Dilema Pernikahan 150 Hari

Dilema Pernikahan 150 Hari
Bab 28-Aduan


__ADS_3

Aletta keluar dari ruangan Devian dengan wajah memerah menahan emosi, ia sempat melirik Sally sekilas sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju lift.


Sally mengerutkan keningnya melihat Aletta yang keluar dengan wajah penuh emosi, sepertinya Devian dan Aletta habis bertengkar. Jujur saja ia merasa tidak enak, mungkin harusnya dia tidak ke sini hari ini. Dengan begitu mungkin hubungan Devian dan Aletta akan baik-baik saja.


"Kak, ayok kita masuk lagi." Abel mengajak Sally untuk kembali masuk ke ruangan Devian.


Sally mengangguk dan melangkah bersamaan dengan Abel memasuki ruangan Devian. Di dalam ia melihat Devian yang tengah duduk di mejanya dengan wajah lelah, seperti telah terjadi sesuatu yang besar.


Sepertinya suasana hati Devian sedang tidak baik, Sally merasa tidak enak jika harus mengganggu Devian saat ini. Mungkin ia lebih baik pulang dan menyerahkan dokumennya pada Devian, untuk diperiksa lain kali saja.


"Kak, tadi aku liat Kak Aletta kayak lagi marah gitu. Kakak sama Kak Aletta habis berantem?" tanya Abel begitu telah berada di depan meja Devian dengan Sally.


Devian mendongak tatkala mendengar suara Abel. Wajah lelahnya seketika berubah dengan cepat, ia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis. "Enggak, ini cuma masalah biasa doang. Nanti juga baikan lagi."


Sally tahu Devian sedang berbohong, ia memang tidak mendengar percakapan antara Devian dan Aletta. Namun melihat ketegangan di wajah Devian, ia mengerti jika keduanya habis terlibat pertengkaran yang cukup serius. Rasanya Sally makin merasa tidak enak jika Devian dan Aletta bertengkar karenanya.


"Dev, aku kayaknya mau pulang deh. Dokumennya aku ke kasih kamu, tapi kamu ngeceknya nanti aja pas lagi gak sibuk. Nanti aku ke sini laginya kalo kamu lagi senggang aja," ucap Sally sembari mengeluarkan benda kecil berbentuk persegi panjang yang berisikan dokumennya dan menyerahkannya pada Devian.


"Semuanya ada di flashdisk ini, Dev. Kamu bisa ceknya nanti, kok. Yaudah aku ... pergi dulu, ya." Sally berbalik dan melangkah menjauhi meja Devian, tetapi baru beberapa langkah Devian menyerukan namanya hingga membuat langkahnya terhenti.


Devian bangkit dari kursinya dan melangkah ke arah Sally yang membelakanginya. "Tunggu! Saya lagi senggang hari ini, jadi kita bisa tetep periksa tulisan kamu bareng-bareng," ujar Devian pada Sally.


Sally mendongak untuk dapat melihat Devian yang lebih tinggi darinya itu, matanya seolah menyiratkan bahwa ia ingin membiarkan Devian sendiri untuk menenangkan diri terlebih dahulu daripada mementingkan dirinya.


Seolah mengerti maksud tatapan Sally, Devian langsung berucap, "Saya gapapa, kok. Kamu gak usah ngerasa gak enak, lagian saya udah janji sama kamu buat bantuin kamu hari ini."


Sally akhirnya menyerah, sepertinya ia tetap akan menyelesaikan urusannya bersama Devian hari ini. "Yaudah kalo emang kamu maunya kayak gitu, makasih ya udah mau bantuin aku sampe kayak gini. Padahal kamu juga sibuk, aku minta maaf karena udah banyak ngerepotin kamu terus."


Devian tersenyum tipis. "Saya gak repot sama sekali, lagian ini kan buat bantuin temen saya juga. Oh iya, tapi saya sama Abel mau makan dulu abis ini. Soalnya Abel belum makan, dia ngajakin saya buat makan di sini dulu sebelum dia berangkat les. Gimana, kamu mau nunggu atau mau ikut aja?" tanya Devian, ia tidak bisa langsung memaksa Sally untuk ikut makan bersamanya 'kan. Sehingga lebih baik ia menanyakan dulu, jika tidak mau pun ia tidak akan memaksa Sally.


Abel yang sedari tadi diam memperhatikan Devian dan Sally, kini mulai melangkah mendekat ke arah kakaknya dan Sally. Ia memandang Sally yang kini juga sedang menatapnya.


