
Bab 7 : Kau suka?
Ujian akhir semester berakhir. Halwah bernapas legah saat ia berhasil memecahkan soal Fisika yang terakhir. Gadis itu menatap keluar dimana sudah ada Kalan yang berdiri seperti patung diluar kelasnya. Halwah hanya terkekeh kecil kemudian merapikan alat tulisnya dan menghampiri Kalan yang langsung menyambutnya dengan tepukan halus pada pucuk kepalanya.
Orang-orang yang memperhatikan tidak lagi terkejut, namun ada banyak dari kalangan gadis yang terang-terangan menunjukkan gelagat tidak suka dan cemburu. Semenjak malam itu, Kalan mulai sedikit berubah dan lebih fleksibel. Keduanya memutuskan untuk lebih dekat lagi dengan cara bersikap seperti sepasang kekasih diluar rumah dan jika berada di rumah, Halwah berperan sebagai seorang istri yang handal memasak. Walaupun kadang kala rasa masakannya terasa seperti air laut, Kalan tetap memuji masakannya dan menghabiskannya tanpa sisa.
“Mau ikut ke Irsyad?” tanya Kalan datar. Ya, sulit menyingkirkan wajah Kalan yang datar juga sikap cueknya yang membuat Halwah kadang kala merasa Kalan membencinya.
“Heum! Aku ikut!” jawab Halwah semangat, ia tersenyum lebar ketika sosok Nafisah ikut muncul dengan sebuah map coklat berisi lembar ujian khusus untuk Irsyad yang memang tidak ikut ujian selama seminggu ini. Sahabat Kalan yang satu itu menjalani syuting sinetron baru yang sedang hangat dibicarakan oleh beberapa siswi di sekolah.
“Nafisah juga ikut?”
“Hm,”
Halwah tersenyum lagi kemudian ia menggandeng tangan Nafisah dan berjalan lebih dulu. Membiarkan Kalan mengekor dibelakang mereka dengan wajah tanpa ekspresinya.
--
“Woah! Kalian benar-benar sahabat sejati!” seru Irsyad mendramatisir
Kalan mendengus melihat ekspresi bahagia yang dibuat-buat oleh Irsyad saat ketiganya sudah sampai di lokasi syuting yang membutuhkan waktu 1,5 jam perjalanan dari sekolah. Bahkan Kalan merasa lelah hanya dengan duduk diam di dalam mobil ketimbang harus menggayuh sepeda ke rumahnya selama 45 menit lamanya.
“Traktir kami makan malam, barulah aku mengakuimu sahabatku.” Celutuk Nafisah melemparkan map berisi kertas ujian tadi ke arah Irsyad, yang untungnya dengan sigap menangkap map tersebut.
“Kejam sekali, kalian tahu aku belum gajian dan kalian minta di traktir? Kau tidak lupa dengan mesin penghisap makanan disana?” irsyad menunjuk Kalan dengan dagu sembari menampilkan ekspresi main-main.
Pemuda yang sedang dijahili hanya merasa abai dan lebih memilih memainkan ujung rambut Halwah yang sibuk terkikik geli, dan gadis itu tersentak kaget saat Kalan dengan sengaja menarik sehelai rambutnya. Pemandangan tersebut, tidak luput dari mata Nafisah yang sedari tadi sudah memanas melihat bagaimana Kalan dan Halwah menjadi lebih dekat dari saat pertama kali ia mengetahui kabar pernikahan mereka.
“Sudah, sudah. Kalian pasti capek ‘kan? Aku akan mengerjakan ini setelah tiba di rumah dengan pantauan langsung dari guru BK. Sebaiknya kalian istirahat di tenda sebelah sana!” Irsyad angkat bicara, sedikit banyak hatinya memanas melihat ekspresi Nafisah barusan. Ia lebih memilih diam sembari menuntun ketiganya menuju tenda dan beristirahat disana.
Kalan langsung terlelap dengan alasan tenaganya terkuras habis. Sedangkan Halwah, gadis itu tersenyum tipis sembari memandang Kalan. Lalu, ketika Irsyad meminta izin untuk kembali ke lokasi syuting, meninggalkan kecanggungan yang terjadi diantara Halwah dan Nafisah. Walaupun gadis bersurai sepundak itu sibuk dengan ponselnya, Halwah bukan orang yang bodoh untuk tidak menyadari kegelisahan Nafisah.
Halwah melirik Nafisah, gadis itu mengulum bibirnya yang entah mengapa terasa kering. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, namun terhalang rasa takut yang besar. Sejak pertama kali Halwah diperkenalkan dengan Nafisah oleh Kalan, gadis itu sudah tahu ada yang berbeda dari tatapan Nafisah setelah mendengar kenyataan bahwa kini mereka berdua adalah sepasang suami-istri. Halwah bukannya berprasangka buruk, hanya saja rasanya begitu mengganjal. Halwah bukan tipikal orang yang blak-blakan, tetapi jika sudah melibatkan rasa gelisah yang membuatnya susah berfikir, itu sudah lain lagi ceritanya.
