Dua Insan Yang Berbeda

Dua Insan Yang Berbeda
Dia sama seperti Papa, Cuek!


__ADS_3

"Ohhh, jadi mbak juga suka dengan bakso beranak?" tanya Mama Nermy, begitu antusias setelah Ia mengetahui akan memiliki besan yang cocok dengan seleranya dari segi shopping, wisata, hingga kuliner.


(𝐻𝑒𝑦𝑦𝑦,,, π‘€π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘†β„Žπ‘œπ‘“π‘–π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘› π‘€π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘šπ‘¦.


π΅π‘’π‘˜π‘Žπ‘› β„Žπ‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘™π‘–π‘Žπ‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘’π‘Ž π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘’π‘˜π‘Ž.


π΄π‘’π‘‘β„Žπ‘œπ‘Ÿπ‘›π‘¦π‘Ž π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘ π‘’π‘˜π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘’π‘˜π‘˜π‘˜π‘˜....🀀🀭)


Anggukan kepala dari Mama Shofia, sudah dapat menjawab pertanyaan dari Mama Nermy.


Karena merasa memiliki selera yang hampir sama semua, lantas kedua wanita paruh baya tersebut tertawa saat semua mata memandang kearah mereka.


"Mah, coba panggilkan Elzi. Kenapa dari tadi dia belum muncul juga?" bisik sang suami ditelinga istrinya. Ia takut, jika sang anak membuatnya malu di hadapan tamunya.


"Sabar, Pah.... Mung" ucapan Mama Shofia mengambang di udara. Saat orang yang baru saja diperbincangkan, kini datang dengan menuruni anak tangga.



Pandangan semua orang tertuju pada seorang perempuan muda yang semakin mendekat kearah mereka. Cantik, itulah penilaian mereka terhadap perempuan yang memakai gaun hitam panjang yang terlihat sopan. Jangan lupakan riasan make-up tipis pada wajahnya, yang semakin membuatnya terlihat cantik dan lebih dewasa dari usianya.


"Malam Om, Tante...." sapanya dengan ramah, sembari menyalim tangan calon mertua, saat Ia tiba dihadapan mereka semua.


"Wahh, mbak.... Ini beneran Elzi?"


"Benar Mbak, itu Elzi putri bungsu kami."


"Kamu cantik sekali, sayang.." puji Mama Nermy dengan tulus. Ia bangga akan memiliki calon mantu yang cantik. Sebab, Ia dapat memamerkan sang calon menantu dihadapan para teman-teman sosialitanya, nanti.


"Makasih,,,, Tante juga terlihat cantik malam ini" ujarnya dengan tidak kalah memuji calon mertua.


" Kenalin, sayang..... Ini suami, Tante. Dan yang ini Arnold, putra Tante." ucapnya memperkenalkan suami dan anaknya dihadapan calon menantu.



Ia melirik laki-laki yang saat ini berdiri disebelah Mama Nermy. Tampan, itu yang ada dibenaknya. Tak ingin ketahuan tengah memperhatikan, dengan segera Ia sodorkan tangannya sebagai tanda perkenalan.


"Elzi.." sapanya, sembari tersenyum ramah pada pria bertubuh tinggi itu.


"Arnold.." balasnya dingin tanpa senyuman.

__ADS_1


"Ar,,,, senyum dong. Kamu kaku banget sih, kenalan sama Elzi." bisik Mamanya yang dapat melihat wajah sang putra biasa saja menanggapi calonnya.


Hehh, Ia bingung. Apakah putranya sama sekali tidak tertarik pada wanita?


Hingga Ia tidak dapat bersikap ramah di depan calon istrinya?


"Ummm,,,, mbak, mas dan nak Arnold, bagaimana jika kita makan malam dulu. Nanti kita dapat melanjutkan obrolan ini sehabis makan." potong Mama Shofia mengingat waktu sudah menunjukkan jam makan malam.


"Ya ampun, mbak.... Harusnya gak perlu repot-repot. Jadi gak enak." ujar Mama Nermy yang merasa sangat di jamu oleh calon keluarga besan.


"Tidak repot kok, mbak... Tadi saya juga dibantu sama anak-anak."


"Wahh, beruntung sekali mbak Shofia memiliki putri-putri yang cantik serta rajin membantu." ujarnya merasa iri dengan kebahagiaan yang didapatkan oleh calon besannya. Dulunya Ia berharap akan memiliki anak perempuan yang dapat membantunya mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi sayangnya, Ia hanya bisa mendapatkan seorang anak laki-laki saja. Karena pada saat putranya lahir, Ia diharuskan menggangkat rahimnya, di karenakan penyakit yang di idapnya saat itu.


