Dilema Pernikahan 150 Hari

Dilema Pernikahan 150 Hari
Bab 29-Menjauh


__ADS_3

Sally mengeluarkan beberapa lembar uang kepada sang sopir, kemudian ia turun dari taksi yang dipesannya tadi tepat di depan rumah besar milik Zico. Tampak langit sudah sangat gelap, karena memang saat ini sudah pukul sepuluh malam.


Kalau ditanya kenapa Sally bisa pulang semalam ini? Jawabannya karena setelah makan bersama Devian dan Abel tadi, siangnya ia langsung mengoreksi tulisannya bersama dengan Devian hingga sore hari. Ada banyak hal yang perlu dikoreksi, sampai benar-benar sempurna dan diberikan pada teman Devian.


Untungnya saat itu juga temannya Devian menerima Sally dan langsung meminta Sally ke kantornya untuk membahas proyek film yang akan digarap. Pertemuan Sally dengan Alex -- teman Devian memakan waktu cukup lama, karena ada banyak hal yang dibahas mengenai cerita yang akan dibuat.


Setelah itu selesai pun Sally sendiri memutuskan untuk makan di sebuah tempat terlebih dahulu, karena itulah ia sampai pulang semalam ini. Namun tidak masalah, karena kerja kerasnya tidak sia-sia dan Sally bisa mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai penulis skrip.


Sally membuka pintu gerbang rumah Zico, lalu menutupnya kembali. Ia pun bergegas melangkah masuk ke rumah untuk membersihkan diri, sekaligus beristirahat. Saat ini rasanya ia lelah sekali dan ingin cepat-cepat istirahat. Apalagi besok ia harus mulai menggarap pekerjaannya, walaupun besok ia bisa mengerjakannya dari rumah.


Begitu Sally selesai berganti dengan pakaian santainya, ia pun beranjak ke kasur untuk merebahkan tubuhnya. Rasanya ia sudah lelah ingin segera tidur, tetapi entah kenapa berkali-kali ia memejamkan matanya tetap saja ia tidak bisa tidur.


Sally memiringkan tubuhnya untuk mengubah posisi tidurnya, lalu kembali memejamkan matanya. Namun tetap saja ia tidak bisa tertidur, terpaksa ia menyingkap selimutnya dan melangkah ke lantai bawah sembari membawa laptopnya. Mungkin lebih baik ia mengerjakan pekerjaannya saja, agar rasa kantuknya datang.


Alhasil ia pun duduk di tempat biasa ia mengerjakan pekerjaannya, lalu menyalakan laptopnya. Begitu menyala Sally pun mulai fokus menulis skrip yang sesuai dengan topik yang diminta bosnya.


Sally sebenarnya merasa lelah, tetapi tidak masalah. Ia rela mengerjakan skrip sampai malam seperti ini, semua ini demi agar ia memiliki penghasilan sendiri. Agar ia bisa menabung untuk membayar ganti rugi mobil Zico, dengan begitu ia bisa terbebas dari pernikahan yang memang seharusnya tidak pernah terjadi ini.


Pukul sebelas malam, tidak terasa hampir satu jam Sally bergelut dengan pekerjaannya. Namun rasa kantuknya belum juga menghampirinya. Mungkin sebentar lagi ia akan mengantuk, jadi ia tetap melanjutkan kegiatannya.


Suara deru mobil Zico terdengar, membuat tangan Sally berhenti mengetik seketika. Zico sudah pulang, ini pertama kalinya ia masih terbangun di saat Zico pulang malam.


Tak lama pintu rumah terbuka, lalu kembali dikunci oleh Zico. Di dalam lampu masih menyala, itu artinya ada Sally di ruang bawah. Ia pun segera melangkah untuk mencari Sally, tangannya sedikit terkepal dengan tatapan mata tajam.


"SALLY!" panggil Zico dengan nada tinggi.


Sally menoleh dengan perasaan terkejut dengan suara Zico yang tidak biasanya. Ia melihat Zico berjalan ke arahnya dengan wajah dingin, hal itu membuat Sally tidak mengerti apa alasannya. Apa dia melakukan kesalahan yang membuat Zico marah?


"Belum tidur lo, bagus lah ya. Gue gak perlu bangunin lo lagi jadinya." Zico berucap ketus.

__ADS_1


Sally masih bergeming menatap Zico tidak mengerti.


Zico menarik pergelangan lengan Sally, membuat perempuan itu meringis pelan. "Pagi tadi lo abis dari kantor Devian, 'kan?" sindir Zico dengan wajah sinis.


