
Zico merasa tidak enak, karena gara-gara pertanyaannya membuat Sally teringat akan masa lalunya. Ia sama sekali tidak tahu jika kembaran Sally yang mengajarkan, makanya ia tadi menanyakan itu.
"Maaf, gue gak bermaksud buat bikin lo inget lagi sama masa lalu." Zico menatap Sally dari sudut matanya.
Sally justru tersenyum, ia menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak, ini bukan salah kamu kok. Aku justru seneng ceritain tentang dia, karena aku bangga bisa punya sodara sebaik dia."
Kenangannya dengan Salma seolah kembali terputar di kepalanya, yang mana saat itu mereka tidak pernah terpisah. Kapan pun dan di mana pun ia berada, di situ pasti ada Salma. Wajahnya dan Salma pun sangat mirip, bagai pinang dibelah dua. Saking miripnya orang yang tidak mengenal mereka, pasti tidak akan tahu perbedaannya.
"Salma itu orangnya lebih aktif dibanding aku, makannya dia bisa banyak hal. Walaupun dia bisa banyak hal, dia gak pernah ngebandingin pencapaian dia. Justru dia mau ngajarin apa yang dia bisa, biar aku juga bisa. Mungkin kalo dia masih ada, dia juga yang bakal ngajarin aku naik motor." Sally tertawa sendu di ujung kalimatnya.
Zico tidak melepaskan pandangannya sedikit pun pada saat Sally bercerita, ia bisa menangkap raut bahagia sekaligus sedih di wajah Sally. Pasti Sally sangat merindukan momen bersama kembarannya.
"Salma pasti juga bahagia punya lo. Walaupun lo suka ceroboh, tapi lo orang yang tulus." Zico tersenyum lembut.
Sally menoleh ke arah Zico yang masih menatapnya. Jarang-jarang ia mendengarkan pujian dari Zico, karena biasanya lelaki itu selalu mengejeknya. "Tumben banget muji," celetuk Sally sembari terkekeh pelan.
"Salah lagi gue, gak ngeledek gak muji salah aja gue." Zico mendengus kesal.
Sally tertawa melihat ekspresi Zico, kadang ia tidak mengerti kenapa lelaki itu tidak bisa ditebak. Kadang dia menyenangkan, tetapi kadang juga sikapnya semena-mena.
"Sal!" panggil Zico.
Sally hanya menjawabnya dengan gumaman. Ia menatap Zico, menunggu apa yang ingin diucapkan lelaki itu.
"Gue bakal gantiin Salma buat ngajarin lo, nanti kalo gue lagi gak sibuk gue bakal ajarin lo naik motor. Biar pas kita udah gak bareng lagi nanti, lo bisa ke mana-mana sendiri bawa motor. Gak perlu boros naik ojek lagi kan," lanjut Zico.
Sally tidak tahu harus senang atau bagaimana mendengarnya. Jawaban Zico seolah menegaskan kembali jika mereka akan berpisah pada akhirnya. Sally sadar mereka tidak ditakdirkan untuk bersama sampai akhir, melainkan dipertemukan untuk kemudian berpisah. Hal itu lagi-lagi mengingatkannya untuk tidak berharap lebih.
"Aku gak yakin bisa kalo kamu yang ngajarin, yang ada kebanyakan marah-marahnya nanti. Bukannya bisa malah tertekan," canda Sally.
Zico menggerutu pelan mendengar ucapan Sally. Ia dapat membayangkan betapa menyebalkannya mengajari Sally nanti, pasti di sepanjang jalan perempuan itu akan terus mengoceh. Namun biarpun akan melelahkan, ia tetap akan membantunya. Sally sudah bersedia membantu mengajarinya hari ini, jadi ia juga akan membantu perempuan itu.
"Ayok, pulang. Udah mau abis waktunya," ujar Sally sembari keluar dari pintu.
Zico mengikutinya Sally keluar, keduanya mengembalikan sepatunya dan melepaskan sarung tangan yang diberikan tadi. Kemudian barulah kembali ke loker untuk mengambil barangnya di loker.
Sesampainya di loker yang dituju, Sally mengambil tasnya dan barang-barangnya. Ia dan Zico keluar dari area seluncur es tersebut setelah memakai barang-barang mereka kembali.
