Dua Insan Yang Berbeda

Dua Insan Yang Berbeda
Janji Suci Elzi Dan Arnold


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari dimana dua insan yang berbeda itu akan dipersatukan Tuhan dalam ikatan sakral sebuah pernikahan.


"Mercy,,," panggil Gerald, suami Elzra, kakak pertama Elzi.


"Ya, Pah,,,"


"Sayang, daritadi Papa cariin ternyata kamu disini?" tanyanya pada putri pertamanya.


"Ya Pah,, Mercy tuh dari tadi disini... Gimana Pah, menurut Papah,,, Mercy udah cantik blom?" tanyanya dengan memutar badannya agar sang papa dapat menilai gaun indah yang dikenakannya.



"Cantik,,, anak Papa pasti akan selalu cantik.." jawabnya membuat putrinya bahagia.


"Jelek,,," sahut seseorang dibalik pintu. Ayah dan anak itupun menoleh, melihat siapa yang hendak masuk.


"Noel apaan, sih! Bilang ajah kamu iri!" pekiknya pada adiknya yang membuat mood nya buruk seketika.


"Iri? Memangnya kamu sudah terlihat cantik?"


"Pah,,, lihat Noel,,, dia meledek Mercy.." adunya pada sang papa.


"Sudah-sudah, kalian ini selalu saja bertengkar.. Boy, kenapa kamu belum siap-siap? Sebentar lagi kita akan berangkat ke acaranya Aunty Elzi.." Gerald bingung, mengapa putranya belum bersiap-siap, padahal mereka akan berangkat sebentar lagi.



"Noel dari tadi nyariin Mama, Pah,, tapi nggak ketemu.." jawabnya yang memang masih menggunakan setelan baju tidurnya.


"Yasudah, ayo ikut Papah.. Mungkin Mama lagi bersama Aunty Elzi.." ajaknya pada putra tampannya itu.


☃️


☃️



☃️


~Pemberkatan Pernikahan


Saat ini Arnold tengah berdiri diatas altar, menunggu seseorang yang akan masuk melalui pinta utama Gereja itu. Tiba-tiba ia teringat akan sosok yang seharusnya menjadi pasangannya sejak dua tahun lalu. Tapi takdir berkata lain, mereka tak berjodoh. Perempuan itu lebih memilih sahabatnya dibandingkan dirinya. Ia tersadar dari lamunannya, ketika pintu terbuka bersamaan dengan pengantinnya tiba bergandengan tangan dengan Papa mertuanya.

__ADS_1


"Saat paling bahagia dalam hidup saya, adalah melihatnya lahir. Karena saya menjadi orang pertama yang memilikinya, memeluk, mencium, serta menjadi cinta pertama baginya. Tapi hari ini, dia akan memilih cinta yang lain. Arnold,,, saya menyerahkan Elzi sebagai pendamping hidupmu. Jadikan dia istri dan ratu dalam hidupmu. Bahagiakan dia dan jangan pernah menyakiti dan membuatnya bersedih. Jika suatu hari nanti kamu sudah tidak bisa mencintai dan membahagiakannya, jangan katakan itu kepadanya. Tapi katakan hal itu kepadaku. Karena aku akan datang dan membawanya pulang saat itu juga.." ungkapnya tanpa bisa membendung air matanya. Elzi melepas tangannya dari genggaman Arnold, saat Papanya menyerahkannya sebagai tanggung jawab Arnold yang baru. Ia memeluk erat Papanya dengan isak tangis. Keluarga, kerabat, serta tamu undangan yang menyaksikan hal itupun merasa terharu. Memang benar, hal yang paling berat bagi seorang Ayah adalah melepas putrinya menikah bersama pria lain.


"Mempelai pria, ucapkan janjimu dihadapan Tuhan, dan dihadapan seluruh saksi.." ujar Pendeta tersebut mempersilahkan Arnold mengucapkan janjinya.


"𝐸𝑙𝑧𝑖𝑟𝑎 𝐹𝑒𝑜𝑑𝑜𝑟𝑎 𝑉𝑎𝑛𝑑𝑒𝑙𝑒𝑠, 𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖𝑘𝑢, 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑠𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝑗𝑢𝑔𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑔𝑎 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑚𝑎-𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛𝑦𝑎. 𝑃𝑎𝑑𝑎 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑠𝑢𝑠𝑎ℎ 𝑚𝑎𝑢𝑝𝑢𝑛 𝑠𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔, 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑘𝑒𝑙𝑖𝑚𝑝𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑢𝑝𝑢𝑛 𝑘𝑒𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛, 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡 𝑚𝑎𝑢𝑝𝑢𝑛 𝑠𝑎𝑘𝑖𝑡. 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑠𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑠𝑖ℎ𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎𝑖, 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑢𝑡 𝑚𝑒𝑚𝑖𝑠𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑖𝑡𝑎, 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 ℎ𝑢𝑘𝑢𝑚 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑢𝑑𝑢𝑠, 𝑑𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑛𝑗𝑖 𝑠𝑒𝑡𝑖𝑎𝑘𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑙𝑢𝑠.." ucapnya dengan lantang.


"Mempelai wanita, ucapkan janjimu dihapan Tuhan, dan dihadapan seluruh saksi.."