Sally membelalakkan matanya, bagaimana Zico bisa tahu? Tiba-tiba ia kembali teringat peristiwa pagi tadi saat Devian dan Aletta bertengkar. Mendadak perasaannya menjadi tidak enak, apa mungkin Aletta mengatakan sesuatu pada Zico?


"JAWAB!" bentak Zico saat melihat Sally masih saja bergeming.


"Iya," balas Sally masih dengan keterkejutannya mendengar nada tinggi Zico. Pasalnya selama ia bertengkar dengan Zico, tidak pernah sekalipun lelaki itu memarahinya dengan nada tinggi seperti ini.


Zico menatap Sally tajam, tangannya bergerak menunjuk wajah Sally. "Puas lo udah bikin Devian lebih mihak orang asing kayak lo dibanding sahabatnya sendiri? Apa lo tau, selama ini gak pernah sekalipun Devian ngusir Aletta apalagi ngebentak-bentak dia dengan kasar. Tapi cuma gara-gara lo, Devian berani ngelakuin itu. Apa sih yang udah lo pengaruhin ke Devian? Apa?!"


Benar dugaannya, kemarahan Zico ada sangkut pautnya dengan peristiwa tadi pagi. Padahal ia sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan antara Devian dan Aletta. "Zico, aku sama sekali gak tau apa-apa, aku bahkan gak tau apa yang diomongin mereka. Aku ke sana, karena emang sebelumnya aku udah ada janji sama Devian. Tapi pas aku ke sana tiba-tiba aja ada Aletta, aku juga udah ngomong ke Devian biar urusan Aletta aja yang duluan. Urusanku biar nanti aja, tapi-"


"Devian lebih milih lo, iya 'kan? Seneng kan lo? Lo sengaja ya deket sama Devian buat pengaruhin dia dan ngerusak pertemanan gue, biar lo bisa bales dendam ke gue?! Kalo lo mau bales dendam gak gini caranya!" potong Zico sengit.


"Kenapa lo gak berani natap gue, lo takut? Karena apa yang gue bilang itu bener, iya 'kan? Gue bener-bener gak nyangka ya kalo lo kayak gini aslinya, gue pikir lo itu orang baik, tapi gue salah. Lo orang yang licik, gak sesuai sama penampilan lo yang alim!" hardik Zico.


Cukup sudah ucapan Zico sudah sangat keterlaluan, Sally menampar wajah Zico kencang. Air matanya yang sedari tadi ia tahan, mengalir begitu saja seiring dengan rasa sakit di hatinya. "Cukup! Omongan kamu itu gak berdasar, kamu bahkan gak tau apa yang terjadi. Tapi bisa-bisanya kamu nuduh aku kayak gitu. Kamu bisa ngomong dulu sama Devian, gak langsung nyalahin kayak gini."


"Asal kamu tau aku deket sama Devian, bukan untuk tujuan ingin mempengaruhi atau sengaja mau bales dendam ke kamu. Aku baru dapet pekerjaan dari temennya Devian dan itu karena Devian selalu bantuin aku buat bisa dapet itu. Hasil dari pekerjaan itu buat aku bisa ganti rugi mobil kamu dan kita gak perlu terjebak di pernikahan ini lagi. Cuma itu doang, tapi pikiran kamu jauh banget ya sampe bisa mikir ke situ." Sally memandang Zico dengan wajah kecewa.


Sementara Zico justru terdiam, ia merasa bersalah karena sudah berbicara yang tidak-tidak. Ia terbawa emosi, hingga ia tidak berpikiran jernih. Melihat wajah kecewa Sally, entah kenapa membuat perasaannya ikut sakit dan kesal dengan apa yang sudah ia bicarakan tadi.


"Sekarang terserah kamu mau nilai aku kayak gimana, aku udah gak peduli. Aku gak akan lagi ganggu kamu dan Devian setelah ini, aku cuma bakal fokus untuk bisa ngumpulin uang buat ganti semuanya dan bisa pergi dari hidup kamu. Itu 'kan yang kamu mau?" Sally tersenyum sendu, lalu berbalik untuk mengambil laptopnya dan beranjak pergi dari hadapan Zico.


Di belakang, Zico menatap punggung Sally dengan perasaan tidak menentu. Ingin rasanya ia mengejar Sally dan meminta maaf, tetapi ia merasa malu. Ini salahnya yang tidak mencari tahu dulu pada Devian, tidak langsung menyimpulkan seperti ini. Sekarang ia justru menyesal telah membuat Sally sakit hati karena ucapannya. Namun penyesalannya tetap tidak akan mengubah keadaan.


