Dunia Untuk Zahra

Dunia Untuk Zahra
Ketika Pertemuan Mendatangkan Perpisahan


__ADS_3

Zahra meraih kenop pintu ruangan pasien. Dia sempat menjeda langkah, tadi. Dan sekarang dia semakin mantap untuk pergi daripada terus-menerus pemuda yang dia tolong.


Namun pergerakannya kembali terhenti saat suara gedubrak keras terdengar dari balik punggungnya. Saat dia menoleh, benar saja ada sesuatu yang terjadi. Pemuda itu turun dari ranjang saat kondisinya masih belum stabil.


Ya, dia terjatuh dari ranjang pasien dan memegangi sikunya yang terasa sakit. Maniknya yang masih basah usai mengucuri air kian menatap lebih tenang pada Zahra. Gadis itu tersentak untuk kembali mendatangi si pemuda guna membantu.


"Seharusnya kamu jangan jadi lemah. Kamu bukan orang satu-satunya yang jatuh dan ngerasa sakit atas keterpurukan itu. Bangun!"


Pemuda itu bangkit dibantu Zahra. Dia terus menatap, sementara bagi Zahra, apa yang dia ucapkan hanya kadar dari apa yang dia rasa harus untuk diucapkan. Namun sepertinya pemuda itu mulai terenyuh dan merasa bersemangat untuk melawan kefrustasian yang melandanya.


"Semua orang terpuruk, masih punya dukungan di balik punggungnya. Tapi, saya sendirian."


Kalimatnya menyentak Zahra untuk tersenyum luas. Dia duduk di sisi pemuda itu, di tepi ranjang sambil menjuntaikan kaki ke bawah. Gadis manis dengan sunggingan tipis itu menatap ke langit-langit. "Kamu masih punya banyak orang yang akan ngedukung kamu."


Pemuda itu memalingkan wajah, menatap Zahra dan mengernyit ingin tahu. Zahra balas menatapnya. "Mulai sekarang dan sampai suatu saat, saya adalah ibu kamu, ayah kamu, adik kamu, kakak, paman, bibi dan teman kamu."


Pemuda itu mengatupkan kedua rahangnya erat. Tangannya yang terkepal kian terangkat. Naik, dan semakin tinggi, mengepal erat dan mendekati wajah Zahra. Gadis itu terdiam dan sedikit tergugu. Apa yang dia katakan adalah kesalahan?


Kepalan itu sampai di depan wajah Zahra. Persis di depan pangkal hidungnya.


Terlepas.


Kepalan itu terlepas dan menciptakan jemari jenjang milik pemuda itu yang justru terulur lurus untuk berjabat tangan dengan Zahra. Gadis itu langsung tersenyum luas dan menampakkan wajah cantik alami yang semakin memanis saat dia tersenyum.


"Ananda Fahrul Ardiyansyah. Kalau kamu kesulitan panggil nama lengkap saya, just call me Anan." Tentunya, dengan senang Zahra menerima perkenalan Ananda. Dia masih mengukir senyum saat dirinya berkata, "panggil saya Zahra. Karna kalau kamu mau panggil saya Naomi, itu bukan nama saya."


Anan terkekeh. Wajahnya yang lebih segar masih mengarah pada Zahra. "Kalau kamu punya sifat begini, kenapa kamu gak jadi pelawak?"


"Pelawak bukan cita-cita saya, sekarang. Tapi karena kamu sebagai anak udah menawarkan kepada saya sebagai ibu, maka bakal saya pertimbangkan." Zahra menampakkan seluruh giginya yang tersusun rapih. Wajahnya yang semringah tetap tidak bisa menutupi luka terdalam yang dia pendam.


Anan meredupkan senyum lebar di bibirnya. Dengan lebih serius, dia menatap sambil berkata, "apa ibu bisa bantu saya?"


"Apa pun ibu lakuin, asal jangan jadi pawang gajah atau harimau."


Anan tak lagi tersenyum. "Coba jelasin, kenapa mata itu gak seindah senyum itu?"

__ADS_1


Zahra langsung memalingkan wajah, selaras dengan dirinya yang tak rela kobaran api lara di matanya tercecer sampai ke pandangan Anan. Sementara itu, Anan kian tersentak semakin penasaran. Wajahnya mendekat dan mengambil posisi dekat telinga Zahra. "Ibu?" desisnya.


Zahra berpaling -menatap- dan mencari topik lain, sebelum akhirnya dering ponsel jadulnya mengakhiri ketegangan yang dilanda. Puji syukur, Tuhan lebih tahu mana yang baik. Dengan ngumbar kesusahan, gak akan ngebawa kebaikan bagi diri sendiri.


Dia bergegas bangkit dan mengisyarat pada Anan untuk mengizinkannya menerima telepon. Anan mengangguki sedikit menghela napas ikhlas. Gadis itu memojok dan menerima telepon di sudut ruangan.


"Iya, Mah?"


***


Dan ketika dia sampai. Pulang ke rumah dan menyapu pandangan. Seluruh pancaindranya seakan membeku dan tidak bisa merasakan apa pun. Yang dia lihat adalah kehancurannya.


Kehancuran.


Hal yang lagi-lagi menumpah ruahkan air matanya.


