DISCONTINUE!¡

DISCONTINUE!¡
BAB 6 : MANIS


__ADS_3

Ujian akhir semester tiba, para siswa mempersiapkan banyak hal untuk menghadapi satu minggu penuh ketegangan. Tanpa kecuali, Halwah dan Kalan, atau sebut saja Halwah sendiri? Sudah dua hari gadis itu berkutat dengan bertumpuk-tumpuk buku mata pelajaran setiap malamnya, sekolah meliburkan kelas satu dan dua untuk kepentingan Ujian Nasional kelas akhir. Namun, setelah empat hari itu berlalu, giliran mereka yang akan berjuang untuk nasib naik atau tidak naik kelas.


sedangkan yang dilakukan Kalan adalah hal sebaliknya dari Halwah. Pemuda itu hanya berbaring malas seharian penuh di sofa atau selojoran santai didepan TV dengan cemilan yang dibuat oleh maid pribadi mereka, atau kadang kala Kalan akan berdiri dibelakang Halwah selama beberapa menit yang membuat Halwah seolah kehabisan nafas karena, merasa deg-degan.


Dan hari ini masih sama, padahal besok keduanya akan mengadakan ujian akhir semester hari pertama. Namun, Kalan hanya sibuk bermain lego di karpet kamar. Ia tidak bersuara sama sekali setelah keduanya melaksanakan sholat isya bersama. Dalam kesibukannya belajar, Halwah melirik Kalan yang kini hanya duduk terdiam menatap ke arah kulkas kecil di kamar mereka.


Gadis itu bergedik ngeri saat melihat Kalan tiba-tiba saja tersenyum tipis. Dengan cepat, Halwah kembali memfokuskan diri pada setumpuk rumus matematika didepannya. Mengabaikan Kalan yang kini sudah berdiri beberapa senti dibelakangnya. Halwah berusaha fokus, namun ternyata tidak bisa.


Ia menghela napas dan berbalik, menatap Kalan dengan semburat semerah tomat dikedua pipinya. Maka dari itulah, Halwah merasa ia saat ini pasti tampak konyol dihadapan sang suami.


“Kau masih belajar? Apa tidak lelah??” akhirnya Kalan bersuara, ini jauh lebih menenangkan daripada Kalan yang mampu diam selama beberapa hari tanpa membiarkan bibirnya terbuka.


“Heum! Besok sudah ujian, ka-kau juga seharusnya be-belajar, bukan?”


Kalan mengangguk, lalu ia berlalu ke lantai bawah tanpa menjawab Halwah. Membuat gadis itu berdecih dan memilih abai saja, dia memang menyukai Kalan, tapi sifatnya yang satu itu selalu saja membuat Halwah merasa kesal.


Tidak lama kemudian, Kalan kembali dengan satu cup besar es krim coklat dan dua gelas kecil beserta sendok es krimnya. Halwah menatap Kalan heran ketika pemuda itu langsung menaruh apa yang ia bawa ke atas karpet kemudian merampas semua tumpukan bukunya yang selanjutnya kembali lagi dan menarik Halwah untuk duduk diatas karpet yang sama.


“Apa ini?” tanya Halwah heran, ia menatap Kalan yang kali ini mengambil laptop dan menyalakannya. Setelah laptop tersebut menyala, ia membuka cup es krim dan menyendokkannya ke gelas yang tadi. Pemuda itu terdiam beberapa saat sebelum mengambil catatan Halwah dan membacanya.


“Kombinasi r unsur dari n unsur ialah himpunan bagian r unsur yang dapat diambil dari n unsur yang berlainan dengan urutan penyusunan unsur tidak diperhatikan.” Kalan membaca sederet kalimat pada buku tersebut, membuat Halwah berkedip polos sebelum tertawa kecil.


“Kau belajar?”

__ADS_1


“Susunan yang terbentuk adalah AB, BA, AC, CA, AD, DA, BC, CB, BD,DB, CD, dan DC. Jika diambil dua huruf tanpa memperhatikan urutannya maka susunan AB \= susunan


BA, demikian seterusnya sehingga diperoleh susunan, yaitu AB, AC, AD, BC, BD, dan CD. Pilihan yang dilakukan dengan cara seperti ini disebut kombinasi 2 unsur diambil dari 4 unsur yang tersedia. Maka, kombinasi dapat didefinisikan sebagai: Kombinasi r unsur yang diambil dari n unsur yang tersedia (tiap unsur berbeda) adalah suatu pilihan dari r unsur tanpa memperhatikan urutannya (r n). Hah?”


Halwah tidak mampu menahan tawanya lagi, ia mendekat kearah Kalan setelah menyendok sekali es krim miliknya. Buku yang dipegang oleh Kalan direbut perlahan, pemuda itu mengernyit dalam pertanda bahwa otak tampannya sedang bekerja.


“Kau tidak membaca soalnya, Kalan. Kau meninggalkan bagian terpentingnya, yang kau baca itu adalah penjelasan dari jawaban disini,” jelas Halwah menunjuk sederet rumus dan angka yang sengaja Kalan langkahi sebab baginya itu menyusahkan.


