Dunia Untuk Zahra

Dunia Untuk Zahra
Terungkap


__ADS_3

Aku masih duduk di tepi kasur Jasi. Dia masih tertidur sementara aku menatapnya masih sedikit merasakan trauma.


Semua sering bilang, bahkan diriku sendiri menyadari bahwa aku bukanlah orang yang lemah dengan menangis saat menghadapi keadaan sulit. Namun hari ini semua berbeda. Aku ditempatkan oleh Tuhan di tempat terendah dan kondisi yang dipenuhi luka. Aku tidak menyadari apa pun dan merasakan apa pun selain untuk menjatuhkan diri sebagai orang paling lemah di dunia. Aku menangis sepanjangnya dan menjerit sekerasnya. Aku lemah dan sangat rapuh hari ini.


Semua terjadi dan sesuatu besar hampir terjadi. Aku merasa perih mengingatnya, tapi masih ada satu yang mengganjal perasaanku. Tiba-tiba aku berpikir, bagaimana Jasi bisa selamat dari mobil itu sedangkan seluruh penculiknya saja tewas di tempat.


Aku berdiam diri dan berpikir lama. Jasi terbangun. Dia mengucak mata dan tersenyum saat kerjapannya menampilkan diriku. "Cepet banget bangunnya?" Aku bertamya dan saat itu Jasi langsung beringsut duduk. "Kakak dari tadi di sini?"


"Kakak gak pernah pergi dari sini."


Jasi tersenyum simpul. Dia tiba-tiba merapatkan bibirnya dan menatap satu sudut dengan wajah dipenuhi kegelisahan. "Kenapa?" Aku bertanya pelan, membuat Jasi menatapku dan berkata usai menyelinguk kesana-kemari. "Mamah gak tau kejadian ini. Kita jangan bilang apa-apa ke Mamah, ya, Kak!"


Jasi merencanakannya, aku menatap lama dan tersenyum manis. Itu bukan hal yang tepat. Apa pun yang akan diterima, aku akan jalani. Ini memang kesalahanku, jadi jika aku harus menerima hukuman, maka aku tak akan menolak.


"Gak baik nyembunyiin hal besar dari orang tua kita."


Jasi cemberut. Dia meraih tanganku dan melihat luka bakar di tanganku yang tertutup perban. "Kakak gak sayang aku?"


Aku menyernyit, Jasi kembali bicara, "Aku selalu sedih liat luka di tubuh Kakak bertambah setiap harinya. Aku gak mau sedih lagi hari ini. Kakak gak mau nurutin aku?"


Aku tercenung saat mataku teralih menatap sudut lain. Terdiam beberapa lama sampai Jasi kembali berkata, "jangan buat aku sedih hari ini, Kak. Kesedihan Jasi adalah luka Kakak."


Mungkin aku akan menurutinya hari ini. Dia adikku yang paling pengertian, akan kucoba menyembunyikan kejadian hari ini dan melanggar sedikit ajaran dari agamaku.


Dengan berbohong. Ampuni hamba, ya Allah


Aku usai terpejam sesaat. Aku menatap Jasi dan dia tersenyum lebar, seakan tahu keputusanku dengan melihat raut wajahku. Dia kian berbinar semringah dan menampilkan deretan giginya yang kurang satu batu.


"Ompong!"


"Iih, Kakak!" Dia cemberut saat aku mencubit pipi gembungnya dengan sedikit cetusan.


Menatap pipinya, aku jadi teringat. Jasi tak memiliki sedikit saja gores luka. Aku lantas angkat bertanya,"tapi, apa yang terjadi di dalam kejadian itu? Kamu bisa keluar dari mobil itu?"


Jasi menatapku lama.


Aku dibungkam, sementara tanganku gak diiket. Aku ngegigit tangan si penjahat dan berontak dengan berusaha keras ngebuka pintu mobil. Penjahat itu nangkep aku lagi. Dia ngiket tanganku, dan di kursi belakang itu cuma ada aku dan penjahat yang bertugas ngejagain aku.


Dia ngiket aku dengan tali dan aku berbisik, "aku Jasi Suhendra. Anak papahku, Roy Suhendra. Om gak mau aku kasih imbalan dengan ngelepasin aku dari penculikan ini?"


"Diem! Kami juga tau, kalau kamu adalah anak dari Suhendra. Justru itu kami nyulik kamu."


