
Kalan memandang sinis sosok pemuda yang tengah duduk dihadapannya kini. Irsyad tersenyum miring, melipat kedua lengannya didepan dada dan memandang Kalan remeh.
"Dan bodohnya, kau selalu termakan um--"
"Umpan para wanita bodoh?"
Kalan memotong ucapan Irsyad, pandangan keduanya menjadi sengit. Irsyad tidak tahu mengapa ia bersikap seperti barusan, tetapi yang jelas ia merasa kesal ketika mengetahui sahabatnya sudah menikah.
"Halwah bukan orang seperti itu, dia gadis dari keluarga terpandang sepertimu!" ujar Kalan menekan kalimat terakhirnya, membuat Irsyad terdiam dan menggerling malas.
"Ya ya, dan kalian menikah karena cinta bersemi diantara kalian??"
"Tidak. Sudah kubilang itu perjodohan bukan?" ucap Kalan, ia berdecak malas dan kembali menyalakan TV kali ini dengan volume sedang. Kening pemuda itu berkerut dalam, pertanda ia sudah merasa kesal dengan sikap Irsyad sekarang.
"Kau mengatakannya tapi, tidak menjelaskannya padaku! Bagaimana aku bisa paham???"
Remote TV direbut paksa, Irsyad mematikan benda pipih tersebut dengan kesal dan menatap Kalan menuntut.
"Kau menafsirkan masalahnya sendiri, bagaimana bisa aku jelaskan jika kau sendiri sudah berpikir seperti tadi??"
Helaan napas keluar dari pemuda bersurai coklat, ia melirik kearah dinding pemisah antara dapur dan ruang tengah; menemukan Halwah yang terdiam sembari mengintip akan tetapi, pandangan gadis itu tertuju pada dinginnya lantai kayu. Kalan menyadari hal itu, sedari tadi pemuda bersurai hitam tersebut memang sudah tahu Halwah berdiri disana.
"Kalau begitu jelaskan," bisik Irsyad. Ia membuang pandang kearah setumpuk sampah kertas dipojok ruangan. Kalan terdiam sejenak, ia memandang paras irsyad dari samping sebelum menghela napas dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Ingat cerita perjanjian antar dua sahabat yang selalu Kakek ceritakan pada kita sewaktu kecil?" ucap Kalan, ia melirik reaksi Irsyad yang langsung mengangguk kecil sambil menatapnya polos.
"Kakek berjanji untuk menikahkan anaknya dengan anak sahabatnya itu 'kan? Dan kutanya, apa yang terjadi saat kedua anak mereka lahir?"
__ADS_1
"Ayahmu dan anak laki-laki sahabat Kakek Lazuardy lahir."
Kalan mengangguk, ia tersenyum hambar menatap Irsyad yang keningnya berkerut dalam. Sedetik kemudian, pemuda itu menatap tak percaya kearah Kalan sembari menggeleng tidak percaya.
"Dia cucu Kakek Kahar???"
Kalan mengangguk, menghela napas legah dan menepuk pundak Irsyad yang tampak syok mendengar kenyataan tentang Halwah.
"Ja-jadi? Dia pewaris tunggal yang katanya begitu pintar dan cantik?"
"Aku tidak tahu itu."
Irsyad menepuk jidat, ia meraih ponselnya dan berpamitan setelah meminta Kalan untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Halwah.
Pemuda itu juga berkata kalau ini sangat penting dan ia harus bertemu dengan Nafisah sekarang juga.
---
Halwah tersentak kaget, ia berdiri menghampiri Kalan dan melirik ke ruang tengah dimana Irsyad tak lagi ada disana.
"Di-dia sudah tahu?" tanya Halwah gugup, ia sedikit merasa canggung ketika sadar jaraknya berdiri dengan Kalan hanya beberapa senti saja. Sedangkan suami tampannya itu hanya mengangguk pelan, kemudian berjalan kearah kulkas dan menghitung jumlah cup es krim vanilla.
"Kau makan dua bungkus?" tanya Kalan, Halwah dengan cepat mengangguk dan menyengir lucu setelahnya.
"Aku merasa haus setelah memasak tadi, a-anu, kau mau makan?"
Sebenarnya, Halwah menjadi sedikit ragu ketika ia kembali merasakan masakannya barusan. Sayur sup yang ia masak ternyata keasinan, ia sudah menambah lumayan banyak air kaldu namun tetap saja asin. Tetapi, ia tidak mungkin membiarkan Kalan makan siang dengan menu instant.
