
Mobil taksi yang ditumpangi Sally akhirnya berhenti tepat di depan kantor Devian. Sally pun segera memberikan uang pada supir taksi tersebut, kemudian ia turun dari taksi itu. Ia melirik sejenak jam yang melingkar di tangannya, yang mana menunjukkan pukul 09.55 WIB.
Tidak ingin membuat Devian menunggu, Sally bergegas masuk ke dalam kantor Devian. Ia melangkah menuju meja resepsionis, karena walaupun ia sudah pernah ke sini dan tahu ruangan Devian, ia tetap akan berbicara pada resepsionis terlebih dahulu.
"Permisi, saya ingin bertemu Pak Devian pagi ini. Saya sudah membuat janji sebelumnya sama Pak Devian," ucap Sally begitu sampai di depan meja resepsionis.
Resepsionis itu pun mengeceknya dengan menelepon Devian. Namun sayangnya panggilannya tidak kunjung terjawab, alhasil resepsionis itu langsung memintanya untuk ke ruangan Devian. "Pak Devian sepertinya sedang tidak ada di ruangannya, tapi Ibu bisa ke ruangan Pak Devian saja sambil menunggu."
Sally mengangguk, ia mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya melangkah menuju lift untuk ke ruangan Devian. Begitu pintu lift terbuka di lantai ruangan Devian berada, Sally bergegas keluar dari lift.
Di depan pintu ruangan Devian, Sally sempat terdiam. Bingung harus langsung masuk atau tidak. Walaupun Devian sedang tidak ada, tetapi ia merasa tidak enak jika langsung masuk. Sementara kalau ia menunggu di depan pasti akan lebih tidak enak jika dilihat seseorang.
"Udahlah masuk aja kali ya, bismillah." Sally membuka pintu ruangan Devian sembari mengucapkan salam, walaupun ia tahu tidak ada siapa-siapa di ruangan itu.
Sally melangkah menuju meja Devian, untuk menunggu di sana. Namun saat ia hampir sampai di meja Devian, ia sedikit terkejut karena ternyata ada orang lain yang sedang menunggu Devian.
Di sisi lain orang yang duduk di depan meja Devian, membalikkan badannya begitu mendengar seseorang melangkah ke arahnya. Saat mengetahui orang yang berada di belakangnya, lantas ia membulatkan matanya terkejut.
"Sally?"
Sally mengerutkan keningnya ketika melihat seseorang yang dikenalnya itu. "Aletta, kamu di sini juga?"
Samar-samar Sally melihat wajah tidak suka Aletta, namun hanya sesaat sebelum Aletta memasang senyum ke arahnya. "Iya, aku ada urusan sama Devian. Kalo kamu ... ngapain ya di sini? Ada urusan juga atau ... ada hal lain?" tanya Aletta masih dengan senyumnya.
Sally sedikit tersinggung dengan perkataan Aletta, karena walaupun nada bicaranya biasa saja, tetapi perkataannya seolah penuh sindiran. "Aku juga ada urusan sama Devian," balas Sally ikut tersenyum.
Aletta mengerutkan keningnya. "Kamu kenal sama Devian? Aku gak tau kalo ternyata kamu juga kenal dan keliatannya ... udah sering ke kantor Devian juga ya."
Sally lagi-lagi tersenyum mendengarnya, ia tahu jika Aletta sedang menyindirnya. Namun ia tidak ingin tersulut emosi karena itu, jadi ia memutuskan untuk tetap bersikap seolah-olah tidak mengerti kalau Aletta sedang menyindirnya.
"Kebetulan baru dua kali sih sama hari ini, gak tau kalo besok-besok. Mungkin bakal ke sini lagi? I don't know," balas Sally dengan santainya.
__ADS_1
Aletta menahan diri untuk tidak berkata kasar mendengar balasan Sally yang cukup menyebalkan itu, seolah-olah sengaja ingin membuatnya kesal.
Di tengah suasana yang sedikit panas itu, tiba-tiba pintu ruangan Devian terbuka. Baik Sally maupun Aletta lantas menoleh ke arah pintu.
Devian tersenyum begitu melihat Sally ada di ruangannya, ia pun melangkah ke arah Sally sembari menggandeng seorang anak perempuan berumur 12 tahunan di sebelahnya.
