
Tangan Sally bergerak lincah di atas papan tombol laptopnya. Ditemani dengan hamparan luas yang ditumbuhi banyak tanaman, menjadi pemandangan yang bisa ia lihat dari jendela kaca besar di ruang bawah.
Sally memutuskan untuk menulis skenario di ruang bawah, agar ia tidak suntuk jika hanya mengerjakannya di kamar saja. Sudah sejak pagi hingga malam datang Sally mulai menulis, sesekali ia berhenti untuk makan, mandi, dan bersih-bersih rumah sebelum kembali melanjutkan menulis. Ia sengaja memanfaatkan waktu mumpung sedang datang bulan, ditambah tidak adanya Zico di rumah ini. Alhasil ia bisa lebih fokus mengerjakannya, supaya bisa cepat ia kirim pada Devian.
Pukul 21:30 WIB, Sally baru benar-benar menghentikan kegiatannya. Ia meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku, lalu menutup laptopnya. Akhirnya pekerjaannya selesai, mungkin besok baru bisa ia kirimkan pada Devian.
Sally menyeruput es jeruknya yang sudah mulai mencair es batunya, karena telah lama dibiarkan. Matanya menelisik ke luar, melihat pagar yang masih tertutup sejak tadi. Mungkin Zico akan pulang tengah malam atau bahkan menjelang pagi, mengingat pekerjaan lelaki itu sebagai aktor.
Setelah meneguk es jeruknya hingga tandas, rasa kantuk yang sedari tadi Sally tahan, kembali datang. Mata Sally pun tidak kuat lagi menahan rasa kantuk yang sudah makin kuat melandanya. Alhasil Sally yang sudah terbawa rasa kantuknya, tertidur di atas meja dengan menjadikan tangannya sebagai penyangga kepalanya.
Waktu demi waktu berlalu, hingga sampai pada pukul 23:40 WIB pintu pagar rumah terbuka. Memperlihatkan Zico yang hendak memasukkan mobilnya ke garasi rumahnya. Lelaki itu mengunci kembali pagar dan garasinya, lalu membuka pintu rumahnya.
Setelah pintu terbuka, Zico mengerutkan keningnya tatkala melihat lampu di bawah masih menyala. Tapi mungkin saja, karena Sally lupa mematikannya. Alhasil Zico melangkah menuju sakelar lampu yang berada di dekat ruang tamu, untuk mematikan lampu terlebih dahulu sebelum ia naik untuk ke kamarnya.
Namun saat ia hendak menekan sakelar lampu tersebut, ia melihat Sally yang tertidur di kursi dengan kepala yang hanya beralaskan tangannya.
Zico pun melangkah ke arah Sally yang tampak tertidur pulas, matanya melirik ke arah laptop Sally yang sudah tertutup. "Sally kayaknya abis ngerjain sesuatu di laptopnya, sampe keliatan kecapean gini." Zico berucap sembari memperhatikan Sally yang terlelap dengan wajah kelelahan.
Zico menepuk bahu Sally perlahan, untuk membangunkannya. Sebenarnya ia merasa tidak tega untuk membangunkannya, tetapi kalau langsung menggendongnya begitu saja lalu Sally terbangun. Bisa panjang celotehan Sally nantinya.
"Sal, bangun!" bisik Zico ke telinga Sally, agar perempuan itu mendengar suaranya.
Beberapa kali Zico membangunkan Sally, tetapi tetap tidak kunjung terbangun juga saking lelahnya. Hal itu membuat Zico berdecak pelan. Sepertinya ia tidak memiliki pilihan lain selain menggendong Sally ke kamar perempuan itu.
"Nih cewek tidur apa pingsan sih, susah bener dibanguninya. Ck, gue lagi yang ribet harus ngebawa dia ke kamarnya." Zico menggerutu pelan.
Ia pun menarik tubuh Sally perlahan, lalu mengangkatnya dan menggendong Sally ala bridal style. Satu tangannya membawa tangan Sally ke lehernya agar tidak menyulitkannya dengan tangan Sally yang terurai bebas. Kemudian barulah Zico melangkah menuju tangga, setelah mematikan lampu terlebih dahulu.
Zico menaiki undakan tangga, lalu melangkah ke arah kamar Sally. Begitu sampai di kamar Sally, ia pun menurunkan tubuh Sally ke kasur secara hati-hati. Kemudian Zico pun melepaskan tangan Sally dari lehernya, tetapi baru ingin melepaskan tiba-tiba saja Sally menarik lehernya dan memeluk lehernya erat seolah-olah itu adalah guling.
