Dua Insan Yang Berbeda

Dua Insan Yang Berbeda
Berita Yang Mengejutkan


__ADS_3

"Setuju atau tidak setuju, Kamu harus tetap mau menerima niat baik keluarga Pak Markus Ravindra!


Ingat, Kamu jangan buat malu keluarga kita!


Mereka sudah pernah membantu kita dulunya."


Ucap sang kepala keluarga dengan tegas tak terbantahkan.


Huffftttt......


Terdengar helaan nafas berat dari seorang perempuan yang baru saja menginjak usia 22 tahun itu.


Baru saja Ia menginjakkan kaki didalam rumahnya, namun Ia sudah disuguhkan keadaan yang serupa dengan keadaan dua minggu yang lalu.


Betapa tidak, sang Papa yang dikenal tegas dan tak terbantahkan, kembali menyerangnya dengan kalimat yang sama setelah kejadian itu.


Elzira Feodora Vandeles


Seorang guru bahasa inggris, yang baru memulai pengajarannya tahun lalu di Sekolah SMA Negeri 1, di Bandung.


Bungsu, dari 3 bersaudara'kan perempuan.


Kedua Kakaknya telah sukses dalam membina rumah tangga.


Kini yang tersisa hanyalah dia.


Sebagai orang tua dan kepala keluarga, Ia harus memastikan anak-anaknya mendapatkan kehidupan layak, serta pasangan yang mampu menggantikan posisinya menjaga putri-putrinya kelak.


"Pah,, Elzi sama sekali tidak mengenal pria itu.


Kalau pun Papa menerima niat baik keluarga mereka, lantas kenapa niat baik keluarga Pak Ferdinand, Papa tolak waktu itu?!"


"Itu karna Kamu masih muda tahun lalu!"


"Lalu, apa sekarang Elzi sudah terlihat tua dimata Papa?


Sehingga dengan mudahnya menerima niat baik keluarga mereka?!


Pah,, Elzi usianya baru 22 tahun. Bukan 42 tahun. Elzi belum setua itu!" Ia merasa geram dan kesal pada jawaban sang Papa yang menurutnya tidak konsisten.


Dulu saat keluarga Davin Ferdinand, sang mantan kekasih jaman SMA datang ingin mengikat baik tali persaudaraan, namun ditolak mentah-mentah oleh Papanya dengan alasan, Davin belum memiliki apa-apa.


Namun kini, saat Ia telah mengetahui bagaimana dan seperti apa sang calon menantu, dengan mudahnya menerima tanpa membicarakannya dulu bersama sang istri dan anaknya.


"Zi,, Papa hanya ingin yang terbaik buat Kamu.


Kamu masih tanggung jawabnya, Papa!


Papa berhak memilih dan menentukan kepada siapa Papa harus melepaskan tanggung jawab Papa untuk menjaga dan membahagiakan Kamu kedepannya!


Dan Davin, bukanlah orang yang tepat untuk dipercaya memegang tanggung jawab berat itu."


" Lalu, apakah anaknya Pak Ravindra dapat Papa percaya?" sejak tadi hanya mampu memperhatikan tanpa mencelah obrolan antar anak dan Ayah tersebut, akhirnya Shofia Vandeles, istri dari Elkana Kendrick Vandeles, Ibu dari tiga orang anak itu pun, ikut bersuara menyerukan pendapat, demi kebaikan keluarganya.

__ADS_1


Helaan nafas serta kerutan didahinya, menandakan bahwa pria paruh baya itu sedang berpikir keras.


Memang tidak mudah menjatuhkan pilihan pada anak rekan kerjanya itu.


Namun Ia percaya dari sudut pandangannya, bahwa pria yang akan menjadi calon untuk putri bungsunya, ialah orang yang bertanggung jawab.


"Papa yakin. Jika dia tidak bisa membahagiakan, setidaknya dia tidak mengecewakan dengan menghancurkan kepercayaan yang sudah diberikan."


"Kapan rencana pertemuannya?"


"Dua hari lagi. Papa harap, Kamu dapat mempertimbangkan lagi keputusan ini, Zi.


Perusahaan kita dapat berjalan dan bertahan sampai saat ini, itu semua berkat bantuan keluarganya Pak Ravindra.


Kamu ingat, Papa sangatlah jarang meminta sesuatu dari kalian putri-putri Papa.


Dan mungkin ini adalah permintaan Papa yang terakhir untukmu.


Jadi jangan buat Papa kecewa." ujarnya kemudian mengambil langkah meninggalkan ruang tengah menuju kamar tempat peristirahatannya.


Hening, diam, dan membisu.


Ibu dan anak itu seolah tenggelam oleh pikirannya masing-masing.


Jika sang Ibu memikirkan betapa kesepiannya Ia nanti setelah ditinggal putri bungsunya, berbeda pula dengan yang dipikirkan oleh sang tokoh utama.


"Mah,, Elzi tidak mengenal pria itu..." lirihnya mencoba mengadu pada sang Mama.


"Iyah sayang, Mama paham. Dan Mama ngerti perasaan Kamu.


...............Zi,, Mama pernah ada di posisi Kamu.


Mama dan Papa dulunya juga di jodohkan oleh Kakek dan Nenekmu.


Tidak saling mengenal.


Namun dipertemukan dan di ikat dalam satu hubungan yang suci, yang tidak dapat dipisahkan oleh manusia, maut sekalipun tidak akan berhak tanpa adanya perintah dari Yang Maha Kuasa.


Sayang......


Mungkin awalnya berat.


Tapi percayalah, seiring berjalannya waktu, Kamu pasti akan bisa menerima dia sebagai sosok pelindung untukmu dan juga untuk keluargamu kelak." ujarnya mengelus lembut rambut panjang putri bungsunya, mencoba memberikan pengertian.


"Tapi kalo dia jahat, atau dia cuek sama kayak Papa, gimana Mah...?" rengeknya lagi mencoba meluluhkan hati sang Mama agar mau membatalkan niat sang kepala keluarga menjodohkannya.


"Heyyy,,, kenapa Kamu malah bisa berpikir seperti itu, sayang..?" wanita paruh baya itu terkejut akan pemikiran sang anak terhadap suaminya. Meskipun Ia tak menyangkal, bahwa perkataan si bungsu benar adanya.


"Mah,, Papa itukan cuek orangnya. Bersuara pun, jika memang ada yang perlu dibicarakan.


Papa itu sok mencari laki-laki yang bisa membahagiakan anak-anaknya.


Padahal Mama sendiri tidak bahagia dengan pria kaku seperti Papa."

__ADS_1


"Zi....." matanya membulat sempurna mendengar untaian demi untaian yang dilontarkan putri bungsunya.


Sebagai seorang istri, Ia tidak terima jika orang lain menjelekkan suaminya, terlebih itu adalah anak-anaknya sendiri.


"Tidak seharusnya Kamu berkata seperti itu mengenai Papamu sendiri!


Ingat, Zi. Dia adalah Papamu! Suami Mama!


Kepala keluarga dirumah ini!


Papa memanglah orang yang cuek.


Tapi bukan berarti dia tidak menyayangi kita.


Apa pernah, Papa mengabaikan Kamu dan Kakak-kakakmu?


Jawabannya tidak!


Karena jika Kamu dan Kakak-kakakmu mendapat masalah, orang pertama yang akan pasang badan itu adalah Papamu.


Dia tidak akan membela jika kalian salah.


Tapi dia juga tidak akan membiarkan kalian dalam masalah."


"Zi,,, Papa bukanlah orang yang gegabah.


Dia tidak akan menerima hal ini sebelum memikirkannya matang-matang.


Cobalah mengerti posisi Papamu, sayang.


Dia tidak mungkin bisa menolak permintaan dari orang sudah banyak membantunya." wanita paruh baya itu berusaha melemparkan senyuman pada si bungsu, mencoba menyakinkan ditengah keraguan.


Tidak ada pilihan lain, selain mendukung niat sang suami. Karena Ia yakin, pilihan suaminya bukanlah hal yang buruk.


Derttt.....Derttt.....Derttt.......


Getar handphone disaku jas nya, menyadarkannya dari lamunan setelah ditinggal sendirian diruang tengah usai pembicaraan tadi oleh kedua orang tuanya.


Ia rogoh benda pipih bersegi empat itu, dengan malas. Tertera di layar yang berkedip-kedip itu, bahwa sang Kakak sulungnya yang tengah menghubungi dirinya.


Ia abaikan panggilan itu, dengan pikiran yang kembali menerawang jauh.



Elzra Nathania Vandeles


Kakak sulungnya yang memang sangat bahagia dengan suaminya, Gerald Davidson.


Seorang dokter spesialis jantung yang kini bekerja di RS ternama di Jakarta.


Serta dikarunia dua orang putra-putri, tampan dan cantik.


__ADS_1




__ADS_2