
Elzi terkejut, mendengar penuturan Papanya yang berbicara lewat telfon. Ia tak menyangka, bulan depan yang akan menjadi hari pernikahannya malah dipercepat dari waktu yang telah dijanjikan sebelumnya. Ya, dia tahu mengapa Papanya mempercepat hari pernikahannya. Itu karena Papanya telah mendengar rumor yang terjadi seminggu yang lalu. Entah bagaimana bisa Papanya mengetahui hal itu.
"Pah,, yakin hari pernikahannya dipercepat? Kenapa tidak menunggu bulan depan saja?" tanya istrinya yang sedari tadi menguping pembicaraan suaminya lewat telfon. Mereka tak tahu, jika dibalik pintu ada Elzi yang mendengar semua pembicaraan mereka.
"Aku tidak bisa menundanya lagi, Shofia.. Apa kamu lupa dengan pria yang mendatangiku dua hari yang lalu? Dia dengan beraninya menawarkan diri menjadi menantuku. Aku tidak mungkin membiarkan pria itu mendekati Elzi.. Aku takut, Elzi akan berubah pikiran untuk menerima Arnold.." ujarnya mengingat bahwa Trya dengan berani menjumpainya dikantor kala siang itu. Meminta ijin untuk menikahi putrinya yang jelas-jelas sudah bertunangan dan akan menikah.
"Tapi, bagaimana jika Elzi tidak bahagia dengan pernikahannya nanti dengan Arnold, Pah?"
"Kamu membicarakan tentang kebahagiaan putrimu atau membicarakan tentang kebahagiaan mu sendiri, Shofia?!" tanyanya dengan nada yang menyimpan begitu banyak luka. "Aku tahu, bahwa selama ini kamu tidak merasa bahagia menikah denganku!"
"Apa maksudmu, Pah,,,?"
"Cukup Shofia,,, jangan membohongi dirimu sendiri! Aku tau, bahwa sampai saat ini dihatimu masih ada Lukas,,,"
"Kamu salah, Elkan! Kamu salah,,, aku sudah tidak lagi mencintai Lukas! Aku mencintaimu!"
"Benarkah? Apa kamu pikir aku bodoh Shofia? Apa kamu kira aku tidak akan tau, bahwa kamu diam-diam masih menangisinya?" ucapnya sukses membuat wanita paruh baya itu terkejut. Ia tak menyangka, suaminya tau bahwa dia masih menangisi laki-laki yang sampai saat ini kenangannya tak bisa diganti oleh siapapun, termasuk Elkan suaminya.
"Maafkan aku,,," ujarnya lirih tak lagi dapat membendung air matanya. Dia sudah berusaha menerima dan menjaga keharmonisan rumah tangganya selama puluhan tahun bersama Elkan. Tapi tetap saja, cintanya terlalu besar untuk pria yang kini sudah tiada.
Dari balik pintu Elzi dapat mendengar semuanya. Ternyata ia salah menilai papanya. Ia berpikir, bahwa papanya tidak mencintai mamanya, dengan bersikap cuek selama ini. Tapi ternyata, mamanya lah yang memang belum mencintai papanya hingga detik ini karena lelaki, yang ia tidak tahu itu siapa. Lantas, bagaimana mereka bisa tetap bersama hingga detik ini, bahkan mereka memiliki tiga orang putri dalam pernikahannya tanpa dilandasi oleh cinta? Apa ada pernikahan seperti itu? Heh, lebih baik mengakhirinya dari pada terus bersama tanpa cinta yang membuat keduanya merasa tersiksa pikirnya.
Hal ini menyadarkannya, bahwa papanya memang pria setia terhadap suatu hubungan. Bisa saja dia menceraikan mamanya dan memilih menikah dengan wanita yang dicintainya. Tapi hal itu tidak dilakukan oleh papanya.
π¦
π¦
π¦
π¦
Siang itu, Elzi dan Arnold akan melakukan fitting baju. Papanya telah meminta agar Arnold menyempatkan waktu disela kesibukannya untuk datang ke Bandung. Dan sesuai keinginan mertuanya, ia telah sampai dari dua jam yang lalu yang sebelumnya menyerahkan pekerjaan kepada tangan kanannya.
__ADS_1
~Winna Boutique
"Selamat datang Tuan dan Nyonya... Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya bagian resepsionis menyambut kedatangan Arnold dan Elzi sebagai pelanggan di butik itu.
"Saya putra dari Nyonya Nermy Ravindra,,,"
"Ohh, maaf Tuan,, kami tidak mengenali anda.. Mari, saya tunjukkan beberapa gaun yang sudah dipilihkan oleh Nyonya Nermy.." ajaknya pada Elzi dan Arnold. Memang sebelumnya mama Nermy, telah menghubungi pihak butik langganannya, bahwa putra dan calon menantunya akan datang siang itu.
"Kami mempunyai beberapa rekomendasi gaun pengantin yang memang sudah dipilihkan langsung oleh Nyonya Nermy, Tuan,, mungkin Nyonya bisa memilih gaun mana yang akan dikenakan pada saat hari pernikahan tiba nanti,," ujarnya mencoba menunjukkan satu persatu gaun terbaik dibutik mereka.
"Bagaimana dengan yang ini Nyonya?" tunjuknya pada gaun pertama rekomendasi mereka.
"Wahh, cantik sekali.." lirihnya memandang gaun itu dengan mata berbinar.
"Lalu bagaimana dengan gaun lainnya?" tanya Arnold yang tak ingin buru-buru menjatuhkan pilihan pada gaun yang akan dikenakan calon istrinya nanti. Elzi menoleh, memandang kearah Arnold.
"Tapi aku suka yang ini, kak,,, gaunnya cantik.."
"Dua?"
"Ya, pemberkatan dan resepsi. Tidak mungkin kan, jika kamu tetap menggunakan gaun yang sama pada pemberkatan dan resepsi?"
"Ahh,,, kakak benar sekali... Kenapa aku tak berpikir bahwa akan ada acara resepsi?"
"Kamu lupa akan mengadakan resepsi,,, padahal malam itu kamu sudah menghadirinya bersama pria serigala itu.." sindirnya.
"Kak,,, namanya Trya,,, bukan pria serigala.."
"Jika dia bukan serigala, dia tidak akan menemui calon mertuaku dan memintanya membatalkan pernikahan kita.."
"Kakak tau hal itu?"
__ADS_1
"Ya,, Om Elkan sudah menceritakannya padaku. Itu sebabnya, pernikahan kita dipercepat."
"Ternyata Trya serius akan ucapannya.." lirihnya pelan yang masih dapat didengar oleh Arnold.
"Lalu, kamu akan membatalkan pernikahan kita begitu?"
"Ishh, mana mungkin aku bisa membatalkannya... Jika bisa, sudah sejak awal aku akan menolak menikahi pria tua seperti kakak..."
"Pria tua katamu?"
"Ya, kakak kan sebentar lagi akan menginjak usia 30 tahun... Dan itu bukanlah umur yang muda lagi...."
"Kamu,,," tunjuknya dengan wajah memerah geram akibat perkataan Elzi yang mengatainya tua.
"Ekhem,,,, maaf Tuan dan Nyonya,, bisakah kita melanjutkan memilih gaun berikutnya?" ujar sang pelayan butik mencoba melerai cekcok diantara dua tamu langganannya.
"Baiklah,,," ujar mereka berbarengan.
"Nyonya, ini gaun kedua, ketiga dan juga keempat terbaik yang bisa kami berikan sebagai rekomendasi. Mungkin, diantaranya ada yang Nyonya sukai?"
"Ummm,,,,, aku memilih yang pertama dan ketiga saja. Yang pertama akan aku gunakan dihari pemberkatan kami, dan yang ketiga akan aku gunakan diacara resepsi kami.."
"Baiklah, mungkin ada tambahan lagi yang Nyonya inginkan?"
"Tidak, aku rasa itu sudah cukup.."
"Baiklah, Nyonya bisa mencobanya diruang ganti. Dan untuk Tuan, mari,, saya akan menunjukkan beberapa jas yang senada dengan gaun Nyonya.." ujarnya berpindah keruangan yang lain, diikuti oleh Arnold dari belakang. Sedangkan Elzi, mereka tinggalkan untuk mencoba gaunnya dibantu oleh pelayan yang lain.
__ADS_1
Sekitar 25 menit menunggu, akhirnya Elzi keluar dengan gaun pilihan pertamanya. Arnold terpana, untuk beberapa detik memandang perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Cantik dan manis, itu yang ingin ia berikan sebagai pujian untuk penampilan Elzi, tapi diurungkannya yang tiba-tiba mendapat telfon penting dari tangan kanannya.
"Dia tidak mau memuji penampilanku,,, dia malah pergi begitu saja..." lirihnya.