
Sudah terlalu cukup lama aku di luar, banyak yang telah aku bicarakan dengan yudhi dan masih banyak lagi yang belum kami ketahui, terlihat beberapa teman teman kelas ku yang tadi sebelum nya masih di kelas sudah keluar dan mereka berjalan secara gerombolan seperti para rombongan Serigala, mereka menuju ke arah tempat aku dan Yudhi sedang nongkrong disini lah biasanya kami semua sering bersama-sama dan menghabiskan waktu, begitu juga dengan murid murid kelas yang lainnya yang sudah mulai berkeliaran di lingkungan luar sekolah. Jam pelajaran pertama seperti nya sudah selesai tetapi sepertinya masih ada sedikit murid yang masih di dalam kelas sekolah, memang sekolah ini cukup bebas tidak begitu erat dengan peraturan seperti sekolah aku yang sebelumnya.
"orang orang udah keluar tuh yudh." aku melihat ke arah luar dari dalam warung. "kedalam yuk yudh,ambil tas kita."
"lahh mau pulang kamu jim?"
"nantii.. pas orang orang udah masuk kelas lagi."
"gak lanjut kamu abis ini? katanya mau rajin?"
"gak ahh... maless,kata siapa aku pengen rajin, absen pagi aja udah cukup."
Aku langsung beranjak dari tempat duduk ku setelah menghabiskan beberapa batang rokok, aku mulai melangkah kan kaki berjalan keluar dari warung. "udah ayokk, matiin aja rokoknya sambung nanti!"
"iya iyaa tunggu." yudhi juga beranjak dari duduk nya setelah mematikan rokok dan menyusul langkah ku keluar.
Setelah itu Aku mulai berpapasan dengan rombongan teman kelas ku yang tadi baru saja keluar dari kelas. "kemana jimm, kami baru sampai kamu udah pergi aja." ucap teman ku yang umurnya lebih tua sedikit dari ku, namanya putra.
"eh bgg engga bg cuma kedalam bentar ngambil tas doang, nanti kesini lagi kok."
"yaudah kami tunggu."
Cukup banyak teman teman ku yang juga berpapasan dan mengajak ku ngobrol serta saling menyapa.
Kebiasaan ku masih tidak bisa terkendali meskipun diriku sering berjanji akan menjadi yang lebih baik, tapi aku selalu kehilangan akal sehat ku saat diriku merasakan bosan, apa aku sehat? .Pada dasarnya niat baik ku yang tak terlihat itu selalu berlawanan dengan akal ku yang buruk, diriku seperti dikendalikan sesuatu dan seperti memiliki kepribadian ganda.
Aku sadar kalau diriku yang sekarang juga akibat keras nya pengaruh lingkungan dan pergaulan, tapi semakin aku menjalani aku semakin merasakan "ini lah diriku, ini lah takdir dan jalan ku" diriku sendiri yang akan menjadi sebuah kisah dan sejarah ke depan nya nanti, tidak perduli baik atau buruk yang terpenting tetap jalani.
"jadi kamu gimana yudh?lanjut masuk kelas atau ikut aku?"
"ya ikut aja lah, lagian ngapain juga lama lama aku disini."
"hahaha sadar juga ya kamu akhirnya." aku dan yudhi tertawa, terlihat senang sekali.
aku dan Yudhi saat itu mulai meninggalkan kelas setelah mengambil tas, aku mengajak yudhi kembali ke tempat tadi, di sana masih banyak teman teman ku yang sedang menunggu.
Disini lah kami semuanya sama, sama sama ingin kebebasan, berbagi cerita dan melepaskan canda tawa, meskipun diriku terlihat tenang tapi hati ku sangatlah senang. Selain itu tidaklah cuma kami yang ada disini karena masih banyak yang lainnya, satu sekolah memiliki beberapa kelompok atau gerombolan, ada gerombolan para penguasa yaitu kami, gerombolan anak anak baik dan para kutu buku, dan juga gerombolan pemain dalam kesunyian. Disini sangatlah lengkap dan bahkan aku tidak sepenuhnya tahu apa saja yang ada di sekelilingku.
"heh heh heh orang udah masuk, yok ke kelas." bang putra berseru untuk mengajak kami masuk kelas, seketika tawa dan canda kami terhenti, dia termasuk pemimpin di dalam rombongan kami ini.
"ayok lah ayok." Teman-teman ku yang lainnya membalas.
