
"Apa yang kau bicarakan?"
Suara Richard Brown bergetar karena amarah. Tangannya mengepal kuat, mana keluar tanpa sadar dari tubuhnya, memancarkan aura intimidasi.
Topeng 'pria ramah' Green Apple menghilang, menampilkan wajah asli dari Richard Brown.
"Kau, jangan bercanda denganku–"
"Hadiah pernikahan kalian, [Books of Memento]." Aaron memotong pembicaraan Richard.
Anna Brown, kekasih dari Richard Brown yang meninggal dunia 7 tahun yang lalu karena suatu insiden.
Anna adalah seorang penulis, jadi Richard memberikan sebuah buku sebagai hadiah pernikahan, yang digunakan Anna untuk menulis kesehariannya.
[Books of Memento] sebuah artefak yang memungkinkan pengguna merekam dan menampilkan gambar, suara, pikiran, dan perasaan penulis dari sebuah tulisan.
Anna adalah warga asli Indonesia, dan tempat dia meninggal juga berada di Indonesia. Jadi Richard meyakini, bahwa buku harian Anna juga berada di Indonesia.
Karena itu, setiap minggu akhir bulan kedua, tanggal kematian Anna, Richard Brown selalu pergi ke Indonesia, mencari sisa sisa keberadaan istrinya.
"Bagaimana, bagaimana kau bisa tahu?!"
Richard Brown berteriak. Area sekitar bergeta karena suaranya.
Richard mengangkat tangannya ke arah Aaron, lalu seakan ingin mencekik lehernya, tangannya mengepal.
Trang!! Baam!!
Kaca jendela, dinding, dan lantai hancur karena kekuatan Richard. Hanya Area sekitar Aaron yang tidak berubah.
Aaron tetap duduk, diam di atas sofa. Dia tetap tenang, tidak ada perubahan dalam ekspresi nya. Tapi itu hanyalah apa yang dilihat dari luar.
'Gilaa!! Kekuatannya mengerikan!! Bahkan di masa ini, dia sudah sekuat itu?!'
Keringat dingin bercucuran di dahinya, dan kakinya mulai bergetar.
Sebenarnya dia sudah menyiapkan mental ketika memutuskan untuk mengambil cara ini. Namun ketika dihadapkan langsung, Aaron mulai tidak yakin dirinya akan pulang dengan selamat.
"Wah, Psikokinesis memang mengerikan." Aaron berkata dengan tenang, menyembunyikan rasa takutnya.
[Psikokinesis], Inheren Skill dari Richard Brown. Kemampuan untuk memanipulasi objek fisik tanpa menyentuhnya. Tidak hanya menggerakkan suatu benda, Richard bahkan dapat menghancurkan benda dengan hanya gerakan tangan.
Aaron sudah tahu hal ini akan terjadi, dia mengaktifkan [Domain Ekspansion] sesaat setelah ia duduk di sofa.
"Bagaimana bisa kau..." Richard terkejut setelah melihat Aaron Yang tampak baik baik saja.
'Tidak hanya mengetahui identitasku, dia juga tahu tentang istriku, dan bahkan bisa bertahan dari psikokinesis.' Richard memandang Aaron dengan waspada.
"Mari kita bicarakan ini baik baik, Tuan Richard." Aaron berbicara dengan ramah.
Richard yakin lawan bicaranya sedang tersenyum di balik masker yang menutupi wajahnya, namun entah kenapa ada perasaan aneh yang menekannya.
Ragu ragu untuk sesaat, Richard memutuskan menuruti perkataan Aaron.
"... Jadi, apa yang kau mau?" Richard berkata dengan nada mengancam.
"Permintaanku tidak berubah, aku hanya ingin kau mendapatkan item ini." Masih mempertahankan ketenangannya, Aaron kembali memberikan sebuah kertas berisi daftar item yang dia butuhkan.
__ADS_1
Richard mengambilnya, lalu memeriksa kertas dengan cermat.
"Bukan berarti aku ingin mendapatkannya secara percuma, aku bukanlah seorang bajingan. Yang aku butuhkan hanya sedikit waktu, kuharap kau mempertimbangkannya."
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu? "
Mendengar perkataan Richard, Aaron kembali tersenyum.
"Kenapa kita tidak menggunakan [Curse Contract]?" Aaron berkata dengan berani.
Richard tertegun. Dia menatap Aaron dengan wajah terkejut.
"... Apa kau bahkan tau apa yang kau ucapkan?"
[Curse Contract] seperti namanya, sebuah item yang digunakan untuk melakukan sebuah perjanjian antara kedua pihak, dengan kematian sebagai konsekuensi dari si pelanggar.
Itu adalah item yang sangat berbahaya, namun sosok di depan Richard tidak memiliki rasa takut dalam perkataannya.
Richard menjentikkan jarinya, selembar kertas terbang menghampiri. [Curse Contract], sebuah item berbentuk kertas dengan lingkaran sihir merah di atasnya.
Kedua belah pihak meletakan telunjuk mereka di atas lingkaran sihir.