"Kak, ikut aja yuk. Sekalian kita ngobrol-ngobrol, aku mau cerita soal sekolahku. Mau 'kan, Kak?" rayu Abel dengan tatapan berharap, seolah ingin Sally menerima ajakannya.

__ADS_1


Sally tersenyum kikuk, merasa bingung harus menjawab apa. Jujur saja ia ingin menolaknya, tetapi ia tidak tega dengan Abel yang begitu berharap padanya. Apalagi setelah ini belum tentu ia bisa bertemu Abel lagi, jadi mungkin ini kesempatannya untuk bisa mengobrol dengan adik Devian itu.


"Yaudah deh Kakak ikut," balas Sally sembari tersenyum lembut.


Abel tersenyum girang, akhirnya ia bisa merasakan bercerita dengan kakak perempuan. Sudah lama ia ingin memiliki kakak angkat perempuan, agar bisa mengerti dirinya lebih daripada Devian yang tidak terlalu mengerti persoalan perempuan.


"Yeayy, makasih Kak. Ayok sekarang aja, keburu aku les nanti." Abel dengan antusias menggandeng Sally keluar dari ruangan Devian.


Di belakangnya, Devian tersenyum melihat adiknya yang begitu bersemangat. Biasanya Abel tidak seantusias ini apalagi dengan orang yang baru dikenalnya, bahkan Aletta yang sering ke rumahnya pun tidak sedekat itu dengan Abel. Sally memang berbeda dari perempuan lainnya, sikapnya yang begitu ramah dan lembut membuat siapa pun merasa nyaman berada di dekatnya.


"Kak Dev! Ayokk cepetan!" teriak Abel begitu melihat Devian tidak kunjung keluar dari ruangannya.


"Iya ... iya," sahut Devian, ia pun bergegas keluar dari ruangannya dan bergegas menyusul Abel dan Sally.


Begitu menemuinya, mereka pun melangkah beriringan dengan posisi Abel yang berada di tengah-tengah mereka. Mereka benar-benar terlihat layaknya pasangan yang serasi, jika saja orang lain melihatnya.


Devian menyadarinya, lagi-lagi ia membayangkan jika saja Sally lebih dulu mengenalnya daripada Zico. Mungkin kisahnya akan berbeda, mungkin saja Devian masih memiliki kesempatan untuk dapat bersama dengan Sally. Pasti jika itu terjadi ia akan menjadi laki-laki yang sangat beruntung, bisa menjadikan Sally sebagai pasangannya.


Devian cukup sadar diri akan hal itu. Ia tidak akan pernah berusaha untuk merebut Sally dari Zico, sekalipun rasa cintanya sangat besar untuk Sally. Namun lain cerita jika Zico menyakiti Sally, ia tidak akan tinggal diam jika itu terjadi.


***


Zico duduk di kursi santai berbentuk bulat yang ada di tepi lokasi yang dibuat syuting. Ia baru saja menyelesaikan bagiannya, sehingga ia bisa beristirahat sejenak sebelum kembali take bagiannya yang lain nanti.


Zico membuka tutup botol minumannya dan meneguknya untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokannya. Tangannya bergerak membuka aplikasi pesan di ponselnya yang sudah terdapat banyak notifikasi. Ia melihat nama-nama orang mengiriminya pesan, sampai matanya terhenti pada kotak pesan Aletta yang terdapat belasan notifikasi panggilan tidak terjawab.


Mumpung bagiannya masih cukup lama, Zico pun memutuskan menelepon balik Aletta untuk menanyakan apa yang ingin dibicarakan temannya itu. Tidak butuh waktu lama, Aletta mengangkat panggilannya.


"Hallo, Al. Maaf ya panggilannya gak ke jawab, tadi masih sibuk soalnya."


Tangisan Aletta terdengar begitu Zico mengucapkan kalimat pertamanya, hal itu membuat Zico khawatir dengan apa yang terjadi pada Aletta.


"Aletta, kamu kenapa? Cerita sama aku ada apa?" tanya Zico lembut.

__ADS_1


Dari seberang sana, Zico kembali mendengar Aletta menangis. Sepertinya telah terjadi sesuatu sebelumnya. Zico khawatir jika Aletta terluka atau kenapa-napa, jika saja ia sedang tidak bekerja mungkin ia akan langsung ke rumah Aletta sekarang. Namun sayangnya saat ini ia hanya bisa menanyakan lewat telepon saja.


"Al, cerita sama aku kamu abis ada masalah apa?Jangan diem kayak gini, aku makin khawatir."


