DISCONTINUE!¡

DISCONTINUE!¡
BAB 1 : PAGI PERTAMA


__ADS_3

Atmosfir diantara keduanya seolah memanas, sesekali Kalan akan mengipas dirinya sendiri sedangkan Halwah yang duduk tepat disampingnya kini sudah memerah bak kepiting rebus sebab menahan tawa.


Keduanya baru saja terbangun dari tidur lelap mereka semalam setelah melakukan akad nikah siang harinya. Halwah terbangun sebab mendengar teriakan Kalan yang disusul suara seperti baskom yang jatuh dari kamar mandi.


Jika bukan karena menghargai Kalan sebagai suami, ia sudah terbahak menertawai Kalan yang ternyata takut dengan kecoa terbang.


Kalan melirik Halwah, ia berdecih kesal dengan setumpuk rasa malu sekarang. Helaan nafas kasar keluar dari bilah bibirnya, kemudian ia bangkit disusul dengan Halwah yang berdiri tergesa.


"Ma-mau kemana?" tanya Halwah, gadis yang baru menginjak usia 16 tahun kemarin lusa itu kini merasa takut dengan pemikiran mungkin Kalan marah padanya.


"Mau makan, lapar. Kau tidak mau ke sekolah?" jawab Kalan dengan pandangan sinis.


Ketika pintu tertutup rapat, saat itulah Halwah merasa ia telah melakukan kesalahan bahkan di hari pertama ia menjadi istri dari Kalan.


---

__ADS_1


Kalan menggigit rotinya malas, rambutnya masih acak-acakan ketika Halwah muncul dari lantai atas dengan seragam yang sudah lengkap.


Rumah yang hanya berisi mereka berdua terdengar ramai oleh nyanyian jangkrik dari halaman rumah. Tidak heran, Mansion keluarga Lazuardy memang terkenal besar dan memiliki taman asli yang luas. Saat pertama kali Halwah datang ke mansion megah ini, hal pertama yang membuatnya jatuh hati adalah taman anggur dibelakang rumah.


"Kau wangi." celutuk Kalan, ia meraih roti lagi dan melahapnya setelah memoles roti tersebut dengan selai.


Halwah hanya bersemu dan mengulas simpul sebelum ikut sarapan. Keduanya saling diam, tak ada suara lain dari dentingan sendok yang beradu dengan pinggir cangkir akibat ulah Kalan yang katanya sudah gabut di pagi hari.


Pemuda itu baru berdiri setelah jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi, meninggalkan Halwah yang semakin salah paham mengira Kalan marah sebab ia mengetahui rahasia tentang kecoa terbang pagi tadi.


---


Halwah melirik takut raut wajah Kalan yang tak berekspresi saat bertanya, ia benar-benar tidak bisa membayangkan kejadian berikutnya.


Ketika Kalan tersenyum tipis dan berkata; "Tidak perlu takut, aku hanya bertanya."

__ADS_1


Pemuda itu naik keatas sepeda lalu, menatap Halwah sembari memberi kode untuk segera naik ke boncengannya. Kalan kembali mengulas senyum sebelum keduanya berangkat bersama ke sekolah.


Jujur saja, ini impian Halwah sejak dulu. Duduk satu sepeda dengan seorang pemuda keren yang berstatus kekasih atau suaminya. Namun, Halwah tidak menyangka semuanya akan terjadi secepat ini. Seingatnya, ia masih seorang gadis lugu yang setia menjomblo dan hari ini, ia berstatus sebagai Nyonya Kalan Lazuardy. Hal yang tidak bisa di prediksi dari sekian banyaknya rencana Allah, untuk Halwah.


Dengan degup jantung yang bertaluh seperti drum, Halwah memberanikan diri melingkarkan satu tangannya di sekitar pinggang Kalan. Gadis itu bisa merasakan bagaimana Kalan tersentak kaget saat ia mencengkram seragam depan Kalan.


"Ma-maaf.." bisik Halwah, ia hendak kembali menarik lengannya namun, Kalan mencegahnya lebih dulu.


"Tidak apa, aku tidak keberatan."


Dan pagi itu adalah pagi terindah untuk Halwah. Berboncengan dan memeluk pinggang orang yang kau sukai sejak lama, bukankah sudah sepantasnya hal itu menjadi sesuatu yang menbahagiakan?


-161020-


__ADS_1


__ADS_2