"iya, dari pada telat nanti gak dapet absen."
teman teman ku yang lainnya setuju, kecuali aku dan yudhi. Semuanya mulai beranjak dan mulai meninggalkan tempat tongkrongan, terlihat juga luaran sekolah sudah sepi.
"kami berdua gak masuk." Yudhi berseru.
"loh gak masuk kamu yudh, emang mau kemana abis ini?" juna salah satu teman ku bertanya dengan penasaran.
"ngga tau juga nih, si Jimmy yang ngajak." yudhi melirik ke arah ku.
"kamu nggak masuk juga jim?"
__ADS_1
"engga jun, males."
"emang mau kemana jim?" bang putra menyambung pertanyaan juna.
"mungkin ke warung depan bang." aku menjawab dengan tidak pasti, karena masih ragu ingin kemana.
"jangan keseringan bolos jim, udah kelas 3 nanti gak lulus lagi." bang putra seperti memberi nasehat tulus kepada ku.
"hahaha kalau si Jimmy emang udah keseringan." yudhi berseru kembali, seperti ingin membuat suasana menjadi cair.
"yaelah kalian semua sama aja." jawab bang putra.
"ahahahaha." kami tertawa bersama sejenak sambil berjalan meninggalkan tempat tongkrongan kami itu, aku dan yudhi akan lanjut berjalan ke arah luar jauh dari sekolah ini dan yang lainnya akan kembali masuk ke kelas.
Apa yang telah di ucapkan bang putra tadi sedikit membuat ku kepikiran, apa yang dia katakan tadi memang ada benarnya jika aku terus terusan malas seperti ini maka aku akan dapat masalah lagi dan ibu pasti akan semakin kecewa lagi, tapi aku berpikir apakah sekolah sebebas ini akan ada murid yang tidak lulus atau tinggal kelas, aku harus berhati-hati.
"kita ke warung depan dulu ya yudh, disitu aja kita bentar."
"terserah jim."
Tempat biasa, tempat tongkrongan kedua kami untuk selalu bersama sama. Mungkin setelah ini aku akan pulang ke rumah, aku ingin melanjutkan tidur ku sampai sore nanti semuanya terasa lelah dan tidak ada yang ingin aku lakukan, sinar matahari tidak akan menghambat tidur ku. Hanya kami berdua yang berjalan keluar dari sekolah, hanya kami anak sekolah yang terlihat di waktu jam pelajaran, sekolah kami tidak formal dan bebas menggunakan seragam apa pun, terlihat keren dan berbeda dari yang lain.
"rokok mu masih ada yudh?"
"udah engga jim, tolong beliin aku satu." yudhi duduk dan menaruh tas nya di meja warung.
Aku membeli rokok ke ibu ibu penjaga warung itu sekaligus untuk yudhi, aku dan yang lainnya sudah terbiasa disini.
"udah pulang?" ibu penjaga warung bertanya sambil memberikan uang kembalian.
"bolos terus kamu, mending di rumah nolong orang tua dari pada ngabisin waktu sama ngabisin duit."
Aku hanya menanggapinya dengan tertawa, aku duduk di sebelah yudhi dan memberikan rokok kepada nya, kami diam sejenak. Yang terpikirkan oleh ku saat ini hanya lah nasehat kecil ibu tadi, lagi dan lagi entah itu serius atau tidak, tapi itu benar benar tertanam di dalam pikiran. Orang seperti diriku bukan berarti tidak mendengar kan nasehat dari orang lain, tapi aku selalu bertanya tanya apa itu semua pantas bagiku? aku tidak akan mungkin menanyakan hal seperti itu kepada teman teman ku.
"oh iya yudh kemarin kemarin bang wan ada kesini?"
"ada lah!dia sering nanyain kamu waktu kamu jarang masuk sekolah."
"iya? siapa aja?"
"kayak biasa, sama bang fajri sama yang lainnya, kadang sendiri."
"oohh udah lama aku gak ketemu mereka, ke rumahnya nya aja udah gak ada."
"kadang kami juga nungguin kamu datang ke sekolah jim, mungkin sekarang mereka gak bakal kesini deh, atau kita ke rumahnya aja?"
"ehh jangan sekarang lah yudh, mau cepat cepat pulang."
"emangnya mau ngapain nanti kamu di rumah?"
"tidurrrr."
orang yang aku bahas dengan yudhi juga salah satu rombongan kami, bang diwan dan fajri mereka bersaudara mereka adalah orang yang ku kenal saat aku baru pindah ke sekolah ku yang saat ini hingga akhirnya aku dekat. Rombongan kami yang satu ini cukup banyak, kami adalah para Anak Anak Jalanan.
__ADS_1
"pulang yok yudh." aku berseru kepada yudhi dan berdiri dari tempat duduk.
"cepat kali jim, bentar lagi lah." yudhi masih duduk dengan menikmati rokok yang terselip di antara dua jari nya.
"jalan jalan dulu kita, kayak biasa... yok lah."
"okee deh." yudhi berdiri dan kami mulai beranjak.
Aku dan yudhi sering seperti ini, kami berjalan seperti para penguasa tempat yang kami lewati, seperti dua jagoan, jagoan jalanan, kami bercanda gurau, tertawa dan rokok selalu menghiasi jari jari kami. Hal seperti ini sangat sering kami lakukan sebelum pulang, terkadang tidak hanya kami berdua, kami juga banyak dan rombongan kami bermacam-macam.
"masih sering kamu minum minum yudh?"
"masih jim, kamu?"
"udah ngga sering sih, jarang sekali."
"kapan kita mabuk-mabukan lagi nih, kayak biasa... "
"terserah yudh, kamu atur aja."
"hehehe oke lahh."
minum minum, mabuk-mabukan, rokok, itu semua juga hal yang biasa kami lakukan.
"nunggu angkutan umum disini aja jim."
"iya."
"besok kamu sekolah kan yudh?"
"sekolah dongg."
"oke, aku jemput kamu pagi kerumah."
Saat aku tiba di rumah ibu ku selalu bertanya mengapa aku sering cepat pulang dan sudah pasti aku selalu menyiapkan beberapa alasan karena itu sudah menjadi keahlian ku, padahal anak sekolah seperti ku pada umumnya masih belajar dan berada di sekolah saat ini, tapi tidak dengan ku.
Orang orang disekitar rumah ku juga sering melihat ku seolah-olah aku ini seperti anak yang nakal, tidak punya aturan, tidak di didik sama orang tua, "sekolah apaan tuh, jam segini udah pulang, pasti bolos, dasar kurang didikan." Mungkin seperti itulah kira kira yang mereka pikirkan, aku bisa melihat dari mata mereka dan aku juga bisa merasakan dari suasana nya. Ya meski aku buruk di mata orang orang tapi aku tidak seburuk yang mereka lihat, aku punya diriku sendiri dan bukan berarti aku tidak di didik oleh orang tua ku.
"assalamu'alaikum." seperti biasa saat aku pulang ke rumah ibu dan ayah ku sedang beraktivitas dan menyelesaikan kerja di rumah.
"hah, udah pulang? kok cepat kali?" ibu ku sedikit heran
"udah lah bu, ya mau gimana lagi tadi cuman belajar bentar doang, ambil absen terus selesaiin tugas dahh pulang." aku menjawab sebisaku dengan santai.
"nggak mungkin deh pulang nya cepat terus." ayah memotong pembicaraan ku dan selalu tidak mempercayai alasan ku.
Aku hanya diam dan aku juga melihat ibu ku terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu.
"kamu selalu aja membuat peraturan mu sendiri."
Kata kata itu selalu di ucapkan ibu kepada ku, membuat peraturan ku sendiri.
Memang benar aku selalu berbohong kepada ibu dan ayah dan itu juga sesuatu hal yang membuat diriku merasa menyesal meskipun akan ku ulang terus kedepannya. Ayah ku tidak begitu mengetahui tentang diri ku dan tidak terlalu mengetahui apa yang terjadi pada diriku, tapi ibuku cukup mengetahui semuanya meski tidak 100%, karena aku lebih sering bercerita kepada ibu ku karena aku jauh lebih dekat dengan ibu ku. Aku hanya menceritakan hal yang membuat mereka senang tapi tidak dengan yang lainnya.
__ADS_1
Tempat ini adalah tempat yang aku ingin kan, kamarku adalah tempat yang selalu aku rindukan disaat situasi yang seperti ini aku lebih baik menghabiskan waktu ku di kamar dari pada di sekolah, lebih menyenangkan. Saat aku telah berada disini Yang terpikir kan hanyalah bersantai dan tertidur hingga aku kembali bermimpi. Ini mungkin terlihat buruk tapi ini lah yang terbaik bagiku.