
Amara duduk di sofa dengan tangan kanan menopang dagu. Matanya memandang lurus ke depan, seolah-olah tengah memikirkan sesuatu. Saat ini ia tengah berada di taman dekat rumah Sally, karena selain bosan Amara membutuhkan penyegaran pikirannya agar dapat menemukan rencana baru.
Beberapa waktu lalu ia menerima kabar jika Sally dan Zico berhasil lolos, tadinya Amara tidak mempermasalahkan itu. Ia memang mengirim orang untuk bisa mencelakai Sally dan Zico, tetapi bukan untuk membunuh mereka. Amara ingin menyiksa Sally secara perlahan bukan dengan sekali siksaan saja.
Amara pikir orang suruhannya berhasil melukai Sally dan Zico, tetapi justru orang-orangnya yang dilukai Zico hingga cukup parah. Padahal Ia sudah mengirimkan banyak orang, tetapi kenapa Zico bisa lolos tanpa terluka sedikit pun.
"Aku harus cari kerja kayaknya, aku gak bisa ngandelin uang tabungan dari hasil kerjaku di Korea terus-terusan. Pasti bakal abis kalo gini terus." Amara bergumam pelan, ia memikirkan pekerjaan apa yang dapat ia lamar dengan latar belakang yang cocok dengannya.
"Aku coba buat surat lamaran kali ya, aku harus punya uang buat bisa ngelancarin rencana selanjutnya ke Sally dan Zico. Kalo aku gak kerja, gimana caranya bayar orang lagi buat ngehancurin mereka." Amara mengepalkan tangannya, ia tidak akan rela jika Sally dapat hidup dengan tenang. Ia perlu menyusun strategi lain.
Dehaman seseorang membuat Amara tersadar dari pikirannya, ia dengan cepat menoleh ke sampingnya. Matanya memicing melihat seseorang yang asing di penglihatannya.
"Tadi gue abis ketemu orang di sini dan gak sengaja denger omongan lo." Seseorang itu menyeringai pada Amara.
Amara membelalakkan matanya, takut jika orang asing ini mendengar ucapannya yang ingin menghancurkan hidup Sally dan Zico. Ia bisa-bisa masuk berita dan kedoknya selama ini akan terbongkar. Ia bahkan baru akan menyusun rencana lain, masa harus gagal sebelum dibuat.
"Oh ya? Apa yang Mas denger?" pancing Amara berusaha mengulik apa yang didengar orang di sebelahnya.
Orang itu tersenyum miring, ia duduk di samping Amara dengan santainya. "Gue denger kalo lo mau ngancurin hidup Zico dan istrinya, wah ini sih bisa jadi berita besar. Gimana ya kalo media tau, mungkin bakal geger dan akan banyak yang ngelindungin Zico."
Amara melotot mendengarnya, laki-laki di sebelahnya ini mendengar semua ucapannya. Bisa kacau kalau laki-laki ini berniat untuk melaporkannya. "Mungkin Mas salah denger, saya gak bilang gitu kok." Amara beralibi, walaupun ia tahu kemungkinan laki-laki itu percaya sangat sedikit.
"Lo tenang aja, gue gak berniat buat ngelaporin lo. Justru gue mau ngajakin lo kerja sama, gue juga benci sama Zico. Gue mau buat dia hancur, cuma selama ini gue belum nemu orang yang bisa dipercaya buat ngejalanin rencana gue." Ucapan laki-laki itu menarik perhatian Amara.
"Ini serius? Tapi sebenernya kamu ini siapa? Kenapa kamu gak suka sama Zico?" tanya Amara tidak sabar.
Laki-laki itu tersenyum tipis, lalu beralih menatap Amara. "Yang pasti gue kenal banget sama Zico dan sebaliknya. Lo cukup tau itu aja, jadi gimana? Lo mau kerja sama? Anggap aja lo lagi kerja. Gue bakal gaji lo, tapi lo harus ikutin rencana gue dan lo yang ngejalanin. Selain lo tetep bisa jalanin ambisi lo, lo juga bakal dapet gaji. Menguntungkan, kan?"
Amara tersenyum, tawaran laki-laki itu akan sangat menguntungkan baginya. Pasalnya ia tetap bisa menghancurkan hidup dua orang yang ia benci, tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Bahkan ia akan mendapatkan gaji juga, dengan keuntungan seperti ini bagaimana bisa ia menolak.
"Oke, aku setuju!" seru Amara sembari tersenyum lebar. Akhirnya ia bisa kembali menjalankan rencana lain, tunggu saja apa kejutan selanjutnya. Amara tidak akan berhenti, sebelum Sally dan Zico benar-benar menderita.