"Om gak pertimbangin tawaran aku? Dengan menculik, om cuma akan masuk penjara. Tapi, kalau om ngelepasin aku, aku bakal bilang kalau om adalah penyelamat aku dari penculikan ini. Papah bakal kasih imbalan saham ke om."


Om penculik itu langsung berpikir. Dia ngambil keputusan 'iya' dan ngelepasin ikatan tanganku. Om penculik itu gak lama langsung ngambil alih setir dengan nyekik leher om penculik yang bertugas menyetir. Mobilnya sempet oleng, tapi dia langsung ambil alih setir dari belakang. Dia ngebuka pintu mobil dan nyuruh aku cepet keluar. Om penculik di sebelah kursi kemudi gak terima, dia berantem sama om yang nyetir. Mereka berebut setir dan adu tonjok.


Aku gak tau lagi setelah itu, aku melompat dari mobil dan bergulingan sedikit di trotoar. Aku gak terluka sama sekali, tapi waktu aku bangun, aku ngeliat mobilnya banting setir untuk ngehindarin pengendara yang melintas di jalan.


Mobil itu banting setir dan berputar sebentar di tengah jalan, sebelum akhirnya mobil itu ngeguling ke samping dan meledak.


Kilas balik Jasi usai. Aku mendengarkan seksama saat dia bercerita, kini aku melega. Pikiranku lebih tenang dan sungginganku melebar. Jasi sangat cerdik. Aku gemas dan mencubit pipinya yang tembem. "Iish, sakit!" Jasi mengaduh sakit. Aku melepaskan.


"Ternyata kamu pinter juga." Aku menggoda. Sebenarnya aku sudah tahu, dia memang pintar, tapi sedikit godaan akan menyirnakan ketegangan yang sempat terjadi. "Anak siapa lagi?!"

__ADS_1


Kami saling tertawa di dalam kamar Jasi yang bertema pink-hitam dengan pajangan poster dinding bergambarkan personel Blackpink.


Apalagi yang bisa diharapkan menempel di dinding seorang K-popers?


***


Beberapa hari berlalu. Di rumah, hiruk pikuk teman-teman sosialita Mamah mengisi indra pendengaran. Hari ini giliran Mamah yang mengundang teman-temannya mengadakan arisan berlian di rumah kami.


Mamah menyewa banyak pelayan untuk membantuku. Aku tidak akan sanggup menyiapkan camilan dan jus secara bersamaan dengan jumlah banyak. Itu sebabnya dia tak enggan menyewa para pelayan pria itu.


"Eh, anak kamu mana?" Itu teman Mamah. Dia bermaksud menanyakan kami, atau, hanya Tina dan Jasi. "Lagi belajar, kayaknya."


"Nak, coba ke sini sebentar!" Mamah memanggilku. Jangan salah! Panggilan lembutnya hanya untuk menjaga kenamaan agar tidak tercoreng. Di sini sangat ramai dan tak mungkin Mamah memanggilku dengan kasar.


Aku mendekat. Bajuku lebih indah tak seperti biasanya. Aku juga hanya bertugas di dapur dan mengatur segalanya. Pelayan sewaan lah yang mengangkuti segala makanan yang sudah kuatur untuk disuguhkan pada teman-teman Mamah.


Aku keluar sebentar dari dapur. Dan saat itu aku langsung dipanggil Mamah. Dia mengatakan, "bawa adik kamu ke sini, ya!"


Aku mengangguk sopan lantas berjalan ke atas untuk memanggil Jasi sesuai perintah Mamah.


Dari balik punggungku, kumendengar desisan dari teman-teman Mamah. Mereka berbicara tentangku, "anak kamu sopan banget."


"Senyumnya manis lagi," timpal yang lain.


"Aku punya anak bujang, jadi kepengen dijodohin sama anak kamu. Gak pa-pa, kan? Gak pa-pa kali, memperlancar silaturahmi kita dan perusahaan." Teman Mamah kembali meracaukan kalimat ajakan. Mamah hanya terdiam sambil tersenyum dengan paksaan.


Dia bukan tak mengizinkan. Mamah justru sangat ingin menikahkan puterinya dengan putera dari temannya itu. Tapi itu bukan aku. Dia mau, Tina yang menikah dengan anak teman sesama konglomeratnya. Aku tak mendapat kasih di sini, dan tidak akan merebut kasih serta tahta sebagai isteri anak konglomerat di sana.


Sekali aku di kaki Mamah, aku akan tetap di sana sampai Tuhan memberiku hak untuk bahagia. Dan itu bukan keinginan, tapi kepastian yang akan terwujud kelak hari. Aku selalu percaya.


"Demi kakak, biar gak kena semprot Mamah?"


Jasi terpaksa. Dia bangkit dan menatapku malas. Demi aku, dia bangun dan menuntaskan rasa malasnya.


Kami berjalan bersisian sampai tangga. Jasi berhenti dan menyapu pandangan. Sangat ramai. Dia menjatuhkan tatapan pada tangannya yang memar.


Sementara itu, aku tetap melaju. Dia di belakang dan langkahku langsung menuju dapur. Kembali pada tugas, yaitu mengatur keadaan di sana. Semua tak boleh mengecewakan atau aku yang akan merasakan akibatnya.


"Jasi, sini nak!" Mamah memanggil dari bawah. Dia melambaikan tangan, menyuruh Jasi segera mendekat. Gadis itu terpaksa datang. Dia beberapa kali menatap pergelangannya yang memunculkan pemandangan tak enak. Di lengan itu terdapat polesan biru beberapa bagian. Dia tak mau ada yang melihat, hingga tangannya yang lain memegangi lengan itu rapat.


Mereka langsung sibuk saling memuji kecantikan gadis itu. Tentu saja, Jasi memang sangat imut dan cantik. Wajahnya yang mungil dengan iris semu abu, menampilkan parasnya yang menawan. Mungkin akan ada perjodohan sejak dini yang terjadi akibat pertemuan ini.


Aku tidak bisa menyimpulkan, tetapi melihat kekaguman para wanita bergelang permata murni bernilai tinggi itu, membuat pikiranku tertuju memikirkan seperti yang kupikirkan.


Haha, ada-ada saja pikiranku.


"Sayangnya, Nicky udah buat anak gadis kamu yang tadi. Kalau enggak, pasti aku udah jodohin Jasi sama Nicky."


"Ssst! Jasi masih kecil. Gak boleh ditawar-tawar kayak gitu," timpal teman Mamah yang lain.


Mereka melanjutkan candaannya masing-masing. Jasi juga sibuk. Dia sibuk menutupi luka dan rasa perih yang akan kutanggung kelak. Mamah tak akan membiarkanku bebas dari hukuman, jika luka dan kejadian itu kembali muncul ke permukaan. Jasi tak mau hal buruk lagi-lagi kurasakan. Sebisa mungkin akan dia tutupi segala jalur menuju kesedihanku, walau aku sendiri tak pernah memperlihatkan rasa sedihku, tapi dia selalu mengerti kondisi yang kualami.


"Kok, diem aja, sih?"

__ADS_1


"Iya, nih. Jasi pemalu, ya?"


Mamah yang mendengar lekas angkat bicara. "Enggak, Sis. Dia gak pemalu orangnya. Cerewet malah. Cuma hari ini aja, dia kayak gini. Biasanya enggak."


"Kenapa? Tante gak gigit, kok." Teman Mamah itu terus mengejar suara Jasi agar muncul. Dia mau berbicara banyak hal dan memecah keheningan yang Jasi perbuat. Namun tetap gagal total. Jasi tetap diam sambil menatap malas satu-persatu orang yang mengajaknya ngobrol.


Ah, sudahlah. Teman-teman Mamah dan Mamah sendiri juga sudah lelah memancing Jasi untuk ikut bercanda ria bersama mereka. Kini Mamah mengawali. Dia berbicara sebelum kocokan arisan dimulai. Semua sudah tidak sabar menantikan inti dari pertemuan ini.


Mereka menghening beberapa saat. Mamah membuat mereka tegang dengan mengulur waktu pembukaan hasil kocokan.


Tiba-tiba kucing kami, Miyou berjalan mendekati majikan tercintanya. Jasi. Dia merayapi kaki Jasi dengan bulu panjang halus yang dimilikinya. Jasi tersenyum dan memecah katupan kedua bibirnya. Senyumnya lebar dan sedikit kikikan dia buat ketika dirinya merasa geli terus dilendoti kucing jenis Anggora miliknya itu.


Semua tak fokus pada Jasi.


Miyou berjalan mendekati meja. Tak sengaja sebuah gelas berisi jus berwarna merah pekat tumpah dan membuat tubuh halus Miyou terbasahi air jusnya. Jasi terbeliak dan langsung mengangkat si kesayangan. Dia meraih tisu dan merawat Miyou agar tidak merasa kedinginan.


Dia melupakan. Lupa akan lengannya yang dia tutupi sejak tadi. Luka itu tampak dan dirinya tidak menyadari.


Kocokan usai. Dan hasil yang keluar adalah nama orang lain. Mamah dan beberapa peserta arisan belum beruntung saat ini. Berlian berharga mahal dengan kualitas super, jatuh ke tangan teman Mamah.


Semua menyayangkan, tetapi ini politik sosial. Semua berkewajiban menyalurkan dan semua berhak mendapatkan. Namun yang mengatur hanyalah waktu, siapa lebih dulu mendapat keberuntungan, dia lah yang lebih dulu mendapatkan hasil kocokan.


Tertanda acara ini akan segera berlalu. Beberapa orang membuka ponsel canggih miliknya dan sibuk berkutat dengan benda itu. Suasana hening sebagian. Sebagian lain masih sibuk bercerita ria dengan topik yang tak jauh dari berlian. Menceritakan toko berlian yang membuka cabang ke sembilan belas dan berencana menjodohkan pewaris pemilik toko dengan anak mereka.


Banyak lagi hal lain yang mereka jadikan bahan perbincangan. Ah, itu tidak perlu dilukiskan terlalu panjang.


Kini, Jasi berinisiatif merawat kucingnya lebih intens di kamar peliharaan yang sudah tersedia. Dia bangkit dari sofa dan beranjak menuju kamar tersebut. Sarah, teman Mamah. Dia melihat pergerakan Jasi yang semula duduk di depannya.


Matanya tak sengaja menangkap luka di lengan gadis itu. Dia berjengit dan menarik tangan Jasi. "Ini luka apa? Kayak kena bantingan benda tumpul?"


Mamah menoleh. Dia meninggalkan percakapan dan berdiri untuk bergabung dalam ketegangan antara puterinya dengan tante Sarah. "Kenapa?"


"Ini, lho, kok anakmu punya luka memar gini? Kayaknya luka udah lama, tapi gak diobatin. Memar gini, lho."


Semua beranjak dari kursi. Mengerumuni Jasi dan membuat gadis itu merunduk melipat wajahnya yang merasa ketakutan. Tidak ada yang bisa dia rasakan selain takut. Mamah pasti akan sangat murka. Semua berjalan mulus dan reputasinya tetap terjaga, tapi hari ini? Apa yang akan dia dapat dari luka memar di lengan Jasi?


Rasa malu.


"Sis, kamu gimana, sih? Luka kayak gitu bahaya, lho. Bisa-bisa tangan anakmu diamputasi gara-gara luka dalamnya yang bisa membusuk dan menyebar kemana-mana."


"Iya, kamu gak kasian?!"


"Uang kamu, kan, banyak. Biaya berobat untuk luka kayak gitu, apa berarti besar bagi kamu?"


"Atau, jangan-jangan memang kamu sendiri yang ngehajar Jasi sampai dia terluka begini? Makanya gak dapet pengobatan karena kamu malu ngebawa dia ke rumah sakit."


Semua orang mendadak memihak kesalahan. Seakan tak mau mendengar penjelasan apa-apa dari Mamah, mereka terus memotong penjelasan Mamah tanpa ampun. Apa yang mereka lihat adalah bukti kuat, bagi mereka. Luka memar itu seakan membuktikan segalanya.


Aku berhenti menyiapkan makanan saat seorang pelayan masuk ke dapur dan bilang, "acaranya sudah selesai, Nona." Secepat ini? Ya, karena saat aku keluar, memang sudah tidak ada siapa pun di sana. Hanya Jasi dan Mamah.


Jasi yang mengelus pundak Mamah, sementara Mamah sendiri menangis tersedu saat dirinya mendeprok menahan sakit hati di atas pualam rumah.


Aku secepatnya mendekat. Mencoba menenangkan dengan bantu mengelus punggung Mamah. Tetapi pergerakanku terhenti. Mamah mendongak. Tatapan murka dengan rona merah memenuhi wajah, dia seakan merasakan kedatangan mangsanya saat dia menatap tajam diriku.

__ADS_1


***


__ADS_2