Langkahnya yang terasa sungguh berat terus melaju mendekati pintu utama rumah. Gemuruh geluduk pertanda akan turunnya hujan lebat mengiringi suasana yang dia hadapi. Awan pekat seakan telah berkerja sama untuk datang beriringan dengan pemandangan gelap yang dia hadapi di keterpurukan ini.


Zahra, gadis itu menumpahkan air mata tak terhingga. Bibirnya yang gemetaran juga bulu kuduk yang berdiri tegap seakan sedang menghadapi ambang kematian, adalah bukti kuat keterguguan yang dia alami.


Bagaimana bisa hari ini dia akan mendapati bendera kuning berkibar mengacaukan pandangannya?


Bagaimana dunia berubah hanya dalam kurun waktu setengah hari?


Bagaimana sentakan kuat yang berhasil menarik seluruh gairah hidupnya datang saat ini?


Bagaimana, bagaimana, bagaimana ... bagaimana Jasi tiada secepat ini?


Jasiii....


Begitu sampai, teriakan dengan nama Jasi terdengar riuh mengisi pancaindra pendengaran. Eyna, Roy dan Tina berkumpul dan menangisi tubuh mungil milik gadis yang sudah terbuntal kain kafan itu.


Mereka histeris. Air mata terus mengalir, sementara dunia tak lagi penting baginya. Mereka menangis dan menjerit perih. Eyna mengguncangkan tubuh Jasi tanpa berpikir jernih bahwa rasa terpedih sekali pun tak akan membangkitkan tubuh Jasi yang sudah terbujur kaku.


Zahra di ambang pintu. Dia menutup mulut sementara seluruh jiwanya tak lagi bisa terkendali. Dia lantas terduduk lemah di atas pualam. Posisi dan kondisinya sama seperti yang beberapa hari lalu diperagakkan.

__ADS_1


Seluruh rumah Suhendra mendadak penuh akan kerumunan pelayat, riuh akan isak tangis kerabat yang ditinggalkan dan ruah akan kemerlap sinar potret kamera reporter yang menghantui suasana.


Semua terjadi begitu cepat. Bahkan Zahra tak akan menyangka, bahwa hari itu kembali tiba. Hari yang sempat mendatangkan duka terdalam baginya akan kembali tiba, tak selang lama.


Jasi tiada. Kafan putih bersih itu terselimut jarik panjang tanpa tumpal. Tubuh mungilnya yang sudah mengeras dan kaku tak lama akan dimakamkan dan menyisahkan Zahra bersama angan-angan akan melihat adik kecilnya dewasa dan membangun dunia remaja.


Zahra tau hari itu akan datang. Namun dia tidak tahu bahwa Tuhan akan mendatangkan harinya begitu cepat. Sangat cepat, dan terlalu cepat. Sampai jika tidak ingat, dia akan memilih kufur dengan menatap langit sambil menjerit keras, meminta agar waktu kembali ditarik dan dunia kembali pada masa di mana dirinya bahagia bersama Jasi.


Namun itu semua tidak perlu. Yang dia perlu hanya bangkit dari keterpurukan dan bangkit dari posisi lemahnya yang menyatakan kerapuhan nyata sedang dia hadapi. Bangkit dari duduk. Bangkit untuk menyapa, menyapa untuk terakhir kalinya sebelum tubuh Jasi benar-benar berlalu bersama tanah pemakaman yang akan menimbunnya.


"Kak aku mau es krim!"


Kilas balik itu berdentum di telinga Zahra, ketika langkahnya melaju perlahan mendekati sumber dari ricuhnya suara tangisan. Tertuju pada jenazah Jasi.


Kak aku mau es krim!


Kakak cuma punya satu es krim. Itu pun cuma akan kamu dapet kalau kamu bisa jawab pertanyaan kakak!


Pertanyaan apa?


Rumus Matematika yang kamu pelajari hari ini di sekolah.


Yaah, kakak!


Dulu, untuk menerima es krim dari tangan si kakak tercinta, Jasi harus kembali memutar otak dan mengingat rumus Matematika untuk dituturkan pada Zahra. Namun sekarang, kalau kamu haus, lautan susu dan jus buah akan kamu dapetin dengan cuma menginginkan. Kalau kamu mau es krim, pabrik es krim terbesar seantero alam akan kamu temui dan lahaplah semua es krim yang tersedia.


Karena kamu gak suka lihat raut wajah Mamah yang gak pernah senyum ke kakak, mulai saat ini kamu gak akan liat lagi. Kamu akan dijauhkan dari kegaduhan rumah yang Mamah sebabkan. Kamu akan jauh lebih tenang. Tenang dan damai tanpa ngedenger suara dentuman benda berat berjatuhan karena kemarahan Mamah. Kamu gak akan denger lagi, Jasii! Gak akan.


Kamu akan bernaung di bawah langit biru yang selalu menampakkan rona cerah tanpa awan pekat yang biasa kamu liat di sini.


Kamu akan ditempatkan di tempat suci dengan orang-orang yang dimuliakan di atas sana.


Kamu akan lebih bahagiaa, dan untuk itu; kakak gak akan bersedih. Justru kepergian kamu adalah awal dari ketentraman kamu yang gak akan melihat kericuhan rumah lagi.


Selamat berpisah, selamat jalan dan selamat bersenang-senang di tempatmu yang baru, Adik.

__ADS_1


~


***


__ADS_2