****
Sally tengah duduk di sofa yang ada di kamarnya, tangannya memegang buku dan membacanya dengan serius. Setelah kejadian kemarin, ia ingin menenangkan pikirannya dengan bersantai membaca buku. Untungnya ia sudah merapikan rumah dan memasak, sehingga ia bisa bersantai dengan tenang saat ini.
"Sally!"
Panggilan menyebalkan itu membuat kegiatan bersantainya terganggu, ia mendengus kesal mendengarnya. Namun ia sedang tidak ingin keluar, jadi ia tetap melanjutkan bacaannya tanpa memedulikan ucapan Zico.
"SAL!" panggil Zico lagi dengan suara lebih kencang, hal itu membuat fokus Sally menjadi terpecah.
"Aduh, apaan sih!" ucap Sally kesal sembari menutup bukunya, ia terpaksa keluar dari kamar atau telinganya akan sakit jika terus-terusan mendengar suara Zico.
Sally membuka pintu kamarnya, kemudian celingukan mencari Zico. Namun nihil, orang itu tidak ada. Lalu di mana, apa ada di kamarnya? Apa Zico sudah gila meneriakkan namanya dari kamar laki-laki itu. Dengan wajah kesal ia melangkah menuju kamar Zico yang ada di ujung dari kamarnya.
Begitu sampai di depan kamar Zico, Sally melongo melihat Zico yang tengah duduk di tepi kasur sembari memainkan ponselnya dengan santainya. Ia pikir Zico sedang sibuk, hingga berteriak memanggil namanya dari kamar laki-laki itu. Namun ternyata salah, ia dengan kesal masuk ke kamar Zico.
"Kamu kenapa gak langsung manggil di kamar sih, malah teriak-teriak dari sini." Sally memandang Zico kesal.
Zico bangkit dari kasur dan menatap Sally. "Gue tuh bingung banget, ternyata peran gue yang sekarang itu bakal banyak scene main ice skating. Sedangkan gue aja gak bisa. Gue gak tau harus gimana sekarang." Zico mengembuskan napas panjang.
Sally memandang Zico yang tampak tidak bersemangat. Ia mengerti sekarang apa yang terjadi, tangannya bergerak menepuk bahu Zico. "Aku bisa bantu kamu, gini-gini aku jago lho."
"Serius? Lo bisa?" tanya Zico tidak percaya.
"Jangan ngeremehin gitu dong mukanya. Belum tau aja sejago apa," ucap Sally tersenyum penuh percaya diri.
__ADS_1
Zico tersenyum lebar mendengar jawaban Sally, ia reflek memeluk Sally saking senangnya. "Akhirnya masalah gue ada solusi juga, pokoknya lo harus ajarin gue sampe bisa."
Sally tidak membalas pelukan Zico saking terkejutnya dengan tindakan lelaki itu yang sangat tiba-tiba.
Zico kembali melepaskan pelukannya, ia beralih menatap Sally masih dengan binar di matanya. "Kita belajar sekarang aja, gimana? Besok kan gue udah harus shooting, jadi biar besok gue udah bisa."
Sally mengangguk pelan sebagai jawaban, ia tersenyum melihat Zico yang tampak bersemangat.
"Yaudah, gue mau ganti baju dulu. Lo nanti kalo udah siap langsung tunggu di bawah aja," ucap Zico.
Sally mengangguk, lalu keluar dari kamar Zico untuk membiarkan lelaki itu berganti pakaian. Ia pun masuk kembali ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
***
Saat ini Sally dan Zico sudah berada di dalam mobil untuk menuju ke salah satu mal di Jakarta yang memiliki area seluncur es. Jalanan tampak begitu lengang hari ini, sehingga tidak butuh waktu lama untuk sampai di mal yang dituju.
Mobil Ferrari berwarna merah milik Zico akhirnya sampai di mal yang dituju, ia pun memarkirkan mobilnya di basemen mal. Setelah berhasil memarkirkan mobilnya, Zico dan Sally pun turun dari mobil.
"Lo beneran bisa gak, nih?" tanya Zico setelah turun dari mobil.
Sally mendelik sebal, sudah berapa kali Zico terus saja menanyakan hal yang sama. "Gak bisa," sarkas Sally kesal.
Zico terkekeh mendengar jawaban Sally yang tampak sudah pasrah. "Ya gue masih ragu aja, soalnya lo naik motor aja masih nabrak kan," ledek Zico.
Sally memberengut kesal, memangnya ia separah itu hingga Zico tidak mempercayainya. "Itu beda, ya. Mau diajarin gak sih? Ngeledek mulu perasaan," balas Sally sembari melangkah mendahului Zico.
