
Malam berlalu begitu cepat berlalu, berganti dengan pagi yang tampak cerah hari ini. Sinar mentari masuk dari celah-celah jendela rumah Zico, membuat tidur Sally terusik. Ia mengerjapkan matanya untuk mencoba beradaptasi dengan cahaya yang masuk, hingga ia terbangun dengan sempurna.
Sally memegang kepalanya yang sudah diberikan plester. Ia baru ingat jika kemarin ia pulang dalam keadaan lemas dan melihat Zico di depan rumah, lalu ia tidak ingat apa-apa lagi. Namun sekarang ia merasa lebih baik, kepalanya juga tidak sepusing kemarin.
Sepertinya kemarin ia pingsan dan baru bangun saat ini. Sally memang merasa lemas kemarin, ditambah kepalanya yang sebelumnya memang sudah terluka akibat peristiwa sebelumnya, dibuat semakin pusing karena terbentur cukup keras di jendela mobil Devian.
Suara dengkuran halus yang terdengar dari arah seberangnya membuyarkan lamunan Sally, ia mengalihkan pandangannya ke seberangnya.
Di sana Sally melihat Zico yang sedang tidur di sofa yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Melihat itu membuat Sally tersenyum tipis, ia tidak menyangka Zico menunggunya semalaman di kamarnya.
Perlahan Sally bangkit dari kasurnya dan melangkah ke arah sofa. Ia berjongkok di depan sofa untuk melihat wajah Zico dari dekat. Wajah laki-laki itu terlihat polos ketika sedang tidur seperti ini, sangat jauh berbeda jika sudah bangun, yang muncul hanyalah wajah menyebalkannya.
Sally masih memperhatikan Zico dalam diam, tetapi tanpa ia duga tangan Zico bergerak menariknya ke dalam dada bidang laki-laki itu. Ia tahu Zico melakukan itu secara tidak sadar, tetapi kenapa jantungnya tetap saja berdetak lebih cepat. Bagaimana tidak, pasalnya saat ini wajahnya dan Zico sangatlah dekat, hingga ia dapat merasakan hembusan napas Zico.
Sejenak ia seolah tidak ingin menjauh dari posisi ini, ia ingin melihat wajah Zico sedekat ini meski hanya sebentar saja.
"Enggak, gak boleh. Inget, Sal! Zico itu gak akan pernah jadi milik kamu." Sally berusaha mengingatkan diri sendiri. Ia pun hendak melepaskan tangan Zico, tetapi tiba-tiba saja mata Zico bergerak.
Sontak Sally melebarkan matanya, bisa gawat jika Zico terbangun dalam posisi seperti ini. Ia pun segera menyingkirkan tangan Zico darinya, tetapi sayangnya terlambat. Mata Zico sudah terbuka sempurna, tepat saat dia membuka mata yang pertama kali dilihatnya adalah manik mata berwarna coklat terang milik Sally.
Baik Sally maupun Zico sama-sama terdiam, saling terpaku satu sama lain. Hal itu lagi-lagi membuat jantung Sally berdebar, hingga ia takut jika Zico dapat mendengarnya saking kerasnya. Tidak mau itu terjadi, Sally langsung menghempaskan tangan Zico dengan cepat dan berdiri.
Zico yang juga masih terkejut, langsung terduduk begitu Sally berdiri. "Lo ngapain tadi? Modus ya lo sama gue?" tukas Zico sembari menatap tajam Sally.
"Enak aja, siapa juga yang mau modus. Hih amit-amit," balas Sally dengan memasang wajah geli.
"Ya terus, lo deket-deket sama gue kalo bukan modus apa namanya?" sindir Zico.
Sally mengembuskan napas panjang, sudah ia duga jika Zico melihatnya dalam posisi tadi pasti akan repot urusannya.
"Gini ya, Tuan Zico. Bukannya modus, tapi kamu yang tiba-tiba narik aku pas mau bangunin kamu. Makanya kalo tidur tuh ya, jangan banyak gerak. Kayak bocah!" Sally menatap Zico sinis.
Zico berdiri dari sofa, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya maaf, kan gue gak sadar pas itu. Ngomong-ngomong lo udah enakan?"
Sally memutar bola matanya jengah, pagi-pagi ia sudah harus menghabiskan energi untuk berdebat dengan Zico. Lebih anehnya lagi bagaimana mana bisa ia menaruh perasaan pada orang semenyebalkan Zico. "Udah," balas Sally singkat.
"Oh, pantes lo udah bisa ngomel-ngomel. Kemaren lo tiba-tiba aja pingsan, mana lama banget baru bangun sekarang. Lo pingsan apa tidur?" ejek Zico.
