
Setelah mendapat pengaduan dari Devano, Kalau menurutnya nilai Maharani merupakan kesalahan sang dosen. Pak Susilo tidak sependapat dengan Devano. Karena Maharani memang wanita yang pintar dan cerdas, menurut Pak Susilo. Tapi Devano tetap tak percaya kalau pemilik nilai tertinggi di kampus itu adalah Maharani. Wanita super gemuk.
Devano berniat untuk meminta dosen memeriksa kembali lembar jawaban Maharani. Padahal Pak Susilo sudah menerangkan kepada Devano kemampuan yang dimiliki Maharani di atas rata-rata mahasiswa mahasiswi lainnya.
Karna tak mendapat dukungan dari Pak Susilo, Devano yang mengetahui kalau Pak Jonas sepertinya membenci Maharani. Dosen yang terkenal killer dan juga senang sekali mengejek mahasiswa mahasiswi yang menurutnya penampilannya tidak pantas. Devano meminta kepada Pak Jonas untuk lebih memperhatikan penilaian yang di berikan terhadap Maharani. Yang menurutnya Maharani tidak pantas mendapatkan nilai Itu.
****
Maharani masuk ke dalam kelas lebih dulu dibandingkan Sabrina. Karena Sabrina mendapatkan panggilan telepon dari Mamanya.
Maharani hendak duduk di kursi yang biasa ia tempati.
"Brukk....
Maharani terjatuh ke lantai. Sontak teman satu kelas Maharani semua tertawa. Dia pun bangkit dan menatap tajam ke arah teman sekelasnya yang menarik kursinya.
"Apaan sih? balikin nggak kursi aku!"bentak Maharani karena dirinya merasa dipermainkan.
"Galak amat sih jadi cewek."ucap teman sekelas Maharani.
Maharani menarik bangku yang dipegang oleh Dewi. Namun, tiba-tiba saja Maharani didorong oleh Devano yang baru saja memasuki kelas kekasihnya, hingga Maharani terhuyung ke belakang.
"Ehh, jadi cewek jangan belagu. Kamu nggak tahu siapa saya?" bentak Devano pada Maharani.
Maharani maju ke hadapan Devano. dan menatap tajam mata Devano.
"Aku nggak tahu siapa kamu! dan aku nggak mau tahu pula!"balas Maharani sambil mendorong dada Devano menggunakan jari telunjuknya. Karena dia sudah mulai gerah Devano semakin semena-mena terhadapnya.
"Sekarang balikan kursi aku!"titah Maharani.
__ADS_1
"Wah, dasar cewek sialan kamu! sudah jelek, gendut. Jangan mentang-mentang kamu mendapat nilai yang bagus di kelas, kamu akan merasa terbang ke awan. Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang di kampus ini."ucap Devano dan Dewi kompak.
Devano mendorong bangku tersebut pada Maharani, Devano juga hendak melayangkan tinjunya pada Maharani.
Dengan sigap, Maharani menghalau lengan Devano yang hendak meninjunya. Lalu Maharani menghentakkan lengan Devano ke bawah.
"Seharusnya kamu malu, beraninya ngelawan cewek!" ucap Maharani, lalu ia mengambil bangkunya dan kembali duduk.
Tak lama kemudian Pak Jonas memasuki ruang kelas. Sementara Devano buru-buru keluar meninggalkan kelas Maharani dan juga Dewi. Begitu juga dengan Sabrina, dia langsung memasuki ruang kelas dan memutuskan sambungan telepon selulernya kepada mamanya setelah melihat dosen mereka masuk ke ruang kelas.
"Selamat pagi semuanya."ucapkan Jonas
"Selamat pagi Pak." jawab mahasiswa mahasiswi serempak.
"Hai kamu! Pak Jonas meneriaki dan menunjuk mahasiswa yang baru saja masuk.
"Saya Pak? tanya mahasiswa tersebut.
"Aduh, kena omel lagi nih." gumam Sabrina di dalam hati. Karena Pak Jonas lebih dulu masuk dibandingkan dirinya, akibat terlalu lama menerima sambungan telepon seluler dari mamanya.
"Maaf Pak, tapi saya kan tidak telat! hanya saja Bapak lebih dulu masuk ke ruang kelas, Kalau jam mata kuliah kan, belum dimulai."ucap Sabrina protes.
"Tetap saja, kamu telat! kamu harus mendapatkan hukuman."ucap Pak Jonas yang mampu membuat Sabrina mencebik kesal. Sehingga mau tak mau Sabrina maju ke depan.