Zico justru tertawa melihat tingkah Sally, sudah lama ia tidak melihat perempuan itu bersikap seperti ini. Ia merasa lega, karena Sally tidak lagi dingin kepadanya seperti sebelumnya.
Setelah puas tertawa, Zico menyusul Sally yang berada di depannya. "Yaudah sih, gak usah ngambek. Muka lo makin jelek kalo ngambek," ejek Zico begitu berada di samping Sally.
Sally menatap tajam Zico sekilas, lalu kembali memandang ke depan. "Biarin!" balas Sally tidak peduli.
"Mas, saya bisa pesen tempat ini buat kita doang dua jam ke depan, gak?" tanya Zico pada penjaga tersebut.
Sally terperanga mendengar ucapan Zico, ia pun melangkah ke arah laki-laki itu. "Ngapain? Gak usah lah," bisik Sally pada Zico.
"Ya biar gue gak malu lah, gengsi gue kalo ada yang liat gue jatoh entar. Image gue bisa ternodai," balas Zico ikut berbisik.
Sally memutar bola matanya jengah mendengar jawaban Zico. Ia tidak lagi menahan Zico, biarlah lelaki itu membuat keputusannya sendiri.
"Bisa, Mas."
Untungnya Zico datang tepat di saat tempat ice skating ini baru buka, sehingga belum banyak orang dan ia bisa langsung memesan untuk dirinya sendiri tanpa harus menunggu.
Sally melangkah menjauhi Zico yang sedang mengurus pembayaran, ia berdiri di samping pintu masuknya sambil menunggu Zico. Begitu semuanya selesai, keduanya pun masuk bersamaan menuju loker untuk menaruh barang-barangnya.
Sally menaruh tasnya di loker yang sama dengan Zico, karena memang barang bawaannya tidak banyak. Setelahnya ia dan Zico menuju tempat sepatu, mereka mengukur kaki mereka untuk menentukan sepatu yang akan diberikan.
Begitu selesai keduanya diberikan sepatu yang sesuai ukuran tadi, juga sarung tangan dan kaus kaki. Barulah mereka menuju lokasi tempat mereka akan berlatih.
Sally masuk ke area itu tanpa ragu, sementara Zico masih terdiam di tepi area dengan ekspresi tidak yakin. Melihat itu, Sally menghampiri lelaki itu untuk meyakinkannya.
"Udah kamu percaya aja sama kemampuan diri kamu sendiri, kalo gak dicoba gimana mau bisa? Ayok!" ajak Sally menarik tangan Zico perlahan menuju area tengah.
"Eh, pelan-pelan dong nariknya! Lo kalo mau bales dendam sama gue, gak di sini dong." Zico menatap Sally kesal sambil menggenggam erat tangan Sally, begitu perempuan itu membawanya ke area tengah.
Sally tidak menghiraukan ucapan Zico, ia mulai mengajari Zico teknik dasar untuk melangkah kecil. "Coba kamu jalan pelan-pelan dulu," ucap Sally pada Zico, tanpa melepaskan tangan Zico.
__ADS_1
Zico mengangguk, lalu melangkah kecil mencoba menyeimbangkan tubuhnya. Namun baru beberapa langkah, ia hendak terjatuh.
Sally dengan cepat menahan Zico agar tidak terjatuh. "Jangan tegang, coba santai aja biar gak kaku."
"Gue gak tegang, kok. Mendingan lo lepasin tangan lo, gue bisa tanpa dipegangin kayak anak kecil gini." Zico menyangkal ucapan Sally.
"Yaudah kalo bisa," balas Sally sembari melepaskan tangan Zico.
Zico kembali mencoba melangkah dengan perlahan, kali ini ia berhasil daripada percobaan sebelumnya. Ia pun tersenyum penuh percaya diri pada Sally. "Tuh, lo liat kan. Gue itu bisa tanpa dipegangin," ucap Zico dengan percaya diri.
"Yaudah, bagus malah aku gak perlu repot-repot."
Zico kembali melangkah kecil lalu mencoba meluncur secara perlahan dengan menyeimbangkan tubuhnya. Namun begitu ia bisa meluncur, ia tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. "Sal! Gue gak bisa berhenti, ini gimana?!" ucap Zico panik.
Sally meluncur dengan cepat untuk menyusul Zico, tetapi saat ia baru saja sampai di depan Zico tangannya justru ditarik kencang. Hal itu membuat tubuhnya oleng dan terjatuh menindih Zico.