__ADS_1
"Ya mana aku tau, emangnya aku bisa nentuin mau pingsan berapa jam. Tapi, kamu beneran nungguin semaleman di sini? Makasih, lho." Sally tersenyum penuh arti pada Zico.
Zico memalingkan wajahnya ke sembarang arah. "Jangan geer, gue nungguin lo karena emang gak ada siapa-siapa di sini. Entar kalo lo kenapa-napa terus gak ada yang jagain, gue juga yang repot."
Sally sudah tahu akan hal itu, tetapi ia tetap berterima kasih pada Zico. Kalau bukan karena dia, mungkin keadaannya belum tentu sebaik sekarang.
"Ya ... apa pun alasannya terserah. Yang penting aku udah berterima kasih. Yaudah sana siap-siap, kamu ada syuting kan hari ini."
"Ini gue juga mau siap-siap, udah lo istirahat aja di sini!" titah Zico sembari melangkah keluar dari kamar Sally.
Setelah Zico keluar, Sally pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karena sejak kemarin ia belum mandi dan berganti pakaian. Sepertinya setelah ini ia akan mulai mengerjakan skenario untuk dapat ia berikan pada Devian. Lebih cepat ia mengerjakan, lebih cepat juga ia bisa bekerja bukan?
***
Zico melangkah ke lokasi syutingnya ditemani Arya -- manajernya. Hari ini adalah syuting perdananya setelah ia menikah. Semoga saja semuanya dapat berjalan dengan lancar dan ia dapat memerankan tokoh yang ia mainkan dengan baik.
Apalagi ia juga sudah belajar banyak dengan Sally waktu itu, mengenai perannya yang akan banyak bermain seluncur es. Semoga saja ia dapat mempraktikkan apa yang diajarkan Sally dengan baik.
Di tengah jalan, Zico melihat Teo yang juga pernah syuting dengannya pada film sebelumnya. Sontak ia langsung memanggilnya, "Woi Teo!"
Teo menghentikan langkahnya, ia kemudian berbalik dengan cepat. Samar-samar Zico menangkap raut terkejut di wajah Teo saat melihatnya, tetapi tidak lama dia kembali berekspresi seperti biasanya.
Zico tertawa mendengarnya. "Ya nanti lah, bro. Cari duit dulu, baru bulan madu."
Arya -- sang manajer Zico ikut tertawa mendengar pembahasan keduanya. Mereka pun melangkah bersamaan menuju lokasi syuting. Ternyata di sana sudah banyak kru dan para aktris dan aktor berkumpul. Mereka pun ikut menimbrung di sana untuk menyapa semua yang ada di sana.
"Ciee pengantin baru, cerah banget mukanya. Mana istri lo, gak diajak? Ajak lah, ke sini kapan-kapan. Bener gak, guys?" ucap salah satu aktor -- Marvin sembari meminta persetujuan yang lain.
"Benerr," balas mereka kompak.
Zico terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gampang, itu mah. Nanti gue ajak ke sini lain kali," imbuh Zico.
Salah satu aktris berjalan mendekati Zico, dia Gea yang akan menjadi lawan mainnya di film barunya ini. Sebelum ini Zico belum pernah syuting dengan Gea di satu judul film yang sama, walaupun ia sudah pernah melihatnya di berbagai acara yang terdapat banyak aktris dan aktor berkumpul.
"Hai, seneng bisa jadi lawan main lo di film kali ini. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik," tuturnya sambil tersenyum lembut.
Zico tersenyum ramah pada Gea. "Iya, gue juga berharap kita bisa klop di film ini."
__ADS_1
"Btw, selamat ya atas pernikahan lo. Oh, iya! Gue denger lo nikahnya sama orang biasa ya, sayang banget padahal lo bisa dapet yang lebih, ngeliat dari kepopuleran lo. Ya bukannya apa-apa, gue cuma menyayangkan aja, sih." Gea berucap dengan santainya, seolah tidak ada yang salah dengan kata-katanya.
Sementara Zico yang tadinya bersikap ramah pada Gea, seketika memandang dingin perempuan di hadapannya itu. Respeknya pada Gea seolah hilang, menyisakan rasa tidak suka. Bagaimana bisa orang yang baru mengenalnya, berani berbicara tidak sopan seperti ini.
"Lo gak perlu menyayangkan keputusan gue, gue sepenuhnya sadar atas pilihan yang gue ambil. Iya ... istri gue emang bukan dari kalangan artis, tapi seenggaknya dia bukan orang yang suka ngomong ceplas-ceplos tanpa saringan kayak lo. Permisih," balas Zico sengit, lalu melangkah meninggalkan Gea yang masih terkejut dengan kata-katanya.