"Sal, kamu nunggu lama ya? Maaf ya, tadi saya abis nungguin adik saya dulu yang mau ikut ke sini. Mendadak dia mau ke sini terus ngajakin makan pagi, jadi yaudah saya ajak aja sekalian." Devian menjelaskan tanpa melepaskan pandangan sedikitpun dari Sally.
"Gapapa santai aja, aku juga belum lama sampe kok." Mata Sally tertuju pada adik Devian, ia lantas tersenyum ke arah adiknya itu.
"Abel, ini Kak Sally yang waktu itu milihin kado buat kamu. Cantik, kan?" Devian tertawa kecil di ujung kalimatnya.
Abel ikut tersenyum pada Sally, matanya berbinar senang karena akhirnya bisa melihat orang yang ingin ia temui itu. "Hai, Kak! Makasih ya udah milihin kado buat aku waktu itu, aku suka banget. Kakak persis kayak yang ada di bayangan aku, cantik banget."
Sally terkekeh pelan mendengar pujian Abel, ia mengusap rambut Abel dengan gemas. "Sama-sama cantik. Kakak seneng kalo kamu suka," ujar Sally.
Devian menatap Sally dalam diam, ia memperhatikan Sally yang tampak akrab dengan Abel walaupun baru bertemu. Hal itu membuat Devian makin terpesona dengan kepribadian Sally.
"Ekhem." Alette berdeham keras, ia merasa kesal karena dari tadi Devian hanya terfokus pada Sally saja tanpa memperhatikannya.
Aletta memutar bola matanya jengah, jadi benar Devian dari tadi tidak menyadari keberadaannya. "Dari tadi," ketus Aletta.
Sally mengalihkan pandangannya dari Aletta, ia memandang Devian. "Dev, kayaknya Aletta ada perlu sama kamu. Nanti aku kirimin aja ya dokumennya ke kamu, aku ... kayaknya pulang aja." Ia merasa tidak enak, jika harus menyebabkan masalah di tengah kesibukan Devian.
Devian seketika menoleh, ia menggeleng tegas. "Engga, Sal. Saya tetep bakal bantuin kamu ngecek tulisan kamu, jadi kamu tetep di sini."
Aletta makin merasa kesal mendengar jawaban Devian, mengapa ia merasa temannya itu lebih menyukai kehadiran Sally dibanding kehadirannya. "Maksud kamu, aku yang harusnya pergi? Aku ke sini juga ada keperluan sama kamu, bukan Sally doang!" seru Aletta.
Sally merasa tidak nyaman dengan suasana yang makin tidak kondusif. "Dev, aku tunggu di luar ya sama Abel." Ia tidak ingin Abel mendengar keributan yang terjadi antara Devian dan Aletta, selain itu ia ingin agar Devian bisa berbincang secara baik-baik dengan Aletta dan itu hanya akan terjadi jika ia tidak berada di sini, jadi lebih baik ia menunggu di luar.
"Iya," balas Devian yang seolah mengerti maksud Sally yang ingin memberinya ruang dengan Aletta.
__ADS_1
Sally dengan cepat mengajak Abel untuk keluar dari ruangan Devian, untungnya Abel tidak banyak bertanya dan mau mengikuti Sally.
Sepeninggalan Sally dan Abel, Devian kembali menatap Aletta. Ia mengembus napas sejenak, untuk menenangkan pikirannya.
"Al, aku gak bermaksud buat milih Sally daripada kamu. Cuma kan Sally lebih dulu ngebuat janji sama aku, sedangkan kamu dateng tiba-tiba tanpa ngasih tau aku sebelumnya. Makanya aku ngedahuluin Sally, aku harap kamu ngerti." Devian mencoba menjelaskan dengan lembut, agar Aletta tidak lagi emosi.
Aletta tersenyum miring, rasanya baru kali ini ia merasa tidak dianggap seperti ini. Parahnya lagi itu karena Sally, orang yang berhasil merebut Zico darinya dan sekarang perempuan itu juga mau merebut temannya. Bagaimana ia tidak kesal?
"Kamu gak usah alesan, Dev. Biasanya aku dateng tanpa ngabarin dulu sebelumnya juga kamu fine aja. Kenapa sekarang beda? Oh, apa karena Sally? Suka kamu sama istri temen kamu sendiri? Jangan-jangan kamu udah berencana ya buat ngerebut Sally dari Zico," sindir Aletta dengan sorot mata tajam.
