Dunia Untuk Zahra

Dunia Untuk Zahra
Pertemuan


__ADS_3

Awal baru. Hari telah berlalu dan kini semua menjadi lebih ringan karena perlakuan buruk Eyna sedikit telah berkurang. Pasca insiden kemarin, Roy memberi perhatian lebih bagi Zahra. Gadis itu dibebaskan dari berbagai macam cerca buruk dan timpahan hukuman.


Eyna diperingati keras untuk tidak memberi luka fisik bagi Zahra. Roy mengancam akan memenjarakannya jika dia tidak menurut untuk tidak memperlakukan Zahra dengan buruk. Dengan berat hati, tentunya, Eyna menerima.


Sampai detik ini, segala tugas masih dilayangkan bagi Zahra. Namun sedikitnya, cara bicara Eyna yang tidak layak didengar, kian lebih berkurang dan membuat suasana rumah menjadi lebih tenang.


Entah sampai kapan Eyna akan betah hidup tanpa mengusik kehidupan Zahra. Tanpa memerintah kasar dan bicara buruk untuk memutuskan semangat hidupnya. Entah kapan hari itu tiba, tapi semua tak akan lama.


Eyna akan kembali menjadi kucing liar yang memangsa tikus kecil dengan sadisnya. Semua akan kembali, dan sikap buruk Eyna pada Zahra terus akan bergulir. Mengecapkan kenyataan tertera bahwa keburukan bagi Zahra adalah kemenangan bagi Eyna.


Apa alasannya? Masih misteri.


"Selamat pagi, Kakak!" Jasi menyapa saat seluruh anggota sudah siap di meja makan. Tentu untuk menyantap sarapan dan mulai aktivitas setelahnya.


Zahra datang bersama dengan nampannya. Dia beringsut duduk di kursi yang biasa dia tempati. Dari ujung, dia bisa melihat, Eyna memelototinya dan menjatuhkan sendok untuk segera pergi dari meja.


Zahra mengerti kemarahannya. Dia hanya merespon dengan menatap punggung Eyna hampa. Tina dan Jasi menatapnya. Zahra membalas tatapan iba mereka dengan sunggingan tipis yang meluncur manis di bibirnya.


Seluruh anggota keluarga terkecuali Eyna lanjut menyantap sarapan. Mereka akan mengisi kekosongan perutnya dengan melahap santapan pagi yang sudah Zahra sediakan. Tidak peduli jika salah satu dari mereka pergi dan enggan bergabung karena kedatangan Zahra.


Mau diapakan? Eyna sendiri yang pilih pergi, tidak ada yang bisa memaksa, dan paksaan tidak akan ada gunanya jika bagi Eyna. Dia berlaku sesuai keinginan, tak peduli walau mengingat segala yang dia inginkan kerapkali menyimpang dari kebenaran.


Dia, Eyna Suhendra. Mungkin secara singkat dan sesingkatnya kita akan katakan, "dia adalah batu panas yang berduri racun dalam wujud miliuner."


***


Semua berjalan sesuai kebiasaan. Zahra usai bersekolah dan menuntut ilmu sesuai yang dia butuhkan. Kini dia berjalan di trotoar. Tak memakai kendaraan umum atau kendaraan pribadi. Dia hanya boleh bersekolah, soal biaya jajan atau kendaraan, Nyonya rumah tidak memperkenankan dirinya untuk menerima.


Ya, terkadang hidup memang sulit. Namun lebih sulit jika kita lari dari kenyataan sulit yang kehidupan kita terima atas takdir Tuhan. Jadi apa pun yang ditakdirkan, coba jalani dengan setulus hati.


Zahra tidak pernah menganggap semua adalah kesulitan baginya. Yang dia alami, sesuai dengan yang dia dapatkan kelak. Kebahagiaan itu akan datang, dan sebagai bayaran untuk ingar bingar kebahagiaan itu adalah ujian yang kini sedang dia terima.


Coba ketahuilah, bahwa hukum alam itu sesederhana, "mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya," namun manusia seringkali dibuat terkecoh. Memerhatikan hal sesederhana itu lebih kerap tak menjadi prioritas bagi mereka. Menjadi bodoh dengan segala kejahatan bagi sesama, kufur nikmat dan membuat semua yang haram menjadi halal.


Zahra yang melihat kerlap-kerlip kedursilaan orang di luar sana, lantas menghela napas dan menatap ke langit-langit. Dia berkata lirih, "semoga rakus dan dengki, gak akan menjadi sifat utama yang manusia miliki di jaman-jaman berikutnya."


Beberapa orang yang baru saja beradu ribut karena saling menuduh sebagai pelaku pencopetan lantas berhenti saat petugas penjaga lingkungan menghentikan keributan.


Zahra menjatuhkan kembali pandangannya. Tatapannya kosong mengamati seberang jalan. Dia tersenyum tipis, petugas cuma melakukan sesuai kewajiban. Padahal di luar sana, mereka gak mungkin langsung mengerti dan diam. Mereka pasti bakal nyopet lagi dan ngebuat kerusuhan lagi. Ada kegaduhan lagi dan petugas ngusir pencopet itu, lagi. Calon pencopet akan bersenang ria mengikuti pencopet senior yang selalu lolos dari hukuman. Dan dunia ini, akan dipenuhi kebejatan tanpa adanya titik terang kedamaian.


Dia sangat lelah menyaksikan semua terjadi di depan matanya. Namun harus bagaimana lagi? Dia sendiri tidak bisa melakukan sesuatu yang di luar kemampuannya. Maka, dia diam dan melanjutkan perjalanan pulang dengan bangkit dari duduk di tepi trotoar.


Zahra menyeka peluh sambil melajukan langkah maju dan memegangi lengan tas gendongnya.


Beberapa menit kemudian, langkahnya terjeda. Pandangannya lurus ke depan dan menatap kerumunan orang membentuk lingkaran. Seperti ada sesuatu di sana. Orang-orang itu berkumpul pasti bukan tanpa alasan, kan?


Pasti. Oleh karena itu, Zahra bergegas mendekati.


Dia sampai, dan menemukan pemuda yang beberapa hari lalu dia tolong dari kejadian di jalan yang sama. Waktu itu dia selamat dari ditabrak segerombol siswa sekolahan, tapi dia tidak selamat dari pentungan keras helm salah satu siswa itu. Lantas apa yang terjadi padanya hari ini? Apa dia tidak bangun dari hari itu sampai kini?


Gelintiran pertanyaan tiba-tiba menghantui Zahra. Gadis itu beringsut jongkok dan mengulurkan bantuan. Dia kembali mendongak dan menatapi satu-persatu warga yang berkerumun. "Kenapa gak ditolong?"


Ya, warga itu hanya berdiri diam sambil mengamati. Mereka berkerumun atas tuntutan rasa ingin tahu saja, bukan untuk menolong atau memberi iba. Miris.

__ADS_1


Satu warga merespon, "dia, kan, orang yang suka luntang-lantung gak jelas dan meresahkan warga sekitar sini, Neng!"


Satu warga menimpali, "iya, tuh! Lagi pula, kalau kita bantu, siapa yang mau bayar biaya rumah sakitnya? Dia, kan, orang gila yang terkenal suka luntang-lantung di daerah ini."


Tak punya waktu untuk menasihati para warga itu, Zahra kian menyentak tubuhnya berdiri dan melambaikan tangan pada taksi yang melintas.


Saat taksinya berhenti melaju, Zahra langsung menggulirkan kalimat meminta pertolongan dan pak Supir mau menolong. Mereka bersama-sama mengangkat tubuh pemuda itu ke dalam mobil taksi. Tujuannya hanya tempat pengobatan terdekat.


Di dalam mobil. Zahra sangat panik. Di kepala pemuda itu berkucuran darah segar dengan wajah pucat yang sedikit kentara. Gadis yang sedang memangku kepala pemuda itu lantas memilih untuk mengusap-usap telapak tangan si pemuda. Apa pun yang dia mampu, akan dia kerahkan demi keselamatan orang itu.


Pak Supir melirik ke spion dalam mobil. Dia berkata, "siapa, Neng?" Zahra menatap dari kaca itu. "Saya gak tau, Pak. Tadi dia pingsan di trotoar. Kayaknya korban kecelakaan."


Pak Supir sempat hening. Dia menatap wajah panik gadis itu dari kaca spion. Tersenyum sedikit dan mengatakan, "kenapa harus ditolong, kalau orang-orang di sana yang lebih bisa menolong aja gak mau?"


Zahra langsung menatap. Tatapannya intens dengan manik kelam yang menyatakan dirinya kecewa atas sikap dari orang-orang yang baru saja dia temui. Kian bibirnya yang berwarna merah delima terangkat untuk bicara, "saya pikir bapak bukan anak kemarin sore. Saya pikir semua yang sudah diajarkan orang tua terdahulu bisa bapak terapkan di keseharian? Menolong bukan dosa. Memberi bantuan juga bukan sikap tercela. Tugas bapak cuma nganterin saya sampai klinik terdekat. Selebihnya, bapak bisa gak ikut campur!"


Pak Supir langsung tersenyum luas, menciptakan segaris kernyitan di dahi Zahra. Bapak itu lantas kembali menjawab, "saya tau, jawaban Eneng bakal gimana. Saya salut, Neng. Andai setiap orang diciptakan punya hati seluas Neng, pasti dunia ini gak akan berakhir."


Zahra menyentak satu sudut bibirnya. Matanya yang penuh keikhlasan menatap pemuda itu dan membalas saat pandangannya yang tenang sedang menyorot iba pemuda di pangkuannya, "cowok ini punya semacem gangguan mental atau kejiwaan. Dia digosipin suka luntang-lantung dan gak pernah berinteraksi sama sesama. Mereka gak suka, dan harapan mereka selalu buruk bagi dia. Bapak tau gak, rasanya merasakan sakit dan butuh bantuan, tapi orang di luaran justru menginginkan kematian bapak dengan gak bersedia nolong?"


Pak Supir hening. Dia menatap lurus dengan tatapan hampa. Sungguh menyentuh hati. Semua perkataan Zahra adalah anak panah kaca yang tidak terlihat, tapi dengan tusukan itu banyak hati bisa terluka dan hancur berkeping. Seperti bapak tadi.


"Saya gak butuh ditempatkan sebagai anak itu, Neng. Saya sendiri selalu ngerasain sakit hati dari perlakuan orang di sekitar saya. Gak perlu orang asing, orang terdekat saja sudah cukup ngebuat saya sakit hati."


Zahra langsung menatap punggung kepala bapak itu. Dia menghela napas panjang dan menjatuhkan bahunya. Mungkin tidak banyak dia tahu, bahwa orang-orang yang terluka batin sudah berkeliaran di segala penjuru dunia. Bukan cuma dia dan pemuda yang dia tolong. Banyak yang memiliki beban hidup berat, namun mereka diam di balik segala senyuman yang mereka ciptakan.


Itu menjadi pelajaran bagi Zahra sendiri. Dia langsung mengaitkan pikiran bahwa dirinya bukan orang pertama dan terakhir yang memiliki luka batin sangat dalam. Banyak yang lain dan dia bukan orang yang menempati posisi terendah dalam ujian hidup paling mudah.


Mereka kian sampai di klinik yang Zahra tunjukkan. Sebuah kasur gawat darurat dikerahkan dan pemuda itu diturunkan menumpangi kasur beroda itu.


"Mungkin ini gak akan cukup untuk ngebayar jasa bapak yang mau nolongin saya, tapi saya mohon terima ini, Pak. Setidaknya, walau kecil saya memberikan dengan ikhlas dan bukan hasil mencuri." Zahra menadahkan semua uang yang dia punya dan diserahkan kepada bapak Supir itu. Pak Supir mengulas senyum dan menggeleng halus, "saya yang seorang pencuri."


Zahra mengernyit. Bapak itu kembali berkata, "kalau saya terima ini dari Eneng, saya yang akan menjadi pencuri di mata Tuhan. Semua itu bukan mau saya dari Eneng. Saya gak bisa bantu biaya berobat orang yang butuh bantuan itu, dan saya juga gak bisa kalau dipaksa menerima uang dari Eneng."


"Saya gak cuma-cuma ngasih ini, Pak. Bapak tadi nolong saya dan ini bukan uang sumbangan. Terima ini, Pak."


Bapak Supir berbalik dan melajukan langkah menuju mobil. Ketika dia sampai di ambang pintu mobil bagian kemudi, dia mengulas senyum kepada Zahra yang kemudian disusul pergerakannya masuk.


