DISCONTINUE!¡

DISCONTINUE!¡
BAB 9 : BLUSH


__ADS_3

Halwah terkejut, ketika tiba di rumah ia malah disambut oleh sang ibu dengan pandangan kahwatir. Wanita paruh bayah tersebut langsung membawa Halwah ke kamar dan memilihkannya pakaian yang bagus.


“Bunda? Kenapa? Ada apa?” tanya Halwah, ia merasa semakin heran ketika ayahnya juga ikut muncul di ambang pintu dengan raut wajah yang tidak jauh berbeda dari ibunya.


“Nanti Bunda jelaskan, sekarang pakai ini!”


Halwah hanya menurut, ia tetap mencoba menjadi gadis yang baik bahkan ketika ia ditarik ke dalam mobil yang melaju ke sebuah mansion besar di perumahan elite. Gadis itu sedikit paham sekarang, kalau kini mereka menjenguk seseorang yang begitu spesial di kota. Tuan Lazuardy, orang kaya kedua di kota.


“Bagaimana keadaan Pak Lazuardy?”


“Beliau sudah siuman, mari saya antar ke atas.”


Interior ruangan khas Turki menyambut Halwah, ia terpesona dari sekian banyaknya ukiran kaligrafi di dinding yang begitu indah. Gadis itu hanya duduk tenang diluar kamar utama mansion megah ini, membiarkan kedua orang tuanya menyelesaikan urusan mendadak di dalam sana.


Halwah terlalu sibuk mengagumi interior ruangan sampai ia tidak sadar pintu besar di sampingnya terbuka, menampilkan sosok pemuda tanggung dengan kaos putih bergambar olaf. Si pewaris sulung Lazuardy berikutnya.


“Kakek menyuruhmu masuk,”


Halwah tersentak kaget, ia bahkan lupa cara bernapas sangking terkejutnya. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah, kemudian menghela napas dan kembali menatap sosok pemuda di hadapannya kini.


“Ka-kalan?”


“Ya?”


“Astaghfirullah!”


Lazuardy? Kalandra Lazuardy? Batin Halwah, gadis itu baru menyadari satu fakta yang terlupakan. Ia kian dibuat terkejut ketika memasuki ruangan dan kakek tua yang kaya raya yang tengah terbaring lemah itu kini menangis memandangnya.

__ADS_1


Ia memandang sang ibu bingung, membuat ibunya malah memberi senyuman teduh sembari mengusap rambut Halwah. Gadis itu kemudian melirik Kalan yang hanya diam dengan pandangan datar tertuju kepada kakeknya.


“Jadi, kau yang namanya Halwah?”


Halwah tersentak, ia menoleh ke asal suara. Seorang pria paruh bayah dengan setelan jas rapi berujar sembari memandangnya intens. “I-Iya pak! Eh tuan?” jawab Halwah kikuk.


“Saya Qiyas Lazuardy, ayah Kalan, calon suamimu.”


“Apa?!”


Sadar akan sikapnya, Halwah segera menutup mulutnya menggunakan telapak tangan, kemudian melirik kedua orang tuanya yang hanya memberi tatapan bahwa ia harus mendengar penjelasan pria menyeramkan yang tidak berhenti menatapnya intens itu.


“Tidak apa-apa, hal wajar jika kau terkejut. Hari ini usiamu enam belas tahun?”


Halwah hanya mengangguk, ia masih syok dengan kalimat ‘calon suamimu’


Halwah kembali mengangguk, bagaimana mungkin ia lupa wasiat terakhir kakeknya yang mengatakan ia harus menikah dengan keturunan pertama laki-laki dari sahabatnya?


“Okay, kalau begitu hari ini juga menikahlah dengan putra ku.”


Halwah kembali mengangguk, ia tidak sadar akan tingkahnya yang membuat kelima orang dewasa di ruangan itu tersenyum legah. Sampai gadis itu sadar dan memandang horror ke arah Kalan yang ekspresinya masih tetap sama; datar.


‘A-apa?! Menikah?! Sekarang?! Putraku? Bukankah Lazuardy hanya memiliki satu orang putra?!’


Ya Allah, apa yang Halwah harus lakukan? Ia bahkan semunafik ini dengan pemikirannya sendiri sekarang. Hatinya mendamba namun, apa yang akan terjadi dengan sekolahnya nanti?


--

__ADS_1


“Jadi, kau khawatir dengan sekolahmu saat itu?”


Halwah mengangguk, ia kembali menyuapkan potongan apel ke mulutnya tanpa menatap Kalan yang sibuk memberi makan ikan koi di kolam. Keduanya menghabiskan liburan hari ini di rumah saja, bersantai dan sesekali bermain games.


“Aku kira Papa mu akan melarangku ke sekolah dan memberi peraturan aku harus melahirkan anak yang banyak!” tutur Halwah, hal itu membuat Kalan dengan susah payah menahan tawa. Bahkan seingatnya, Kalan tidak memikirkan sejauh itu saat pertama kali ia mendengar kabar pernikahan tiba-tiba mereka. Saat itu, Kalan malah berfikir sebaliknya.


“Papa bukan orang seperti itu, lalu kenapa tidak mau menolak hari itu?”


Halwah berbalik, menatap penuh selidik ke arah Kalan yang entah mengapa pagi ini begitu banyak bicara dan bertanya. Ah, Halwah kadang bingung dengan sikap Kalan. Kadang-kadang ia diam seribu bahasa dan hanya menggunakan isyarat, tapi kadang-kadang pula, Kalan selalu banyak bicara dan seperti ingin tahu semuanya.


“Ke-kenapa memangnya?” tanya Halwah gugup, ia masih membiasakan diri dengan perubahan sikap Kalan yang lebih banyak bicara belakangan ini, sepertinya Halwah harus berfikir ulang tentang sikap Kalan yang satu ini. Cerewet dengan wajah datar itu sedikit menyeramkan.


“Hanya ingin tahu?”


Halwah mengulum bibir, ia kembali memandang ke depan, ke arah sebuah air mancur kecil di dekat kolam angsa. Halwah suka bermain air disana setiap kali Kalan berangkat ke pengajian setiap sabtu. Kenapa Halwah tidak menolak hari itu? Pandangannya lalu berpendar, mendongak menatap hamparan langit pagi ini yang begitu cerah.


“Kenapa, ya? Mungkin karena...” ada jeda, Halwah melirik Kalan yang menatapnya intens. “Karena, aku suka padamu?”


Deg!


Secara kebetulan, angin berhembus. Menerbangkan aroma harum dari beberapa pohon mangga yang kini berbuah lebat, seolah angin itu mengikut sertakan perasaan campur aduk Kalan yang merambat ke wajah. Dimana bagian kedua pipinya perlahan memanas dan menampilkan semburat merah muda yang kentara.


Kalan dengan cepat berpaling setelah menyadari hal itu, membuang pandangan pada setumpuk rumput liar yang baru saja dibersihkan dari pekarangan depan. Pemuda itu berusaha keras menutupi rasa malunya juga degup jantung yang kini bertaluh, dan Kalan melewatkan wajah bersemu milik Halwah yang tampak berkilau terkena terpaan matahari pagi. Juga keduanya tidak menyadari sosok Irsyad dan beberapa maid yang kini berdiri terdiam tidak jauh dari tempat mereka duduk.


16112


__ADS_1


__ADS_2