"Buset dah, gue bukan guling woi." Zico menggerutu sebal. Sudah membuatnya susah untuk menggendong Sally ke lantai dua, sekarang harus ditambah lagi lehernya ditarik. Bagaimana Zico tidak kesal, harusnya sekarang ia sudah bisa beristirahat, tetapi jadi tidak bisa gara-gara Sally.
Zico baru sadar posisinya sekarang sangat dekat bahkan terlalu dekat dengan Sally, karena lehernya yang ditarik secara tiba-tiba tadi. Hal itu membuat posisi kepalanya berada tepat di antara dagu dan dada Sally. Ia bahkan bisa mendengar detak jantung Sally dari posisinya. Zico yang tidak pernah berada di posisi sedekat ini dengan Sally, lantas dibuat membeku. Darahnya berdesir hebat dengan jantung yang berdetak tidak karuan.
Tidak mau terlalu lama membiarkan jantungnya berdetak cepat, Zico pun segera melepaskan tangan Sally dari lehernya. Ia takut jika tiba-tiba Sally terbangun dan berpikir yang tidak-tidak.
Setelah berhasil melepaskan tangan Sally dari lehernya, Zico pun bergegas menjauh dari Sally. Namun ternyata jantungnya masih juga berdetak cepat, membuat Zico kembali memperhatikan Sally yang masih terlelap.
Ia tidak tahu apa yang salah dengannya, tidak biasanya ia merasa gugup seperti ini. Mungkin karena ia berada sedekat tadi, mengingat ia tidak pernah berada di posisi sedekat itu sebelumnya dengan Sally atau bahkan dengan perempuan lain sekalipun.
"Mending gue balik ke kamar sekarang, daripada makin gak karuan di sini." Zico mengalihkan pandangannya dari Sally, lalu melangkah keluar dari kamar Sally.
__ADS_1
Sepertinya ia harus mengistirahatkan pikirannya dari pekerjaan maupun dari hal yang terjadi malam ini. Zico pun bergegas masuk ke kamarnya dan berganti pakaian yang lebih santai. Ia menggosok gigi dan mencuci wajahnya terlebih dahulu, sebelum beranjak ke kasurnya untuk istirahat.
Matanya berusaha ia pejamkan agar bisa tertidur, karena besok pun ia masih harus ke lokasi syuting lagi. Setidaknya dengan tidur ia bisa melupakan segala kelelahannya dalam bekerja hari ini, termasuk ... perasaan tidak karuan yang terjadi karena hal tadi.
***
Sally terbangun dari tidurnya dengan badan yang sedikit pegal. Sepertinya ini karena kemarin ia tidur di kursi, jadi badannya terasa pegal-pegal. Tapi tunggu, semalam yang Sally ingat ia tertidur di kursi, lalu kenapa pagi ini ia justru berada di kasur? Apa Zico yang memindahkannya?
Mata Sally terbelalak seketika, sepertinya memang Zico yang memindahkannya. Mengingat tidak ada siapa-siapa di rumah ini selain dirinya dan Zico. Itu artinya apa Zico menggendongnya dari bawah ke kamarnya? Memikirkan itu tiba-tiba saja membuat wajah Sally memerah.
Padahal saat ia pingsan waktu lalu pun, ia juga tiba-tiba berada di kamar. Namun kali ini rasanya berbeda, karena kemarin ia dalam kondisi tidur bukan tidak sadarkan diri. Yang mana kalau tertidur, seharusnya Zico bisa membangunkannya saja tanpa harus menggendongnya. Apa jangan-jangan semalam Zico sudah membangunkannya, tetapi ia yang tidak bangun karena terlalu lelah?
Pikiran Sally seolah dipenuhi tanda tanya dan asumsi-asumsinya sendiri. Mungkin nanti ia akan bertanya saja pada Zico, sekarang sebaiknya ia mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan Devian.
Sally beranjak dari kasurnya, lalu melangkah menuju kamar mandi. Ia hanya butuh waktu lima belas menit untuk mandi dan bersiap-siap. Kini ia sudah rapih dengan tunik berwarna putih selutut yang dipadukan dengan rok kerut dan jilbab berwarna coklat, ditambah dengan ikat pinggang kecil di tengah tunik. Sederhana, tetapi mempermanis tampilannya.
Begitu sudah merasa cukup rapi dengan penampilannya, Sally mengambil tas berwarna coklat yang ia sampirkan di bahu kanannnya. Ia pun bergegas keluar dari kamarnya, menuju lantai bawah.
