
Zico menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Aletta. Namun Zico tidak keluar dari mobil, ia hanya mengklakson mobilnya agar Aletta keluar. Untungnya hanya dengan sekali klakson, Aletta langsung keluar dari rumahnya.
Aletta mengunci pintu rumahnya terlebih dahulu, baru kemudian menghampiri mobil Zico. Ia langsung membuka pintu mobil Zico dan duduk di kursi sebelah lelaki itu.
"Hai," sapa Aletta begitu melihat Zico.
Zico hanya tersenyum membalasnya, lalu mulai melajukan mobilnya menuju kantor polisi yang akan mereka tuju.
"Zico, makasih ya udah mau bantuin aku lagi. Aku minta maaf, karena selalu ngerepotin kamu." Aletta berucap sembari menatap Zico dengan perasaan tidak enak.
"Aku kan udah bilang, kamu gak perlu minta maaf. Lagian kamu itu kan temen aku, jadi kapan pun kamu butuh bantuan ... ya aku bakal bantu sebisaku." Zico membalas sembari menatap Aletta sekilas, lalu kembali memperhatikan jalan di depannya.
Aletta tersenyum, ia merasa beruntung karena ia memiliki Zico. Di saat ia sedang kesulitan, Zico selalu ada untuknya. Walaupun status Zico sudah menikah, tetapi laki-laki itu selalu menyempatkan waktu jika Aletta meminta bantuan. "Oh, iya! Aku baru inget, waktu itu kamu ninggalin aku tanpa kabar di mal. Kamu bilang mau ke toilet, tapi malah ngilang gak balik-balik. Kamu ke mana sih waktu itu?" tanya Aletta.
Zico berdeham pelan, berusaha memutar otaknya untuk mencari alasan yang bisa diterima Aletta. Tidak mungkin jika ia menjawab bahwa ia meninggalkan Aletta, karena melihat Sally. "Oh, yang waktu itu. Aku ... emang abis dari toilet, cuma tiba-tiba aja ada urusan mendadak. Jadi aku langsung pergi, terus lupa buat ngabarin kamu. Maaf, ya."
Zico berharap Aletta percaya mengenai alasannya, walaupun sedikit tidak meyakinkan. Namun semoga saja Aletta tidak tahu jika ia sedang berbohong sekarang. Bisa marah jika Aletta tahu.
Aletta memandang Zico, mencoba melihat apa yang diucapkan lelaki itu benar atau hanya beralasan saja. Namun melihat Zico tidak berekspresi yang mencurigakan, Aletta pun memercayainya. "Yaudah kalo gitu, gapapa kok. Tapi lain kali kalo emang ada urusan, kabarin biar aku gak nungguin kayak kemaren."
Zico mengangguk sembari tersenyum. "Iya, maaf ya."
Zico mengembuskan napas lega, untunglah Aletta percaya pada kata-katanya. Kalau tidak, Aletta pasti akan terus mencurigainya. Zico pun kembali fokus menyetir mobilnya menuju tempat yang mereka tuju, sebelum mereka kemalaman.
***
Sally menatap jalanan dari jendela mobil Devian dalam diam, memperhatikan lalu lalang kendaraan dengan tatapan lurus. Langit yang semula masih menampakkan sedikit cahayanya, kini benar-benar sudah berganti menjadi gelap. Jalanan yang semula lengang, kini lebih padat karena bertepatan dengan jam pulang kerja.
Di sisi lain, Devian menatap Sally yang tampak berbeda dibanding biasanya. Ia yakin ini pasti karena Zico, hal itu membuat Devian makin merasa kesal pada sahabatnya itu. Nanti ia akan membicarakannya pada Zico, agar lebih memperhatikan sikapnya.
"Sal," ucap Devian membuka pembicaraan di antara mereka.
Sally menoleh pada Devian. "Kenapa?" tanya Sally.
"Waktu kita nyari kado buat Abel, kamu tiba-tiba aja ngilang. Kamu ke mana waktu itu?" Devian teringat saat Sally tiba-tiba saja tidak ada setelah ia kembali.
Sally terperanjat begitu mengingatnya, ia lupa belum memberitahu Devian waktu itu. Seketika ia merasa bersalah pada Devian. "Dev, aku lupa banget buat ngasih tau kamu. Maaf, ya. Waktu itu emang aku pulang duluan, soalnya ada ... urusan mendadak." Sally terpaksa berbohong pada Devian, karena tidak mungkin jika ia bilang bahwa ia bertemu Zico dan Aletta di tempat yang sama.
Devian tersenyum memaklumi, ia tahu bahwa Sally tidak berniat untuk pergi begitu saja. Pasti ada sesuatu yang membuat perempuan itu pergi dan lupa untuk memberitahunya. "Iya, gapapa kok. saya ngerti," balas Devian.
"Dev, gimana kadonya? Abel suka gak?" tanya Sally saat teringat akan adik Devian.
"Suka, dia suka banget. Dia bilang makasih buat kamu, karena udah milihin kado buat dia. Abel juga bilang pengen banget bisa ketemu, kalo ada waktu."
Sally tersenyum senang mendengarnya, ia lega jika Abel menyukai kado yang dipilih olehnya. "Nanti kapan-kapan aku ke rumah kamu, deh. Aku mau ketemu sama Abel," ujar Sally antusias.
__ADS_1
Devian ikut tersenyum. "Abel pasti bakal seneng banget bisa ketemu sama kamu."
Sally tertawa pelan, sejenak ia bisa melupakan apa yang dipikirkannya berkat Devian. Seandainya saja ia bertemu dengan Devian lebih dulu dibanding Zico, mungkin ia bisa menyukai Devian. Apalagi Devian sangat menyenangkan orangnya, baik, dan juga tulus. Ia pun juga tidak perlu menikah dengan Zico dan merasakan pernikahan yang hanya sementara ini.
Sayangnya itu hanyalah khayalan Sally yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.
"Sal, coba kamu liat ke belakang deh."
Sally sedikit bingung, tetapi ia tetap menuruti Devian dan melihat ke belakang. "Kenapa?" tanyanya masih tidak mengerti.
"Mobil yang di belakang kayaknya dari tadi ngikutin kita, deh." Devian ikut memperhatikan mobil di belakang dari kaca spion mobilnya.
Sally terperangah, ia kembali memperhatikan mobil yang ada di belakangnya. "Coba kamu ngebut deh, kalo mobil belakang ikut ngebut berarti emang mobil itu ngikutin kita."
Devian mengangguk, ia melajukan mobilnya lebih cepat dibanding sebelumnya. Sementara Sally terus memperhatikan mobil di belakang, untuk melihat apa mobil itu ikut mengebut atau tidak. Namun yang terjadi mobil itu juga ikut mengebut seolah tidak ingin mobil Devian menjauh.
"Dev, mobil di belakang ikut ngebut. Dia beneran ngikutin kita sekarang." Sally berucap dengan nada panik.
"Sal, kamu tenang dulu. Saya bakal lebih ngebut buat ngehindarin mobil itu, kamu pegangan yang kenceng!" Setelah mengatakan itu, Devian menambah kecepatan mobilnya.
Sally langsung berpegangan erat pada pegangan yang ada di kabin mobil. Jantungnya berdetak cepat dengan tangan yang mulai mengeluarkan keringat dingin. Hatinya resah melihat mobil di belakang yang tetap gencar mengejar mobil Devian.
Sementara Devian, ia menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depannya agar bisa menjauh. Ia berusaha untuk dapat menjauhi mobil di belakangnya, tetapi rupanya mobil itu juga tidak mau kalah dan menyamakan posisi. Kini mobil itu berada tepat di samping Devian.
Sally terperangah melihat mobil yang tadi berada lumayan jauh di belakangnya, kini tiba-tiba sudah ada di samping mobil Devian. "Dev, mobilnya ada di samping kita sekarang. Sebenernya mereka itu siapa? Kenapa mereka ngikutin kita?" Sally benar-benar merasa takut saat ini.
Devian masih fokus untuk menyalip kendaraan lain dan menaikkan kecepatan mobilnya lebih tinggi dibanding sebelumnya. Sekilas ia melihat mobil yang mengejarnya kembali tertinggal, tetapi Devian tetap tidak ingin lengah. Bisa saja mobil itu kembali menyamakan posisinya seperti tadi.
Sally berpegangan erat pada pegangan yang ada di kabin mobil, sesekali ia melihat ke belakang untuk memastikan jarak mobil yang mengejar mereka. Saat melihat jarak mereka dengan mobil yang mengejarnya cukup jauh, Sally sedikit merasa lega. Walaupun itu tetap tidak menghilangkan kepanikannya.
"Dev, di depan ada belokan dan pas banget mereka masih agak jauh. Kita salip aja mobil di depan buat nutupin mobil kamu dari mereka, abis itu langsung belok. Kayaknya kalo gitu mereka bisa kehilangan jejak kita dan kita bisa lolos." Sally memberitahukan Devian untuk berbelok pada pertigaan yang ada di depan mereka.
"Iya, Sal. Kamu awasin mereka ya, kasih tau saya pergerakan mereka." Devian pun langsung menyalip mobil truk yang ada di depannya, lalu kemudian berbelok saat tikungan yang ada di depannya sudah dekat.
Sally masih mengawasi mobil di belakangnya, untuk melihat apakah mobil itu tetap mengejar mereka atau tidak setelah berbelok. Cukup lama ia memandang ke belakang, sampai akhirnya ia kembali berbalik ke depan.
"Gimana, masih ada mereka?" tanya Devian.
Sally menggelengkan kepalanya. "Udah gak ada, kayaknya mereka kehilangan jejak kita."
Devian mengembuskan napas lega mendengarnya, ia pun kembali menurunkan kecepatan mobilnya. "Alhamdulillah, kalo gitu. Tapi saya masih penasaran, apa tujuan mereka ngejar kita? Kalo buat ngerampok, harusnya mereka langsung ngancam kita pas ada di samping kita tadi. Sedangkan tadi enggak, ada yang aneh."
Sally bergeming sejenak untuk berpikir, ia mulai mencocokkan kejadian ini dengan peristiwa yang terjadi saat bersama Zico waktu lalu. Apa keduanya saling berhubungan? Pasalnya waktu itu pun tiba-tiba saja mobil Zico dicegat oleh beberapa orang. Saat itu juga sama orang-orang itu seperti tidak berniat untuk merampoknya dan Zico, lebih ke sekedar ingin mencelakai semata.
Setelah cukup lama bergeming memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada di pikirannya, Sally pun beralih menatap Devian. "Kayaknya kamu bener, mereka bukan perampok. Apa mungkin mereka itu suruhan seseorang?"
__ADS_1
Devian menoleh ke arah Sally. "Mungkin, tapi ini masih jadi asumsi. Kita gak tau apa yang sebenernya, entah mereka emang suruhan seseorang atau ada hal lain."
Sally hendak menyahuti ucapan Devian, tetapi urung. Matanya terbelalak melihat jendela mobil Devian. "Dev!" seru Sally panik.
Mendengar suara panik Sally, Devian ikut memperhatikan arah pandangan Sally. Begitu melihatnya seketika ia terkejut. Tanpa berlama-lama, Devian kembali mempercepat laju mobilnya. Ia pikir mobil yang tadi mengejarnya sudah kehilangan jejaknya, tetapi ternyata salah. Mereka tiba-tiba saja sudah kembali berada di samping mobilnya.
Awalnya ia bisa kembali menjauhi mobil orang yang ingin mengejarnya, tetapi lagi-lagi mereka menyamakan posisinya. Namun tidak lama mobil yang berada di sampingnya tiba-tiba menyalipnya dan berada di depannya.
"Dev, mereka kayaknya sengaja mau ngehalangin jalan kita." Sally berucap dengan nada panik.
"Saya bakal cari jalan di samping buat lolos dari mereka."
