Diary Gelap

Diary Gelap
Prolog


__ADS_3

Malam itu adalah malam dimana aku telah membuat jalan hidupku sendiri, kegelapan tidak perlu lagi untuk mengikuti jalan dan langkah ku, sebab aku telah memeluk erat takdir gelap ku itu.


"dimana Jimmy?" terdengar teriak pria dewasa dengan nada yang seram.


Tidak pernah terlintas di benakku bahwa akan ada permasalahan baru yg datang menimpa ku saat malam ini, diriku hanya sibuk dengan meneguk minuman yang membuat ku mengabaikan apa saja yang sedang terjadi di sekelilingku.


Teman Teman ku bangkit dari tempat duduknya, sebagian ada yang pergi meninggalkan tempat itu dan aku tidak memperdulikan nya dan tetap mengabaikan nya, yang tersisa hanya aku dan beberapa teman ku saja.


"mana yang namanya fadel?" suara itu terdengar kembali tetapi kali ini aku mulai curiga.


"saya tidak tahu apa apa om" balas teman ku fadel dengan suara yang gemetaran dan menunjuk ke arah ku.

__ADS_1


Akhirnya aku sadar saat mendengar suara itu kembali dengan lebih jelas, ditambah lagi dengan sebutan nama fadel yang telah cukup lama menjadi teman dekat ku, firasat ku tidak baik dan aku terpikir akan seseorang.


"ayahh?" benar! itu ayah ku, Aku menoleh kebelakang dengan rasa yang tidak percaya dan raut wajahku yang sudah jelas cemas masih berpikir kalau ini mimpi, ini tidaklah nyata.


Dan Aku semakin tidak percaya lagi dimana ibu ku juga ada di sini, "bagaimana jadinya aku setelah ini? dan apalagi yang terjadi setelah melihat anaknya secara langsung dalam keadaan seperti ini?", ini benar-benar mimpi buruk tapi ini sudah jelas nyata, pergerakan jalan ibu ku lebih cepat mendahului ayah saat ingin menghampiri ku.


"jimmy!! dasar kauu!" teriak ibu ku sambil menarik lengan bajuku dan lalu menampar ku.


"kau ngapain disini ha? mau jadi preman kau? dasar anak kurang ajar, kami di rumah udah cemas mikirin kau, nunggu kau pulang.. kau malah mabuk mabukan disini, kenapa? kenapa kau mabuk haa?" pertanyaan yang kembali keras dari ibu ku itu membuat ku tidak dapat berpikir apa pun dan mengucapkan satu kalimat pun tidak bisa, setengah hati ku merasa kesal dan setengah nya lagi aku merasakan sedih, saat mendengar suara ibu yang sedih itu lah yang membuat aku tidak dapat menahan, anak kesayangannya dan juga harapan nya itu sudah salah jalan.


Aku tetap terdiam tanpa berkata sedikit pun, aku hanya bisa menundukkan kepala dengan rasa yang bersalah dan ditambah lagi dengan keadaan ku yg sedang mabuk setengah sadar sehingga sulit sekali untuk berpikir jernih.

__ADS_1


Semuanya terasa seperti mimpi, terjadi begitu saja dan cepat, mimpi yang tidak sesuai keinginan ku mimpi ini sangat lah buruk.


Terlihat ayah yang sudah menahan amarahnya seakan ingin memberi pelajaran terhadap diriku, di lain sisi Fadel dan beberapa teman ku yang masih bersama ku juga hanya diam mematung seperti ku, mereka sedikit ketakutan.


"sudah, ayok kita pulang" ucap ayah kepada ibu.


"kau jim! duluan pulang sekarang, cepat pulang!"


"iya iyaa" jawab ku singkat saja dan dengan sedikit rasa kesal.


Aku pulang lebih dulu saat itu dengan keadaan ku yang mabuk dan sempoyongan diriku benar benar merasa tidak berguna, fadel dan yang lainnya hanya melihat saat aku ingin meninggalkan tempat itu benar benar hening dan tidak ada sedikit pun pembicaraan tapi aku merasa itu bukanlah masalah bagi ku saat ini. Masalahnya adalah bagaimana keadaan diriku setelah ini dan juga kedepannya, padahal aku masih berusia 15tahun. Ini misteri.

__ADS_1


__ADS_2