Sesampainya di bawah, Sally melangkah ke arah dapur untuk membuat makanan terlebih dahulu sebelum ke kantor Devian. Masih sekitar pukul 07:30 WIB, artinya ia masih memiliki banyak waktu untuk makan terlebih dahulu, karena sebelumnya ia sudah janjian dengan Devian pada pukul 09:00 WIB.
Sally menaruh tasnya di atas kursi tempat meja makan, lalu melangkah ke arah kulkas untuk mengambil bahan-bahan yang akan ia masak. Ia hanya mengambil bumbu biasa saja, karena niatnya Sally hanya ingin memasak nasi goreng saja yang sederhana dan cepat.
"Masak apa?" Suara Zico yang tiba-tiba membuat Sally menoleh, hanya sekilas lalu kembali melanjutkan masakannya.
Zico yang sudah rapi dengan pakaian kasualnya, beranjak duduk di meja makan. Kebetulan ia baru akan ke lokasi syuting pada setengah sembilan nanti, sehingga ia masih memiliki waktu untuk wakan dulu sebelum pergi.
"Nasi goreng, biar cepet." Sally menjawab tanpa memandang Zico, ia masih fokus menyelesaikan masakannya.
Zico manggut-manggut, ia kembali memperhatikan Sally yang sudah rapi pagi ini seperti hendak pergi. "Mau ke mana, lo? Udah rapi aja jam segini."
Sally menaruh nasi goreng yang ia buat ke dalam mangkuk besar, lalu membawanya ke meja makan. Ia menaruhnya di atas meja, lalu duduk di seberang Zico. "Mau pergi," balas Sally singkat, ia masih mengingat mengenai keputusan yang mana tidak boleh saling ikut campur atas urusan masing-masing. Karena itu ia tidak perlu menjawabnya dengan detail bukan?
Zico membalik piring yang ada di atas meja makan, lalu mengambil nasi goreng yang ada di mangkuk untuk ditaruh ke piringnya. "Ya gue tau, maksudnya pergi ke mana?" tanya Zico lagi.
"Ya ... ke mana aja, gak perlu jawab detail juga kan. Lagian kamu inget kan buat gak ikut campur urusan satu sama lain, jadi aku rasa aku gak perlu jawab banyak." Sally membalas dengan santainya sembari menyendokkan nasi goreng yang ada di mangkuk ke piringnya.
Zico berdecak kesal. "Yaudah, terserah lo!" ketus Zico.
"Tentang lo yang kecelakaan waktu itu gimana? Lo belom cerita apa-apa soal itu." Zico kembali bertanya.
Sally mengunyah makanannya terlebih dahulu baru menjawab, "Soal itu ... panjang ceritanya. Intinya pas aku sama Devian arah pulang tiba-tiba aja ada mobil yang ngikutin kita. Devian udah coba buat ngehindar dan sempet mereka kehilangan jejak kita. Tapi tiba-tiba aja muncul lagi dan nyalip mobil Devian gitu aja. Mereka kayak sengaja gitu ngehalangin jalan kita, mereka baru minggir di saat udah ada truk yang jaraknya deket banget sama mobil Devian."
__ADS_1
Mendengar penjelasan Sally, Zico terbelalak. Tidak terbayang paniknya berada di posisi itu seperti apa. "Terus kalian berhasil ngehindar dari truk itu, kan?" Melihat kondisi Sally yang tidak termasuk terluka berat ketika pulang, seharusnya Devian memang berhasil menghindar pada saat itu.
Sally meminggirkan piringnya yang sudah kosong, lalu kembali menoleh pada Zico. "Iya, Devian banting stir ke kiri dan ternyata pas ke kiri di depan kita udah ada tiang gede. Kita udah gak sempet ngehindar, karena udah terlalu dekat jaraknya." Sally kembali menjelaskan hal yang ia alami saat itu.
Zico mengerti sekarang, mendengar cerita Sally ia jadi teringat peristiwa saat ia dan Sally dihadang oleh beberapa orang. Apa mereka ada sangkut pautnya dengan peristiwa yang menimpa Sally?
"Tapi lo liat gak orang yang ada di mobil itu, apa mereka orang yang sama kayak orang yang ngehadang kita waktu itu?"
Sally menggelengkan kepalanya. Ia memang tidak mengetahui orang yang ada di mobil itu, apakah orang yang sama atau bukan. Namun yang ia yakini untuk saat ini adalah, dua kejadian itu saling berkesinambungan.
