
Ibu muda bersama suaminya berjalan-jalan menyusuri pasar untuk membeli sayuran.
Suasana tampak ramai. Para pedagang menawarkan sayuran. Pembeli terus berjalan dan beberapa sudah berada di depan lapak dan sedang memilih sayuran yang hendak dibeli.
Ibu muda itu adalah Ratih, dan suaminya, yaitu Galuh. Mereka berdua berjalan bersama. Tampak mesra, tangan Ratih terus dipegangi oleh suaminya.
Tiba-tiba kedua sepasang suami-istri itu menabrak Nenek tua yang berpenampilan aneh.
"Maaf, Nek! Saya tidak sengaja." Ratih menghaluskan nada.
Nenek itu tidak bereaksi sedikit pun. Dia mengeloyor pergi. Berjalan menggunakan tongkat dan membungkuk, dia lantas berbalik dan memanggil, "Ratih!"
Ratih dan Galuh heran. Dari mana Nenek itu tahu nama 'Ratih'? Mereka sendiri tidak pernah mengenal Nenek itu.
Sempat menatap satu sama lain, dan akhirnya Ratih menyerah dan menjawab, "iya?"
Nenek itu berdiam diri di tempat. Ratih dan Galuh beringsut mendekatinya.
Mereka sampai pada Nenek, "iya, Nek?" tanya Ratih -sekali lagi.
"Kamu akan melahirkan besok!"
Ratih mengernyit, tidak berbeda dengan Galuh yang juga mengernyit merasa aneh.
"Usia kandungan saya baru delapan bulan," gumam Ratih.
Nenek itu tidak membalas. Dia justru berkata hal lain, "pertahankan satu anakmu! Yang lain, hanya akan membawa kehancuran bagi rumah tangga kalian." Usai menyelesaikan kalimat itu, Nenek lantas mengeloyor.
Ratih sangat bingung. Apa yang dikatakan Nenek itu? Apa dia seorang peramal?
Entah lah, yang jelas Galuh tidak mempercayai hal-hal seperti itu. Dia kini memegang kedua lengan atas Ratih dan mengajaknya untuk kembali berbelanja.
Ratih masih memikirkan hal yang dikatakan Nenek. Wajahnya tidak sesemringah tadi. Sesuatu mengganjal perasaan dan raut wajahnya, hingga suaminya harus menyadarkannya untuk kembali fokus pada kenyataan.
"Kita belanja lagi?" Galuh bertanya.
"Eum. Iya."
***
"Mas!"
Galuh sudah rapih. Memakai kemeja biru muda dan dasi putih bercorak yang membuatnya semakin kelihatan gagah. Berbalik dan bertanya, "iya?"
"Kamu jangan ke kantor, hari ini, ya!" Ratih menyamperi Galuh dan langsung menangkap lengannya.
Galuh mengernyit, tapi dia tidak bertanya atau menolak. Apa yang diinginkan sang istri, pasti dituruti, walau hal itu tidak cocok baginya.
Istrinya segalanya bagi Galuh. Tidak ada yang lebih penting, dari melihatnya tersenyum bahagia.
"Aku anggep, kamu lagi ngidam." Galuh tersenyum simpul.
"Ngidam apa?" Ratih mulai tahu maksudnya.
"Ngidam, pengen terus sama aku." Galuh langsung pada intinya.
"Mulai, deh!"
Sebenarnya, maksud Ratih bukan itu. Dia sedikit memikirkan ucapan Nenek kemarin, jadi dia berjaga-jaga, siapa tahu hari ini dia benar-benar melahirkan.
Ratih menyenderkan dirinya pada lengan Galuh. Mereka berjalan bersamaan.
"Sumbangannya, Cu! Nenek belum makan dari kemarin~"
Seorang pengemis tua datang. Keduanya berbalik dan melepaskan gandengan tangannya untuk menghampiri Nenek.
Galuh langsung merogoh dompet dan mengambil beberapa uang untuk diberikan.
Ratih baru datang. Dia membawakan sebuah kantong plastik putih berisi makanan yang telah dibungkus rapih. Diberikannya pada Nenek.
"Nenek akan nerima uang. Untuk nasinya, tidak usah!" Nenek meraih uang yang diberikan Galuh.
"Kenapa, Nek?" Ratih berkata dengan nada halus khasnya.
"Biasanya, rejeki beruntun tidak akan membawa kebaikan. Rejeki akan datang lagi suatu saat, tapi tidak untuk satu saat bersamaan." Nenek itu berbalik dan hendak pergi, sebelum akhirnya dia kembali menoleh ke belakang.
"Pertahankan anakmu yang pertama. Beberapa menit kemudian, anakmu yang lain akan datang dan akan menghancurkan kehidupan rumah tangga kalian," lanjut Nenek, disusul pergerakannya pergi meninggalkan teras rumah sederhana itu.
Ratih dan Galuh saling tatap.
"Itu Nenek yang kemarin, Mas!" Ratih mulai merasa tidak enak.
Galuh mengangguk. Dia masih belum percaya betul akan ucapan Nenek, hingga dia justru mengalihkan perhatian Ratih agar tidak memikirkan hal-hal yang masih menjadi misteri.
"Lapeer." Galuh memegangi perut dan merengek layaknya anak kecil.
Ratih mulai terkekeh.
"Kita makan?" Ratih meladeninya dengan berlagak seperti ibu pada anaknya.
"Ayuk-ayuk!" Galuh keriangan -manja.
Ratih dan Galuh berbalik dan melajukan langkah. Ratih masih memikirkan hal tadi, walau telah dialihkan sedemikian rupa oleh sang suami, tapi dia tidak bisa membohongi diri sendiri dengan tidak memikirkannya.
__ADS_1
Dia menoleh ke belakang -menatap pintu yang sempat menampilkan Nenek tua tadi, lantas kembali meluruskan pandangan.
***
"Mau masak apa?" Galuh memeluk sang istri dari belakang.
Ratih sedang mengiris sayuran di meja kompor, siang ini.
"Kesukaan kamu," jawab Ratih.
"Kesukaan aku itu cuma kamu. Emang ada lagi?" Galuh meletakkan dagu di atas pundak Ratih sambil menggombal.
Ratih terkekeh. Lelaki itu memang senang sekali menggombalinya. Tidak peduli jika kalimatnya selalu melukis rona merah pada kedua pipi Ratih.
"Udah, akh! Aku mau masak jadi keganggu." Ratih mulai mengusir dengan mengguncangkan pundaknya.
"Iya-iya...." Galuh beringsut mundur.
Ratih meletakkan pisaunya cepat. Dia memegangi perut, ada yang dirasakan pada kandungannya.
"Aa. Adu-duh, Mas!"
Galuh berbalik dan menangkap tubuh sang istri yang doyong hendak terjatuh.
"Kamu kenapa?" Galuh mulai panik.
Ratih meringis kesakitan. Galuh panik bukan main. Di tengah panasnya situasi, cairan bening mengalir melangkaui tungkai Ratih.
"Kamu mau melahirkan, Sayang?" Galuh hanya mendapat kalimat itu untuk mewakili isi pikirannya.
"Iyaa ... cepet bawa aku ke dokter, Mas! Aku udah gak kuat." Ratih berkeringat seluruh tubuh.
Galuh langsung mengangkat tubuh sang istri. Tentu saja, tujuannya adalah rumah sakit.
***
Galih mengatur napas yang berhembus kencang karena panik. Duduk di kursi tunggu ruang persalinan dan terus menggigiti ibu jarinya sambil melafalkan kalimat doa.
Dokter keluar.
"Selamat, Pak! Bayi dan ibunya sehat."
Galuh menjingkrak. Dia sumringah dengan binaran di mata yang begitu kentara. Lantas menjawab, "apa?"
"Alhamdulillah, ya Allah." Galuh sujud syukur.
Tanpa banyak ini-itu, dia hendak masuk ke dalam ruang persalinan, tapi keburu terjeda saat perawat meneriak memanggil dokternya.
"Dokter! Proses persalinan belum selesai. Bayinya kembar," serunya dari dalam ruangan.
Dua anak, sesuai ucapan dari Nenek tadi.
Itu artinya, ada kemungkinan ramalan dari Nenek itu benar ... tentang kesialan yang akan mereka terima, jika mempertahankan bayinya yang ke dua.
Galuh tertegun. Dia beku dalam perasaannya yang kacau ketika mendengar bahwa dia akan punya bayi kembar.
Itu bukan kabar baik. Dia jadi mempercayai ramalan itu, dan harus terima kenyataan bahwa dia akan melenyapkan bayi terakhirnya.
Ratih dan dia selalu menganggap dosa sebagai sesuatu yang haram bagi hidup mereka. Dan sekarang? Apa mereka akan segan menghabisi bayinya sendiri?
Bayi yang dikandung Ratih beberapa bulan lamanya....
Apakah harus begini caranya untuk mempertahankan kehidupan pernikahan mereka yang penuh keharmonisan?
Galuh dan Ratih tidak pernah berpikir akan mendapat keburukan yang akan membuat pernikahan mereka hancur.
Mereka melakukan segalanya agar hubungan mereka tetap utuh. Tidak ada satu serangga pun yang boleh menyentuh dan memutus tali ikatan suami-istri mereka.
Dan sekarang ... serangga itu datang dalam wujud bayinya?
Apa yang harus Galuh perbuat?
"Enggak! Gak bisa. Bayu itu gak ada artinya dari pada rumah tangga aku sama Ratih." Galuh memutuskan untuk egois.
Mempertahankan kebahagiannya dan menghancurkan hidup bayinya yang bahkan belum merasakan air susu ibu.
Egois.
***
"Selamat, Pak! Bukan cuma satu, tapi dua." Dokter memberi ucapan dengan setulus hati.
Galuh tidak fokus pada situasinya. Bergeming dan melamuni banyak hal.
Dokter mengernyit. Beberapa saat kemudian dia keluar dan membiarkan sepasang ibu-ayah baru itu menghabiskan waktunya untuk memikirkan nama bagi bayinya.
"Ayo! Perawat," ajaknya pada Perawat dan dibalas anggukan.
"Mas." Ratih memanggil dengan lirih. Galuh menolehnya. Wajahnya masih tidak bereaksi. Dia masih hanyut dalam bayangan jika dia harus menghabisi bayinya.
"Jangan bunuh anak kita!" Ratih menggugurkan air mata. Posisinya masih berbaring lemah usai melahirkan dua bayinya.
Galuh berdiri di sisi ranjang persalinan. Dia masih bergeming.
__ADS_1
"Jangan bunuh dia, Mas!" Ratih memohon. Dia mencoba meraih lengan suaminya, tapi tidak sampai karena posisi berdiri Galuh yang lumayan jauh.
BRUK
Dia jatuh. Segera Galuh memecah ketertegunannya dengan menolong sang istri.
"Kita masih punya Anggita." Galuh memegangi kedua lengan Ratih.
"Enggak, Mas! Kita juga harus pertahanin bayi kita yang lain. Kita gak bisa egois."
"Kamu pikir, apa ada orang yang bisa tau nama seseorang dalam sekali pertemuan?" Galuh menjeda, "dia pasti orang berilmu. Ramalan dia tepat. Hari ini, kamu melahirkan. Sesuai ucapan dia kemarin."
"Kamu lebih percaya dia, dari pada Allah, Mas?"