__ADS_1
"Kau masak apa?" Kalan menutup pintu kulkas, ia berjalan kearah kompor dan membuka panci diatasnya. Halwah menggigit bibir bawahnya ketika Kalan justru langsung mengecap kaldu sup didalam panci. Berani bertaruh, sup tersebut keasinan. Namun, wajah Kalan tampak biasa saja kemudian ia mengangguk kecil dan mengulas senyum tipis.
"Ini seleraku. Bisa ambilkan nasinya?"
Halwah tersentak, sebenarnya ia bingung. Apa Kalan suka dengan makanan yang mengandung garam banyak? Sedikit ragu, Halwah menyiapkan makan siang untuk Kalan. Pemuda itu membantu dengan menyusun piring ke atas meja makan.
Ketika semuanya sudah siap, Kalan langsung melahap semua menu yang dimasak Halwah dengan lahap. Tanpa ada berbagai macam komentar tentang rasa sup yang keasinan ataupun rasa ayam yang hambar. Halwah sampai tidak mampu menghabiskan nasinya, sedangkan Kalan menghabiskan dua porsi dengan empat potong ayam.
"A-anu, apa itu enak?" tanya Halwah ragu, ia menatap takut ketika Kalan menatapnya dengan pandangan datar. Pemuda itu lalu mengangguk dan kembali melanjutkan makannya hingga selesai.
Setelah itu, Kalan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ dan membawa piringnya ke wastafel. Sejenak ia menatap ke arah Halwah yang terdiam, pemuda itu hendak mengatakan sesuatu namun urung dan berlalu begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun lagi. Padahal, Halwah berharap sebuah pujian keluar dari bibir Kalan.
Gadis bersurai hitam legam tersebut memutuskan untuk keluar ke halaman rumah dengan membawa semangkuk sup tadi, lalu memberinya pada beberapa ekor angsa putih yang dipelihara oleh keluarga Lazuardy. Kalan bilang, ayahnya begitu menyukai suara angsa padahal menurut Kalan mereka selalu ribut. Halwah menatap angsa yang juga enggan memakan supnya tersebut dengan pipi yang dikembungkan karena kesal.
“Apa setidak enak itu masakanku?! Kalan baru saja menghabiskan setengahnya!” gerutuh Halwah, ia menyentakkan kakinya kesal sebelum berlari masuk kedalam rumah dan menghabiskan waktu dengan melipat pakaian.
Ia masih bertanya-tanya, bagaimana bisa Kalan makan dengan lahap masakan keasinannya itu? Halwah mengaku kalau ia memang belum mahir memasak, tapi haruskah dengan berbohong seperti tadi? Kalan bahkan tidak mengomentari apapun selain berkata ‘Ini seleraku.’
“Menyebalkan sekali,”
Setelah ashar, Halwah memilih untuk membersihkan diri dan hendak memesan makanan saja dari pada harus kembali membuang-buang bahan masakan di kulkas. Ia terkejut saat menemukan Kalan yang sudah berbaring di sofa dengan mata terpejam saat ia keluar dari kamar mandi, pemuda itu tidak menggubrisnya sama sekali dan memunggunginya ketika Halwah bertanya ia ingin makan apa malam ini.
Gadis itu menghela napas, memilih turun ke lantai bawah dan terdiam di tempat. Ada banyak bungkusan di atas pantry dapur dan didekat bungkusan berisi dua box pizza, terdapat sebuah mika bening berisi kue keju dengan toping es krim vanilla didalamnya. Halwah mendekat, ia menemukan secarik kertas kecil berwarna orange yang bertuliskan ‘Sebagai tanda permintaan maaf atas kejadian siang tadi dan ungkapan terima kasih atas makan siangnya. Masakanmu tadi, lumayan enak.’
Tanpa sadar, Halwah tersenyum dengan dua semu merah muda yang samar di pipinya. Gadis itu terkikik geli dan lekas membuka mika barusan, merasakan bagaimana lembut dan gurihnya kue keju berpadu dengan manisnya es krim.
Bagaimana bisa Kalan tahu tentang kesukaan Halwah yang satu ini? Dan malam itu, ketika Kalan ikut bergabung dan keduanya menikmati dua box pizza ditemani film horror, Halwah mengucap janji akan menjadi istri yang lebih baik untuk Kalan keesokan harinya.
__ADS_1
-261020-