Mobilnya melaju, meninggalkan jejak senyum di wajah Zahra. Dia memasukkan uangnya kembali ke dalam tas. Masuk ke dalam dan bergegas menuju ruangan yang dituju.


***


"Jadi, Zahra udah punya calon, niih...." Bidan menggoda. Sambil mengikat perban di kepala pemuda tadi, Bidan terus mengulas senyum dan menyentil rasa malu Zahra dengan godaannya.


"Enggak, astagaaa." Zahra berdiri di sisi ranjang pasien.


"Eh, awas lho. Bilang enggak nanti justru kamu yang duluan suka sama dia. Anaknya ganteng lagi," goda Bidan, lagi-lagi.


"Astagaaa, Ibuk! Diem, ah."


Bidan terkekeh. Dia mengulas senyum saat mengambil posisi berhadapan dengan Zahra. Menatap ke dalam manik kelam gadis itu sambil berkata dengan nada lunak, "dia gak pa-pa. Jadi, stop munculin muka panik kayak gitu."


Zahra langsung melunturkan raut terhibur yang dia buat-buat untuk menutupi kecemasannya. Dia menatap serius Bidan. "Ibu serius, kan?"

__ADS_1


Bidan hendak bicara, namun terhenti karena si pemuda ternyata sudah sadar dari pingsannya. Dia mengangkat kepala sambil dipegangi erat. Secerca rasa sakit masih bergelayut di kepalanya, membuat dirinya tak kuasa menutupi kesah hingga mengeluarkan suara, "aaargh!"


Zahra mendekatinya. Dia membantu pemuda itu mengangkat sebagian tubuhnya dan menyenderkan di bantal yang dia sisipkan di punggung pemuda itu. Gadis itu masih panik, "kamu gak pa-pa? Hati-hati, jangan banyak gerak."


Pemuda itu memegangi kepalanya dengan ringisan kesakitan. Dia mengerjap dan mengumpulkan kesadaran saat pandangannya menampilkan orang dan tempat yang asing baginya.


"Zahra, dia gak pa-pa. Kehilangan kesadaran itu wajar. Kepalanya terbentur sesuatu dan dia kehilangan kesadaran karena terlalu kaget akan situasi yang dia alami." Bidan mengatakan dari balik punggung Zahra. Dengan jelas dia terus mengungkapkan bahwa pemuda itu baik-baik saja, tetapi Zahra tetap menciptakan rasa cemas yang berlebihan.


Ya, hatinya yang selembut sutra dan sebening embun tak pernah mengizinkan agar dia tak dihantui rasa iba melihat kesusahan orang lain.


Dia terus panik, walau keadaan tak seburuk perasaannya.


Gadis itu tidak berbalik. Dia menatap pemuda yang sedang mengeratkan pegangan pada kepalanya itu dengan raut kacau. Seakan dia yang merasakan sakit dan bukan pemuda yang dia tolong.


Bu Bidan tersenyum tipis dan meninggalkan kedua orang itu di dalam ruangan pasien.


Pemuda itu berhenti memegangi kepala. Manik cokelatnya menghamparkan pandangan menatap gadis polos itu. Seluruh keburukan dan rasa sakitnya seakan hilang. Sejak tadi dia tidak menyadari bahwa gadis baru itu sangat sempurna untuk dipandang. Dia menatap dalam dan merenggangkan katupan bibirnya, "saya gak pa-pa."


Zahra tersadar, wajahnya sudah terlalu dekat dengan pemuda itu. Tangannya yang memegang kedua lengan pemuda tadi lantas ditarik dan dia mengalihkan wajah ke arah lain.


"Siapa kamu?" Nadanya yang lirih dan berat menyentak pandangan Zahra untuk menolehnya lagi. Keduanya beradu pandang dan membuat suasana menghening bersamaan dengan situasi yang mereka hadapi.


"Azzahra."


Pemuda itu hampir menarik kedua sudut bibirnya untuk mengagumi paras Zahra, tetapi terhenti saat dia tersadar; pertolongan yang diberikan Zahra bukanlah hal yang dia harapkan. Kini wajahnya teralih. Dengan dingin dan seakan menolak perbuatan mulia yang Zahra lakukan, dia lantas berkata, "seharusnya kamu gak nolongin saya."


