
Maharani duduk di jok belakang motor metik milik Sabrina. Mereka berdua langsung menuju Cafe.
Setelah sekitar sepuluh menit kemudian akhirnya mereka tiba di halaman cafe yang masih terlihat tertutup tapi sepertinya pemilik ada di sana.
"Assalamualaikum!" Sapa Sabrina dan Maharani serempak.
"Waalaikumsalam." sahut pemilik Cafe sambil langsung mempersilahkan Sabrina dan Maharani masuk.
"Kamu Ternyata Sabrina. Ada apa? tumben jam segini kamu sudah datang ke sini?"
"Ini bang, Katanya Abang kemarin membutuhkan lowongan, sampai Abang tempelkan di tiang listrik posternya. Jadi sahabatku ini membutuhkan pekerjaan. mudah-mudahan Abang menerimanya.
"Oh, Abang memang membutuhkan seorang pelayan. Dia bekerjanya mulai jam lima sore sampai jam sepuluh malam, apa kamu bisa? tanya pria itu kepada Maharani.
"Insya Allah aku bisa, karena aku pulang kuliah jam satu. Jadi masih butuh istirahat tiga jam sebelum kerja."sahut Maharani.
"Tapi saya tidak bisa menggaji kamu dengan gaji besar. Saya hanya bisa menggaji kamu satu juta saja. Apa kamu mau? tapi makan malam kamu di sini saja."
"Ya sudah Bang, tidak apa-apa."Maharani akhirnya setuju kalau dirinya mulai esok hari bekerja di cafe itu. Ia bersyukur diterima bekerja di sana, walaupun dengan gaji yang tak seberapa. Yang pasti dia sudah memiliki penghasilan.
Keduanya berlalu dari Cafe. Kini Maharani sudah berjalan menuju rumahnya karena Sabrina harus segera menjemput adiknya yang masih duduk di bangku SMA.
Saat Maharani sudah tiba di rumah, ia langsung mengganti bajunya. Kemudian ia langsung menuju ke rumah sakit berniat untuk menggantikan Ibu Halimah berjaga di rumah sakit.
****
Beberapa hari Pak Joko dirawat di rumah sakit. Kini kondisi kesehatan Pak Joko sudah mulai membaik tetapi, Pak Joko masih membutuhkan perawatan dan dia belum bisa bekerja.
Uang tabungan Maharani yang rencananya untuk membeli laptop, ia gunakan untuk membiayai pengobatan Pak Joko. Maharani tidak mempermasalahkan hal itu.
Setelah Pak Joko sudah diizinkan pulang ke rumah, Pak Joko masih membutuhkan perawatan jalan. Ibu Halimah juga tidak dapat leluasa lagi bekerja di rumah tetangga sebagai buruh cuci. Karena Pak Joko masih membutuhkan perawatan.
Walaupun Maharani benar-benar mengalami kesulitan dalam ekonomi saat ini. Dia tidak pernah mengeluh. Bahkan saat Sabrina menawarkan bantuan kepadanya, dia selalu menolak. Dia selalu menjawab Dia masih sehat dan masih bisa bekerja.
Untuk sekedar membantu Maharani, akhirnya Sabrina menawarkan Maharani untuk mengajar les privat di rumahnya. Apa lagi nilai matematika adiknya sangat rendah. Membuat Sabrina memutuskan meminta kepada Maharani untuk menjadi guru les privat adiknya, setelah mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
Kini kesibukan Maharani semakin bertambah, setelah pulang dari kampus ia langsung menuju rumah Sabrina dan mengajar adiknya yang saat ini duduk di bangku SMA. Setelah pulang dari sana, baru ia langsung menuju ke Cafe. Setiap hari aktivitas itu dilakukan oleh Maharani tanpa mengeluh sedikitpun.
Akhir-akhir ini, Maharani tidak memiliki waktu lagi untuk sekedar bekerja kelompok dengan sahabatnya Sabrina. Karena ia harus bekerja setelah pulang dari kampus. Tetapi Maharani selalu semangat, untuk menempuh pendidikannya, agar dirinya lulus dengan nilai yang memuaskan.
Supaya beasiswa yang diberikan oleh Tuan Herlambang tidak sia-sia untuknya. Untungnya sampai saat ini Devano belum mengetahui kalau Tuan Herlambang yang memberikan beasiswa untuk Maharani yang memiliki otak cerdas.
Devano, Gibran dan gengnya saat ini sedang berada di cafe, dimana Maharani bekerja. Sementara Anggraini, Puspita dan Dewi juga berada di sana.
Maharani sudah menduga, kalau orang-orang yang sering mengejek dan mengolok-oloknya pasti akan melakukan hal yang sama, walaupun di tempat yang ramai seperti ini.
Tetapi Maharani berusaha untuk kuat, walaupun mereka akan mengejeknya. Bahkan mempermalukan Maharani di cafe itu.
"Ampun!!! ada kingkong...."teriak Gibran saat Maharani berjalan menuju meja yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat duduk mereka.
Ia melihat Maharani sedang melayani pengunjung yang ada di cafe itu. Saat Maharani berjalan, Devano menghadang kakinya berharap Maharani terjatuh. Tapi sayangnya Devano salah, Maharani sudah menebak itu akan terjadi, sehingga ia berjalan dengan hati-hati.
