DISCONTINUE!¡

DISCONTINUE!¡
BAB 2 : ICE CREAM


__ADS_3

Kalandra Lazuardy. Siapa yang tidak mengenal sosok pemuda bersurai coklat tersebut?


Sosok yang dirumorkan sebagai pewaris sulung keluarga Lazuardy yang terkenal kaya raya. Namun, bukan hal itu yang menarik perhatian Halwah sejak pertama kali ia mengenal siapa Kalan.


Hanya sebuah hal spesial yang belum tentu dimiliki banyak pria kaya seperti Kalan. Halwah mengingatnya dengan jelas, pertama kali melihat Kalan adalah hal yang tidak bisa gadis itu lupakan hingga sekarang.


Saat itu satu sekolah ribut sebab ada dua orang gadis yang bertengkar di lapangan sekolah. Banyak yang menonton, tapi tidak ada satupun dari murid atau guru yang ingin melerai keduanya.


Sampai, salah satu tanpa sengaja menarik jilbab yang dikenakan gadis lainnya hingga terlepas. Gadis yang memakai jilbab langsung berjongkok dengan kedua tangan yang mencoba menutupi kepalanya, semua orang yang menonton terdiam dan terkejut ketika sebuah jaket terjatuh menutupi si gadis berjilbab.


Orang-orang heboh, sebagian dari mereka ada yang menjerit ketika tahu sosok yang melempar jaket tersebut adalah Kalandra. Halwah yang tidak tahu menahu hanya berkedip polos, ia menatap bagaimana datarnya wajah sosok pemuda disana. Wajahnya hampir menyerupai jalan tol saking datarnya.


Koridor atas yang tadinya hanya ditonton oleh murid pria, kini penuh dengan murid wanita yang menjerit.


"Kalian berdua wanita, perhiasan dunia. Kalian itu ratu, apa pantas sesuatu yang berharga dan mesti dijaga berperilaku seperti ini?"


Perkataan Kalan membuat orang-orang menjadi bungkam, Halwah masih memperhatikan. Ia melihat bagaimana pemuda bersurai coklat yang selalu ramai menjadi bahan gosip para kaum hawa itu menatap si gadis yang terjongkok.


"Berdiri dan pergilah rapikan jilbabmu, kembalikan jaket itu sepulang sekolah nanti."


Setelah berkata demikian, Kalan berlalu. Membelah barisan yang berada dibawah tiang basket. Halwah ada disana, ketika Kalan melewatinya, saat itulah Halwah benar-benar jatuh hati. Bukan hanya dari paras, namun dari bagaimana ia bersikap terhadap wanita.


"Halwah?"


"Eh!"


Halwah tersentak, ia terkejut ketika sepeda tiba-tiba berhenti dan Kalan menatapnya khawatir.


"Kau baik-baik saja?" tanya Kalan.


Halwah mengangguk kaku, ia memperhatikan sekitar dan akhirnya sadar kalau mereka ternyata sudah berada didepan gerbang sekolah. Halwah lantas turun dari boncengan dan memilih menunggu selagi Kalan memarkirkan sepedanya. Satu point tambahan, Halwah baru mengetahui kalau Kalan selalu datang lebih pagi dan tidak menggunakan kendaraan umum untuk ke sekolah ataupun diantar dengan kendaraan mewah.

__ADS_1


"Mau kuantar ke kelas?"


"Y-ya?!"


"Mau kuantar ke kelas?"


Halwah menelan saliva gugup, ia menatap bagaimana ekspresi datar Kalan yang baru saja bertanya padanya. Apa boleh Halwah berharap kalau Kalan baik-baik saja dengan pernikahan yang dilandaskan perjodohan tiba-tiba mereka?


"Ku-kurasa tidak," jawab Halwah berbohong, heol! Siapa yang ingin menolak jalan berdampingan dengan seorang Kalandra??


"Kenapa?"


"Ka-karena..."


Halwah mendengkus, ia menatap Kalan sebelum mengembungkan kedua pipinya. Tanpa sadar, hal itu membuat lawan bicaranya kini tersipu. Merasa aneh dengan wajahnya, Kalan mengernyitkan kening kemudian memalingkan pandangannya pada jejeran batu warna-warni yang berada disekitar taman luar sekolah.