Lima menit berlalu begitu saja dalam keheningan, Halwah menghela napas berat sebelum hendak angkat suara. Namun, ternyata Nafisah lebih dulu menyimpan ponselnya dan berdiri dihadapan Halwah dengan pandangan datar.
“Ada mesin minuman dingin didalam koridor ruang make up. Kau mau kesana denganku atau mau menitip saja?” tanya Nafisah. Gadis itu hanya diam saat Halwah tersentak tiba-tiba dan dengan tergesah meraih ransel milik Kalan, Nafisah mengernyit; “Untuk apa tas Kalan?”
__ADS_1
Halwah tersenyum sebelum menjawab; “Kami sepakat membagi dompet uang saku sekolah, jadi uang saku milik Kalan itu juga uang saku milikku!”
Entah mengapa, mendengan kata ‘milik’ membuat hati Nafisah berdenyut nyeri. Ia memalingkan pandangan kearah dimana Irsyad sedang tertawa bersama sutradara film, kemudian ia melangkah lebih dulu saat Halwah sudah selesai mengambil uang.
--
Koridor ruang make up artis tidak seperti ekspetasi Halwah, di film-film yang selalu ia tonton, ruang make up adalah ruang paling ramai dengan staff dan kru film ataupun artis. “Ku fikir, disini akan seramai seperti yang di film.” Celutuk Halwah, kedua manik jernihnya menelisik ukiran jendela yang berbentuk bunga matahari.
“Ini tidak terpakai jika artis sudah melakukan syuting, penata rias akan menunggu dibelakang sutradara.” Jelas Nafisah, gadis itu langsung memasukkan uang koin miliknya saat mereka sudah tiba di koridor dimana banyak berjejer mesin minuman dingin dan hangat.
“Woah! Kau banyak tahu tentang suasana di lokasi syuting film?”
Nafisah tersenyum tipis, ia mengendikkan pundak kanannya sembari menatap mesin minuman yang berbunyi seperti mesin truck; “Well, Irsyad, aku dan Kalan adalah sahabat sejak kecil. Irsyad mulai syuting saat kami menginjak usia 10 tahun, jadi tidak heran jika aku tahu banyak, bukan? Kalan juga tahu banyak hal tentang dunia per-film-an.” Ucap Nafisah, ia tersenyum menang saat menatap wajah Halwah yang tampak terkejut.
“Benarkah? Kalan jarang membahas tentang pekerjaan para sahabatnya. Belakangan ini dia lebih sering membahas tentang kesehatan Kakek dan Model rumah baru kami nanti ketika lulus,” tanpa sadar perkataan Halwah membuat Nafisah bungkam seribu bahasa.
Apa katanya tadi? Rumah baru setelah lulus? Apa mereka berdua berencana menjalin hubungan hingga tua?
“Halwah,”
“Ya?”
Minuman Halwah dan Nafisah keluar bersamaan. Keduanya terdiam menatap kaleng minuman dingin masing-masing. Nafisah menatap sayu jemari kanan Halwah yang mengepal, senyum miris ia lukiskan sembari berjongkok mengambil minumannya. Saat hendak pergi dari sana, suara Halwah menginterupsi Nafisah untuk diam.
“Kau suka?”
Dibelakang Nafisah, Halwah tersenyum tipis. Dalam hati gadis bersurai jelaga tersebut berseru tentang prasangkanya yang ternyata memang benar; bahwa Nafisah menaruh rasa pada Kalan, suaminya.
“Kau menyukai Kalan, benar ‘kan Nafisah?”
“A-apa maksudmu?” dengan takut, Nafisah berbalik menatap Halwah kembali. Gadis tersebut memeluk kaleng minumannya erat sembari menunduk dalam, membiarkan poninya yang panjang menjuntai kebawah.
“Kau menyukai Kalan. Tidak peduli seberapa kau mengelak, faktanya kau mencintai suamiku.”
Halwah tidak pernah menyangka dirinya akan mengucapkan hal seperti barusan. Ini diluar kendali dan entah mengapa ia malah membiarkan dirinya terkendali oleh perasaannya sendiri. Mungkin, jika dibandingkan dengan dirinya yang baru mengenal Kalan beberapa bulan terakhir, Halwah akan kalah bersaing dengan Nafisah yang sudah pasti lebih dulu jatuh cinta dengan Kalan.
“Kau tahu sejak kapan?”
__ADS_1
“Se-sejak.. sejak kau mengabaikan pesanku!”
Nafisah tersenyum tipis, “Aku tidak pernah membalas pesanmu, Halwah. Apa itu cukup sebagai bukti? Dan jika memang jawabannya iya, apa kau rela memberikan Kalan padaku?”
Halwah tersentak kaget, dengan gerakan cepat gadis tersebut mendongak dan menatap tidak percaya kearah Nafisah yang kini tersenyum dengan pandangan sayu. Ada banyak luka didalam sana dan begitu besar harapan tentang jawaban Halwah yang mungkin sesuatu yang mustahil jika gadis itu setuju.
“Ka-kau bicara apa? Walaupun kau menyukai Kalan lebih lama dariku, kau tidak pantas mengatakan hal barusan didepan istri temanmu!” Kaleng soda milik Halwah terjatuh, Nafisah menatapnya dengan datar. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya yang merekah alami, “Tapi dia cinta pertamaku.”
Kaleng yang bergelinding di lantai menciptakan suara bising diantara ruang yang kosong, hingga kaleng tersebut berhenti berputar saat menabrak dinding koridor. Nafisah menghela napas, kemudian ia menatap Halwah intens, gadis itu ikut menatapnya dengan kedua mata yang memerah.
“Jika kau punya hak untuk mempertahankan hubungan konyol kalian, aku juga punya hak ku sendiri untuk mempertahankan perasaanku.” Setelah berkata demikian, Nafisah berlalu pergi. Meninggalkan Halwah yang terdiam sembari menyeka sudut matanya yang berair.
Apa yang baru saja ia lakukan? Apa perkataannya juga berlebihan? Dalam konteks ini, mungkin Nafisah mengira jika ia telah merebut Kalan. Padahal, saat itu Halwah juga tidak berdaya. Sepanjang resepsi hari itu, Halwah begitu mengkhawatirkan tentang Kalan yang mungkin saja memiliki seseorang yang spesial dalam hidupnya dan terpaksa harus menikahinya hanya karena perjanjian lama.
Halwah meraih kaleng sodanya yang tergeletak disudut koridor, ia kembali berdiri didepan mesin minuman dan memesan satu cola lainnya untuk Kalan. Bagaimanapun ia menahan diri, air mata yang merembes membasahi pipi tak mampu Halwah elakkan. Gadis itu membiarkan pipinya terbasuh dan punggung kecilnya bergetar kecil, ada sesuatu yang menyakiti hatinya. Sebuah ketakutan yang mungkin akan menjadi perusak diantara lembar harapan yang Halwah susun setelah menikah dengan Kalan.
Bunyi kaleng yang keluar menyadarkan Halwah, lekas saja si gadis bersurai jelaga tersebut mengusap kasar wajahnya. Ia berjongkok dan meraih soda tersebut kemudian berlari kecil kembali ke tenda, dimana ada Nafisah yang berbincang dengan Kalan yang ternyata sudah bangun.
Dengan perasaan campur aduk, Halwah mendekat. Ia tidak tahu seperti apa ekspresinya sekarang, namun melihat wajah Kalan yang mengernyit membuat Halwah yakin ekspresinya kini berantakan.
“Halwah, kau sudah menangis?” tanya Kalan, pemuda itu bergeser memberi ruang untuk Halwah duduk disampingnya. Dua botol cola berpindah tangan dan berakhir tergeletak rapi diatas meja plastik dihadapan mereka.
“A-anu, tadi terjepit mesin minuman?”
“Hah? Bagaimana bisa? Kau terluka?” tanpa diduga Irsyad muncul dari samping kanan tenda, ia berdiri menjulang dihadapan Kalan dan Halwah. Kalan mengangguk, ia melirik kedua telapak tangan Halwah yang saling beradu gelisah.
“Tanganmu? Apa terluka?”
Kalan kian mengernyit ketika Halwah menggeleng pelan dan lebih memilih menunduk. Halwah bukan tipikal gadis yang blak-blakan, ia tidak mungkin mengatakan kalau sebenarnya ia menjadi cengeng hanya karena hal sepele? Tapi, ini bukan hal sepele! Halwah menyukai Kalan dan dia punya hak penuh untuk melarang orang lain menyukai suaminya juga, bukan?
Helaan napas berat terdengar, itu Kalan. Pemuda tersebut mengambil sekaleng cola dan membukanya kemudian disodorkan kepada Halwah. “Minumlah, kau membeli ini karena haus ‘kan? Aku tidak mau memaksamu menjawab, tapi setelah ini kita pulang.” Ujar Kalan, Ia tidak tahu perkataannya barusan membuat Nafisah mengernyit tidak suka dan ekspresi tersebut tidak luput dari pandangan Halwah dan juga Irsyad yang tersenyum miris.
“Managerku akan memesankan kalian taksi,”
“Terima kasih, Syad.”
031120
__ADS_1