Dua Insan Yang Berbeda

Dua Insan Yang Berbeda
Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

Dua hari berlalu dengan begitu cepat.


Tak terasa, hari ini adalah hari dimana pertemuan dua keluarga yang telah direncanakan, akan bertemu.


Semua hidangan telah tertata dan disusun rapi diatas meja makan oleh sang Nyonya rumah, demi menyambut serta memberikan kesan sopan sekaligus terbaik pada calon besan.


Huffttttttf,,,,,,, Besan???


Yang benar saja!!.


"Cieee, yang bakal ketemu calon jodohnya..." goda Elviz Joanna Vandeles, Kakak keduanya, istri dari Carlos Bramantyo. Seorang Pilot maskapai penerbangan utama Citilink, Ngurah Rai International Airport.




(Carlos Bramantyo)


"Iyah tuh, keliatan banget dia ga sabaran.


Tapi ngomong-ngomong, calon Kamu tampan gak, Zi?" tanya si sulung, yang merasa penasaran akan sosok yang dipilih sang Papa untuk adiknya yang bungsu.


"Gak tau..." jawabnya singkat, sembari ikut membantu merapikan hidangan yang disajikan.


"Loh, kok Kamu gak tau sih, Zi?


Emang Papa gak ada ngasih Kamu foto, gitu?"


"Boro-boro fotonya, namanya ajah Aku gak tau Kak..." kembali dijawabnya dengan nada dan ekspresi yang biasa saja.


Lain hal dengan kedua Kakaknya, mereka merasa adiknya terlalu pasrah akan perjodohan yang sudah ditentukan oleh kepala keluarga.


"Harusnya Kamu itu nanya Zi, jangan diam ajah!


Emang Kamu mau, dijodohkan dengan laki-laki yang usianya mungkin ajah, lebih tua dari usia kami berdua? Atau lebih parahnya lagi, lebih tua dari usianya Papa?!" Elviz pun, mulai merecoki adik bungsunya. Betapa tidak, Ia merasa kesal dengan adiknya yang terlihat pasrah tanpa mau mengeluarkan pendapat yang sebenarnya akan perjodohan ini.


"Husst, Kamu kalo ngomong yang bener aja, Viz. Gak mungkinlah Papa memilih pria yang sudah tua untuk anaknya, apalagi ini untuk putri bungsu yang sangat disayanginya." ujar si sulung mengingat bahwa sang Papa, tidak akan sembarangan memilih pria yang akan Ia terima sebagai calon menantu.


"Ya kan, Aku cuman nebak ajah Kak."


"Zi, sekarang Kamu siap-siap sayang.

__ADS_1


Sebentar lagi keluarganya Pak Ravindra akan tiba. Biar ini jadi urusannya Mama dan Kakak-kakak, Kamu." lerai sang Mama, yang tiba-tiba datang dari arah dapur. Ia tidak ingin anak-anak tertuanya merecoki pikiran si bungsu yang akan berpengaruh pada perjodohan nanti.


Sejak tadi Ia memang mendengar banyak obrolan Kakak-beradik itu. Ingin menegur, tapi tidak mungkin. Pertanyaan yang dilontarkan putri-putri tertuanya, ada benarnya.


Bagaimana mungkin, putrinya dijodohkan pada pria yang sama sekali tidak pernah bertemu dan saling bertukar sapa?.


Jangankan untuk hal itu, sekedar nama saja, Ia bahkan tidak tahu, apalagi putrinya yang akan dijodohkan? Heh, sangat lucu pikirnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kegaduhan yang terjadi dikediaman keluarga Vandeles itu, terdengar begitu ricuh.


Suara tangis baby dan suara teriakan anak kecil itu sangatlah, memekakkan telinga.


Betapa tidak, putra dan putrinya Elzra tengah berebut ingin memangku serta mencoba menyuapi si kecil Carren Quenby Bramantyo, putri pertama dari Elviz dan Carlos.



"Mercy, Noel, sudah cukup.


Apa kalian tidak kasihan pada Carren?


Namun, bukan Pricilla Mercy Davidson dan George Noel Davidson, namanya jika tidak berbuat ulah.


Tapi saat mendengar suara berat itu, mereka pun berhenti mengganggu si kecil Carren.


Ya, empunya suara itu adalah sang pemilik rumah. Ia baru saja kembali dari ruang kerjanya setelah membereskan beberapa hal.


