
"Terserah kakak percaya atau tidak! Tapi aku tidak seperti yang kakak pikirkan!"
"Tidak seperti yang aku pikirkan? Heh, jelas-jelas kamu menolak ajakan ku dengan alasan memiliki janji penting dengan temanmu! Kamu pikir aku bodoh dengan mempercayai bahwa diantara kalian hanya hubungan pertemanan?!"
"Aku menolak ajakan kakak, karna aku memang sudah membuat janji lebih dulu dengan Trya,,," ya, dia memang menolak ajakan Arnold karna dia tidak enak pada Trya yang telah mengajaknya lebih dulu.
"Tapi kenapa kamu tidak mengatakan jika kamu pergi bersamanya? Mengapa harus mengatakan memiliki urusan penting?"
"Maafkan aku kak, karena telah berbohong,,,"
"Ini bukanlah keinginanku, dan juga bukan keinginanmu. Tapi perlu kamu ketahui, apa yang terjadi pada kita kedepannya bukanlah suatu permainan yang dapat diakhiri ataupun dilanjutkan sesuka hati. Kamu bisa berpikir ulang untuk menyetujui melanjutkan hubungan ini, atau menolak memilih mundur.." ujarnya dengan nada yang tidak lagi menyimpan amarah.
"Aku akan tetap melanjutkannya, kak,,,"
"Kamu yakin?" tanyanya yang dijawab anggukan kepala oleh Elzi. "Baiklah, itu tandanya kamu tidak akan bisa mundur lagi. Besok aku harus kembali ke Jakarta. Ada klien penting yang ingin bertemu. Mungkin sebelum aku pergi, ada sesuatu yang kamu inginkan?"
"Tidak ada, kak,,," jawabnya disertai gelengan kepala.
"Maaf, jika tadi aku sudah membuatmu ketakutan."
"Iyah, kak,,, Elzi juga minta maaf udah berbohong dan berlaku tidak sopan sama kak Arnold tadi.."
"Dan aku berharap hal itu tidak terulang lagi."
๐ฆ
๐ฆ
๐ฆ
Vandeles'Corp
__ADS_1
"Saya harap kerja sama kita dapat berjalan dengan lancar, Pak Vandeles.."
"Tentu, Pak Ramond. Saya tidak akan mengecewakan Anda dengan kerja sama kita kali ini.." ujarnya menjabat tangan klien yang akan memberikan keuntungan besar bagi perusahaannya. "Oh iya, istri saya menitip salam untuk istri Anda.." ucapnya mengingat pesan yang disampaikan istrinya tadi pagi. Ya, istrinya dan istri Ramond adalah sahabat semasa kuliah. Dan istrinya telah mendengar, bahwa ia akan menjalin kerjasama lagi bersama Ramond, suami sahabatnya.
"Terimakasih, nanti akan saya sampaikan.. Bagaimana kabar istri, Pak Vandeles?"
"Kabarnya baik.."
"Lalu, bagaimana dengan putri bungsu Anda? Apakah ia sudah menikah?" tanyanya yang memang masih mengingat jika istrinya pernah membicarakan mengenai putri bungsu keluarga Vandeles. Istrinya menginginkan Elzi menjadi menantunya untuk putra mereka yang tahun ini akan menyelesaikan pendidikannya diluar negeri.
"Dia sudah bertunangan, dan dua bulan lagi mereka akan menikah.."
"Sayang sekali,,, padahal Intan sangat menyukai putri bungsu, Anda.."
"Anda terlambat jika baru menanyakannya sekarang, pak Ramond.."
"Hahaha,,, ya Anda benar sekali. Aku sudah terlambat jika menanyakan perihal putri bungsumu... Baiklah, aku harus pergi. Ada hal lain yang juga harus aku selesaikan." ujarnya kembali menjabat tangan rekan kerjanya. Namun sebelum ia membuka pintu, ia kembali menoleh ke belakang. "Oh iya, dua hari yang lalu aku sempat melihat putrimu Elzi, diperebutkan oleh dua orang pria." ujarnya membuat kening Elkan mengkerut bingung.
"Diperebutkan dua orang pria? Apa maksudmu?"
___
___
___
___
___
Jalan raya mulai padat disore hari dikarenakan jam pulang para pekerja kantor. Hal itu terlihat jelas dari bangku taman yang saat ini diduduki oleh seorang pria dan wanita.
__ADS_1
"Masih sakit?" tanya Elzi saat melihat bekas memar diwajah Trya, membiru.
"Udah nggak kok,,," ujarnya berbohong. Padahal hingga saat ini rasa nyeri akibat pukulan Arnold masih terasa walaupun sudah diobati.
"Maaf yah, karena aku,,, kamu dan kak Arnold jadi berkelahi.."
"Loh, kenapa kamu minta maaf? Yang salah itu bukan kamu, tapi laki-laki itu.."
"Tapi tetap ajah,,, wajah kamu nggak akan seperti ini kalo bukan karena aku.."
"Zi, dengerin aku,, aku tuh nggak nyalahin kamu.. Lagian itukan udah berlalu. Kenapa masih diingat?" ujarnya dengan melemparkan senyum tanda ia baik-baik saja.
"Aku takut kamu marah, karena hari ini pun kamu nggak masuk ngajar,,"
"No,,,, what should I be angry? Aku nggak masuk karena aku nggak mau anak-anak lihat wajahku seperti ini. Bukannya kita sebagai guru harus memberikan contoh yang baik untuk murid-muridnya? Lalu jika aku muncul dihadapan mereka dengan wajah yang seperti ini, itu artinya aku tidak memberikan contoh yang baik. Itu sebabnya aku tidak mengajar. Stop blaming yourself Zi,, okay..?" dilihatnya anggukan kecil dari Elzi. Senyum tipis terbit diwajahnya. Ia senang akan perhatian kecil yang diberikan Elzi untuknya. Andai saja wanita 22 tahun itu belum bertunangan, tentu ia akan menjadikannya sebagai kekasih.
"Kamu bahagia akan perjodohan ini?" tanyanya membuat Elzi diam tidak tahu tujuan apa Trya menanyakan hal iniini padanya.
"Maksud kamu?"
"Aku hanya merasa kamu tidak bahagia.."
"Sok tahu, kamu,,"
"Zi,, aku menyayangimu,,," ungkapan itu sukses membuat Elzi mematung. Apakah dia tidak salah dengar? "Jika memang kamu tidak bahagia dengan perjodohan ini, aku akan membantumu terlepas darinya, Zi,,, Aku siap menemui kedua orang tuamu. Tolong, pertimbangkan aku juga.."
"Kamu sedang bercandakan Trya,,,"
"Apa menurutmu aku sedang bercanda? Aku serius, Zi,, aku menyayangimu!"
"Maaf Trya,,, tapi aku tidak bisa menerimamu. Aku telah dijodohkan orang tuaku. Dan dua bulan lagi, aku dan Arnold akan menikah. Seandainya kamu lebih dulu mengatakan hal ini, mungkin aku akan memiliki alasan untuk menolak dijodohkan dengannya.."
__ADS_1
"Kamu dan dia hanya bertunangan, belum menikah.. Aku rasa kamu masih bisa membatalkannya, Zi.."
"Tidak Trya,,, aku tidak mungkin membuat kedua orang tuaku malu. Keluarga Arnold sudah pernah membantu keluargaku. Mungkin hanya dengan ini keluargaku bisa membalas kebaikan keluarga mereka,, maaf Trya.." ujarnya dengan segera meninggalkan tempat itu. Ia tak lagi menghiraukan Trya yang memanggilnya. Ia akui, merasa nyaman didekat pria tampan yang menjadi rekan gurunya itu. Tapi itu salah, karena kini dia sudah menjadi calon istri Arnold.