"Sekarang juga, Aku minta tampar si manusia kerbau itu!"perintah Pak Jonas yang mampu membuat Sabrina membulatkan matanya. Ia tahu siapa yang dimaksud oleh Pak Jonas manusia kerbau. Itu artinya Pak Jonas meminta Sabrina untuk menampar sahabatnya.
"Maksud Bapak apa? ini namanya bukan hukuman? kalau Bapak menskor saya dalam mata kuliah Bapak, saya masih bisa terima. Tapi kalau bapak meminta saya menampar sahabat saya sendiri, tanpa memiliki kesalahan, itu namanya Bapak tidak adil. bahkan menurut saya, Bapak mengajari saya untuk memperlakukan orang lain dengan anarkis," ucap Sabrina dengan lantang.
"Cepat lakukan yang saya katakan, kalau kamu tidak ingin mendapatkan nilai E." ucap pak Jonas
__ADS_1
"Bapak dosen apa tidak sih? Aku justru ingin mempertanyakan bapak itu lulusan dari mana? Maaf pak kampus Ini seharusnya tidak menerima Bapak sebagai dosen di sini." ucap Sabrina dengan tegas menolak perintah dari sang dosen, karena itu menurutnya hal yang tidak masuk akal.
"Kamu berani membantah saya?
"Kenapa tidak! kalau memang itu salah? kalau memang Bapak tidak terima Maharani dan saya kuliah di kampus ini, noh, bicara langsung ke dekan dan juga pemilik kampus. Saya tidak peduli dikeluarkan dari kampus ini, jika hanya karena saya tidak ingin menampar Maharani yang yang kalian bilang itu Gentongan lah, kingkong lah, kerbau lah, tapi seharusnya kalian berkaca siapa diri kalian sebenarnya." ucap Sabrina sangat kesal hukuman yang diberikan Pak Jonas kepadanya. Ia langsung duduk tanpa mendapatkan perintah dari Pak Jonas.
"Siapa yang menyuruh kamu duduk!" teriak Pak Jonas, tapi Sabrina tidak peduli.
"Sudahlah Sabrina, tidak apa-apa kamu tampar saya. Nanti, nilaimu yang terancam.
"Tidak Ran, aku tidak terima hukuman yang diberikan Pak Jonas yang tidak masuk akal itu. Aku akan laporkan ini semua ke Dekan.
"Siap-siap saja kamu mendapatkan nilai E dari saya." bentak pak Jonas
"Silakan saja Pak! dan siap-siap saja juga bapak keluar dari kampus ini, karena saya sudah mendapatkan bukti-bukti apa yang Bapak lakukan selama ini, selama saya kuliah di kampus ini terhadap Maharani dan juga terhadap saya."ucap Sabrina menantang sang dosen. Dia sama sekali tidak merasa takut mendapatkan nilai E dari Pak Jonas.
Maharani langsung berdiri. Dia pun akhirnya angkat bicara.
"Maaf Pak Jonas yang terhormat, selama ini saya bungkam atas ejekan dan olok-olokan yang Bapak berikan kepada saya. Saat ini saya angkat bicara, karena Bapak telah meminta kepada sahabat saya Sabrina menampar saya dan mengancamnya memberikan nilai E karena dirinya tidak bersedia menampar saya. Jujur kalau sahabat saya menampar saya itu tidak masalah bagi saya. Tapi hukuman yang Bapak berikan ini, hukuman yang tak masuk akal,"
"Tolong bapak Jawab dengan jujur, sebenarnya kesalahan fatal apa yang saya perbuat kepada bapak, dan juga mahasiswa mahasiswi yang berada di kampus ini? sehingga Bapak sangat membenci saya, sehingga Bapak meminta sahabat saya sendiri untuk menampar saya? Saya rasa saya tidak pernah memiliki urusan dengan anda. Kalau mengenai bobot tubuh saya yang di atas rata-rata, apakah itu mengganggu bapak? Saya rasa tidak! dan saya juga tidak pernah minta makan kepada bapak. Cukup sampai di sini anda telah mengolok-olok saya dan mengejek saya. Mulai sekarang, saya tidak akan terima Jika Bapak memperlakukan sahabat saya dan saya dengan semena-mena." ucap Maharani dengan lantang.
Pak Jonas yang mendapatkan ceramah dari Maharani, merasa tidak terima dan ia merasa direndahkan oleh Maharani dan juga Sabrina. Hal itu membuat Pak Jonas memutuskan untuk langsung keluar dari ruang kelas mereka, tanpa mengajarkan mata kuliah sedikitpun. Entah mengapa kali ini ada beberapa mahasiswa yang satu kelas dengan Maharani, membela Maharani dan juga Sabrina.
Tetapi banyak juga yang membela Pak Jonas, yaitu orang-orang yang membenci Maharani dan juga Sabrina.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN