
"Halo, Dev!"
Devian mengalihkan pandangannya dari Sally, begitu mendengar suara Zico. "Lo lagi di mana? Gue minta lo pulang sekarang!" Devian berseru dengan nada tegas.
"Apa sih, lo! gue gak bisa pulang sekarang. Masih ada urusan."
Devian berdecak kesal. "Jadi lo lebih mentingin urusan lo daripada Sally?!," tukas Devian sengit, tangannya mengepal kencang mendengar ucapan Zico.
"Maksud lo apaan, sih?!"
Devian mencoba mengatur emosinya dengan menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Ia tidak mungkin marah-marah di sini, karena ia merasa tidak enak pada Sally. Walaupun sebenarnya ia sudah sangat jengkel dengan temannya itu. "Sally kecelakaan, dia ada sama gue sekarang. Kita lagi arah pulang ke rumah lo, jadi mending lo pulang sekarang." Devian berusaha menjelaskan dengan baik, agar Zico memahami maksudnya.
"Hah? Lo lagi gak bercanda, kan? Tadi Sally baik-baik aja perasaan."
Respon macam apa itu? Rasanya Devian ingin berkata kasar pada Zico. Namun ia sedang bersama Sally, ia tidak ingin suaranya membangunkan perempuan di sampingnya itu. "Lo bisa gak sih, gak usah banyak ngomong. Lo pulang sekarang atau Sally gue bawa buat diobatin di rumah gue!" ancam Devian kesal, ia sudah lelah merasa lelah berbicara dengan Zico.
"Gak perlu! Oke, gue pulang sekarang."
Terdengar dengusan kesal dari seberang sana, sebelum Devian menutup teleponnya.
Begitu sambungan terputus, ia kembali menaruh ponselnya ke dalam saku celananya. Dalam hati ia jadi bertanya-tanya, apa pernikahan Sally dan Zico tidak sebahagia yang ia kira? Melihat respon Zico yang tidak terlalu khawatir saat ia mengatakan Sally kecelakaan, membuatnya merasa aneh.
Sebelumnya memang ia pun merasa aneh dengan pernikahan Zico yang tiba-tiba, padahal ia tidak pernah melihat kedekatan Zico dengan perempuan lain, selain Aletta. Namun saat itu Devian masih berpikir positif, mungkin memang Zico dekat dengan Sally tanpa pernah dipublikasikan.
Awalnya Devian percaya, tetapi mengapa sekarang ia ragu. Apalagi melihat Zico yang dengan mudahnya meninggalkan Sally di mal tadi. Sepertinya ia harus menyelidikinya sendiri, ia tidak ingin jika Zico menyia-nyiakan Sally begitu saja. Sally adalah perempuan yang sangat baik, ia tidak rela jika perempuan sebaik Sally tersakiti oleh temannya sendiri.
Jika ternyata yang ia temukan Zico tidak benar-benar mencintai Sally, Devian berjanji akan merebut perempuan itu dari Zico. Ia akan menggantikan posisi Zico untuk dapat membahagiakan Sally lebih daripada apa yang dilakukan temannya itu.
Ini tentu saja hanya jika Zico tidak mencintai Sally, kalau tidak ia tidak akan melakukan itu. Alasannya karena bagaimanapun juga Zico adalah temannya, jadi jika kenyataannya Zico mencintai Sally, Devian tidak akan pernah merebutnya. Bahkan di saat ia mencintai Sally sekalipun.
***
__ADS_1
Zico melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena ia ingin bisa sampai di rumah secepatnya. Ia bahkan meninggalkan Aletta sendirian di kantor polisi, karena mendengar perkataan Devian yang mengatakan Sally kecelakaan.
Jujur saja ia merasa tidak enak pada Sally, mungkin jika saja ia mengantarkan Sally pulang terlebih dahulu baru ke tempat Aletta, kejadiannya akan berbeda. Namun sayangnya nasi telah menjadi bubur dan hanya bisa meninggalkan perasaan bersalah di hati Zico. Sebenarnya ia tidak khawatir karena cinta atau apalah itu, ia hanya merasa bersalah karena ini akibat kesalahannya meninggalkan Sally sendirian.
Di tengah pikirannya yang kalut, tiba-tiba saja dering ponselnya berbunyi. Ia melirik sekilas nama yang meneleponnya, begitu mengetahuinya Zico hanya menatap sekilas dan kembali memandangi jalanan di depannya. Walaupun begitu dalam hati ia mengucapkan maaf, karena tidak menjawab panggilan dari Aletta.
Pasti Aletta meneleponnya untuk menanyakan alasannya pergi. Tadi memang ia langsung pergi begitu saja setelah berpamitan pada Aletta. Ia tahu mungkin Aletta akan marah padanya, karena lagi-lagi ditinggalkan sendirian setelah kejadian beberapa waktu lalu. Namun tidak masalah, nanti akan ia jelaskan lagi pada Aletta, yang penting saat ini ia bisa sampai di rumah lebih cepat.
Tanpa terasa setengah jam berlalu begitu cepat, hingga akhirnya Zico berhasil sampai di rumahnya. Ia pun segera keluar dari mobilnya untuk membuka pagarnya, lalu kembali masuk ke mobilnya dan memarkirkan mobilnya di dalam. Ia pikir begitu masuk ke rumahnya, mobil Devian sudah sampai duluan. Ternyata ia yang lebih dulu datang, karena itu Zico pun duduk di depan pintu sambil menunggu Devian datang.
Zico menatap ke luar rumahnya yang terbuka, karena ia sengaja membuka pagarnya agar Devian bisa langsung masuk.
Zico terus menunggu, hingga tidak terasa sepuluh menit sudah berlalu. Namun nyatanya masih belum ada tanda-tanda Devian dan Sally datang. Entah mereka terjebak macet atau apa Zico sendiri tidak tahu.
Terlalu lama menunggu membuat Zico merasa haus, ia pun bangkit dari duduknya berniat untuk masuk ke dalam rumahnya. Namun baru hendak melangkah, ia mendengar suara mobil. Ia pun kembali berbalik dan memperhatikan taksi yang ada di depan rumahnya. Ia pikir Devian ke sini menggunakan mobilnya, ternyata dengan taksi. Pastas saja sedikit lama.
Di sisi lain Devian yang masih ada di dalam taksi mencoba membangunkan Sally. "Sal, kita udah sampe." Devian sedikit mengeraskan suaranya agar Sally dapat terbangun.
Benar saja, Sally langsung membuka matanya mendengar ucapan Devian. "Udah sampe? Aduh maaf ya, aku ketiduran."
"Dev, kayaknya kamu gak perlu turun deh. Mending kamu langsung pulang aja, pasti kamu juga capek kan karna tadi. Maaf ya, bukan maksudnya ngusir kok." Sally menatap Devian dengan sorot mata sayu, karena masih merasa lemas.
Devian mengangguk mengerti, apalagi Sally juga pasti butuh istirahat. "Iya, saya ngerti kok. Yaudah, kalo gitu saya pulang ya. Maaf udah buat kamu jadi-"
Sally menggelengkan kepalanya. "Dev, aku udah bilang ini bukan salah kamu. Jadi gak usah minta maaf lagi, aku gapapa kok." Sally menyela ucapan Devian cepat, ia tidak ingin Devian merasa bersalah terus padanya.
"Iya, tapi tetep aja saya ngerasa gak enak. Oh iya Sal, abis dari sini kamu langsung obatin luka kamu ya."
Sally tersenyum tipis dan mengangguk. "Pasti, kok. Yaudah aku turun ya, makasih udah nganterin sampe sini." Sally membuka pintu mobil setelah berpamitan pada Devian.
Devian mengangguk dan membiarkan Sally keluar dari taksi. Ia masih memperhatikan Sally sejenak, sebelum akhirnya taksi yang ditumpanginya mulai bergerak meninggalkan pekarangan rumah Zico.
__ADS_1
Melihat taksi yang tadi ia tumpangi sudah pergi, Sally pun bergegas masuk ke dalam. Tepat saat ia masuk, ia melihat Zico yang sedang berdiri menatapnya.