"Bayi itu gak tercatat dalam takdir kita. Dan Allah, yang sudah menuliskan takdir baik bagi kehidupan rumah tangga kita. Dan tanpa ... hadirnya bayi itu." Galuh kukuh menuruti ucapan Nenek peramal.
Dia bergegas berdiri. Dan mengangkat bayinya yang dipakaikan gelang dengan catatan waktu kelahiran telat dua menit dari bayi pertama.
"Aku gak mau rumah tangga kita hancur gara-gara dia." Galuh menggendong putrinya.
Ratih mengesot menahan pergerakkan Galuh. Memegangi kaki sang suami dan terus berkata 'jangan', tapi hasilnya selalu penolakan. Galuh kukuh pada keputusannya.
"Bayi ini harus musnah."
"Jangan!"
"Musnah!"
"Mas, Galuuuh!"
"Hari ini, aku gak akan merasa sesal karena udah buat kamu menangis. Karena tangisan ini, adalah awal dari kebahagiaan kita bersama Anggita -putri kita." Galuh menghempaskan Ratih yang menemploki kakinya.
Ratih pasrah. Dia tidak kuat lagi untuk menggusur tubuhnya menyusuri lantai untuk mencegah suami. "Mas Galuh."
Galuh terhenti sebelum dia sempat membuka pintu.
Bukan karena panggilan dari Ratih, tapi ... karena bayi yang dianggap pembawa sial itu menyungging senyum menatap ayahnya.
Galuh terenyuh. Kenapa dia harus melihat senyuman itu sekarang?
Dia tidak sanggup hanya menatap wajah si bayi. Dan kini? Senyumannya yang subtil bagai sutra.
Galuh tercabik hatinya oleh senyuman mungil itu.
Dia terjatuh lemah. Terduduk di atas lantai sambil menggendong erat bayinya. Dia menangis dan meletakkan wajahnya yang kalap akan rasa sakit pada wajah mungil bayi itu.
Ratih terharu.
"Mas," lirihnya.
"Ratih. Kenapa cobaan Allah begitu besar?"
"Allah mau memperkokoh hubungan kita. Dan ini caranya."
Galuh menahan suara tangisnya dan menitikan air mata pada wajah bayi yang sedang digendong.
"Ratih. Apa aku harus kehilangan kamu?"
"Enggak, Mas."
"Aku gak bisa bunuh bayi ini."
"Kita hidup bersama. Bersama kedua bayi kita, dan membangun ikatan lebih kuat bersama-sama."
"Jika suatu saat hubungan kita hancur karena bayi ini?"
"Allah yang mempersatukan kita. Dan, Dia juga yang akan memisahkan kita kelak."
Galuh tidak menjawab. Dia terus menangis dan bersender tidak bertenaga pada dinding ruangan.
Ratih masih menggelesor di lantai. Air mata harunya tidak berhenti meleleh menyusuri pipi.
Mereka berdua, berhadapan dengan situasi yang sangat sulit untuk dijalani.
Situasi dimana mereka harus memilih. Antara hidup -dan membunuh satu bayinya, atau mati -lantaran bayang-bayang perpisahan yang terus mengggentayangi perasaan.
"Pertahankan dia, Mas."
Hening.
Satu menit kemudian. Ratih mulai menghela napas ikhlas. Dia menjatuhkan pandangan dengan tidak lagi menatap lurus suaminya.
Tidak lama, dia kembali membangkitkan wajah menyorot sendu pada Galuh, ketika mendengar, "aku akan pertahanin hidupnya."
Ratih semringah bukan main. Napasnya berhembus sekencang kereta kuda.
"Aku pertahanin hidupnya. Dan bukan keberadaannya di sisi kita."
Ratih melunturkan raut semringahnya seketika.
"Maksudnya?" Nadanya tegang.
"Aku akan buang dia ke panti asuhan." Galuh menatap sang istri. "Anggap dia tidak pernah ada dalam kandungan kamu. Anak kita, cuma Anggita Narasyfa."
__ADS_1
***