Orang-orang yang mendengar obrolan antara Zico dan Gea, mendadak terdiam dengan suasana yang seketika berubah panas di lokasi syuting.
Sementara Zico, ia kini duduk di basecamp -- tempat para aktris dan aktor berkumpul menunggu giliran take. Ia berdecak kesal mengingat ucapan Gea tadi, bisa-bisanya perempuan itu dengan mudahnya merendahkan Sally di depan banyak orang. Yang mana secara tidak langsung menyebutkan bahwa Sally tidak pantas untuknya.
"Gila ya, tuh cewek. Artis baru aja songongnya minta ampun, udah berasa di atas kali ya. Ck, ilang udah respek gue. Mana dia lawan main gue lagi," ucap Zico kesal.
Seharusnya ia membangun keakraban dengan lawan mainnya, agar ia bisa lebih maksimal dalam berakting menjadi pasangannya di film. Namun belum apa-apa Zico sudah dibuat kesal seperti ini, dengan lawan main yang baru dipasangkan dengannya.
Di tengah kekesalannya Arya masuk sembari membawakan air mineral dingin untuk Zico. Ia menaruhnya di meja, lalu duduk di sebelah Zico. "Udahlah, lupain dulu masalah lo sama Gea. Lo harus tetep profesional sama peran lo, apalagi Gea bakal jadi lawan main lo."
Zico menoleh dan menatap nyalang temannya itu. "Lo sadar gak sih, Gea sama aja udah ngehina gue sama Sally! Gue harus tetep diem aja gitu, ngedenger artis songong itu ngerendahin Sally. Ya gak bisalah gue!" seru Zico tidak terima.
"Iya gue tau, cuma lo gak bisa gini terus. Lo sama Gea bakal sering satu adegan sampe film ini selesai, masa iya lo mau marah terus sama dia sampe akhir? Mending selesain dulu masalah lo baik-baik sama dia, dia juga pasti ngerti kalo lo bilangin baik-baik." Arya selaku manajer sekaligus teman Zico mencoba menasihati dengan baik, agar Zico bisa menerimanya.
Zico mungkin bisa untuk tetap bersikap profesional saat syuting, tetapi tidak jika untuk dibalik layar. Ia sudah terlanjur hilang respek. "Gue bisa profesional pas syuting sama dia, supaya tetep dapet momen yang pas sama dia. Tapi, kalo buat bersikap ramah lagi dibalik layar, gue gak bisa."
Arya memijat pangkal hidungnya lelah, sulit jika Zico sudah berbicara seperti itu. Alhasil ia hanya bisa menerima keputusan Zico, yang penting temannya itu bisa bersikap profesional jika di depan layar.
"Yaudah terserah lo, deh. Capek gue bilanginnya. Lagian kok lo bisa semarah ini pas Gea ngerendahin Sally, bukannya lo bilang lo gak cinta sama dia? Terus kenapa lo harus peduli?" Memang temannya yang mengetahui tentang pernikahan yang sebenarnya antara Zico dan Sally, hanyalah Arya.
Bukan berarti Devian tidak bisa dipercaya, hanya saja Zico lebih nyaman membicarakan dengan Arya yang sudah lama ia kenal lebih dulu daripada Devian.
"Apa jangan-jangan lo udah mulai suka sama Sally?" tanya Arya lagi saat Zico tidak menjawab apa pun.
Zico menoleh dengan cepat, ia tertawa mendengar pertanyaan Arya. "Ya gak mungkinlah, gue gak punya perasaan apa-apa buat Sally. Cuma gue tau Sally sebaik apa orangnya, jadi ya gue gak suka aja kalo ada orang yang ngomong enggak-enggak tentang dia tanpa kenal lebih dulu."
"Sekarang mungkin belum, tapi nanti? Gak ada yang tau, 'kan?" ucap Arya sembari tersenyum penuh arti. Ia bangkit dari kursinya dan menepuk bahu Zico.
"Gue keluar dulu, lo siap-siap sebentar lagi mau ada breafing." Arya mengingatkan Zico, sebelum akhirnya keluar dari tempat itu.
Zico bergeming memikirkan ucapan Arya. Ia tidak mungkin mencintai Sally, saat ini ataupun nanti akan tetap sama perasaannya. Ia memang sudah sedikit bersikap baik pada Sally, tetapi bukan berarti ia mencintanya atau memedulikannya, karena mau sampai kapan pun hal itu tidak akan pernah terjadi.
__ADS_1
****