🌺


🌺


🌺


🌺


🌺


🌺


🌺


"Jadi, Kamu sekarang masih ngajar?" tanya Markus, Papanya Arnold.


"Iyah, Om."


"Nanti, jika Kamu sudah menikah dengan Arnold, Kamu tidak perlu lagi repot-repot mengajar. Ya kan, Pah.." seru Mama Nermy, dengan dijawab anggukan kepala oleh sang suami.


"Aunty bakal menikah?" tanya Mercy penasaran akan ucapan yang baru saja didengarnya dari wanita paruh baya, yang dipanggilnya Oma saat perkenalan pertama tadi.


"Iyah, sayang.. Aunty, Kamu akan menikah dengan Uncle Arnold, anaknya Oma..." jawabnya antusias pada pertanyaan bocah yang berusia lebih 5 tahun itu.


"Terus, kalo Aunty udah nikah, Aunty bakal disini terus kan,,?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Ya enggaklah, Mercy! Aunty Zi, itu akan ikut dengan suaminya. Seperti Mama yang ikut Papa!" ketus Noel, pada saudara perempuannya yang lebih tua 7 bulan darinya.


Ya, usia Noel dan Mercy hanya terpaut 7 bulan.


Saat itu Elzra tidak menyangka akan kembali mengandung saat Ia baru saja melahirkan Mercy, putri pertamanya.


"Yahh,,, kalo Aunty Zi pergi, yang bakal jagain Oma dan Opa disini, siapa dong?" tanyanya polos, membuat mereka semua yang mendengar sedikit tersentuh, akan kepedulian gadis kecil ini terhadap Oma dan Opanya.


Hal itu langsung menyentuh ulu hati Elzra, Elviz, dan juga Elzi. Mengingat, bahwa mereka berdua telah menikah dan membangun rumah tangga masing-masing.


Tak terasa, adik bungsu yang mereka tinggalkan untuk menemani kedua orang tuanya saat menerima pinangan dari laki-laki yang menjanjikan kebahagiaan untuk mereka, juga sebentar lagi akan ikut menyusul dalam membina rumah tangga.


"Ekhemmm,,,, Mercy, kok ngomongnya gitu sih? Oma dan Opa kan, juga bisa mengunjungi kalian nantinya. Memangnya, Mercy tidak mau dapat adik lagi, selain Carren?" ujar Mama Shofia berusaha mencairkan suasana sedih yang tanpa sengaja diciptakan oleh cucunya itu


"Iyah, lagian kan Aunty Elzi dan Uncle Arnold akan lebih dekat dengan Mercy dan Noel nantinya di Jakarta. Jadi lebih mudah bertemu jika Mercy ingin bermain dengan Aunty Elzi. Apalagi jika nanti, Uncle dan Aunty punya baby yang lucu seperti Carren.." seru Mama Nermy dengan mata berbinar, membayangkan sebentar lagi Ia akan menimang cucu dari putra tunggalnya itu.


"Mau,,, mau,,,, Mercy mau punya adik baby yang banyak. Yang lucu kayak Carren. Biar nanti, bisa diajak main..." serunya mengiyakan ucapan Oma Nermy. Pun sukses membuat wajah Elzi memerah malu. Betapa tidak, sang calon mertua dengan spontan nya mengatakan hal itu dihadapan anak kecil.


Berbeda dengan Arnold, si pria cuek itu.


Cuek? Tentu saja!


Sejak tadi, dapat dihitung entah sudah berapa kali Ia berbicara.


Tidak sedikit pun Ia mencoba menanggapi hal-hal yang diperbincangkan oleh dua keluarga itu. Ia hanya diam, sibuk menyimak.


Menyimak? Benarkah? Sepertinya tidak!


Sebab kini pikirannya melayang entah kemana.


Hanya raganya lah yang tertinggal dan diam diantara mereka.


Entah apa yang sedang Ia pikirkan.


Author pun, tidak dapat menebaknya 🀭


"Lalu, apakah nak Arnold sudah mendapatkan tempat yang cocok untuk dijadikan resort?" tanya Papa Elkan, memulai perbincangan terhadap calon menantunya.


"Sudah, Om. Rencananya, resort itu akan dibangun disekitar Cisarua, Lembang-Bandung."

__ADS_1


"Loh, bukannya area itu pertengahan hutan yah?" tanya Elviz sedikit mengingat bahwa tempat itu dulunya merupakan tempat mereka camping semasa kegiatan organisasi kampus.


"Ya, dan tim kerja kita memilih tempat tersebut untuk dijadikan resort." ujarnya.


__ADS_2