Begitu mereka sudah berada di luar, notif pesan di ponsel Zico berbunyi. Zico pun mengambil ponselnya dari sakunya, ia langsung membukanya takut jika itu hal penting tentang pekerjaannya. Namun ternyata itu bukan dari manajernya.
Aletta
__ADS_1
Zico, laporan kita ada kemajuan. Polisi udah nemuin ciri-ciri orang yang ada di bukti cctv. Kamu bisa nemenin aku ke kantor polisi lagi gak sekarang?
Zico membaca isi pesan dari Aletta, kemudian menoleh pada Sally dengan perasaan tidak enak. "Sal!" panggil Zico.
Sally menoleh begitu Zico memanggilnya, ia memandang lelaki itu dengan tatapan bertanya.
"Lo bisa pulang sendiri dulu gak sekarang? Gue harus pergi, ada urusan mendadak."
Sally bergeming, perasaannya seolah kembali dijatuhkan mendengar perkataan Zico. Kenapa Zico selalu dapat mengacak-acak perasaannya.
"Urusan sama Aletta?" Sally sudah tahu jawabannya, tetapi ia masih saja nekat bertanya pada Zico.
Zico menatap Aletta sejenak, sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Iya," balas Zico pelan.
Sally memalingkan wajahnya, ia merasa tangisnya akan pecah jika terus menatap Zico. "Yaudah, kamu pergi aja. Aku juga udah biasa sendiri, kok." Sally membalas tanpa memandang Zico.
Zico tidak tahu kenapa, tetapi kini ia seolah merasa bersalah pada Sally. Padahal biasanya ia tidak pernah mengindahkan perempuan itu. "Lo nanti naik taksi aja ya pulangnya, jangan ojek. Udah mau malem soalnya," ucap Zico.
"Iya," balasnya singkat.
"Gue pergi dulu," ujar Zico sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Sally sendiri di sana.
Sally beralih duduk di kursi yang berada tidak jauh di sampingnya. Ia duduk sembari menatap lurus ke depan dengan wajah datar. Seharusnya ia langsung pulang, begitu Zico pergi. Namun rasanya ia tidak ingin cepat-cepat pergi, karena ia yakin di rumah Zico pun belum tentu perasaannya dapat membaik.
Sepertinya keputusan Sally untuk bisa cepat-cepat berpisah dari Zico adalah hal terbaik untuknya. Ia akan mengumpulkan uang untuk dapat membayar hutangnya pada Zico secepat mungkin, dengan begitu ia bisa berpisah dan memulai kehidupan baru dari awal lagi.
"Sal!"
Lamunannya buyar begitu seseorang memanggilnya, ia menoleh ke arah sumber suara. Melihat siapa orang yang memanggilnya, membuat Sally terperanjat dengan mata terbelalak. "Devian? Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Sally heran.
Devian tersenyum ke arah Sally. "Saya kebetulan baru selesai ngecek cabang bisnis saya yang ada di sini dan gak sengaja liat kamu sama Zico."
Sally makin terkejut mendengarnya, jangan-jangan Devian juga melihat Zico yang pergi begitu saja meninggalkannya. Kalau begitu Devian juga pasti melihatnya melamun, bisa-bisa lelaki itu curiga terhadap hubungan mereka.
"Kenapa bisa-bisanya Zico ninggalin kamu sendirian di sini? Kenapa juga kamu gak nahan dia, Sally?" Devian merasa kesal melihat Zico pergi begitu saja meninggalkan Sally sendirian. Ia melihat semuanya, termasuk saat Sally duduk dan melamun dengan wajah tanpa ekspresi.
Sally dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Ini gak kayak yang kamu liat, kok. Zico pergi, karena emang dia ada urusan mendadak."
Devian mengembuskan napas panjang, ia tahu Sally berusaha mengelak. Jika memang itu yang terjadi, tidak mungkin ia melihat raut kesedihan di wajah Sally tadi. " Urusan mendadak buat ketemu Aletta?" sindir Devian.