"𝐴𝑟𝑛𝑜𝑙𝑑 𝑅𝑎𝑣𝑖𝑛𝑑𝑟𝑎, 𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑢 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑠𝑢𝑎𝑚𝑖, 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑠𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝑗𝑢𝑔𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑔𝑎 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑚𝑎-𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛𝑦𝑎. 𝑃𝑎𝑑𝑎 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑠𝑢𝑠𝑎ℎ 𝑚𝑎𝑢𝑝𝑢𝑛 𝑠𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔, 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑘𝑒𝑙𝑖𝑚𝑝𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑢𝑝𝑢𝑛 𝑘𝑒𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛, 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡 𝑚𝑎𝑢𝑝𝑢𝑛 𝑠𝑎𝑘𝑖𝑡. 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑠𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑠𝑖ℎ𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎𝑖, 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑢𝑡 𝑚𝑒𝑚𝑖𝑠𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑖𝑡𝑎, 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 ℎ𝑢𝑘𝑢𝑚 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑢𝑑𝑢𝑠, 𝑑𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑛𝑗𝑖 𝑠𝑒𝑡𝑖𝑎𝑘𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑙𝑢𝑠..."


"Silahkan mempelai pria memasangkan cincin dijari manis mempelai wanitanya. Dan begitu pula sebaliknya.." ujar Pendeta yang dilaksanakan oleh Elzi dan Arnold. Setelahnya, Arnorl dipersilahkan mencium kening Elzi, yang disambut oleh tepuk tangan seluruh para saksi yang menyaksikan janji suci pernikahan mereka berdua.


___


___


___


___


___


Dan setelah pemberkatan pernikahan yang dilaksanakan siang tadi, kini Arnold dan Elzi menggelar acara resepsi mereka disalah satu hotel dengan mewah nan elegan, sesuai keinginan Elzi.


"Zi,,,,"


"Gitu banget sih, kamu Zi... Kamu nggak ngasih tau aku..."


"Surprise dong... Hehe.. Oiya, nantinya kan kita juga bakal makin dekat di Jakarta.."


"Janji yah,, kamu harus ngasih tau aku kenapa kamu bisa nikah secepatnya ini.."


"Iyah, janji... Oiya, kenalin ini kak Arnold.."


"Tika,,,"


"Arnold,,,"


"Selamat yah, kalian udah sah jadi suami istri. Ya udah, aku kesana dulu yah laper soalnya.." ujar sahabatnya itu menunjuk salah satu hidangan.


"Kebiasaan deh, Tik..."

__ADS_1


"Biarin,,, hehe"


"Bu Elzi,,,"


"Eh, Bu Vika,,, anak-anak..." sapanya pada rekan guru dan murid-muridnya yang menyempatkan hadir di acara resepsinya.


"Selamat menempuh hidup baru yah, Bu.." ujar rekan gurunya itu menyodorkan kado.


"Terima kasih, Bu..."


"Bu Elzi, cantik..." puji salah satu siswinya


"Terima kasih, Melly.. Kamu juga cantik malam ini.. Silahkan Bu, anak-anak,, dinikmati hidangan yang disediakan.." ujarnya mempersilahkan tamunya menyicipi hidangan.


"Capek?" tanya Arnold yang melihat wajah lelah Elzi. Ia dapat melihat, bagaimana tersiksanya Elzi dengan high heels tingginya, ditambah lagi dengan gaun beratnya.


"Ummm..." jawabnya dengan anggukan kepala.


"Ya sudah, ayo istirahat dulu.."


"Tapi pestanya masih belum siap kak,,,"


"Kamu sudah lelah, Zi. Lagian para tamu undangan juga akan paham dengan kondisi pengantin yang juga butuh istirahat.. Ayo, jangan membantah, aku akan memberitahukan Mama dan Papa nantinya.." ajaknya yang dituruti oleh Elzi.


"Zi,,,," panggil seseorang yang dapat dikenali Elzi dari suaranya.


"Trya.." sahutnya pada laki-laki yang terlihat tidak bersemangat dan terlihat lebih kurus dari biasanya.


"Selamat yah.." ujarnya menyodorkan kado sebagai hadiah pernikahan wanita pujaannya itu. Ia sadar, tidak akan bisa disetarakan dengan Arnold. Pantas saja, Papanya Elzi menolaknya saat ia sudah melihat seberapa sukses dan kaya suami Elzi.


"Try,, kamu kenapa?"


"Maaf, sepertinya kami harus pergi. Terimakasih untuk hadiahnya.." sahut Arnold yang tidak suka melihat interaksi antara istrinya dan laki-laki itu. "Ayo Zi,,," ujarnya kembali menarik tangan Elzi.


"Tunggu, bisakah kami berbicara sebentar saja?" seru Trya mencoba meminta ijin pada Arnold.


"Maaf, tapi aku bukanlah pria berbaik hati yang mengijinkan istrinya berbicara berdua dengan lelaki lain!"


"Hanya sebentar saja, aku janji tidak akan lama.."


"Kak, aku mohon.. Ijinkan aku berbicara sebentar saja dengan Trya.." lirih Elzi yang tidak tega menolak permintaan Trya yang ingin berbicara sebentar dengannya.

__ADS_1


"Katakan disini saja! Tidak perlu berdua dulu baru bisa membicarakannya! Aku tidak ingin kalian dilihat orang lain dan membuat kesalahpahaman dihari pertama pernikahan kami!" ucapnya tegas.


__ADS_2