DISCONTINUE!¡

DISCONTINUE!¡
BAB 8 : KENCAN


__ADS_3

Raport di terima dan liburan kenaikan kelas pun tiba. Halwah dan Kalan baru saja mengantarkan kedua orang tua Halwah ke stasiun sedangkan Ayah Kalan langsung terbang ke Belanda untuk kepentingan bisnis hotel barunya disana.


Kalan melemparkan tubuhnya pada sofa, membiarkan Halwah kembali menatap jejeran nilai didalam raport miliknya. Entah alasan apa, gadis itu selalu terkikik setiap membuka lembaran nilai miliknya. Kalan mengernyit, ia menatap Halwah heran; “Nilaiku lucu, ya?”


Tanpa di duga, Halwah mengangguk sembari terkikik kecil. Hal tersebut membuat Kalan tersentak dan menyembunyikan ekspresi malunya. Sudah pasti, nilainya yang hanya setara dengan nilai rata-rata, kalah banding dengan nilai Halwah yang rata-rata 9. Yah, Kalan akui dirinya sedikit malas dalam belajar.


“Kalan, kau mengaku kalau Matematika itu adalah monster. Tapi, lihatlah sekarang! Nilai tertinggimu adalah Matematika!” tawa Halwah meledak, ia sampai memegangi perutnya.


Sedangkan Kalan, pemuda itu hanya menatap datar dan memilih kembali memejamkan mata dengan siku kanan yang menutup keningnya. Halwah tersenyum setelah puas tertawa, ia memilih ke lantai atas dan menaruh raport mereka berdua ke rak kaca yang dibeli Kalan kemarin. Katanya, “Aku ingin Raport kita aman, nilaimu luar biasa jadi taruh ditempat yang terjaga.” Mengingat hal tersebut membuat Halwah kembali merasa geli.


Sedikit banyak, ia heran dengan sikap Kalan yang kadang terasa hangat dan dingin. Walaupun, wajahnya tidak banyak berekspresi, Halwah cukup yakin jika suaminya itu seseorang yang baik. Sedari awal, ia memang jatuh hati dengan sikap Kalan, bukan?


“Apa yang kau fikirkan?” suara Kalan yang muncul tiba-tiba membuat Halwah tersentak, gadis itu bahkan sampai menutup pintu rak kaca dengan sedikit kencang. Halwah mengelus dadanya legah setelah tahu suara barusan datangnya dari Kalan.


Kening Kalan mengernyit, seperti seseorang yang memikirkan sesuatu sebelum pemuda itu masuk kedalam kamar dan meraih celana jeans yang tergantung di pintu lemari. Kemudian, setelah memakainya Kalan membuka lemari khusus jaket dan mengambil dua jaket dengan warna yang sama, lalu memberikan yang satunya kepada Halwah. Kadang-kadang, Kalan memang suka aneh.


“A-apa ini?”


“Ayo, jalan-jalan.”


“Hah?”


“Liburan, mau kencan pertama?”


--

__ADS_1


Halwah tersipu. Ia menggenggam erat tali jaket berwarna coklat susu miliknya yang sama persis dengan milik Kalan, sesekali ia melirik malu ke arah Kalan yang berjalan santai di sampingnya. Jika boleh jujur, ini adalah hari paling membahagiakan untuk Halwah. Sudah banyak hari yang ia lalui dengan Kalan, tapi ini adalah kali kedua ia sangat merasa senang dan bersyukur karena ia dipasangkan oleh laki-laki seperti Kalan.


Yang pertama adalah saat Kalan menggenggam tangannya berjalan ke kelas, pemuda itu juga dengan terang-terangan memberinya petuah agar tidak lupa berdoa sebelum mengerjakan ujian. Hal itulah yang mengundang presepsi orang-orang kalau siswi terpintar seangkatan berpacaran dengan si konglomerat arogan. Bahkan, teman-teman dekat Halwah sampai sekarang terus bertanya bagaimana bisa dia menarik hati si pangeran es sekolah. Mungkin, jika mereka tahu faktanya mereka akan lebih terkejut lagi.


Halwah tersentak kaget ketika Kalan tiba-tiba berhenti, ia mendongak dan menatap Kalan heran. Pemuda itu menatap datar kedalam etalase sebuah toko bunga. Apa Kalan berniat membelikannya bunga? Memikirkannya saja membuat Halwah tidak mampu menahan senyumannya.


“Halwah,”


“I-Iya?”


“Kau mirip sesuatu yang disana.” Ucap Kalan, tangan kanannya terangkat menunjuk pada sebuah pot bunga matahari yang bertengger manis di depan etalase toko.


“Hah?”


“Aku tidak tahu banyak perihal jenis bunga, tapi itu yang paling cantik kulihat. Kau mirip bunga itu, tampak cerah dan selalu ceria.” Jelas Kalan, tanpa sadar perkataannya menimbulkan seulas senyum cerah dari wajah Halwah.


Lantas, adakah alasan Halwah menolak permintaan sederhana Kalan?


--


Mereka lalu singgah pada sebuah pusat perbelanjaan. Kalan bilang dia ingin membeli beberapa keping lego seri terbaru dan Halwah bebas untuk kemana saja ia inginkan. Tapi, bodohnya gadis itu malah meminta untuk dibelikan minuman saja dan memilih duduk seperti orang bodoh didepan toko lego.


Setengah dari isi gelas minumannya sudah ia seruput, namun batang hidung Kalan pun tak kunjung muncul. Pemuda itu baru keluar setelah minumannya habis dan Halwah nyaris mati kebosanan. Kalan hanya tersenyum tipis dan memberi sedikit tepukan halus pada pucuk kepalanya, kembali mengundang rona merah dikedua pipi Halwah.


Kalan mengajak Halwah makan siang disebuah restoran ala Jepang, mereka memesan menu yang sama yang membuat Halwah ingin muntah karena rasanya yang pedas. Sedangkan pemuda dihadapannya hanya menunjukkan ekspresi biasa-biasa saja. Ah, Halwah memang payah memakan segala macam jenis makanan yang mengandung cabai.

__ADS_1


Setelah makan keduanya memilih berkeliling area mall, Halwah sibuk memperhatikan berbagai model pakaian terbaru. Sedangkan Kalan, pemuda itu mati-matian menahan diri agar tidak menggenggam tangan Halwah yang sesekali menyenggol tangannya.


Ketika waktu Ashar tiba, keduanya melaksanakan Sholat dan Kalan menunggu beberapa saat didepan Musholla sebelum Halwah keluar dengan wajah yang lebih fresh. Dan perasaan seperti sesuatu yang menggelitik perut bawah Kalan kembali hadir. Rasanya, beberapa hari terakhir ini Kalan mengalami masalah yang cukup serius dengan pencernaan dan otaknya. Pasalnya, saat melakukan apa saja kadang kala wajah Halwah yang langsung terlintas, bahkan saat ia buang air ia langsung mengingat suara tawa Halwah yang membuat Kalan sering mengurungkan niat buang airnya. Ia mungkin butuh dokter, ingatkan Kalan untuk menghubungi Ayah Nafisah yang memang menjabat sebagai dokter pribadi keluarga Lazuardy.


“Halwah,” kalan bersuara ketika keduanya memilih makan di sebuah toko kaki lima yang menjajahkan makanan khas Bandung, Batagor. Halwah yang asik melahap batagor miliknya mendongak dan memandang Kalan dengan alis yang terangkat.


“Apa itu enak?” tanya Kalan


Halwah tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban dan kembali melahap batagor miliknya. Sampai, gadis itu sadar kalau batagor milik Kalan sama sekali tidak tersentuh.


“Kalan, kau tidak makan?” tanya Halwah, ia sudah khawatir kalau saja mungkin Kalan tidak terbiasa dengan makanan di pinggir jalan. Sejak kecil, Kalan sudah lahir dengan sendok emas di lidahnya, bagaimana mungkin Halwah melupakan fakta tersebut? Sepertinya, ia sudah salah memilih tempat untuk makan.


“Ah, ka-kau pasti tidak terbiasa. Maafkan aku!” Halwah hendak membereskan piring dan tasnya, sebelum Kalan dengan cepat menahan lengan Halwah dan menggeleng pelan dengan seulas simpul di bibirnya.


“Tidak apa-apa, aku hanya keasikan melihatmu makan. Akan ku makan sekarang.” Ucap Kalan sembari tersenyum, kembali membuat Halwah tersipu malu entah untuk keberapa kalinya hari ini.


Setelah makan, belanjaan keduanya Kalan serahkan kepada supir pribadi yang datang menjemput menggunakan sepeda motor sesuai permintaan Kalan. Lalu, keduanya memilih berjalan kaki setelah 10 menit perjalanan menggunakan bus sebagai ide Kalan yang katanya ingin lebih dekat.


Halwah tersenyum puas, ia mendongak menatap Kalan yang sama sekali tidak berekspresi, tapi tetap saja terlihat tampan dilihat dari sudut mana saja. Halwah kembali memandang kedepan, mengulum bibir kemudian berucap; “Aku senang hari ini, kau mengajakku jalan-jalan dan mau saja makan di emperan jalan denganku.”


Mendengar hal itu, Kalan melukis simpul. Dengan nekad, Kalan meraih jemari Halwah. Dibawanya tangan mungil tersebut kedalam genggamannya tanpa menoleh ke arah gadis yang kini tersentak kaget dengan semburat merah yang kian kentara.


“Alhamdulillah, kalau kau senang.”


Dan sore itu, bersama dengan munculnya bias senja yang indah, senyum Kalan terbit.

__ADS_1


121120



__ADS_2