"Apa perlu alasan?" Halwah bertanya, ia memandang sekitarnya sebelum mendekat dan sedikit berjinjit sebelum berbisik kepada Kalan; "Tidak ada yang tahu kita sudah menikah kemarin, apa kata mereka jika melihat kita berjalan berdampingan??"


Halwah menunggu reaksi Kalan, pemuda itu hanya menatapnya datar sebelum berlalu tanpa sepatah kata apapun. Meninggalkan Halwah yang sebenarnya berharap suaminya itu berkata "Tidak apa, akan kujawab kau kekasihku." Atau mungkin Halwah terlalu berharap?


Ia memandang sejenak punggung tegap Kalan yang akhirnya hilang setelah pemuda itu melewati tiang basket, sebelum akhirnya Halwah memilih untuk naik ke lantai atas dimana kelasnya berada.


---


Sepulang sekolah, adalah hal biasa melihat banyak gadis berkerumun di gerbang. Kalan sudah berada di atas sepeda ketika Halwah baru saja keluar dari kelas sejarah. Pemuda itu menatapnya sejenak, tampak bahwa Kalan menghela napas berat sebelum mengkayuh sepedanya meninggalkan pelataran sekolah.


Halwah baru sadar kalau ia berangkat dan harus pulang juga bersama Kalan, ia meringis hendak mengejar namun terhenti ketika ia mengingat bahwa ransel dan bukunya berada di loker atas.


"Astaghfirullah, aku 'kan tidak membawa uang saku! Sekarang, bagaimana aku pulang!?"


Jalanan berwarna orange, Halwah melangkah tanpa semangat sembari sesekali menendang kerikil di trotoar. Ia harus berjalan sampai ke belokan depan untuk bisa menaiki bus gratis untuk pelajar. Ia tidak punya uang untuk menaiki bus umum atau angkot, lagipula tidak ada jalur kendaraan umum yang menuju mansion megah pribadi Kalan yang diberikan sebagai hadiah pernikahan oleh ibunya Kalan.

__ADS_1


Halwah yang sudah merasa sangat lapar akhirnya mengucap syukur ketika ia tiba di halte dan duduk. Kakinya yang memang sudah pegal sejak jam pelajaran olahraga ia renggangkan.


"Semoga saja busnya belum lewat,"


"Sudah lewat."


"Masih pukul 3, bus terakhir tiba satu jam lagi."


"Setelah membuatku menunggu lebih dari satu setengah jam kau lebih memilih untuk menaiki bus daripada sepedaku?"


Halwah tersentak, ia berbalik dan menemukan Kalan yang ternyata duduk disebelahnya sembari memegang dua cup es krim rasa vanila ditangannya. Salah satunya disodorkan kepada Halwah seraya berkata; "Aku tidak tahu rasa kesukaanmu, jadi kubelikan yang sama denganku."


Halwah berkedip, ia mengambil alih es krim ditangan Kalan. Ia tidak masalah dengan rasa es krimnya, tapi apa benar Kalan menunggunya sejak tadi disini? Jadi, Kalan menunggunya?


"Habiskanlah dan kita pulang setelah ini," ujar Kalan.


Pemuda itu melahap es krimnya cepat bahkan sebelum Halwah sempat berkedip. Apa otaknya tidak ngilu?


Halwah memilih menurut, gadis itu menghabiskan es krikmnya sambil sesekali tersipu ketika ia melirik Kalan dan menemukan suaminya itu sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.


"A-ada apa?" tanya Halwah, cup yang sudah kosong dibuang ke tong sampah. Gadis itu beralih menatap Kalan takut, Halwah belum terbiasa dengan ekspresi Kalan yang datar.


"Kau suka es krim Vanilla?"


Halwah mengangguk.


"Oke. Ayo, pulang!"


Halwah berkedip, ia menatap heran punggung Kalan yang berjalan untuk mengambil sepedanya yang terparkir didepan truck es krim. Kemudian, pemuda itu kembali dan menyuruh Halwah untuk naik ke boncengan sebelum keduanya pulang ke rumah tanpa ada percakapan diantara mereka.


Dan ketika pagi berikutnya tiba, saat Halwah terbangun seorang diri tepat setelah adzan subuh berkumandang. Ia menemukan jawaban atas pertanyaan Kalan sore kemarin perihal es krim, ketika pintu kulkas terbuka dan menampilkan puluhan bungkus es krim di dalam frezeernya.

__ADS_1


-171020-



__ADS_2