Jarak Devian yang tidak terlalu jauh membuatnya bisa mendengarkan pembicaraan di antara keduanya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Zico. Ia tahu Aletta adalah sahabat Zico, termasuk sahabatnya juga. Namun apa tidak bisa Zico mengantarkan Sally terlebih dahulu, lalu baru menemui Aletta jika memang ada yang penting. Toh Aletta tidak akan ke mana-mana dan bisa menunggu.
__ADS_1
"Kamu...." Sally menatap Devian tidak percaya. Devian tidak hanya melihatnya dan Zico, tetapi dia juga mendengar pembicaraan mereka.
"Iya, saya denger semuanya." Devian mengerti perasaan Sally. Ia pun tidak melarang Zico untuk bertemu dengan Aletta, hanya saja tindakan Zico yang tidak bijak itu yang membuatnya kesal.
"Dev, tapi Zico pasti ada urusan penting sama Aletta dan harus langsung ke sana. Makanya dia gak bisa nganterin aku pulang dulu, tapi aku gapapa. Aku bisa naik taksi sendiri," dalih Sally berusaha membuat Devian tidak salah paham.
Walaupun Devian masih tidak menerima tindakan Zico, tetapi ia tidak lagi membahasnya di depan Sally. Dalam hati ia benar-benar kagum pada Sally, dia selalu berusaha membela Zico dari orang lain. Bagaiamanapun kesalahan Zico, Sally tidak pernah menjelek-jelekkan suaminya di depan orang lain.
"Yaudah, saya ngerti. Tapi saya gak mau ngeliat kamu pulang sendirian, saya anterin kamu pulang ya. Ini udah mau malem, Sal. Saya cuma takut kamu kenapa-napa."
"Gak usah, Dev. Aku bisa pulang sendiri kok, lagian kamu juga pasti capek mau langsung pulang. Udah gapapa aku sendiri aja," elak Sally baik-baik, tidak ingin menyinggung perasaan Devian.
"Saya gak masalah nganterin kamu dulu, justru saya malah ngerasa bersalah kalo ngebiarin kamu pulang sendiri. Jadi tolong jangan kamu tolak bantuan saya buat kali ini," ucap Devian.
Sally merasa tidak enak untuk kembali menolaknya, Devian benar-benar tulus ingin menolongnya. Hanya itu saja. "Yaudah, aku mau bareng sama kamu. Makasih, ya." Sally akhirnya menyetujuinya.
Devian tersenyum senang mendengarnya. "Kita pulang sekarang, yuk!" ajak Devian.
Sally mengangguk, ia pun bangkit dari kursi dan melangkah bersisian dengan Devian menuju basemen. Ia sungguh tidak mengerti kenapa Devian bisa sebaik ini padanya, padahal dia hanyalah teman Zico. Sedangkan Zico sendiri? Yang ia pedulikan hanyalah Aletta. Mungkin memang selamanya pun hanya Aletta yang ada di pikiran Zico, bukan dirinya.
***
Amara menelepon seseorang sembari memperhatikan titik lokasi orang yang ada di aplikasi laptopnya. Aplikasi yang memang sudah diam-diam ia pasangkan pada ponsel Sally, ketika perempuan itu ada di sini. Hal itu membuatnya dapat melacak di mana keberadaan Sally, tanpa sepengetahuan Sally sendiri.
"Halo!" seru Amara begitu sambungan panggilannya tersambung.
"Halo, Bos!"
"Kamu udah ada di lokasi yang saya kasih tau, kan?" tanya Amara memastikan.
"Udah, Bos! Aman pokoknya, tinggal nunggu mereka keluar."
Amara tersenyum mendengarnya. "Bagus, kalo gitu kamu ikutin terus mereka sesuai rencana kita."
"Siap, Bos!"
Amara menutup panggilannya, lalu kembali memperhatikan laptopnya. Ia yakin Sally sedang bersama Zico sekarang, sehingga ia bisa membalas mereka secara bersamaan. Jika sebelumnya rencananya gagal, ia yakin kali ini rencananya akan berhasil.
"Kalian gak bisa lolos lagi, hari ini." Amara tersenyum miring. Hanya tinggal menunggu waktu, ia pastikan kali ini Zico tidak bisa lagi menggagalkan rencananya. Lihat saja nanti.
****
__ADS_1