"Maaf Saya ingin jalan, tolong singkirkan kaki kamu."ucap Maharani berusaha sopan. Tapi Devano Malah semakin memajukan kakinya ke depan. Agar Maharani tidak dapat berjalan melewati meja mereka. Sementara saat ini tangan Maharani sedang memegang nampan berisikan piring dan gelas kotor, yang sudah ia pungut sebelumnya dari meja pengunjung.
Maharani menggelengkan kepalanya melihat tingkah Devano. Dia memilih untuk menghindar dan berjalan menjauh dari sana. tetapi Gibran langsung menghalanginya agar Maharani tidak dapat pergi dari sana.
Seseorang memperhatikan perlakuan Devano dan juga teman-temannya kepada Maharani, dia pun merekam Apa yang dilakukan oleh Devano, Gibran, dan teman-temannya begitu juga dengan Dewi beserta teman-temannya.
"Tolong kalau mau cari ribut jangan di sini. Ini tempat saya mencari nafkah! Saya tidak ingin mengotori periuk saya."
"Hahaha... sudah gendut, jelek, miskin Aduh nggak level satu kampus dengan orang beginian."ucap Puspita, Anggraini dan juga Dewi kompak. Ketiganya tertawa ngakak menatap Maharani dengan tatapan mengejek.
Tiga orang wanita beserta empat orang pria berada di samping kiri, kanan, dan muka belakang, Maharani mentertawakan Maharani.
"Benar-benar kurang ajar mereka, mereka membully mahasiswa itu."gumam seorang pria yang sedari tadi merekam perlakuan Devano terhadap Maharani. Pria itu mengembangkan senyumnya, Dia adalah Erwin. Erwin yang selama ini menjadi rival dari Devano.
"Aku akan membuatmu di Depag dari keluargamu, bahkan dari kampus sekaligus. Jika Tuan Herlambang mengetahui perlakuan kamu ini, kamu akan mendapat hukuman." gumam Erwin penuh dengan kemenangan.
Maharani berusaha untuk menghindari teman-teman satu kampusnya. Hingga ia berusaha untuk keluar dari sana, tapi seseorang langsung menjambak rambutnya. Nampan yang dipegang oleh Maharani hampir terjatuh ke lantai. Ia berusaha meletakkan kembali nampan itu ke meja, ketika Anggraini menjambak rambutnya.
Sementara Devano menarik kerah baju yang dikenakan oleh Maharani.
__ADS_1
"Aku belum puas Jika kamu belum keluar dari kampus! enyah dari kampus gunadarma maka hidupmu akan tenang." bentak Devano.
"Kuliah di universitas Gunadarma merupakan salah satu impian saya. Apapun masalahnya akan saya jalani, kalau hanya ingin mengeluarkan Saya dari kampus menjadi nyaman bagimu, Kenapa tidak langsung berbicara kepada dosen, dekan, atau pemilik kampus sekaligus."Maharani mencoba menentang Devano.
"Iya jambak saja rambutnya....sudah jelek, gemuk. Buat malu di kampus kita." teriak Puspita.
Sementara pemilik Cafe langsung menghampiri Maharani.
"Apa-apaan ini! jangan mencari ribut di cafe saya. Bubar!!!
"Jadi kamu pemilik Cafe ini? Aduh apa tidak ada lagi manusia yang akan diangkat menjadi pelayan bekerja di sini?
"Memangnya Apa masalahnya dengan anda?
"menjijikan Saya makan di sini dilayani pelayan seperti dia.
"Astagfirullah, jaga ucapan Anda. Anda seorang mahasiswa, tapi ucapan Anda layaknya anak jalanan yang ada di luar sana. "Jika anda tidak senang makan di sini, silakan cari tempat lain jangan membully pelayan yang bekerja di sini."titah pria pemilik Cafe itu membuat Devano merasa direndahkan.
"Kamu tidak tahu siapa?
"Saya tidak tahu siapa kamu, dan saya juga tidak mau tahu. Jika anda tidak senang makan di sini, silahkan pergi dari sini! Dan tolong, makanan yang sudah kalian makan bayar sekarang juga dengan tunai, tanpa debit dan kartu kredit."ucap pria itu yang mampu membuat Devano langsung terdiam.
Bagaimana tidak, Devano jarang sekali menggunakan uang tunai. Dia hanya menggunakan debit ataupun kartu kredit yang diberikan ayahnya.
"Cepat bayar sekarang makanan kalian totalnya satu juta lima ratus ribu."tita pria itu yang langsung membuat Devano menatap ketiga sahabatnya.
Ketiga sahabatnya mengangkat bahunya. Itu berarti mereka juga tidak memiliki uang.
"Nah, kalian tidak memiliki uang tunaikan? itu artinya kalian hanya memanfaatkan uang orang tua kalian. Tapi kalian sudah bangga lihat Maharani. Dia bekerja dan kuliah dengan jerih payahnya sendiri. Sementara kalian hanya memanfaatkan kekuasaan harta yang dimiliki oleh orang tua kalian." ucap pria itu sambil langsung meraih black card yang ada di tangan Devano. Setelah menggesek black card itu, pria itu pun langsung memberikannya kembali kepada Devano dan meminta kepada Devano dan gengnya meninggalkan kafe miliknya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN