
Jam mata kuliah Telah usai, kini Maharani bersama dengan Sabrina sudah keluar dari ruang kelas. Maharani belum kejadian yang menimpa Pak Joko.
"Ran, Kamu langsung pulang ke rumah?"tanya Sabrina.
"Iya, aku punya janji sama tetangga. Tetangga Aku mau minta bantuan kepadaku untuk mencuci dan menggosok pakaian mereka. Ya syukur-syukur lumayan bisa nambah nambah uang belanja kami sehari-hari." Maharani berbicara jujur kepada Sabrina.
Padahal awalnya Sabrina ingin mengajak Maharani pergi ke sebuah Mall. Untuk membeli kado ulang tahun kepada ayahnya. Tapi setelah Maharani memberitahu kalau dirinya ada pekerjaan setelah pulang dari kampus, Sabrina mengurungkan niatnya.
"Ya, sudah. Lebih baik kamu aku antar biar kamu lebih cepat sampai di rumah. Jika kamu lebih cepat sampai di rumah, otomatis kamu juga lebih cepat dapat bekerja di rumah tetanggamu, kan? Sabrina mencoba menawarkan bantuannya.
Maharani mengembangkan senyumnya. "Kamu kok baik banget sih sama aku? di waktu orang lain mengejek dan mengolok-olok aku, bahkan menjauhkan aku, kamu selalu ada bersamaku. Jujur aku sangat bersyukur memiliki teman sebaik kamu Sabrina."
Sabrina hanya tersenyum tipis. "Kamu ini bagaimana sih? semua manusia sama saja di hadapan Tuhan. Mau itu gemuk, kurus, langsing, cantik, jelek."semuanya sama di hadapan Tuhan. Jadi lebih baik kita memperbaiki akhlak kita saja."
"Masya Allah kamu benar-benar sahabat baikku." Maharani langsung memeluk Sabrina yang saat ini berada di atas motor matic miliknya.
"Sabrina membalas pelukan sang sahabat. Ia tahu bagaimana beratnya perjuangan Maharani, sehingga ia dapat kuliah di universitas ternama di kota ini.
"Ayo naik, aku antar kamu pulang sampai ke rumah."ujar Sabrina sambil menarik tangan Maharani agar segera naik ke jok belakang motor matic miliknya.
Saat Maharani sudah duduk dengan Yaman di jok belakang, Sabrina melajukan motornya menuju rumah sederhana yang ditempati oleh keluarga Maharani.
Saat Maharani dan Sabrina tiba di sana, dia melihat pintu rumah mereka tertutup rapat.
"Loh, apa Ibu belum pulang dari rumah majikannya? gumam Maharani.
Tiba-tiba seorang tetangga datang menghampiri Maharani ketika sang tetangga melihat Maharani kebingungan mencari Ibu Halimah.
"Rani, kamu mencari Ibu Halimah ya?
"Iya, Bude. Bude lihat ibu? tanya Maharani kepada seorang tetangga yang kebetulan berada di teras rumahnya.
__ADS_1
"Ibu Halimah pergi ke rumah sakit. Katanya Ayah kamu masuk rumah sakit, karena mengalami kecelakaan saat bekerja."
Bagai petir di siang bolong, langit terasa runtuh menimpa tubuh Maharani.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun!
"Astagfirullah! jadi ayah saya dirawat di rumah sakit mana Bude?
"Katanya di rumah sakit yang lokasinya tidak jauh dari proyek Ayah kamu bekerja.
Maharani menangis sesungguhkan, Dia terlihat rapuh ketika mendengar ayahnya saat ini sedang berada di rumah sakit, karena mengalami kecelakaan kerja. Pria paruh baya yang menjadi tulang punggung keluarga mereka, Kini harus berbaring lebah di rumah sakit.
Sabrina mengelus pundak sahabatnya. Ia tahu betul Bagaimana perasaan Maharani saat ini. Sabrina juga berusaha menenangkan Maharani. Kemudian Ia pun meminta kepada Maharani agar bersiap untuk ia hantarkan ke rumah sakit.
"Sudahlah Ran, kamu tidak perlu menangis lebih baik kita berdoa agar Ayah kamu baik-baik saja. Sekarang ayo aku antar kamu bertemu dengan Ayah kamu di rumah sakit."Sabrina menuntun Maharani naik ke jok motor miliknya.
Maharani berpamitan kepada sang tetangga. Sabrina langsung melajukan motor matic miliknya menuju rumah sakit yang lokasinya, tidak terlalu jauh dari proyek di mana Pak Joko bekerja. Maharani yang menjadi petunjuk jalan. Ia tahu persis di mana Pak Joko bekerja saat itu. Karena Maharani sering sekali menghantarkan makan siang untuk Pak Joko, jika Maharani tidak ada kelas di kampus.
Kini keduanya sudah berada di depan rumah sakit. Sabrina dan Maharani berjalan terburu-buru dan langsung bertanya ke bagian resepsionis.
Sang resepsionis pun memeriksa data pasien. Kemudian sang resepsionis pun mengembangkan senyumnya.
"Kya Mbak, Pak Joko dirawat di ruang melati 203."sahut sang resepsionis
"Terima kasih Mbak"Maharani langsung berlalu meninggalkan resepsionis itu dan berjalan terburu-buru diikuti oleh Sabrina dari belakang.
Saat mereka sudah tiba di depan ruang rawat inap melati 203. Maharani langsung membuka ruang rawat inap itu. Dia melihat ada beberapa pasien yang ada di ruangan itu. maklum karena fasilitas yang diberikan oleh pihak rumah sakit kepada Pak Joko, hanya kelas tiga. Hingga di ruangan itu ada beberapa orang yang harus mendapatkan perawatan.
Maharani langsung berlari menghampiri Pak Joko yang saat ini sudah dibaluti perban dan tangan kirinya, saat ini tidak dapat digerakkan, karena mengalami patah tulang.
"Ayah... Hua.....Hua .. tangis Maharani, ketika melihat kondisi Pak Joko yang begitu memprihatinkan. Dilihatnya lagi wajah sembab Ibu Halimah. Itu artinya Ibu Halimah habis menangis. Saat ini Pak Joko tidak dapat berbicara dengan leluasa. Karena begitu banyak alat-alat medis yang dipasang di tubuh Pak Joko.
__ADS_1
Air bening mengalir begitu saja di wajah pucat pria paruh baya itu. Dia tidak tega melihat putrinya saat ini begitu rapuh melihat kondisinya.
Pak Joko berusaha menggerakkan tangan kanannya. Ia mengelus wajah putrinya yang saat ini dipenuhi dengan air mata. Sabrina tidak tega melihat sahabatnya yang begitu rapuh. Dia kembali mengusap pundak Maharani memberikan kekuatan kepada Maharani.
"Yang sabar ya, Ran. Allah tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya kalau kita tidak dapat melewatinya. Yakin dan percayalah Pak Joko pasti akan segera sembuh. Sekarang lebih baik kita berdoa agar Pak Joko segera sembuh dan dapat beraktivitas kembali seperti semula."
"Astagfirullah, cobaan apalagi yang datang ke keluarga kami ini Sabrina. Kamu tahu sendiri kondisi ekonomi keluarga kami bagaimana, Ayah yang menjadi tulang punggung keluarga kami, kini berbaring lemah di atas tempat tidur ini.
"Sudahlah, tidak perlu kamu pikirkan, kita cari jalan keluarnya nanti. Yang penting saat ini Pak Joko cepat sembuh.
Maharani menghela nafas panjang, pikirannya saat ini sangat kalut.
Maharani keluar dari ruang rawat inap Pak Joko. Ia tidak ingin menangis di hadapan ayahnya.
"Sabrina apa yang harus aku lakukan? saat ini ayahku pasti tidak bisa bekerja lagi. Sementara selama ini ayahku yang menjadi tulang punggung keluarga. Aku harus melakukan sesuatu untuk melanjutkan kehidupan kami."
"Kamu jangan khawatir, pasti ada jalan keluarnya. Oh iya, seandainya ada lowongan kerja paruh waktu kamu mau tidak?
"Aku pasti mau, yang penting pekerjaannya halal yang dapat mematuhi keluarga kami sehari-hari.
"Oke, nanti akan aku kasih infonya setelah aku tanyakan dulu ya."
"Terima kasih Sabrina, kamu benar-benar sahabat baikku."
"Karena jam sudah sore dan hampir malam, akhirnya Sabrina berpamitan kepada Maharani, untuk segera kembali ke rumahnya.
"Ya sudah, ini sudah hampir malam. Aku pamit pulang dulu ya. Besok aku datang lagi." Sabrina berlalu meninggalkan Maharani setelah berpamitan kepada Maharani.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN