Dua Insan Yang Berbeda

Dua Insan Yang Berbeda
Keputusan Itu


__ADS_3

Sejak tadi, Ia hanya diam membisu.


Mengawasi murid-muridnya yang tengah mengerjakan tugas pemberiannya beberapa saat yang lalu.


Ya, kini Ia sedang berada di sekolah tempat Ia mengajar. Biasanya Ia memulai aktivitas pengajarannya dengan begitu semangat.


Namun semangat itu tak kunjung datang.


Ia malah semakin memikirkan acara pertunangannya yang diadakan minggu depan.


🌼🌼🌼Flashback On🌼🌼🌼


"Baiklah, saya pun setuju dengan niat baik Pak Markus dan keluarga yang ingin mengikat tali persaudaraan diantara kita. Tapi, semua ini tergantung akan keputusan dari yang bersangkutan,,," ujarnya mencoba menanggapi dengan tenang, niat baik keluarga Ravindra.


Ia menoleh pada putri bungsunya. Meminta jawaban melalui tatapan mata. Berharap, jawaban yang akan didengarnya adalah keputusan yang tepat tanpa mempermalukan dirinya.


"Bagaimana, Zi?" tanyanya lagi saat putrinya tak kunjung menjawab. Ia dapat melihat, bahwa putrinya tidak menyukai perjodohan ini. Tapi, ini sudahlah menjadi keputusan terakhirnya. Ia sudah tua, dan Ia juga tidak memiliki anak laki-laki dalam pernikahannya bersama Shofia.


Ia takut jika sewaktu-waktu, Ia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, namun tanggung jawabnya terhadap putri bungsunya belum terselesaikan.


Jika saja memiliki anak laki-laki, Ia tidak akan menjodohkan putri bungsunya secepat ini. Karena tanggung jawab seorang Ayah yang belum selesai, pasti akan diambil alih oleh anaknya yang laki-laki.


Ia mengenal baik temannya, Markus Ravindra. Itulah mengapa saat Markus mengatakan ingin meminang Elzi untuk putranya Arnold, Ia langsung menyetujuinya.


"Iyah, Pah,,," lirihnya memandang Mamanya yang tengah menggenggam sebelah tangannya seolah menyalurkan kekuatan.


Senyum terbit di masing-masing wajah mereka, mendengar jawaban yang dilontarkannya. Terlebih Mama Nermy. Ia bahagia, sebentar lagi putranya akan menikah, dan pastinya sebentar lagi akan ada pula yang memanggilnya dengan sebutan Oma. Ahh, Ia tidak sabar menanti hari itu tiba.


"Makasih yah, sayang,,, Kamu udah mau menerima perjodohan ini."


"Yeayyy,,,, Aunty bakalan menikah sebentar lagi. Itu artinya, Mercy bakal bisa main kerumah Aunty nanti di Jakarta..." seru si kecil Mercy yang sedari tadi bermain bersama baby Carren.


"Ish, berisik taukk,,,," ketus Noel yang tidak menyukai kehebohan saudara sulungnya itu.


"Wekkk,,,, biarin! Suka-suka Aku dong.." balasnya dengan menjulurkan lidahnya pada adik laki-lakinya.


"Sayang, nggak sopan tau, orang tua lagi ngomong." tegur Elzra, pada kedua anaknya yang memang selalu ribut disetiap saat.

__ADS_1


"Biarkan, Ra,,,, anak-anak memang seperti itu. Tante jadi nggak sabar punya cucu seperti mereka. Pasti akan sangat menyenangkan.." Mama Nermy mencoba menyelamatkan kedua bocah itu dari amukan Ibunya.


"Lalu, kapan pernikahannya akan dilangsungkan?" tanya Papa Markus yang memang sudah memikirkan akan melangsungkan pernikahan putranya dalam waktu dekat jika pihak mempelai wanita tidak keberatan.


"Dua bulan lagi dari sekarang. Menurut saya, itu waktu yang cukup untuk mempersiapkan segala hal, termasuk waktu yang cukup untuk Arnold dan Elzi, saling mengenal sebelum hari pernikahan mereka tiba." keputusan pihak mempelai wanita merupakan keputusan yang tepat menurut mereka. Setidaknya dengan dua bulan itu, mereka dapat mengenali seperti apa pasangan mereka kedepannya.


🌼🌼🌼 Flashback Off🌼🌼🌼


"Bu,,,,," tepukan dipundaknya, menariknya kembali ke dunia nyata. Ia terkejut, melihat Bu Vika berada diruang kelas yang sama, pada jam mengajarnya.


"Ehh, iyah Bu,,, maaf, saya melamun.." lirihnya merasa malu kedapatan melamun pada saat jam pembelajaran. "Ada apa, yah Bu?"


"Jam mengajar Ibu sudah habis.. Dan jam berikutnya adalah, saya.." jawab Bu Vika yang memang sudah menunggu Elzi keluar dari kelas sekitar 10 menit yang lalu. Tapi, rekan gurunya tidak kunjung keluar, itu sebabnya Ia langsung masuk saja.


"Ohh, maaf Bu,,, saya tidak tau jika jam mengajar saya sudah habis.." ujarnya sembari membereskan beberapa bukunya dengan cepat.


"Iyah, Bu,,, tidak apa-apa.."


"Silahkan, Bu. Sekali lagi maaf, sudah menyita jam mengajar Ibu.." Ia merasa malu dihadapan Bu Vika, terlebih dihadapan para murid-muridnya. Bagaimana bisa, Ia melamun tanpa melihat kondisi dimana Ia berada! Hehh, sangat memalukan sebagai seorang guru!


"Bu Elzi,,," tegur seseorang yang Ia kenali sebagai salah satu guru olahraga.



"Iyah, Bu,,, baru aja siap." jawabnya sembari menyeka keringat di dahinya. Ahhh, sangat terlihat tampan😍. "Bu Elzi, nggak ngajar?"


"Oh, baru aja selesai, Pak.." dibalas anggukan kepala oleh guru tampan itu.


"Ibu mau kembali ke kantor?"


"Iyah Pak,,, sambil nunggu jam berikutnya."


"Bu Elzi ada waktu nggak, sabtu malam?" tanyanya ragu-ragu.


"Kenapa yah, Pak?"


"Ohh, nggak,,, saya hanya ingin mengajak Bu Elzi sebagai pasangan pada undangan resepsi teman saya... Itu pun jika Bu Elzi tidak keberatan.."

__ADS_1


"Ummm,,,,"


"Jika memang nggak bisa, juga nggak apa-apa kok, Bu,,,"


"Saya bisa,,," jawabnya cepat. Ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa jalan berdua bersama guru tampan satu ini. Sudah bukan rahasia lagi, jika banyak yang menyukai guru olahraga ini. Selain profesinya sebagai seorang guru, Ia juga merupakan Brand Ambassador, di salah satu perusahaan yang menjadikannya sebagai 'wajah' atau 'ikon' brand tersebut.


"Yakin, Ibu bisa? Apa Ibu tidak ada janji pada saat itu?"


"Iyah, Pak,,, saya bisa menjadi pasangan Bapak nanti diacara resepsi temannya Bapak.."


"Baiklah, kalo gitu jam 6 sore saya akan menjemput Ibu dirumah. Ya sudah, saya permisi duluan yah, Bu. Saya ingin ganti pakaian dulu. Mari Bu Elzi.." pamitnya dengan melemparkan senyum yang begitu menawan.


Andai saja Ia dapat berteriak, pasti Ia akan berteriak kegirangan karena sudah diajak oleh guru tampan yang menjadi idola para guru dan murid disekolah itu.


Dertt....Derttt....Dertttt


Ia pandang layar handphonenya yang bergetar. Alisnya mengkerut melihat panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


"Ya, haloo,,,,"


"Sayang, ini Tante Nermy..."


"Ada apa yah, Tante?" tanyanya bingung.


"Sayang, Tante sudah menghubungi butik langganan Tante, yang akan menyiapkan gaun pernikahan Kamu... Gaunnya akan dibuat sesuai dengan keinginan dan ukuran tubuh Kamu... Kapan Kamu ada waktu untuk ke butik langganan Tante? Tenang ajah, butik langganan Tante dekat kok, dari arah rumah Kamu.. Kamu bisa kesana jika ada waktu senggang. Tapi, lebih baik secepatnya kesana bareng Arnold. Agar gaunnya cepat siap, sayang.."


"Secepat itu, Tante?"


"Loh, memang harus dari sekarang semuanya dipersiapkan, sayang... Agar nanti tidak kerepotan menjelang hari H-nya..."


"Memangnya, Arnold tidak pulang bersama Tante dan Om, hari ini?"


"Katanya, dia ingin mengecek lokasi resort. Makanya dia tidak bisa pulang bersama Tante dan Om hari ini..."


🌼


🌼

__ADS_1


🌼


__ADS_2