
Lazuardy menatap jauh ke depan, menelisik bagaimana hujan merintik menghantam bumi tanpa belas kasih. Dua anak laki-laki lainnya bermain mobil-mobilan di dekat tungku perapian, musim hujan tiba dan sebentar lagi Turki akan di landa musim dingin yang menyenangkan bagi sebagian besar anak-anak yang menantikannya. Tidak terkecuali oleh Lazuardy yang sudah berusia lanjut.
Ia menatap ke arah Kalan yang hanya diam saja ketika Irsyad menjelaskan perihal apa saja isi dari mesin pesawat, kedua bocah berusia delapan tahun tersebut asik dengan dunia mereka sendiri, sampai Lazuardy memanggil keduanya untuk mendekat.
Irsyad dan Kalan menurut, mereka duduk bersimpuh dibawah kaki Lazuardy, Irsyad tersenyum dan memijat betis kakek kandung Kalan yang sudah ia anggap seperti kakeknya sendiri. Sedangkan Kalan, ia terdiam sejenak menatap Irsyad sebelum ikut memijat betis kakeknya.
Lazuardy tersenyum, ia mengusap lembut pucuk kepala dua bocah kesayangannya tersebut. Sembari memberi sugesti agar selalu menjaga kesehatan dan jangan bertengkar apapun yang terjadi.
“Kalandra, Irsyad, apa kakek pernah menceritakan kisah dua orang sahabat yang saling berjanji?” tanya Lazuardy, ia tersenyum ketika wajah ceria Irsyad berganti menjadi wajah penuh kebingungan dengan alis tipis miliknya yang mengkerut dalam.
“Apa itu perjanjian, Kakek dy?” tanya Irsyad polos, ia menatap Kalan yang pandangannya tidak lepas dari Lazuardy yang senantiasa tersenyum tanpa lelah. Kalan selalu berfikir, apa kakeknya tidak lelah untuk terus tersenyum nyaris disepanjang hari?
“Sesuatu yang harus ditepati, nak. Jika sudah besar nanti, kalian akan paham.” Jelas Lazuardy, ia menatap wajah Kalan yang tidak menunjukkan reaksi apapun selain tatapan datarnya yang khas. Cucu sulungnya yang satu ini memang sedikit memiliki keunikan, ketika berusia dua tahun Kalan mulai kehilangan senyumannya dan hanya tersenyum sekedarnya saja.
“Kakek dy, kisah sahabatnya bagaimana?”
Lazuardy tertawa gemas, ia mencium kening Irsyad dan ikut duduk di karpet dekat tungku perapian. Lelaki berusia lima puluh tahun tersebut mengangkat Kalan ke atas pangkuannya sedangkan Irsyad berbaring dipahanya yang lain.
“Kakek pernah memiliki seorang teman, kami sangat menyayangi satu sama lain seperti saudara kandung.”
“Seperti aku dan Irsyad?” akhirnya Kalan bersuara untuk pertama kalinya hari ini, ia mengusap pipinya yang sedikit gatal sembari menatap Lazuardy polos. Sedangkan sang Kakek hanya mengangguk mengiyakan sembari tersenyum, membuat Kalan yang melihatnya kembali merasa lelah.
“Kami berjanji untuk menikahkan anak kami, namun sayang, yang lahir adalah Ayahnya Kalan dan anak sahabatku juga berjenis kelamin laki-laki.” Jelas Lazuardy, ia melirik Irsyad yang mengernyitkan keningnya bingung.
__ADS_1
“Sama cowok bisa menikah?”
Lazuardy kembali tertawa, ia menggeleng dan menjawab dengan penuh kelembutan; “Tidak, sayangku. Kami memilih untuk menurunkan janji tersebut kepada generasi berikutnya. Setelah Kalan lahir, kakek tidak pernah mendengar kabar tentang sahabat kakek lagi.”
“Begitulah ceritanya, kakek kemudian mendengar kabar tentang sahabatnya setelah bertahun-tahun lamanya yang ternyata sudah meninggal dunia dan jatuh sakit setelah itu. Saat itu Irsyad sedang syuting di luar negri dan aku ikut bersama dengan Ayahku melihat proyek barunya, kami terkejut dan langsung ke rumah kakek, saat itulah aku bertemu Halwah dan dalam waktu yang bersamaan kami menikah di kamar kakek ku.”
