
Beberapa tahun lah berlalu...
Aku berjalan di lorong. Lampu masih padam, semua terlelap dan aku akan melanjutkan hari di awal pagi. Usai tidur malamku yang indah, aku kian menjatuhkan diri pada rutinitasku.
Usai melepas serumbai kain berwarna putih bersih nan tanpa bercak noda sedikit pun, aku lantas melipat sajadah, meletakkan kain penutup auratku itu di atasnya, dan kini aku sudah usai menjalankan kewajiban subuhku yang tak boleh absen kukerjakan.
Pintu putih bercorak itu membuat mataku tersentak melirik lama, aku mendekatinya dan meraih kenop. Gadis itu benar-benar manis saat tidur, tetapi saat tersadar ... jangan katakan apa pun! Aku tak sanggup membicarakan hal yang kerapkali membuat darahku hampir naik hingga ke ubun-ubun.
Dia, Jasi. Gadis itu adalah adik tak sekandungku. Kebawelan dan lantunan kalimat penuh nada lengkingannya selalu berhasil membuat gendang telinga siapa saja yang mendengar jadi perlu mengikuti anjuran obat khusus dari dokter.
Aku sedang berdiri di depan pintu. Aku hanya berdiam diri sambil memegangi kenop. Boneka berwarna merah delima itu- bukan, gadis di sisi boneka itu sangat manis. Apa aku akan mendatanginya sesekali untuk sekadar mengecup pelipisnya?
Baiklah ... hatiku tergerak.
Tidak! Aku tersadar. Pagi ini saja aku sudah terlambat dua menit untuk bangun dan mengawali hari baru. Aku tak mau membuang banyak waktu. Mengecupnya dan memandanginya akan memerlukan banyak dari waktuku yang sangat berharga. Tahu sendiri, gadis itu pesonanya sungguh lekat. Matanya yang terpejam dengan helaian rambut poni yang menusuk kelopak matanya saja sudah membuatku nyaman untuk memandanginya. Itu akan membuatku berlama, sedangkan satu detik dalam hidupku adalah berlian yang mahal jika dibayarkan.
Aku menutup pintu perlahan. Memperlekas langkahku menuruni anak tangga. Tujuanku bukan tempat lain selain dapur. Belum menyelesaikan setrika kemarin, menyiapkan sarapan, atau mengumpulkan cucian kotor untuk dibersihkan. Aku benar-benar terlambat pagi ini!
Sudah lah ... aku akan membayar segalanya dengan impas. Akan kuselesaikan benalu dalam perasaanku dan membuatnya menjadi lebih tenang. Aku akan menyelesaikan segalanya dengan cepat.
Semua itu membuatku mendekati sakelar utama rumah. Aku menaikkan tombolnya dan membuat penerangan pada rumah kembali benderang. Tak mau berlama, aku lekas ke dapur. Di sana masih luluh lantak usai kejadian kemarin.
"Selamat ulang tahun! selamat ulang tahun! selamat ulang tahun Kakak ... semoga panjang umur."
Kejadian di mana si kecil -Jasi yang menjadi dalang kerusuhan. Gadis mungil itu coba-coba menyajikan kue ulang tahun untuk kakaknya sendiri. Menerjunkan tepung dan beberapa bahan, dia lekas menyalakan mixer dan menjadikan proyek kecil-kecilannya berjalan mulus, walau imbas dari kelakuannya akan ditimpah ruah padaku.
Haha, tapi aku tidak merasa keberatan. Dunia adalah keluarga. Kehidupan adalah kebahagiaan. Duniaku bahagia, maka aku akan merasakan hal yang sama. Perasaanku sendiri akan terpicu merasa senang jika sekelilingku damai dan tentram. Aku tidak keberatan akan apa pun yang akan kutanggung di hari kemudian.
Melakukan segala kewajiban pelayan adalah tugasku. Aku bangun di awal pagi dan tidur di larut malam. Itu sudah makanan harian bagiku. Aku tidak bersedih atau mengutuk takdir atas apa yang kuterima. Mereka adalah orang baik dengan mengangkatku sebagai puteri mereka. Banyak anak-anak tanpa orang tua yang berakhir pada dunia jalanan. Menadah tangan dan meminta, mereka begitu memprihatinkan. Namun, aku tidak merasakannya sebab kedua orang tua angkatku yang berhati baik telah bersedia menjauhkanku dari malangnya nasib sebagai yatim-piatu.
Mereka mengorbankan banyak uang dan butir nasi untuk kelangsungan hidupku. Bukan hanya itu, ruang dan waktu pun mereka curahkan, walau sedikit. Dan ruangan itu hanya berupa kamarku. Sementara soal waktu, ibuku selalu mencurahkannya untuk menuturkan kalimat nasihatnya padaku di setiap harinya.
Kalimat seperti, "berapa kali saya bilang, jangan sampai lalai dalam urusan yang satu ini! Kalau satu hari aja kamu gak siram, dia bakal layu dan mati. Kamu tau?! Bibitnya gak bisa kamu temui di Negara ini! Ini bibit unggul, importan luar negeri. Jaga baik-baik!"
Tapi, aku tetap bersyukur. Tuhan sangat baik hingga mengizinkanku hidup nyaman di dalam rumah selebar bandara penerbangan. Aku akan dicambuk ribuan kali oleh kalimat perintah kasar dari ibuku, akan dicakar oleh kenyataan sebagai anak yatim-piatu yang mengenaskan dan akan ditusuk jutaan kali oleh keadaan mengerikan, tapi aku tetap tidak merasakan sesuatu besar telah menghancurkan hidupku yang sesingkat usia jagung.
__ADS_1
Aku tetap berpegang kukuh pada kalimatku, bahwa, "aku tidak terluka."
***
Anggita Narasyfa, dia berjalan riang melintasi tepian jalan permukiman. Beberapa orang melihatnya dan salah satunya menyapa, "bahagia banget, kayaknya. Dapet peringkat unggul lagi, ya?" Ibu itu menjeda langkah saat berpapasan dengan Anggita.
Gadis periang berseragam putih-biru itu mengangguki dengan polesan senyum lebar pada wajahnya yang manis. Dia lekas kembali berjalan sambil melompat ria dengan buku rapor yang tak henti dipeluk erat.
Sampai lah pada halaman rumah sederhana dengan berbagai macam tanaman hijau di terasnya. Menangkap pemandangan rumah itu dengan seorang wanita yang sedang menyapu di halamannya, membuat Anggita mengulas semakin lebar.
Wanita itu memegangi sapu, matanya menyorot Anggita hingga membuat kedua sudut bibirnya tersentak naik. Dia menjatuhkan sapu dan merentangkan tangan, mengayuh semangat puterinya untuk berlari cepat memeluknya erat.
Pelukan kian terjalin. Ratih, ibunda Anggita itu mengelus punggung kepala puterinya dengan penuh kasih sayang. Anggita tersenyum lebar saat memecah pelukan hangat itu. Matanya berbinar penuh semangat saat bibirnya mulai terbuka, "Bunda, Anggi dapet-"
"Rangking satu, kan?" Pernyataan, bukan pertanyaan, karena Ratih tahu betul apa yang terjadi dan apa yang akan dikatakan oleh puterinya itu. Tentu saja, Anggita mengangguk antusias. Tangan lembutnya kembali meraih punggung leher sang Bunda. Dipeluk dan pelukan itu semakin erat seiring dengan rasa sayangnya pada sang Bunda yang semakin merekah dalam hatinya.
***
"Bunda mau bikin apa?" Anggita bertanya saat perasaannya kian semakin dibuat penasaran.
Lihat, sejak tadi dia tidak berhenti melayangkan jemari dan meraih apa saja yang ada di dalam rak dinding dapur.
Sampai semua bahan masakan sudah tersedia di atas meja makan sekarang. Ratih menarik kursi dan duduk di atasnya. Dia menatap serius pada Anggita, lantas angkat bicara, "Anggi, kan, udah ninggalin bangku SMP mulai hari ini. Jadi, Bunda mau kasih Anggi pengetahuan selain dari ilmu yang udah Anggi dapet dari sekolah."
Anggita menggariskan kernyitan di dahi. Dia penasaran dan mulutnya dilekaskan untuk bertanya, "apa itu?" Tentu membuat Ratih membuka kedua tangan dan menunjuk semua bahan di meja, "pengetahuan soal ini."
Pasti ilmu yang dimaksud adalah, "masak-memasak."
Anggita melesu. Pundaknya turun senadaan dengan wajahnya yang mulai tak bersemangat untuk mulai belajar tentang ilmu pengetahuan yang dimaksud Bunda. Memasak adalah hal pertama dan terakhir yang terlalu muak untuk Anggita pelajari apalagi lakukan.
