
sesampainya Regina di rumah, ia hanya termenung di atas kasurnya dengan tatapan kosong.
"gina, gina, ginaaaaa... "
elen memanggil-manggil gina tetapi Regina tidak menghiraukan ketika Elen baru berteriak Regina terkaget dalam lamunannya.
----------------------------------------------------------------------------------------------
"e-elen kamu tadi ingat kan dia itu?" tanya gina.
"eh, iya aku ingat apa kamu masih takut sama Ayu gina?"------
"jujur saja...iya aku masih sangat takut dengannya"
dengan wajah resah Regina menjawab pertanyaan Elen.
"ternyata dia sepupu Ani aku harus bagaimana Elen aku takut dia akan melarang Ani berteman dengan ku".
"kenapa kau harus takut gina! aku selalu kesal melihat mu lemah seperti ini" ucap Elen yang kesal.
"mengapa kau harus berpikir seperti itu sebelum melihat kenyataannya dan jika mereka mau meninggalkanmu biarkan saja, itu berarti mereka tidak tulus berteman dengan mu, mereka mendengar hal buruk tentang mu dari orang lain dan itu belum tentu benar mengapa! mengapa harus takut ditinggalkan teman seperti mereka".
Regina hanya tertegun menatap Elen.
__ADS_1
" iya yang kau katakan memang benar aku-aku sangatlah lemah tanpamu aku mungkin tidak akan hidup sekarang"
tanpa sadar air mata Regina menetes, ia menangis tanpa suara.
Elen sudah terbiasa dengan itu stiap kali ia melihat Regina menangis.
" gina! ini terakhir kali aku melihat mu menangis karena masa lalu mu, nikmati saja yang sekarang aku sudah cukup kerja keras untuk membuat mu hidup cukup tenang sekarang jika kau terus menangis seperti ini aku merasa tidak berguna sebagai sahabat mu" Elen memeluk Regina.
"Terima kasih Elen selama ini kau selalu membuat ku tenang".
2.30
Ayu yang sedang duduk di meja belajar nya terlihat sangat tidak tenang.
"apa ini mengapa napas ku tiba-tiba sesak seperti ini".
Tiba-tiba sesuatu yang membuat ayu sangat kaget sebuah tangan sedang melingkari dadanya ayu ingin sekali berteriak tetapi mulutnya seperti di lilit rambut yang panjang suara tawa pun mengelilingi kamar nya.
tiba-tiba terdengar suara bisikan
"sebaiknya kau yang menjauh pergi saja atau bunuh diri. itu akan membuatmu lebih tenang, ini peringata kedua yang ku berikan padamu apa tidak cukup ? jika sampai ketiga kali aku memberikan peringatan kau akan mati" suara itu hilang diikuti dengan tawa.
ayu terbangun dari mimpi dan mendapati dirinya yang tertidur di meja belajar dengan napas terengah-engah .
__ADS_1
----------------------------------------------------------------------------------------------
"mimpi! terasa sangat nyata dan mengapa ia menyebutkan menjauh dari regina ? apa karena melihatnya tadi hingga terbawa mimpi sepertinya begitu aku harus berpikir positif"
Ayu berdiri dan mau mengganti baju tidur dan tidak sengaja melihat ke-kaca dadanya dipenuhi lebam biru dan sedikit luka, di samping mulutnya juga terdapat sedikit lebam anehnya itu tidak sakit.
"Jangan-jangan itu bukan mimpi itu nyata" gumam ayu yang ketakutan.
"haruskah aku pindah kota lagi tidak-tidak aku harus melawannya dan mencari teman-teman SMP ku dulu, yang pernah membully Regina aku tidak mau berakhir sendirian".
keesokan paginya disekolah maya, yayu, dan Ani menunggu kedatangan Regina, tak lama gina datang dan duduk disamping mereka.
"gina kamu baik-baik saja kan?" tanya Ani
"i-iya aku baik-baik saja" jawab Regina yang tampak canggung.
"kita khawatir banget tau sakit kok ngak bilang-bilang kalau ada apa-apa gimana lain kali jangan kek gitu lagi gina" ucap yayu.
" iyah kita kan sahabat jangan sungkan-sungkan kalau ada sesuatu " ucap maya.
" iya teman-teman makasih yah kalian baik banget aku pengen nangis".
" yahh mulai lebay" ucap Ani. mereka pun tertawa bersama dan Regina pun mencoba mempercayai mereka sebagai teman yang tulus.
__ADS_1