"Aku abis dari kantor Devian tadi, karena emang aku ada urusan sama dia. Pas aku lagi nunggu tiba-tiba aja ada Sally dateng, dia bilangnya juga ada urusan sama Devian."


Mendengar nama Sally, Zico mengerutkan keningnya. Ia ingat tadi pagi Sally memang ingin pergi, tetapi ia tidak tahu jika perginya itu ke kantor Devian. Urusan apa sebenarnya yang Sally ingin bahas dengan Devian? Kenapa Sally tidak berbicara padanya kalau dia ingin pergi ke kantor Devian? Berbagai pertanyaan muncul di benak Zico.


"Dan kamu tau? Waktu Devian dateng sama Abel, dia langsung nyamperin Sally gitu aja. Bahkan dia sama sekali gak sadar ada aku di situ. Di situ posisinya aku yang lebih dulu sampe, tapi Devian ... dia lebih mentingin urusan Sally dibanding aku yang udah sampe lebih dulu daripada Sally."


Zico langsung paham, sepertinya inti masalahnya adalah karena Devian lebih mementingkan Sally daripada Aletta yang sudah menunggu lebih dulu daripada Sally.


"Bahkan Devian nyuruh aku buat pulang dan bilang kalo Sally udah duluan buat janji sama dia. Apa aku salah kalo aku marah? Aku udah nungguin Devian dari tadi, tapi aku disuruh pulang gitu aja karena kedatangan Sally. Bahkan Devian berani buat bentak-bentak dan nyalahin aku, cuma karena Sally."


Zico membulatkan matanya sempurna, bisa-bisanya Devian membentak Aletta. Padahal sebelumnya tidak pernah sekalipun Devian membentak Aletta apalagi sampai berkata yang cukup kasar. Tentu saja ini jadi terasa aneh, apalagi jika benar Devian berani seperti itu hanya karena Sally, orang yang belum lama dikenal Devian.


Zico benar-benar tidak habis pikir dengan Devian, entah apa yang ada di pikirannya. Apa mungkin Devian menyukai Sally? Karena itu Devian lebih mementingkan Sally daripada temannya sendiri? Apalagi Akhir-akhir ini memang Sally dan Devian beberapa kali pergi bersama-sama.


"Aletta, kamu tenang dulu ya. Mungkin Devian gak bermaksud gitu sama kamu, kamu tau kan kita bertiga udah lama sahabatan. Gak mungkin kalo Devian mau nyakitin kamu, tapi kamu tenang aja aku bakal tetep bahas ini sama Devian." Zico mencoba menenangkan Aletta, walaupun sebenarnya ia pun sudah emosi dengan Devian.


"Maaf ya aku bukan bermaksud buat bikin kamu marah sama Devian atau Sally. Aku tau kok kalo Sally istri kamu, jadi aku gak mau kalo kalian sampe berantem. Aku cuma mau cerita aja, gak ada maksud apa-apa."


Ingin rasanya Zico langsung ke kantor Devian untuk meninju wajah Devian, ia tidak suka Devian berani menyakiti Aletta hanya karena masalah kecil. Ia pun juga merasa marah dengan Sally, karena dia tidak mengatakan apa pun saat ingin pergi menemui Devian. Ia bahkan tidak tahu ada urusan apa di antara Sally dan Devian. Apa jangan-jangan mereka diam-diam memiliki hubungan? Bisa saja, 'kan?


"Iya, aku ngerti kok. Yaudah mending kamu sekarang tenangin diri kamu, aku janji aku bakal urus masalah ini. Devian perlu dikasih tau biar gak semena-mena gitu aja," ucap Zico dengan sorot mata tajam. Sepulangnya syuting nanti, ia akan membicarakan ini dengan tegas pada Sally.


Zico menutup teleponnya setelah Aletta selesai menjawab ucapannya. Tangannya masih terkepal erat, hatinya bergemuruh menahan gejolak amarah yang siap meledak kapan saja. Ia tidak akan memaafkan Devian, jika memang kenyataannya Devian benar-benar membentak Aletta demi Sally.


Untuk Sally, ia tidak akan lagi menaruh rasa respek pada perempuan itu jika Sally memang benar pemicu kerusakan persahabatannya. Bahkan ia tidak akan lagi mau berbicara dengan Sally, biar Sally sadar di mana posisinya.


Sally hanyalah orang baru di tengah kehidupannya, jika dia berani merusak hal yang selama ini ia jaga tentu Zico tidak akan pernah memaafkannya.


****

__ADS_1


__ADS_2