"Sal!" Zico menghampiri Sally yang tampak pucat dengan luka di dahinya.
"Kamu kenapa ada di sini? Bukannya tadi kamu pergi ke tempat Aletta?" tanya Sally heran melihat Zico yang tiba-tiba saja sudah ada di depan rumah.
"Gue dikasih tau Devian kalo lo kecelakaan, makanya gue langsung pulang ke sini. Maaf ya, harusnya tadi gue nganterin lo pulang dulu baru ke tempat Aletta." Zico merangkul bahu Sally, untuk membantunya masuk ke dalam rumah.
Sally hendak membalas ucapan Zico, tetapi tiba-tiba saja kepalanya berdenyut hebat. Jalanan yang ada di depannya berubah kabur dan berkunang-kunang, hingga membuat tubuh Sally oleng. Namun dengan sigap Zico menangkapnya agar tidak terjatuh.
"Sal, lo kenapa?" Zico menatap Sally khawatir, tangannya masih berada di pinggang Sally takut jika tiba-tiba kembali terjatuh.
Sally memegangi kepalanya yang makin berdenyut, keringat dingin mulai membasahi tangannya. Ia meringis berusaha menahan rasa nyeri di kepalanya, hingga tiba-tiba pandangannya menggelap. Samar-samar ia dapat mendengar suara Zico yang mencoba memanggilnya, sebelum akhirnya ia kehilangan kesadarannya.
***
Amara terduduk di sofa sambil memakan buah yang ada di atas meja dengan santainya. Tangannya bergerak mendekatkan ponselnya ke telinganya begitu ponselnya berdering. Ia pun mengangkat panggilan itu sembari memakan buah yang ada di tangan satunya lagi.
"Gimana, apa semuanya berjalan sesuai rencana kita?" tanya seseorang dari seberang sana.
Amara mendengus mendengarnya. "Sabar dong, kebiasaan gak pernah basa-basi dulu. Selalu langsung ke intinya," balas Amara jengkel.
Pria yang meneleponnya itu hanya bergeming, seolah-olah tidak ingin membahas hal lain selain yang dia tanyakan. Hal itu membuat Amara menatap sinis ponselnya, walaupun ia tahu orang itu tidak akan melihat tatapan sinisnya.
"Iya deh iya, langsung ke intinya. Tenang aja rencana kita berhasil kok, anak buah yang aku suruh berhasil ngebuat Sally dan Zico kecelakaan. Mungkin mereka sekarang luka-luka lah minimal, gak akan sampe mati. Sesuai sama yang udah kita rencanain." Amara tersenyum puas menjelaskannya. Akhirnya rencananya kali ini berhasil juga, tidak seperti yang sebelumnya.
"Bagus, tapi jangan puas dulu. Ini baru awal, masih banyak kejutan yang menunggu mereka setelah ini. Jadi tetep pantau mereka terus, jangan sampe lengah."
Amara mengangguk mengerti. "Oke, tenang aja. Aku gak akan lengah, aku bakal pantau mereka terus." Setelah mendengar balasan singkat orang yang meneleponnya itu, Amara menutup panggilannya.
Ia menaruh ponselnya di atas meja dan kembali memakan buah yang ada di tangannya sambil tersenyum. Malam ini ia sangat senang, karena rencananya berjalan sesuai dengan apa yang diinginkannya. Walaupun begitu, ia tetap belum puas. Ia tidak akan berhenti sebelum dendamnya pada Sally terbalaskan, kalau perlu ia akan membuat Sally merasakan yang lebih menyakitkan daripada apa yang pernah ia rasakan.
__ADS_1
Amara tidak akan pernah lupa, bagaimana hidupnya hancur begitu saja karena Sally. Sehingga ia pun juga ingin Sally merasakan apa yang ia rasakan, kalau perlu lebih dari rasa sakitnya. Suatu hari nanti ia akan membuat Sally tahu bagaimana pedihnya kehilangan seseorang yang paling berharga, sedangkan diri sendiri tidak bisa melakukan apa-apa. Mungkin belum sekarang, tetapi ia pastikan itu akan terjadi.
****