“Aku tidak tahu itu penting,” balas Kalan dengan pandangan polos. Pemuda itu menatap Halwah intens, membuat sang gadis tersipu dan dengan kaku melempar bukunya ke karpet kemudian menyuapkan es krim dengan sendokan yang penuh. Hal itu membuat gigi Halwah berdenyut ngilu.


“Kalan, kau tidak boleh melangkahi soalnya. Tapi, kau paham ‘kan sistem kombinasi?” tanya Halwah, ia menutupi rasa ngilunya dengan senyum palsu. Sedangkan Kalan mengangguk dengan polos. Keduanya lalu terdiam dan malah asik menyendok es krim kedalam mulut. Halwah yang sudah tidak tahan akan rasa dinginnya memilih usai deluan dan membaca materi berikutnya, membiarkan Kalan membaca buku catatan matematika miliknya.


Sesekali Halwah mencuri pandang, ia akan tersenyum ketika Kalan menunjukkan ekspresi seolah paham dengan isi catatannya. Sedikit banyak mengingat jauh kebelakang, Halwah pernah mendengar gosip tentang si sulung Lazuardy yang terkenal pandai dalam bidang sastra dan fisika, namun sangat benci dengan matematika.


“Kalan,”


“Kenapa tidak suka dengan pelajaran Matematika?”


Halwah terdiam, kali ini pandangannya ia pusatkan pada si sulung Lazuardy yang tampak berfikir. Pemuda tersebut balas menatap Halwah kemudian mengukir simpul yang begitu tipis, mengakibatkan detak jantung Halwah lebih bekerja keras dari sebelumnya.


“Mereka seperti monster,” ucap Kalan sembari menatap catatan rumus kombinasi milik Halwah, “Saat guru menjelaskan dan buku memberikan contoh cara mengerjakannya, semuanya tampak mudah. Kemudian, ketika sudah diberi tugas ataupun ujian, mereka berubah menjadi sulit dan rumit. Aku tidak suka perubahan mencolok seperti itu,” lanjutnya kemudian menatap Halwah dan tersenyum tipis.


“Pemikiran pribadi bukannya tidak ada hubungannya dengan mata pelajaran?” tanya Halwah, ia memperhatikan setiap gerakan Kalan yang menutup dan menyimpan buku catatan miliknya dengan perlahan. Gerakan konglomerat memang berbeda.

__ADS_1


“Aku tidak pernah paham dengan hal yang seperti itu. Yang selalu ku fikirkan adalah, ketika semua orang belajar hal yang sama dan salah satunya unggul dalam satu bidang yang diistimewakan, haruskah aku juga unggul di bidang yang sama? Kenapa harus bersaing jika kita memang diciptakan dengan keahlian yang berbeda-beda? Bukankah orang lain pun sama hebatnya walau bukan di bidang yang berbeda?”


Ada nada serius dalam setiap perkataan Kalan, pemuda itu mengertukan keningnya. Rambutnya yang sekelam jelaga dengan binar mata yang meredup, menambah kesan indah menyeruak dari wajah Kalan yang memang termasuk pahatan indah dari Sang Maha Pencipta. Hal itu, membuat Halwah bersyukur mendapatkan jodoh dengan paras seindah wajah Kalan.


“Papa selalu berkata, aku harus pandai di segala bidang pendidikan dan olahraga. Tapi, aku tidak pernah merasa kalau orang-orang yang pintar di segala bidang pendidikan yang terkekang oleh ambisi orang tua mereka itu bahagia. Jika Halwah, tahu bagaimana rasanya terkekang oleh peraturan dan kewajiban, Halwah pasti mengerti bagaimana yang ku maksud?” lanjut Kalan sembari menatap Halwah.


Gadis itu tertegun, bukan pada senyum tipis yang terlukis diwajah Kalan. Tetapi, ia kini tahu bahwa gosip tentang suaminya yang katanya pendiam dan irit bicara tersebut itu tidaklah benar. Kalan mampu mengutarakan perasaan dan pendapatnya dengan baik. Jauh berbeda darinya yang hanya seorang pengecut dan lebih memilih memendam semuanya.


“A-aku..”


“Ah, Halwah pasti hanya terkekang pada tradisi adat keluarga saja, ya?”


Senyuman itu. Senyum misterius yang Halwah yakini memiliki berjuta perasaan yang tak mampu Kalan utarakan sejauh ini. Dan ketika ia berkata bahwa ia mengerti tentang bagaimana perasaan yang berusaha Kalan paparkan, ada bias kelegahan yang terpancar dari binar indah kedua manik pemuda itu.


“Syukurlah jika kau mengerti,”


Mungkin, semuanya terlalu cepat atau Halwah yang tidak tahu arti tentang apa yang terjadi barusan. Ketika Kalan justru mulai menjauhkan wajahnya dari wajah Halwah, saat itulah gadis berusia enam belas tahun tersebut tersentak kaget sembari menyentuh bibirnya yang sedikit basah.


Kalan tersenyum, senyum lebar yang membuat kedua manik indah itu menyipit.


“Manis. Untuk sekarang, tidak apa ‘kan seprti tadi?”


“Ka-kalan..”

__ADS_1


011020



__ADS_2