
Setelah merasa dandanannya siap, Ia bergegas turun menemui seseorang yang sudah membuat janji dengannya.
"Selamat malam, Pak Trya..." sapanya pada pria yang duduk pada sofa tunggal diruang tamu. Yang disapa pun menoleh, terpana melihat wanita cantik berdiri dihadapannya. Ia simpan kembali handphonenya yang sengaja Ia gunakan demi menyibukkan diri, sembari menunggu perempuan yang akan menjadi pasangannya di acara resepsi pernikahan temannya malam ini.
"Kamu cantik sekali, Zi.." pujinya tulus membuat wajah wanita itu memerah malu bak kepiting rebus. Ia sengaja berdandan lebih malam ini, agar terlihat cantik dihadapan pria tampan yang menjadi rekan gurunya.
"Terimakasih..." lirihnya malu-malu. Pria itu terkekeh geli melihat tingkah gemas dari wanita tersebut. Tak dapat Ia pungkiri, bahwa Ia telah jatuh pada pesona Elzi dipertemuan pertama mereka. Wanita itu mampu mencuri perhatiannya sejauh ini. Mungkin, jika saja dia memiliki keberanian yang besar, Ia pasti akan mengutarakan isi hatinya pada Elzi saat ini. Tapi Ia akan mencoba menahannya, sebelum benar-benar memastikan bahwa Elzi pun memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Kita berangkat sekarang?" yang dibalas anggukan kepala dari wanita cantik itu.
"Baiklah, ayo,,, nanti keburu malam sampai disana. Tapi tunggu, orang tua kamu dimana?"
"Memangnya kenapa nanya Mama dan Papa?"
"Ya,,, aku mau minta ijin buat nyulik anak gadisnya yang manis ini,,,"
"Gombal,,,,"
"Tapi manis kan,,, heheh"
"Huh! Mama itu ikut Papa ke acara koleganya. Pak Trya tenang ajah, saya sudah minta ijin kok, sebelum keluar."
"Kita sedang tidak berada dilingkungan sekolah, Zi,,,, jadi stop panggil aku bapak. Memangnya aku keliatan setua itu yah?
"Baiklah, Trya...."
"Nah, gitu dong. Ya sudah, ayo.."
πΌ
πΌ
πΌ
πΌ
Gedung acara yang dipilih terlihat begitu mewah nan elegan. Jamuan yang dihidangkan pun, mampu menggugah selera wanita bergaun merah itu. Ia melangkah mendekati meja yang menyajikan gelato sebagai salah satu dessert, kesukaannya.
__ADS_1
"Pasti enak,,,,"
Hampir saja ia menjatuhkan sendok, saat mendengar suara familiar itu. Ia tersadar sudah terlalu fokus terhadap ice cream gelatonya, tanpa menyadari bahwa Trya sejak tadi sudah berada dibelakangnya.
"Makannya sampai belepotan gitu,,," ejeknya sembari mengelap sudut bibir Elzi menggunakan tissue yang memang sudah disediakan. "Pelan-pelan ajah, nggak bakal ada kok yang ngerebut ice cream, kamu.."
"Abisnya, enak..."
"Apa sih, yang menurut kamu nggak enak.." ia terkekeh mengingat bahwa wanita yang menjadi pujaan hatinya saat ini memang sangat menyukai dessert gelato. Ia selalu mendapati Elzi menikmati dessert itu dikala jam istirahat tiba, setelah memesannya melalui aplikasi grab. Perempuan itu tersenyum malu, ketahuan menyukai jenis makanan yang manis-manis.
"Selamat malam,,,, nona Elzi Feodora Vandeles..." sapa suara berat itu menghentikan obrolan mereka. Ia terkejut, menyadari bahwa yang ada dibelakangnya ialah pria yang akan menjadi suaminya dua bulan lagi.
"Kak Arnold,,,,?" tunjuknya pada pria yang kini sudah berada didekatnya.
"Heyy,,,, apa seperti itu caramu menyambut calon suamimu, nona?" serunya geram pada calon istrinya. Dari kejauhan tadi, ia dapat melihat bahwa calon istrinya itu dapat tersenyum ramah pada laki-laki yang tidak ia kenal memiliki hubungan apa dengan calon istrinya. Tapi saat mereka bertemu, bukannya menjawab sapa atau mempersilahkan calon suaminya duduk, ia malah mengacungkan jarinya dengan nada seperti itu.
"Zi,,, kalian saling mengenal?" tanya Trya yang memang tidak mengenal siapa pria yang berada dihadapan mereka.
"Dia,,,,"
Deg
Guru tampan itu terkejut. Ia tak percaya, Elzi sudah bertunangan. Pupus sudah harapannya. Ibarat bunga yang layu sebelum berkembang. Ia melirik jari manis Elzi, dan ternyata benar. Cincin itu sama persis seperti yang dikenakan pria itu dijari manisnya. Tapi kenapa ia tidak tahu akan hal ini? Kapan wanita itu bertunangan? Mengapa ia tidak mencari informasi dulu sebelum mengajak Elzi pergi yang jelas-jelas sudah menjadi tunangan orang? Heh,, bodoh sekali dirinya!
"Kakak apa-apaan sih,,,,"
"Loh, memang benarkan,,, jika aku calon suami kamu! Ingat, dua bulan lagi kita akan menikah! Apa masih pantas, kamu jalan berdua dengan lelaki yang bukan siapa-siapamu?!"
"Kita ini hanya rekan guru!"
"Ohhhh,,,, rekan guru yah? Tapi, mengapa hubungan diantara kalian tidak menunjukkan bahwa kalian hanya sebatas rekan guru?!"
"Mau kakak tuh, apa sih?"
"Ayo, pulang,,,,"
"Lepasin Kak,,,, aku belum mau pulang!" ia mencoba melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh Arnold. Trya yang melihat Elzi kesakitan pun, merasa tidak terima.
__ADS_1
Bugh.....
"Trya, apa yang kamu lakukan?" Elzi terkejut melihat Arnold, calon suaminya terduduk jatuh dilantai akibat pukulan dari Trya. Arnold segera berdiri membalas perbuatan rivalnya itu.
Bugh....
Bugh....
Bugh....
Tiga pukulan dahsyat itu tak dapat dihindari oleh Trya. Semua yang berada dipesta itu terkejut melihat adanya keributan yang terjadi.
"Sudah, Kak,,,, cukup,,,, jangan sakiti Trya,,," ujar calon istrinya berderai air mata. Ia menundukkan tubuhnya, mencoba membantu rekan gurunya itu untuk berdiri. Tapi sebelum tangannya menggapai tubuh Trya, ia sudah ditarik kembali berdiri, oleh Arnold.
"Ayo pulang,,,," ujarnya dengan tatapan mata yang tajam. Ia malu, sudah membuat kekacauan di acara salah satu rekan kerjanya.
"Tapi,,,, Kak,,,, biarkan aku membantu Trya dulu,,," lirihnya sesenggukan memandang iba pada pria spesial dihatinya. Wajah itu lebam, dengan darah yang masih saja keluar. Ingin mengobatinya, namu tak bisa. Calon suaminya tengah dilanda kemarahan yang besar. Ia juga tak ingin hal ini sampai terdengar oleh kedua orang tuanya.
"Lepaskan dia! Biarkan aku yang mengantarkannya pulang. Aku yang membawanya kemari, dan aku juga yang harus mengembalikannya,,,"
"Tidak perlu! Saya masih bisa mengantar calon istri saya pulang dengan selamat! Lebih baik Anda segera mengobati luka Anda, sebelum lukanya membekas!" ia kembali menarik lengan Elzi, meninggalkan tempat itu. "Dan satu lagi, jangan pernah mencoba untuk mendekati dan menyukai calon istri saya! Seharusnya Anda berpikir dulu, resiko apa yang akan terjadi, sebelum mengajak pergi calon istri orang!"
π
π
π
π
Arnold masih dapat mendengar senggukan tangis calon istrinya. Ia sadar, telah melukai wanita manis itu. Tapi ia juga tidak rela calon istrinya didekati pria lain.
"Ini yang katanya urusan penting?" hening, tak ada jawaban yang diterimanya. Wanita itu masih setia menangisi pria yang tertinggal dipesta tadi. "Heh, segitu berartinya kah dia sampai kamu masih menangis? Jawab, Zi!!"
"Dia hanya teman aku, kak,,,"
"Teman mana yang begitu perhatiannya hingga berani menyentuh calon istri orang lain? Jangan kamu pikir aku tidak tau apa yang sudah dilakukan pria tadi!"
"Dia hanya membersihkan sisa ice cream diwajahku, kak,,,"
__ADS_1
"Dan kamu pikir aku akan percaya saja?!"