya.


"Fiuuhh~"


Cecilia Mia Bellfeld mengangkat tinggi tangannya, melakukan peregangan ringan pada tubuhnya yang lelah.


Melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Hari sudah berganti, namun anehnya Cecilia baru menyelesaikan kegiatan belajarnya.


Dua hari lagi adalah hari penilaian tengah semester. Walaupun sudah bekerja keras setiap harinya, hari ini dia belajar lebih giat dari biasanya.


"Apa kakak sudah tidur? "


Cecilia bangkit dari duduknya.


Dengan perlahan dia keluar dari kamar, lalu berbelok ke ruangan di sebelahnya. Mengatur suaranya sekecil mungkin, Cecilia dengan hati hati membuka pintu.


Cecilia tersenyum kecil.


Di dalam ruangan adalah sosok kakaknya, Aaron yang saat ini tertidur pulas.

__ADS_1


Cecilia mendekat perlahan.


Salah satu kebiasaan buruknya sejak lama, yaitu memasuki kamar kakak laki lakinya di tengah malam.


Ketika dia merasa sedih, marah, dan senang, dia menghampiri kakaknya. Dia tidak bisa mengeluarkan semua keluhannya saat siang hari, jadi dia melakukannya saat kakaknya tertidur.


Cecilia mengusap kepala Aaron. Dia menyodok lembut pipi kakaknya, lalu mencubitnya. Dia bermain dengan wajah tidur kakaknya.


Cecilia tersenyum manis, ada sedikit rona merah di pipinya.


Tangannya meluncur ke bawah. Baju bagian bawah Aaron sedikit mencuat, memperlihatkan secuil perutnya.


Cecilia membuka sedikit baju Aaron. Dan di saat itu, senyumnya berubah sedih.


Ada sebuah lebam berwarna ungu, juga beberapa luka goresan yang sebelumnya tidak pernah ada.


Cecilia menyadari bahwa Aaron berubah sejak sebulan yang lalu.


Tindakan dan perkataannya lebih bijaksana, seperti orang dewasa. Dia juga lebih memperhatikan setiap tindakan kecil adiknya.


Cecilia tentu senang dengan cinta berlimpah yang dituangkan kakaknya, namun melihat kondisinya sekarang, tidak ada senyum bahagia ketika melihat luka di tubuh kakaknya.


Melihat sekeliling, kamar Aaron benar benar kosong.

__ADS_1


Dulu, Aaron sangat suka bermain game, bahkan orang tuanya marah karena betapa Aaron kecanduan.


Namun sekarang semua itu sudah tidak ada. Aaron menjual semua game dan alat permainannya, semua dilakukan untuk menghasilkan uang.


Cecilia pernah sekali memalsukan umur dan bekerja paruh waktu beberapa bulan lalu. Namun Aaron memergokinya tak lama kemudian.


Itu adalah kali pertama Cecilia melihat kakanya begitu marah. Meski begitu Cecilia tidak bisa berbuat apa apa. Dia tahu semua itu dilakukan demi dirinya.


"Cee, maafkan kakak hingga membuatmu seperti ini. Tapi tolong jangan lakukan hal seperti ini lagi. Jika kau ingin membantu kakak, bersenang senanglah, dan tunjukan senyum manismu pada kakak, oke?"


Air mata mengalir mengingat kata kata kakaknya.


Jadi untuk melawan ketidak berdayaanya, Cecilia membantu dengan caranya sendiri.


Dia mulai memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Juga belajar lebih giat dari pada sebelumnya.


Walau tidak banyak membantu, Cecilia ingin setidaknya meringankan beban kakaknya.


"Kakak..."


Cecilia menghapus air dimatanya.


Manik birunya bersinar di bawah terang rembulan, penuh dengan tekad yang kuat.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, kakak."


Sebuah kecupan selamat tidur tercetak di pipi Aaron.


__ADS_2