Devian hendak menyalip lewat jalur samping, tetapi mobil di depannya justru ikut ke samping dan menghalangi jalannya. Sepertinya memang tidak ada pilihan lain, ia harus putar balik dengan cepat sebelum mobil di depannya kembali mencegat mobilnya.
Akhirnya Devian memutuskan untuk putar balik secepat mungkin. Ia hendak membelokkan mobilnya, mumpung di belakangnya sedang tidak ada kendaraan lain. Namun belum sempat ia putar balik, tiba-tiba saja mobil di depannya menyingkir dari hadapannya dengan cepat. Tepat saat mobil itu menyingkir ternyata ada mobil truk dari arah berlawanan yang melaju cepat ke arahnya.
"Dev awas!" teriak Sally begitu melihat mobil truk yang berada tidak jauh di depannya melaju cepat ke arah mereka.
Devian yang panik melihat truk itu hampir mendekati mobilnya, langsung membanting setir ke kiri dengan cepat.
Sally terbelalak melihat tiang tinggi yang berada tepat di depan mereka. "ASTAGHFIRULLAH." Sally kembali berteriak melihat jarak mobil Devian dan tiang itu sangat dekat.
Semuanya seolah terjadi begitu cepat, mobil Devian pun menabrak tiang di depannya tanpa bisa dihindari. Hal itu menyebabkan kepala Sally terbentur jendela mobil dengan sangat kencang. Sementara Devian terpental ke depan, tetapi tidak sampai membentur dasbor mobil.
Asap mulai keluar dari depan mobil Devian, karena itu dengan cepat ia melepaskan sabuk pengamannya dan Sally. Kemudian membawa Sally yang masih memegangi kepalanya untuk keluar dari mobil.
"Sally, kamu gapapa? Saya minta maaf, karena saya kamu jadi kayak gini." Devian berucap lirih.
Sally menahan desisannya, ia beralih menatap Devian yang memandangnya khawatir. "Aku gapapa, lagian ini bukan salah kamu. Ini murni kecelakaan dan kita gak bisa ngehindarin itu. Kamu jangan ngerasa bersalah, ya." Sally tersernyum ke arah Devian.
Devian terkejut ketika melihat dahi Sally mengeluarkan darah. "Sal, dahi kamu berdarah. Kita ke rumah sakit sekarang ya, saya gak mau kamu kenapa-napa."
Sally memegang dahinya dan benar saja tangannya terkena darah begitu menyentuhnya. "Enggak, ini bukan apa-apa. Aku cuma mau pulang sekarang," balas Sally.
"Iya, saya pasti bakal anterin kamu pulang. Tapi kita ke rumah sakit dulu ya," bujuk Devian.
Sally menggelengkan kepalanya. "Aku mau langsung pulang aja, nanti biar aku obatin sendiri di rumah."
Devian menyerah, ia tidak lagi membujuk Sally. Namun ia bingung, karena mobilnya sedang tidak bisa dipakai sekarang. Ia tidak bisa mengantarkan Sally dengan mobilnya. "Yaudah, saya anterin kamu naik taksi ya. Mobilnya gak bisa dipake sekarang, tapi gapapa kok itu bisa diambil anak buah saya nanti."
Sally hanya mengangguk, ia merasa pusing akibat benturan tadi. Alhasil ia hanya diam melihat Devian yang sedang mencari-cari taksi. Untungnya tidak butuh waktu lama, taksi lewat di hadapannya. Sally dan Devian pun segera masuk dan menuju ke rumah Zico.
Di taksi Sally hanya bergeming dengan mata terpejam, karena kepalanya terasa berdenyut nyeri. Devian yang melihatnya semakin merasa bersalah pada Sally, ia tahu perempuan itu sedang kesakitan sekarang. Kalau saja bisa memilih, lebih baik ia yang terluka daripada Sally.
Devian mengalihkan pandangannya dari Sally, ia mengeluarkan ponselnya dan menekan kontak Zico. Setelahnya ia pun menelepon nomer Zico, sesekali ia menatap Sally sambil menunggu Zico mengangkat panggilannya.
__ADS_1
"Hallo, Dev!"
****