
Seminggu berlalu dan Halwah tidak pernah membayangkan bahwa kehidupan barunya berjalan dengan semulus ini tanpa hambatan.
Selepas melaksanakan sholat subuh berjamaah, Kalan langsung menuju kamar mandi tanpa mengatakan apapun. Pemuda itu belum mengeluarkan suara sejak semalam dari yang Halwah bisa ingat. Kecuali, bacaan surah ketika sholat barusan.
Selagi Kalan di kamar mandi, Halwah memilih membereskan kasur dan keluar kamar untuk membuka pintu. Keduanya memang tidur dalam kamar yang sama, akan tetapi, mereka sepakat untuk tidur dengan ranjang terpisah. Yah, walau sofa yang ditempati Kalan tidur tidak bisa disebut sebagai ranjang. Namun, sofanya nyaman, Halwah pernah mencoba berbaring disana.
"Halwah?"
Halwah tersentak, ia berbalik dan menemukan Kalan kini lebih rapi dengan setelan kemeja biru muda dan celana kain berwarna putih. Pemuda itu memakai peci putih dikepalanya dan berjalan ke arah Halwah yang baru saja selesai membuka jendela besar ruang tamu.
"Hari minggu, para maid biasanya tidak datang untuk membersihkan rumah. Tapi, mereka sudah membersihkan semuanya kemarin. Jadi, kau tidak perlu membersihkan lagi dan hanya perlu memasak untuk makan siang dan makan malam." jelas Kalan, ia merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam sana.
"Ini uang saku milikku bulan ini, gunakanlah untuk keperluanmu. Kau bisa membeli apa saja yang kau inginkan dengan itu,"
Demi Allah, Halwah berani mengatakan uang saku perbulan milik Kalan nilainya mungkin sama dengan gaji perbulan seorang guru.
"Aku pergi dulu, ada pengajian di Masjid. Sepedanya ku pakai, Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam warahmatullah, Fii a-amanillah.."
Kalan tersenyum tipis, hal itu membuat Halwah tertegun ditempatnya. Astaga, Halwah merasa ketampanan Kalan kian berlipat ganda ketika pemuda itu tersenyum.
---
Pukul 11 tepat, Halwah menyelesaikan pekerjaan pertamanya sebagai seorang istri. Ia memasak sambil membayangkan reaksi Kalan saat menyantap hasil kerjanya.
Saat ia sibuk tersenyum dan tersipu, pintu utama terbuka dan seorang lelaki berambut coklat muncul dengan gerakan tergesa berlari kearah kamar mandi ruang tengah.
"KALAN AKU PINJAM KAMAR MANDIMU!"
Halwah berkedip dua kali, ia menatap pintu kamar mandi yang tertutup dengan pandangan bingung. Tadi itu, siapa?
Tiga menit, Halwah mengintip dari balik tembok dapur pria yang tadi masuk dengan seenaknya ke dalam rumah.
__ADS_1
Pemuda itu mondar mandir sembari meneriakkan nama Kalan, na'asnya saat Halwah mengintip ia tanpa sengaja menjatuhkan sendok sup yang ia pegang sebagai senjata pertahanan andai saja terjadi sesuatu.
Lantas, pemuda itu langsung melihatnya dan berteriak histeris; "ASTAGHFIRULLAH!!! HANTUUU!!"
"MA-MANAAA!?"
Keduanya terdiam, pemuda bersurai coklat mendeklik sebelum memasang posisi kuda-kuda dan menatap Halwah penuh selidik.
"Siapa kau!?"
"Ha-halwah!" jawab Halwah takut, ia mundur beberapa langkah ketika pemuda tersebut berjalan mendekatinya perlahan.
"Apa yang kau lakukan di rumah sahabatku? Kenapa kau bisa berada di sini dengan sendok sup?! Kau mencuri!?"
Halwah menggeleng ribut, ia sudah berjalan mundur sedari tadi. Bahkan gadis itu tidak tahu kalau si pemuda ini memojokkannya sampai ke ambang pintu utama, dimana ada Kalan yang berdiri dengan pandangan melotot kaget.
"Irsyad!?"
"Eh!"
---
"Ja-jadi kau sudah menikah!?"
Irsyad Anggara, aktor film yang sedang naik daun. Merupakan sahabat masa kecil Kalan hingga sekarang, keduanya masuk dalam kelas yang sama, namun karena Irsyad yang memiliki banyak jadwal syuting, pemuda itu lebih sedikit masuk sekolah dari yang mampu Kalan ingat. Jadi, tidak heran ketika Irsyad tidak mengenali Halwah yang notabene penyandang siswi terpintar di sekolah.
"Hm, seperti yang kau lihat." jawab Kalan, ia menyeruput teh hangat yang dibuatkan oleh Halwah selepas mereka bertiga melaksanakan sholat duhur setelah berhasil menenangkan Irsyad yang terus menuduh Halwah pencuri.
"Kau tidak memberitahuku? Sejak kapan kalian menikah!?"
"Seminggu yang lalu. Aku menelpon tapi, managermu bilang kau ada syuting di laut."
Irsyad menepuk jidat, helaan napas kasar keluar dari bilah bibirnya sebelum ia menatap Kalan frustasi.
__ADS_1
"Kau sengaja merahasiakannya? Apa perjodohan konyol orang tua yang membuat kalian bisa menikah? Bagaimana mungkin aku tidak diberitahu?!"
Kalan menahan tawa, sedangkan Halwah hanya berkedip lugu sebab ia sama sekali belum dikenalkan oleh sosok pemuda bernama Irsyad yang kini menatapnya tajam.
"Namamu Halwah?"
"Eh! I-iya!" Halwah memperbaiki posisi duduknya, ia lebih memberi jarak antara posisi duduknya dengan Kalan.
Sejenak, Irsyad terdiam menatap Halwah. Dari penampilannya, dia adalah sosok gadis yang lugu dan manis. Tapi, siapa yang tahu isi hati manusia?
"Kau yang jelaskan bagaimana bisa kalian berdua menikah!"
"Ehh? Aku? Ta-tapi.."
"Jelaskan saja, dia tidak akan berhenti bersikap seperti gorila betina jika kau tidak memberikan apa yang dia mau." Kalan bercelutuk, ia membuka toples kue coklat dan melahapnya santai kemudian menyalakan TV dengan volume kecil.
Halwah menatapnya sejenak, gadis itu terdiam kemudian menarik napas dalam.
"A-anu.. kakek kami membuat pe-perjanjian.."
"Santai saja, Halwah." ujar Kalan bergeling, ia melirik Irsyad yang sepertinya bersikukuh ingin tahu alasan mengapa mereka bisa terjebak pernikahan muda.
Dengan sedikit terpaksa, Kalan mematikan TV-nya dan menyuruh Halwah untuk ke belakang saja dari pada berhadapan dengan Irsyad yang dalam mode ngambek ala perempuannya.
"Kenapa kau membiarkannya pergi!? Dugaanku benar bukan? Kalian menikah karena, orang tua Halwah menginginkan harta dari keluargamu!"
Langkah Halwah terhenti, ia berdiam dibalik tembok pembatas antara ruang tengah dan dapur.
"Iya, 'kan? Semua gadis yang mendekatimu selalu punya niat terselubung yang sama dan Halwah salah satunya 'kan?"
Entah mengapa, perkataan pemuda bernama Irsyad tersebut membuat hati Halwah berdenyut sakit.
-211010-
__ADS_1