Dia berfikir, jika dia kelak akan bisa memasak, maka Ratih akan berhenti menyajikan makanan untuk keluarga kecil mereka. Pasalnya, Anggita sudah bisa dan Ratih yang akan pensiun. Pemikiran itu membuatnya malas dan sampai sekarang rasa malas itu sudah mendaging.
Kalau Bunda udah gak masak. Terus, gimana Anggi bisa enak makan kalau gak makan masakan dari Bunda. Ah, itu gak bagus.
"Anggi?" Ratih bertanya saat mendapati puterinya mulai males-malesan mengikuti kemauannya. Suaranya mengangkat wajah Anggita dan membuatnya bersuara, "Anggi mau ngelakuin apa aja, asal jangan masak dan, Bundaa."
__ADS_1
Ratih tersenyum tipis. "Apa Anggi mulai gak mau ngelakuin apa yang bunda mau?"
Anggita tersentak kaget. Dia terjebak dalam masalah. Bukan, "bukan itu, ma-maksud Anggi."
Bukan Anggita, jika tidak menuruti keinginan sang Bunda. Dia terpaksa mengalahkan rasa malasnya dan menuruti, "apa aja yang Bunda mau, Anggi bakal turutin," karena dia sendiri pernah berucap kata, Kalau Bunda mau, Dunia sekali pun Anggi korbanin. Jadi, Bunda gak perlu takut kalau Anggi bakal ngecewain Bunda. Anggi akan jadi apa yang Bunda mau dari Anggi. Janji.
Sontak membuat sunggingan Ratih meluas. Dia berdiri dan membuat Anggita mengikuti segala langkah yang ditunjukkannya.
Ratih mengangkat sayuran dan membimbing Anggita untuk memperhatikan. Gadis itu menuruti, matanya fokus dan telinganya terjereng lebar mendengarkan. Semua yang diajarkan Ratih disimpan rapih mengisi otaknya.
Gadis itu belum berusia matang, namun usianya juga tidak terlalu pantas untuk disebut belia. Dia gadis yang beberapa saat lagi akan menginjak kaki di atas pualam SMA. Namun atas fakta itu, semua orang sering dibuat menggeleng kala mendengarnya.
Anggita itu bukan anak kecil, lantas kenapa sesuap makanan pun tidak mau dilolohkan pada mulutnya kalau bukan Ratih yang menyuapi?
Anggita itu bukan balita, terus untuk apa dia menangisi hal-hal sepele yang tidak dilakukan bersama Ratih seperti biasanya?
Dia juga tidak selemah itu, kan, hingga air matanya harus menetes kalau sehari saja kesibukan sang ayah menyita waktunya untuk melihat wajah ayahnya itu?
Ketiga pertanyaan itu yang sering bermunculan terucap dari bibir orang asing yang baru mengenal Anggita.
Ya, kau pasti menyimpulkan kata 'manja' untuk disandangkan pada Anggita. Itu tidak salah. Anggita memang manja, dan kemanjaan itu adalah satu-satunya ciri khas Anggita setelah kecerdasan dan periang.
Namun, Anggita tidak dididik untuk sekadar menjadi anak manja dan melakukan segalanya harus dibimbing orang tua.
Dia justru memiliki segalanya yang diidamkan orang tua untuk anaknya. Pintar, periang dan taat aturan Dunia-Akhirat adalah keinginan kebanyakan orang tua terhadap anak-anak mereka. Dan Anggita punya itu semua.
Dia dididik dengan baik, dan ketekunan orang tua dalam mendidiknya selalu menuai apresiasi tinggi dari banyaknya orang yang mengenal keluarga kecil berkepala Galuh itu.
Tak heran jika banyak decakan kagum terdengar kala menyaksikan secara langsung bagaimana keluarga kecil itu berinteraksi pada anggota keluarga yang lain.
Walau di balik semua itu, banyak hal-hal tertutup publik yang miris untuk dibayangkan.
Walau juga, di balik segala harmoni yang disiarkan keluarga Galuh, ada segelintir emosi terpendam yang diidap Ratih pada suaminya itu, hingga emosi itulah yang menyebabkan kehancuran pada hubungan keduanya. Kehancuran yang nyata dan besar, namun tetap tertutup untuk dunia, bahkan tertutup bagi Anggita.
***
__ADS_1