Kalan menghela napas kasar, ia mengernyit tidak suka sembari memijat kedua pipinya yang kini terasa pegal. Halwah yang duduk disampingnya hanya mengangguk saja sedangkan dua orang berbeda jenis kelamin yang duduk didepan mereka juga ikut membuang nafas lelah.
“Aku tidak keluar negri, syuting, atau ikut melihat proyek atau apapun itu! Tapi, kenapa aku tidak diberitahu?!”
Sudut siku-siku muncul di pelipis Kalan, ia memandang kesal sosok gadis lainnya yang berambut pendek sebahu. Yang kini menatapnya penuh amarah setelah mendengar kabar ia sudah menikah.
“Itu rahasia keluarga! Aku juga bisa apa? Bisa kau bayangkan aku yang menikah didepan penghulu menggunakan kaos oblong bergambar olaf??"
“Pffft, maaf.”
“Maafkan aku, seharusnya aku mengundang kalian saat acara resepsinya. Tapi, karena aku dalam keadaan terkejut jadi, aku tidak sempat mengingat apapun. Kecuali, Irsyad yang kuhubungi sehari sebelum resepsi.”
Nafisah, si gadis bersurai pirang alami sepundak. Salah satu sahabat Kalan selain Irsyad, gadis itu masih menatap Kalan kesal sebelum melempar pandangannya pada Halwah yang belum bersuara sama sekali semenjak dijemput oleh Irsyad dari kelasnya untuk berkumpul di ruangan lab fisika.
“Tapi, bagaimana bisa kau mau begitu saja menikah dengan Kalan yang super duper datar dan membosankan ini?” tanya Nafisah pada Halwah, ia menunjukkan ekspresi bahwa ia serius dengan pertanyaannya.
Sedikit banyak, Halwah terkejut akan pertanyaan semacam itu yang keluar dari mulut sahabat suaminya. Tapi, kenapa Irsyad dan Kalan sendiri tidak keberatan dengan perkataan Nafisah barusan??
__ADS_1
Melihat dari ekspresi Halwah yang terkejut dengan pandangan bingung ke arah Kalan membuat Irsyad nyaris terbahak. Ia membuka tudung jaketnya dan menumpu dagu dengan kepalan tangannya, satu senyum terukir dengan manis ketika Irsyad berujar; “Tidak perlu bingung, sejak kecil Nafisah dan Kalan itu seperti Tom dan Jerry. Mereka tidak pernah akur dan keras kepala, jadi tidak perlu terkejut saat Nafisah hanya suka menyebutkan kejelekan Kalan yang memang itu benar.”
Pemuda bersurai coklat tersebut tersenyum konyol saat Kalan menatapnya sengit. Namun, dalam hati Kalan membenarkan perkataan Irsyad, ia memang datar namun, tidak membosankan. Kalan hanya tidak tahu bagaimana caranya membuat lelucon.
“Hey, Halwah! Jawab aku! Kenapa kau mau begitu saja menikah dengan si wajah jalan tol ini?” tanya Nafisah sekali lagi.
“Ah! A-anu! Eum, ka-karena.."
“Aku tampan.” Kalan memotong ucapan Halwah sembari mendorong kursinya dengan cukup keras sehingga menciptakan bunyi gesek yang memekakkan telinga dan ia bangkit. Kedua mata elangnya menatap Nafisah bosan sebelum ia menarik lengan Halwah agar ikut berdiri.
“Eh??”
“Sudahlah, Nafisah. Berhenti bertanya ini dan itu, aku sudah memberitahukan soal pernikahan rahasia ini jadi, kuharap kau mampu merahasiakannya seperti Irsyad yang sudah berjanji.”
Setelah berkata demikian, Kalan berlalu bersama Halwah. Pemuda itu tidak marah, hanya saja ia tidak ingin membuat Halwah menjadi tidak nyaman berada diantara dua sahabatnya yang memiliki sikap aneh.
Mereka meninggalkan Irsyad dan Nafisah yang menatap kepergian keduanya dengan pandangan yang meredup. Irsyad tersenyum simpul, ia kembali memakai tudung jaketnya dan bersandar pada sandaran kursi sembari menatap langit-langit ruangan.
“Sakit, bukan?” ucap Irsyad, ia melirik Nafisah yang kali ini menunduk sembari menatap kosong kearah lantai.
“Hm,”
“Ya, begitu juga yang aku rasa saat jelas aku ada untukmu, namun kau tetap melihat Kalan yang sama sekali tidak berselera melirikmu sebagai seorang gadis.”
__ADS_1
-291020-