Devian terpaku, ia yang sebelumnya bisa menahan diri, kini merasa marah dengan ucapan Aletta. "Aletta, jaga omongan kamu ya! Kamu sadar gak sih apa yang kamu omongin?! Di pikiran kamu, aku sepicik itu?! Baru kali ini aku ngedenger tuduhan licik kayak gitu, dari orang yang udah aku anggap sodara sendiri!" hardik Devian dengan nada keras dan tajam di setiap katanya.
Aletta tersentak mendengar nada bicara Devian, baru kali ini lelaki itu berbicara sekeras ini padanya. Padahal sebelumnya tidak pernah sekalipun Devian berbicara kasar padanya selama ini, tetapi kali ini Devian berani membentaknya hanya karena Sally.
Aletta memandang Devian dengan berani, ia sekuat mungkin menahan tangisannya akibat bentakkan Devian padanya tadi. "Dev, kamu udah berubah sekarang. Kamu sekarang berani ngebentak aku cuma karena orang baru! Kita kenal lebih lama dibanding kamu kenal sama Sally, tapi kenapa kamu bisa-bisanya berubah gitu aja pas kenal Sally! Sepenting itu Sally buat kamu, hah?! Lebih penting dari sahabat kamu sendiri?!" jerit Aletta.
Devian menatap Aletta tajam, karena lagi-lagi Aletta membawa nama Sally. Apa Aletta masih tidak sadar juga dengan perkataannya yang sudah keterlaluan. "Aletta, jangan pernah bawa-bawa Sally di masalah ini! Dia gak salah apa-apa, justru kamu yang salah di sini. Kamu yang marah-marah tanpa alasan yang jelas, kamu yang langsung nilai orang sembarangan tanpa pikir panjang, kamu yang mikir macem-macem. Aku hampir gak ngenalin kamu yang sekarang, padahal Aletta yang aku kenal bukan Aletta yang kayak gini. Kalo kamu bilang aku berubah, itu salah! Justru kamu yang udah berubah!"
Aletta terdiam, hatinya sakit sekali karena Devian yang dulu ia kenal lembut, sekarang telah berubah. "Iya, aku yang berubah. Aku yang salah, karena kan menurut kamu cuma Sally yang bener. Sedangkan aku ... aku selalu salah di mata kamu. Iya, kan?!" pekik Aletta marah.
"Cukup! Aku capek ... aku capek ngejelasin sama kamu yang gak ngerti-ngerti juga sama omongan aku. Lebih baik kamu pulang sekarang, kamu introspeksi diri apa yang salah di diri kamu. Biar kamu sadar dan gak nyalahin orang lain atas kesalahan kamu sendiri," ucap Devian yang sudah lelah menghadapi Aletta, baru kali ini ia merasa selelah ini berbicara dengan Aletta dibandingkan sebelumnya.
Ia tidak mengerti, apa yang salah hingga Aletta bisa berubah menjadi orang yang berbeda. Aletta yang lembut, kini benar-benar berubah jadi Aletta yang emosional.
"Sekarang kamu ngusir aku?! Oke fine, kalo itu yang kamu mau. Aku gak akan pernah lagi menginjakkan kaki di sini! Puas sekarang?!" Aletta mengambil tasnya dan langsung pergi begitu saja setelah mengatakan itu.
Devian memijat pangkal hidungnya, ia benar-benar lelah sekarang. Hanya karena hal kecil saja, Aletta membesar-besarkannya tanpa alasan yang jelas. Hal itu membuat pikirannya menjadi kalut, hingga ia merasa lelah.
Padahal jika Aletta lebih dulu membuat janji dengannya dibandingkan Sally, maka pasti Devian akan memilih Aletta. Namun sayangnya Aletta tidak kunjung mengerti dan langsung berbicara seenaknya.
Ia sadar jika perasaannya mulai tumbuh pada Sally, tetapi ia tidak pernah berniat untuk merebut Sally dari sahabatnya sendiri, kecuali jika Zico tidak mencintai Sally. Devian masih tahu batasan, ia tidak selicik yang dipikirkan Aletta.
__ADS_1
Devian berdecak kesak mengingat pertengkarannya dengan Aletta tadi. Ia tidak tahu setelah ini pertemanannya dengan Aletta masih bisa dipertahankan atau tidak. Ia hanya berharap jika sahabatnya itu bisa introspeksi diri dan bisa menyadari kesalahannya sendiri. Ia sangat ingin Aletta bisa seperti dulu, tetapi ia tidak tahu hal itu akan terjadi atau justru ... tidak akan pernah terjadi lagi.
****