
CHAPTER 4
Jam menunjukan pukul 18.48 Regina baru saja selesai sholat magrib dan melanjutkannya dengan mengaji, cuaca di luar sedang tidak bersahabat hujan disertai dengan guntur suasana malam ini sangat berbeda dengan malam-malam lainnya bagi Regina, karena akhir-akhir ini ia sering bertengkar dengan Elen sehingga sering merasa kesepian, dalam keadaan sedang mengaji tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar Regina.
Tapi Regina selalu mengingat pesan ayahnya jika sedang menjalankan kewajiban agama dalam keadaan apapun kita tidak boleh terpengaruh dengan keadaan sekitar lanjutkan saja sampai selesai baru bisa menoleh.
Regina juga tidak terlalu memperdulikannya pikirnya itu bunda yang sedang mengecek gina yang sedang sholat, tetapi masa iya jika itu bunda tidak terdengar sama sekali langkah kaki yang berjalan disekitar kamarnya.
Pintu kamarnya seperti sedang dimainkan seseorang, bruuk braak. dalam keadaan sedang mengaji Regina kaget ada yang sedang membanting pintu kamarnya, perasaannya semakin tidak karuan apalagi Elen sedang tidak ada dirumah sekarang. Jika ada elen rumah ini akan aman walaupun sudah dihandle oleh neneknya Regina, itu
__ADS_1
tidak akan cukup melawan hantu-hantu yang kuat.
Semakin regina tidak memperdulikannya pintu itu semakin dibanting dengan keras semakin keras, suara itu sampai terdengar oleh bunda dan ayah regina mereka kaget mendengar suara bantingan yang sangat keras dari arah kamar anak mereka, dan segera mengecek ke kamar Regina mereka melihat pintu itu bergerak sendiri seperti ada yang menggerakannya.
Ayah dan bunda regina syok melihat kejadian itu mereka tahu anak mereka indigo tetapi jarang ada kejadian seperti ini dirumah mereka, dan mereka dibuat kagum walaupun gangguan itu sangat parah regina tetap melanjutkan ngajiannya.
“ayah, bunda, tenang saja anak kalian akan selalu aman dalam lindungan Allah” regina menenangkan orang tuanya agar tidak khawatir. “iya sayang kamu sering-sering berdoa yah jika ada apa-apa kamu panggil saja ayah dan bunda yah sayang” ucap bunda regina “iya bunda… yaudah bunda aku mau belajar dulu” mencium pipi kedua
orang tuanya sambil tersenyum meyakinkan bahwa regina bisa menghadapi semua ini.
__ADS_1
Baru saja ditinggal beberapa menit kain gorden regina bergerak bagai ditiup angin, padahal semua jendela ditutup “aku tau kamu keluar saja apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” seperti sudah mengenal bahwa ada sosok lain dikamarnya, disudut kamar samping lemari sosok itu muncul karena hanya disitu yang tidak terkena
cahaya lampu, sosok itu muncul dengan bentuk yang menyeramkan, badannya yang besar sekitar 3-4 meter dengan badan yang berbulu gelap mata yang menyala merah menatap regina seperti ingin memakannya.
Regina begitu kaget dan tidak menyangka yang muncul dihadapannya sosok yang seharusnya tidak berada dirumahnya, regina memberanikan diri untuk bertanya “mengapa kau kemari” berkata dalam hati agar sosok itu mendengarnya dengan jelas. “aku kesini untuk mengganggu” ucap sosok besar itu “siapa yang mengirimmu kerumahku ?” tanya regina lagi “ha ha ha ha ha ha” sosok itu hanya tertawa yang menggema didalam kamar regina dan begitu menyakitkan jika didengar, regina begitu takut ia ingin memanggil orang tuanya tapi kakinya seperti ditahan untuk berlari dan mulutnya seperti dikunci untuk berbicara kamar tiba-tiba menjadi gelap dalam kegelapan itu regina semakin menangis keras ketakutan mendengar suara tawa yang menggema ditelinganya.
Dari kegelapan itu elen tiba-tiba muncul dan menarik regina dan berlari menuju cahaya tapi gina begitu terheran dengan sosok elen yang ia lihat sekarang begitu berbeda.
****
__ADS_1