"Enggak, cuma kayaknya mereka suruhan seseorang dan kemungkinan orang yang nyuruh itu orang yang sama kayak pas kita dihadang mendadak itu. Aku gak tau juga sih, ini baru perkiraan doang." Sally sejujurnya merasa takut, karena ini sudah kedua kalinya ia dalam bahaya seperti ini. Tidak menutup kemungkinan jika hal itu akan terjadi lagi dengan kejadian yang berbeda dari sebelumnya.
Zico merasa ucapan Sally ada benarnya, sepertinya ia dan Sally harus lebih waspada. Mungkin saja dalam waktu dekat akan terjadi peristiwa yang membahayakan lagi, ia tidak pernah tahu.
"Gue gak tau sebenernya orang yang nyuruh buat nyelakain gue atau lo itu ... orang yang gak suka sama gue ... lo atau bahkan dua-duanya. Cuma gue harap lo harus lebih hati-hati, apalagi gue lagi sibuk sekarang. Gue gak bisa terus-terusan ada sama lo, jadi gue harap lo bisa lebih waspada. Kabarin gue kalo misalnya ada apa-apa," ucap Zico panjang lebar, karena ini sudah kedua kalinya Sally celaka karena orang yang tidak dikenal.
Sally lantas tersenyum mendengar ucapan Zico. "Tenang aja, aku bisa jaga diri sendiri. Gak usah khawatir," balas Sally sembari tersenyum meledek di ujung kalimatnya.
Zico seketika mengalihkan pandangannya, mendadak ia kembali gugup. Padahal biasanya ia tidak pernah gugup tiap kali Sally meledeknya, apa ini karena efek semalam? Ah sudahlah, ia pusing memikirkannya.
"Gak usah geer, gue cuma ngingetin lo. Secara lo kan ceroboh orangnya. Liat aja dahi lo tuh udah dua kali luka-luka, kalo sampe tiga kali gue kasih piring juga lo." Zico beranjak dari kursinya sambil membawa piringnya ke wastafel dan mencucinya.
Sally teringat akan pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Zico. Ia pun memutar tubuhnya menghadap ke arah Zico, lalu bertanya, "Semalem kamu yang mindahin aku ke kamar, 'kan? Kenapa gak dibangunin?"
Zico menaruh piring yang sudah ia cuci ke dalam rak, lalu berbalik menatap Sally. "Udah gue bangunin, lo aja yang tidurnya kayak orang pingsan susah dibangunin."
Sally meringis mendengarnya, sudah ia duga Zico sudah mencoba membangunkannya, tetapi ia yang tidak bangun juga. "Ya maaf, namanya juga capek. Tapi kamu mindahinnya gimana, kamu yang gendong?" tanya Sally lagi, walaupun ia sedikit malu menanyakan hal ini.
Zico memandang ke sembarang arah, lagi-lagi ia merasa gugup karena teringat yang terjadi semalam. Entah apa yang salah, kenapa ia jadi mudah gugup seperti ini sekarang?
"Ya iyalah, masa iya gue geret. Mana badan lo berat, lain kali kalo ngantuk langsung ke kamar. Bukan malah tidur di kursi, udah ah gue mau berangkat. Nanti gue pulang malem, jadi awas aja pas gue pulang liat lo tidur di kursi lagi. Kagak bakal gue pindahin buat kedua kalinya, biarin pegel sekalian." Setelah mengucapkan itu, Zico pun melangkah menuju ruang depan untuk keluar.
Sally menggerutu pelan, berbincang dengan Zico selalu saja kata-kata yang dikeluarkannya menyebalkan. Sally mengambil piring dan mangkuk yang sudah kosong dan membawanya ke wastafel. Ia mencucinya lalu menaruhnya ke rak.
Sudah pukul 08:15 WIB, sepertinya ia harus pergi sekarang. Sally mengambil tasnya kembali lalu melangkah menuju ruang depan dan keluar dari rumah Zico. Ia menguncinya dan memasukkan kuncinya ke dalam tasnya.
Di luar, Sally melihat mobil Zico sudah tidak ada di tempatnya. Sepertinya lelaki itu sudah berangkat. Sally tidak memusingkan soal itu, ia pun kembali melanjutkan langkahnya ke luar pekarangan rumah Zico.
Ia berdiri di tepi sambil celingak-celinguk mencari taksi, untungnya tidak begitu lama ia menunggu taksi datang. Begitu menemukannya ia pun langsung naik ke dalam taksi dan meminta sang supir untuk mengantarnya ke lokasi kantor Devian.
***
__ADS_1