Dan kini, Ia tengah ikut bergabung bersama keluarganya sembari menunggu tamunya tiba.


Dua bocah yang tadinya berbuat gaduh, kini diam dan tak berani bersuara setelah ditegur oleh sang Kakek.


"Bagaimana perjalanan kalian tadi siang, Viz?


Apakah cucuku yang cantik ini, rewel?" tanyanya lembut, sembari mencubit pelan pipi chubby si kecil Carren.


"Lancar, Pah.....


Carren juga tidak begitu rewel setelah sampai di pesawat. Padahal tadinya, tidak mau lepas dari Papanya." ujarnya dengan telaten menyuapi sang buah hati.


"Bagaimana dengan Carlos?"

__ADS_1


"Kabarnya baik, Pah... Pekerjaannya juga lancar. Dan sebelum kesini, dia titip salam serta hadiah untuk Mama dan Papa. Hadiahnya mungkin sudah disimpan Mama."


Ia hanya menganggukkan kepala. Tidak terlalu memikirkan hadiah yang diberikan oleh menantu keduanya. Karena Ia yakin, hadiahnya tak berbeda jauh dari hadiah yang disodorkan putri sulungnya tadi pagi.


Titt....Titt....Titt......


Klakson mobil itu menghentikan obrolan mereka. Dan sudah bisa ditebak, siapa yang datang. Dengan merapikan sedikit pakaiannya, Nyonya rumah pun bergegas keluar demi menyambut kedatangan tamu mereka.


Dengan diikuti oleh anggota keluarga lain dibelakangnya, yang penasaran ingin melihat seperti apa calon besan yang hangat-hangatnya diperbincangkan.


"Selamat malam, mbak Shofia, mas Elkan." sapa pria dan wanita paruh baya yang diyakini akan menjadi calon mertua adik bungsu mereka, nantinya.


"Selamat malam juga, mbak Nermy, mas Markus. Ayo, mari masuk." ajak tuan rumah dengan ramah pada tamunya.


"Loh, kok cuman Tante dan Om saja?


Anaknya mana?" tanya Elzra yang memang belum melihat orang lain, selain pasangan suami istri itu.


"Ohhhh, anak Tante masih ada didalam mobil.


Dia masih harus membereskan sedikit masalah yang terjadi di Jakarta. Sebentar lagi dia juga bakal masuk kok. Tapi maaf yah mbak, anak kami jadi terlihat tidak sopan, tidak ikut turun bersama kami."


"Iyah, tidak apa-apa mbak, tenang saja. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya dulu. Jika sudah, toh dia juga akan ikut menyusul kedalam." ujar Mama Shofia, mencoba menenangkan calon besan ditengah rasa tidak mengenakan dipertemuan pertama keluarga itu.


Jika kedua keluarga itu tengah asyik bertukar cerita dengan topik pembicaraan masing-masing, berbeda halnya dengan pria yang kini sudah menginjakkan kaki masuk kedalam rumah. Tadinya Ia berpikir akan lama menyelesaikan masalah yang terjadi di perusahaannya. Tapi dugaannya salah. Tidak sampai 30 menit, masalah itu kelar dengan bantuan tangan kanannya yang kini mengambil alih perusahaan, selama dia masih berada di Bandung.


Langkah kakinya terhenti, saat netranya menangkap sosok gadis remaja pada bingkai foto dengan menggunakan seragam sekolah.


Ekspresi dalam foto tersebut menunjukkan bahwa sosok itu tengah mencoba berpikir keras.



"πΆπ‘Žπ‘›π‘‘π‘–π‘˜" gumamnya.


Ia akui, bahwa sosok yang akan disandingkan dengannya adalah sosok yang manis dan cantik. Itu karena Ia sudah melihat lebih dulu, bagaimana sosok yang sudah dipilihkan kedua orang tuanya, untuknya.


Ia pun berlalu dari tempat itu, menuju ruang tengah yang sedari tadi dapat didengarnya dengan jelas perbincangan dua keluarga yang baru bertemu itu.


Ia yakin, pembahasan antar sesama wanita tidak akan melenceng dari hobby mereka yang suka berbelanja.


Begitu pun dengan pembahasan para lelaki, yang tidak jauh mengenai bisnis.

__ADS_1


__ADS_2