
“Bocah itu... bocah itu tidak bersedia datang kemari.” Rendy menatap ke Anton, sambil kedua kaki terasa lemas.
“Sampah tidak berguna!” Anton memakinya, “Keluar dari sini! Keluar!!!”
Sherly berteriak histeris lagi, “Tidak semudah itu! Lempar dia keluar dari sini, lempar dia keluar!”
“Ah! Tidak!” Rendy langsung terkejut hingga wajahnya pucat.
Dua pengawal perkasa datang menghampirinya, lalu mengangkat Rendy, kemudian melempar dia keluar ruang operasi seperti melempar sampah.
“Kalian bertiga, pergi untuk memanggil Hans kemari, jika dia tidak mau datang, maka bawa dia kemari meskipun diikat dengan tali!” Anton memberi perintah pada ketiga pengawal.
“Baik, Bos!”
Beberapa menit kemudian, ketiga pengawal menemukan asrama Hans setelah bertanya pada orang-orang.
Saat ini, Hans sedang duduk bersila di atas tempat tidur, enggan mendengar bujukkan Cindy dan Marcella kedua wanita ini.
“Hans, cepat ikut kami pergi sekarang.”
Hans membuka matanya untuk memandang, ternyata pengawal Anton yang sedang menggertaknya, sehingga membuat Hans sangat marah, brengsek, apa orang kaya sangat hebat? Tidak bisa dengan cara lembut, maka dengan cara kasar?!
“Bagaimana kalau aku tidak mau ikut kalian pergi?” Hans berhenti meditasi, lalu tiba-tiba berdiri.
Cindy dan Marcella yang berada di sampingnya dapat melihat beberapa pengawal ini datang dengan niat tidak baik, jadi mereka sangat cemas.
Pengawal yang di depan itu berteriak, “Nyalimu sungguh besar, sehingga berani tidak menuruti perkataan CEO Anton, apa kamu sudah merasa hebat? Aku bertanya sekali lagi padamu, pergi atau tidak?”
“Tidak pergi! Aku tidak mau pergi.” Hans mengatakannya dengan nada tenang.
Pengawal itu langsung emosi, “Kalian berdua, hajar dia, hajar sampai dia mau pergi!”
Dua orang pengawal yang di belakangnya menyahut, kemudian berjalan ke depan dan bersiap-siap untuk memberi pelajaran pada Hans.
Hans juga sangat marah, sungguh tidak ada aturan, dia tidak mau pergi melihat keadaan luka putra CEO Anton, lantas mau dengan kekerasan memintanya pergi?
Cindy dan Marcella bersama-sama berteriak ketakutan: “Di sini adalah rumah sakit, kalian tidak boleh bertindak seperti ini!”
Tapi tidak berguna, pengawal di depan itu melototi mereka, “Tidak ada urusan kalian, lekas pergi dari sini.”
Cindy masih ingin mengatakannya, tapi Hans langsung menariknya sambil berbisik, “Tidak apa-apa, Dokter Cindy, tidak perlu cemas, aku tidak takut dengan pengawal jahat berkulit hitam ini.”
“Kamu bilang siapa adalah pengawal jahat berkulit hitam?”
Ketika berbicara, kedua pengawal telah berjalan ke depannya, satu di sebelah kanannya, satu di sebelah bahu kirinya dan mencoba menyeretnya keluar untuk dipukul.
__ADS_1
Hans benar-benar marah, dia membalikkan tangannya untuk memegang pergelangan tangan kedua pengawal, lalu memelintirnya dengan kuat.
Krek krek!
Tulang lengan kedua pengawal itu patah, mereka langsung berteriak kesakitan dan bersujud di lantai.
Kepala pengawal yang berdiri di belakang terkejut, dia tidak menyangka bocah ini mempunyai kemampuan yang sehebat ini dan dia mengalahkan kedua anak buahnya dengan mudah.
“Sial! Nyalimu besar sekali!” Ketua pengawal itu menyerang ke depan dan meninju ke muka Hans.
Hans menghindari serangannya dengan menoleh kepalanya, lalu dia menendang ke perutnya, sehingga ketua pengawal itu berteriak sakit, kemudian terbang, juga terus memuntahkan darah
Melompat dengan sebelah kaki, menendang ke perutnya, kepala pengawal itu berteriak kesakitan dan darah berbusa itu seperti bui-bui ikan.
Melihat dia menyelesaikan ketiga orang tersebut tanpa menghabiskan terlalu banyak tenaga, Cindy yang berada di sampingnya melihat sampai tertegun.
Namun Marcella melihat dengan tatapan kagum, wanita mana yang tidak suka dengan gaya kepahlawanan seperti itu? Apalagi Hans tampan sekali!
“Dengan kemampuan seperti kalian ini, beraninya kalian menjadi pengawal? Cepat pergi dari sini!” Hans merasa sangat senang setelah melampiaskan emosi ini.
Ketiga pengawal itu berlari dengan tergesa-gesa.
“Kak Hans, kamu hebat sekali!” Marcella menepuk tangan dan memujinya.
Hans tersenyum manis dan meraba wajahnya yang mulus, “Adik Marcella yang pintar, nanti kakak akan memberimu lolipop.”
“Menyebalkan!” Marcella tersipu malu, tumbuh sebesar ini, selain Ayahnya, belum ada pria lain yang pernah meraba wajahnya, benar-benar mengambil keuntungan.
Hati Hans membara ketika melihat pesona wajah Marcella tersipu malu, mengedipkan mata sambil mengatakan, “Oh iya, Adik Marcella, biasanya kamu makan lolipop suka dipegang dengan dua tangan atau dengan satu tangan?”
Marcella memanyunkan bibir sambil menjawab: “Tentu saja dengan satu tangan.”
Hans tertawa terbahak-bahak.
Marcella melihatnya dengan bingung, “Kak Hans, kenapa kamu tertawa?”
“Cepat pergi, cepat pergi, kita jangan menghiraukan pria sableng ini lagi!”
Cindy menyadarinya, jadi segera menarik Marcella keluar, tapi dalam hatinya memarahinya:
“Pria genit, pria genit, sungguh jahat!”
Di dalam asrama, hanya meninggalkan Hans yang tertawa keras, tak berhenti-henti.
Begitu kedua wanita itu pergi, Hans menutup pintu untuk melanjutkan meditasinya. Lima menit kemudian, pintunya kembali diketuk keras.
__ADS_1
Sialan, datang lagi!
Hans mengabaikan karena merasa kesal, tapi pintu itu terus diketuk, hingga dia sama sekali tidak dapat fokus melatih Jurus Panjang Umur.
“Brengsek, apakah kamu tidak merasa ini sangat mengganggu!”
Hans turun dari tempat tidur, lalu menarik pintu, hendak dia ingin marah, malah melihat ada satu orang yang berdiri di depan, yakni Victoria, Dirut yang cantik.
Dia yang pada saat ini berbeda dengan penampilan orang kantoran di siang. Dia mengenakan gaun sutra berwarna ungu, sehingga kulit putih terlihat. Dada yang montok itu dapat dilihat samar-samar dari gaun, sehingga membuat orang timbul semacam hasrat untuk mendapatkannya.
Hans tidak tahan untuk menelan ludah, Dirut cantik ini, sungguh mempesona!
Selain itu, di balik badan Victoria, ada Anton dan istrinya Sherly.
Melihat kedua orang ini bersikap sopan, dia tahu kedua orang ini pasti telah mendengar dan melihat nasib yang menimpa ketiga pengawal itu.
Selain itu, mereka tahu Hans bukanlah orang yang mudah ditindas, namun demi menyelamatkan nyawa putranya, mereka membawa Victoria selaku Dirut Universitas Indonesia ini.
“Dirut, apa yang membuat kamu datang kemari?” Hans tentu saja tidak akan bersikap kasar terhadap Victoria yang pernah membantunya.
“Aku datang untuk memohon pada Dokter Dewa, agar dia bisa menyembuhkan luka keponakanku.” Ada senyum di wajah Victoria yang dewasa dan cantik ini.
“Pria yang terbaring di tempat tidur itu adalah keponakanmu?” Hans merasa sedikit tidak menyangka.
“Benar sekali.” Victoria menganggukkan kepalanya, “Bagaimana? Bisakah memberikanku muka untuk membantuku mengobati lukanya?”
“Kak?”
Hans tersenyum, Dirut cantik ini sungguh pintar mengambil keuntungan darinya. Hanya saja, jika dibilang dari umur, dia tentu saja lebih tua darinya, jadi wajar saja bisa menjadi kakaknya.
“Kak Victoria, kalau begitu baiklah, aku akan memberimu muka ini, tapi ada orang yang mempermalukanku, jadi bagaimana mengatasi hal ini?” Ucap Hans, sambil menatap ke arah Anton dan istrinya Sherly.
Anton membangun usaha dengan usaha sendiri, jadi bukanlah hal mudah untuk memiliki jabatan seperti hari ini dan dia langsung mengerti maksud dari ucapan Hans.
Ini sama saja dengan menunggu dirinya mengatakan sesuatu!
“Sobat kecil, maaf, tadi aku tidak mengetahui kehebatanmu, berharap kamu murah hati, jangan keberatan. Putraku sekarang sedang kritis, jadi membutuhkan bantuanmu untuk menyelamatkan nyawa putraku.”Anton mengatakan dengan nada rendah.
Brengsek, kenapa tidak dari tadi?
Hans merasa tidak senang, seharusnya menolong orang adalah kewajibannya, namun dia tidak ingin menyetujuinya dengan mudah, jadi dia berkata, “Aku tidak berani, masih banyak profesor yang dapat menolong putra CEO Anton, ngapain mencariku?”
Anton merasa malu, tapi sekarang dia hanya bisa menahan emosi ini demi putranya, “Hal tadi adalah kesalahanku, kamu jangan masukkan ke dalam hati. Begini saja, jika kamu bersedia menolong putraku, aku akan memberimu uang sepuluh juta.”
Hans senyum acuh tak acuh, “Ternyata nyawa putra CEO Anton hanya bernilai sepuluh juta?”
__ADS_1