Sally melotot begitu melihat ia berada tepat di atas tubuh Zico. "Kamu ngapain sih, narik tanganku segala. Jatoh kan jadinya," ucap Sally kesal.
"Sorry, tadi gue panik. Lagian lo kenapa gak ngajarin gue ngerem, sih? Malah ngebiarin gue sendirian," balas Zico tidak mau kalah.
"Tadi katanya kan gak mau dipegangin, yaudah. Aku baru mau ngajarin kamu meluncur pelan-pelan, malah udah jalan duluan aja. Salah siapa sekarang?" Sally menatap Zico kesal.
"Yaudah iya salah gue, tapi bisa gak lo berdiri dulu. Berat badan lo!" sindir Zico.
Sally baru sadar ia masih berada di atas tubuh Zico, dengan setengah malu ia bangkit dan kembali berdiri. "Enak aja berat!"
"Eh, bangunin gue dong. Gimana sih, udah tau licin. Dasar gak peka!" kata Zico setelah melihat Sally hanya berdiam diri tidak membantunya berdiri.
Sally menggerutu kesal, ia mengulurkan kedua tangannya sebagai pegangan untuk Zico berdiri. Setelah Zico berhasil berdiri, ia melepaskan tangannya.
"Jadi gimana, masih mau lanjut gak?" tanya Sally pada Zico.
"Ya masih lah, lo pikir gue bocah yang kalo jatoh langsung kapok. Lagian ini kan penting buat peran gue, jadi gue harus bisa gimanapun caranya."
Sally tersenyum tipis mendengarnya. "Yaudah, ayo kita belajar lagi. Aku liat cara kamu meluncur tadi udah bener, tinggal cara berhentinya doang. Biar aku kasih tau caranya," ucap Sally.
Ia pun mulai mencontohkannya, ia meluncur terlebih dahulu lalu berhenti dengan kedua kaki yang sedikit lebar membentuk huruf 'v'.
"Cara yang paling mudah itu metode snow plow, kamu berhenti dengan ngelebarin kaki biar seimbang ngebentuk huruf v. Kaki kiri kamu ditekuk sambil kamu dorong kaki kanan mengarah diagonal ke depan." Sally menjelaskannya pada Zico.
Zico pun mulai mencoba yang sudah dijelaskan Sally. Ia meluncur terlebih dahulu lalu menghentikannya dengan cara yang diberitahukan Sally. Hanya dalam percobaan sekali, Zico langsung berhasil mempraktikkan nya. "Yes, gue bisa! Gila pinter banget emang gue," ucap Zico dengan tersenyum puas.
"Yee mulai deh sombong," sindir Sally.
"Bukan sombong, itu mah emang fakta." Zico kembali meluncur, kali ini ia lebih tenang dibanding sebelumnya. Ia tidak lagi merasa kaku, kali ini ia dapat meluncur dengan lebih santai.
Sally tersenyum melihat Zico yang sudah asik meluncur di es, dalam hati ia merasa senang karena telah berhasil mengajari Zico. Cukup lama ia berdiam diri memandangi Zico, sampai akhirnya ia pun ikut meluncur bersama Zico.
Keduanya tampak asik meluncur bersisian, menikmati permainan mereka. Cukup lama mereka meluncur di atas es tersebut, sampai keduanya merasa lelah.
Sally yang sudah merasa lelah, meluncur ke tepi dekat pintu masuk. Tidak terasa waktu sudah terlewati satu jam setengah, itu artinya mereka masih punya waktu setengah jam lagi di tempat ini.
"Keren juga lo, gak nyangka lo bisa main seluncur es gini. Belajar dari mana lo? Yang ngajarin lo pasti sabar banget orangnya, ngajarin lo yang bebel begini." Zico berbicara ketika sudah menyusul Sally yang berada di tepi pintu keluar.
Sally harusnya kesal mendengar ucapan Zico, tetapi kali ini ia hanya diam sembari menatap lurus. Sudut bibirnya terangkat memikirkan kembali orang yang telah mengajarinya bermain seluncur es. Orang yang tidak pernah lelah mengajarinya apa pun, mungkin saja jika dia masih ada Sally akan bisa menaiki motor sekarang.
"Dia emang sabar orangnya, dia ngajarin aku banyak hal tanpa lelah. Dia kembaranku, namanya ... Salma." Sally menjelaskan tanpa melihat ke arah Zico.
__ADS_1
Zico terenyuh, ia menatap Sally dalam. Seketika ia tidak lagi mampu mengeluarkan kata-kata, apalagi dengan senyum rapuh perempuan di sampingnya ini. Sepertinya ia sudah salah bertanya.
****