Zahra mengulas senyum tipis. "Kalau kamu gak suka, anggep aja saya nolongin diri saya sendiri dari kemurkaan Tuhan."


Pemuda itu menyentak wajahnya menatap Zahra. Mana ada orang sesantai Zahra yang tidak merasa kecewa atas penolakan telak yang dia lontarkan? Maniknya menatap penasaran pada gadis itu. "Siapa kamu?"


Zahra meraih tas sekolahnya yang di letakkan di nakas klinik. Dia bersiap untuk pulang sebelum akhirnya dia kembali menatap pemuda itu dengan tenang. "Saya-"


"Siapa kamu yang dengan lancang terus-menerus ngehancurin rencana saya untuk bunuh diri?!" Dia menggeram saat kalimatnya telah memotong kalimat Zahra. Tangannya terkepal dengan kedua rahang yang mulai terkatup erat.


Zahra hendak angkat bicara sebelum pergerakannya kembali terjeda oleh geraman kemarahan pemuda itu, "kamu sama sekali gak ada hak buat lagi-lagi ngebuat saya sakit hati atas hidup ini!"


"Kamu cuma tau perbuatan saya ini salah, kan?! Kamu gak tau, setiap napas saya adalah rasa sakit untuk diri saya sendiri. Kamu-" Dia tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Air matanya tiba-tiba meluruh dan bersamaan dengan itu tangannya mulai naik dan menutupi wajahnya.


Dia seakan jatuh dalam situasi yang tak pernah dia inginkan kedatangannya. Situasi di mana dia menangis atas apa yang selama ini dia rasakan, menangis atas takdir yang dia hadapi dan menangis atas ketidak-adilan yang dia terima dari dunia.


Nadanya jatuh sendu dan tatapannya menunjukkan harapan besar yang memunculkan firasat bahwa dia bukan orang tidak waras seperti menurut isyu, "kematian akan jauh lebih baik, daripada hidup untuk menderita."


Zahra tetap tenang. Segelintir kalimat pun tidak bersedia digulirkan. Saat ini tugasnya hanya untuk diam dan mendengarkan. Sementara pemuda itu lagi-lagi menguak fakta tentang dirinya dengan berkata, "kamu gak akan tau, karena kamu hidup bergelimang kebahagiaan. Kamu gak punya kekurangan seperti yang saya punya dan kamu punya banyak dukungan suara untuk ngebangun semangat hidup kamu! KAMU GAK AKAN TAU APA PUN TENTANG SAYAA!! DAN KAMU- kamu gak berhak ngehancurin hidup saya dengan nyegah kematian itu untuk datang."


Zahra tetap tenang. Dia mengulas senyum tipis tanpa balasan apa pun terlontar dari bibirnya. Pemuda itu meraung perih atas sakit hati yang dia rasa. Semakin dalam dia mengungkit luka, semakin tidak betah pula dia hidup di dunia. Kian tangannya meraih gunting di nakas. Dia berencana mengakhiri hidup dengan menusukkan gunting operasi itu pada nadinya.


Namun gunting terjeda di udara saat suara lembut dari Zahra menyentak telinganya untuk sejenak mendengarkan, "apa yang lebih buruk dari disiksa dan dibenci ibu sendiri?"


Hening.


"Kamu gak akan tau. Jadi, jalani aja hidup kamu dan ngebiarin rasa frustasi kamu itu kalah. Buat hidup kamu berarti dengan ngebuat frustasi kamu pergi." Zahra berbalik sambil memasangkan tasnya di punggung. Dia hendak pergi.


Pemuda itu menjatuhkan gunting dan berkata tanpa menatap Zahra. "Frustasi itu ngambil lebih banyak ruang dalam diri saya. Saya gak bisa menyimpang dari tuntutan keputus-asaan yang ada dalam diri saya."

__ADS_1


Zahra tanpa berbalik kemudian menjawab, "frustasi bukan raja yang harus terus kamu ikutin kemauaanya. Kamu cuma harus memenangkan diri kamu dari keputus-asaan itu. Dunia gak pernah kejam, kamu yang terlalu rapuh untuk ngehadepin dunia jaman sekarang."


***


__ADS_2