***

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Sally sudah berada di dapur untuk memasak, ia sengaja agar tidak bertemu dengan Zico. Ia memang tetap akan melakukan tugasnya sesuai kesepakatan dengan Zico, hanya saja ia tidak akan lagi mengajak Zico berbicara jika tidak benar-benar penting. Ia sudah memutuskan untuk tidak lagi berinteraksi seperti biasanya, ini demi kebaikan hatinya. Karena jujur hatinya masih terasa sakit, ucapan Zico semalam sangat menusuk hatinya.


Sally mengambil mangkuk dan menuangkan sayur yang dimasaknya ke dalam mangkuk tersebut. Setelahnya ia pun menaruhnya di meja makan, lalu bergegas mencuci peralatan masaknya agar ia bisa kembali ke kamar secepatnya.


Begitu pekerjaannya selesai, Sally buru-buru melangkah ke kamarnya. Namun sepertinya ia sedang tidak beruntung, ia justru bertemu dengan Zico di tangga saat ingin naik ke kamarnya. Lelaki itu memakai pakaian olahraga, sepertinya dia ingin berlari pagi. Namun Sally tidak ingin mempedulikan, ia hanya menatap sekilas lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk ke kamar.


Sementara Zico masih memperhatikan Sally, sampai perempuan itu benar-benar masuk ke kamarnya. Entah kenapa ia merasa tidak suka dengan situasi seperti ini, padahal harusnya ia senang karena Sally tidak lagi mengganggunya. Namun kenapa perasaannya justru sebaliknya.


Zico menggelengkan kepalanya, mengusir perasaan aneh di hatinya. Ia kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar rumah. Ia memutuskan untuk berlari pagi untuk menyegarkan pikirannya, karena sejak semalam tidurnya tidak pulas.


Sesampainya di luar, Zico mulai berlari mengelilingi kompleks perumahannya. sembari memasang earphone di telinganya. Udara dingin seketika menerpanya, namun rasa dingin itu seolah tidak berpengaruh padanya. Kalah dengan pikirannya yang sedang kalut.


Entah apa yang salah dengan pemikirannya, ia masih saja merasa resah, walaupun sudah menyibukkan diri dengan berolahraga. Rasanya ia ingin meminta maaf, tetapi lagi-lagi rasa gengsinya terlalu tinggi untuk melakukan itu. Zico tahu ini memang salahnya, wajar jika Sally kecewa padanya. Namun ia tetap merasa malu untuk mengakui kesalahannya pada Sally.


Zico berdecak pelan, ia lelah dengan pikiran dan hatinya yang tidak sejalan. Ia melirik jam tangannnya, sudah pukul setengah 7 pagi. Ia harus pulang dan bersiap-siap sekarang untuk syuting kembali. Ia pun bergegas berlari ke arah rumahnya.


Sesampainya di rumahnya ia langsung ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap. Tidak memakan waktu lama, ia sudah kembali rapi dengan kaus polos berwarna hitam yang ia padukan dengan jaket kulit berwarna cokelat sebagai luarannya. Ia pun cepat-cepat memasukkan ponsel dan dompetnya ke saku celananya, lalu bergegas ke bawah setelah mengambil kunci mobil.


Di bawah, Zico menyempatkan untuk makan terlebih dahulu. Ia mengambil nasi dan sayur yang ada di atas meja, sejenak ia tersenyum tipis. Bahkan di saat marah saja, Sally masih memasak makanan untuknya.


Walau begitu, ia masih merasa sepi karena mereka benar-benar layaknya orang asing yang tidak saling kenal jika berpapasan. Sepertinya Zico harus mulai terbiasa, mungkin memang cara seperti ini lebih baik agar Sally tidak tersakiti lagi karenanya.


Zico memakan makanannya dengan cepat, karena ia diburu-buru oleh waktu yang menunggunya. Ia menaruh piringnya di wastafel, lalu mencucinya. Begitu selesai ia beranjak keluar menuju garasi mobilnya untuk pergi ke lokasi syutingnya. Jujur saja lebih baik ia sibuk seperti ini, agar ia bisa membiasakan diri dengan keadaan yang terasa asing ini.


Dalam hati ia berharap agar perasaan Sally lebih baik sekarang, ia tidak ingin melihat perempuan itu kembali menangis karena kesalahannya. Mulai sekarang ia akan berusaha berangkat kerja dan pulang di saat Sally berada di kamarnya, agar mereka tidak perlu bertemu. Dengan begitu perasaan Sally dapat lebih baik, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk bisa membuat perempuan itu tidak lagi terluka.


"Maaf, Sal." Zico berucap lirih.


****

__ADS_1


__ADS_2