"[Pihak pertama akan memberikan barang yang diinginkan oleh pihak kedua.]" Aaron mengucapkan kontrak pertama.
"[Dan sebagai imbalan, pihak kedua akan memberi tahu secara tepat lokasi dari [Books of Memento] yang diinginkan pihak pertama]." Richard mengucapkan kontrak, lebih rinci. Dia masih tidak percaya dengan lawan bicaranya.
"[Pihak pertama, Richard Brown]"
"[Pihak kedua, Aaron Bellfeld]"
Lingkaran sihir bersinar merah. Sebuah jarum muncul dibawah jari yang menyentuh kertas, mengambil darah. Pola samar muncul di kedua tangan.
[Curse Contrac] tidak bisa digunakan dengan nama samaran, jadi pasti itu adalah nama asli.
Karena Aaron mengetahui banyak hal tentang Richard, dia mengira Aaron adalah orang yang dekat dengannya atau minimal adalah orang terkenal yang mempunyai banyak kekuatan.
Sementara Richard memikirkan berbagai hal, Aaron membuka mulutnya.
"Orchard library, Singapore. Rak nomor 3 bagian dongeng anak anak."
"Apa itu?" Richard memandang Aaron yang tiba tiba berbicara aneh.
"Hmm? Itu tempat istrimu menyembunyikan buku hariannya." Aaron berkata dengan tenang.
"...Bagaimana bisa ada disana?" Richard merendahkan suaranya.
"15 Februari sebelum pemberangkatan ke Indonesia, kau mengurus sesuatu di Singapura. Dan sementara itu, istrimu menyibukkan diri dengan membaca buku. Alasan bisa berada di perpustakaan, yah... itu hanya tertinggal di sana. Lagipula istrimu orang yang ceroboh."
Aaron membicarakan hal penting dengan nada menyenangkan. Richard hanya bisa diam tertegun. Dia tidak pernah memikirkannya sampai ke sana.
Jika Aaron mengatakan kebohongan, dia pasti akan mati seketika karena efek [Curse Contrac]. Namun melihat dia tampak percaya diri dan baik baik saja, dapat dipastikan perkataannya adalah sebuah kejujuran.
"Bagaimana kau tahu?" Richard bertanya, suaranya sedikit gemetar
Aaron tidak menjawab pertanyaan Richard, hanya menampilkan sebuah senyum misterius.
'Yah, aku juga yang menemukannya sebelumnya.'
__ADS_1
Itu hanyalah sebuah kebetulan. Aaron yang saat itu sedang mengurus sesuatu di Singapura, menemukan sebuah buku bersampul coklat yang tidak cocok dengan sekitarnya.
Mengetahui bahwa Richard Brown sedang mencarinya, Aaron segera memberikannya. Dan begitulah, persahabatan Aaron Bellfeld dan Richard Brown tercipta.
"Yah, lupakan itu. Bagaimana dengan permintaanku? "
Richard menghirup nafas panjang, menjernihkan pikirannya.
"Berapa waktu yang kau mau?"
"Secepat mungkin."
"Baiklah. Aku mempunyai [Dagger of Clown Laugh] dan [Mask of Envy], akan tiba dalam 4 hari. Teapot akan dimulai tiga minggu lagi, jadi tiket masuk belum diketahui, tapi akan ku pastikan kau mendapatkannya. Dua lainnya perlu waktu untuk mencarinya."
Aaron berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk setuju. Dua item terakhir tidak terlalu diperlukan saat ini.
Semua urusannya sudah selesai, dia segera berdiri meninggalkan tempat duduknya.
"Oh, dan juga." Tapi seolah teringat sesuatu, Aafon berhenti dan berbalik kembali menghadap Richard.
"Apa kau punya pedang?"
...o0°0o...
"Sampai jumpa nanti!! "
"Ya! Terimakasih untuk minumannya."
Pria itu melambaikan tangan kepada temannya yang perlahan menjauh.
Menjauhi jalanan utama, dia berjalan menelusuri gang diantara bangunan kota. Dia terus berjalan hingga suara keramaian tidak lagi dapat terdengar.
Pria itu tiba tiba berhenti di ujung jalan. Dia menghirup nafas.
"Keluar kau!!"
Suara pria itu bergema. Di malam hari dimana bulan baru bersinar, tidak ada sosok yang menjawab panggilannya.
Namun sebuah suara terdengar.
Tak Tak Tak
Langkah kaki semakin keras, sesuatu keluar dari sisi lain jalan. Sosok berjubah hitam, dengan topeng putih yang menutupi seluruh wajahnya.
Pria itu segera mengambil kuda kuda, mana mengalir di seluruh bagian tubuhnya.
"Siapa kau?"
Sosok bertopeng tidak menjawab. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya.
Sebuah koin perak dengan bentuk apel emas di tengahnya.
"Namaku Bell."
Sosok bertopeng memperkenalkan dirinya. Untuk sesaat, kilatan merah keluar dari mata si topeng putih.
"Aku datang untuk menerima permintaanmu, tuan pelanggan."
__ADS_1
...o0°0o...