
Punggung seorang pemuda terlihat menjauh, di balik itu serumpun orang mendesiskan kata-kata buruk tentangnya.Siswi-siswi sekolahan yang menggulirkan tawa usai berjalan melintasi pemuda itu.
Kejadian ini di trotoar jalan dekat rumahku. Saat ini aku sedang berdiri di sana karena menunggu supir kami usai mengganti ban mobil yang bocor.
Aku dan Jasi ada kegiatan di luar. Jasi harus mengikuti les individu yang diadakan di rumah guru khususnya. Lesnya dimulai Dua kali dalam satu minggu. Dan hari ini adalah jadwalnya, jadi aku pergi untuk menemani Jasi mengikuti les. Itu sudah jadi rutinitasku.
Namun, hari ini masalahnya itu. Ban mobil kami mengalami bocor dan pak Supir sejak tadi masih berusaha untuk menggantinya dengan ban serep. Kami terpaksa menunggu, sementara pemandangan tak baik sedang kami lihat.
Seorang pemuda menjadi bahan perolokan, walau tidak ada alasan bagi mereka mengolok pemuda itu. Dia hanya melintasi siswi-siswi itu, dan mereka memberi imbalan kata-kata yang tak pantas.
"Luntang-lantung, ****!"
"Gak ada kerjaan, emang. Makanya gak salah kalo emak gue bilang, dia itu orang gila."
"Orang gila. Sayang, padahal lumayan tampangnya."
"Emak lo? Semua orang di sini juga bilang gitu kali."
Mereka saling menimpali ucapan gosipnya dan tertawa mengejek setelah itu.
Sungguh tidak berperi kemanusiaan. Jika memang dia memiliki kelainan mental, memang kenapa? Bukan hak mereka untuk menghina apalagi mengejeknya.
Kekurangan orang lain, adalah takdir yang mereka dapat dari Tuhan. Dan manusia biasa tak memiliki hak secuil apa pun untuk menghina keputusan Tuhan yang berupa takdir tersebut.
"Kak!" Panggilan Jasi menyentak pandanganku jatuh dan menatapnya. "Iya?" Mendengar jawabanku, Jasi menunjuk ke seberang jalan.
Es Krim. Jasi pasti menginginkannya. Aku merespon dengan memberi anggukan. Dia tersenyum lebar, tangan kecilnya menyentakku dan membuat kami menyeberangi jalan saat tak ada segelintir kendaraan pun yang melintasi jalanan.
Kami sampai. "Es krimnya, satu!"
Penjual langsung menuruti. Dia memenuhi kap dengan krim salju manis berwarna muda yang sangat segar untuk diluncurkan melintasi tenggorokan. Apalagi cuaca sedang begitu panas.
"Kakak mau?" Jasi menawarkan. Aku menggedik saat tanganku baru turun usai memegangi leherku yang terasa kering. "Tapi, Kakak haus."
Aku tersenyum tipis dan berkata, "enggak. Kakak gak haus." Karena jika aku mengiyakan, harga yang harus kubayarkan akan lebih tinggi dan uangku tak mencukupi. Lupakan itu!
Dari seberang, aku melihat pak Supir usai menjalankan keharusannya. Dia menyeru, "Neng!" sambil melambaikan tangan menyuruh kami segera kembali. Namun di detik yang sama, aku melihat ke seberang lain. Pemuda tadi berjalan dengan tatapan kosong tanpa menengok kanan-kiri saat dirinya menyeberangi jalan.
Di ujung jalan aku mendapati mobil bak terbuka dengan kecepatan tinggi, di ujung lain aku melihat beberapa siswa mengendarai motor besar dengan kecepatan yang sama pula.
Aku meninggalkan Jasi tanpa berpikir panjang. Langkahku yang cepat hanya tertuju untuk menolongnya sebisaku. Detik ke-dua, mobil itu melintas di belakang pemuda tadi, namun masalahnya adalah motor para siswa itu.
__ADS_1
"AWAAS!" Aku berteriak saat tanganku menariknya mendekat. Salah satu siswa dengan motornya banting setir ke arah lain. Tarikanku menyentak tubuh pemuda itu menimpaku. Aku tidak fokus padanya, aku hanya meringis menahan sakit yang kurasa. Dia bergegas bangkit dan menolongku. Siswa tadi mengangkat motornya yang terjatuh dan membuka helm. Dia mendekati kami dengan raut marah.
"Kamu gak pa-pa?" Dia bertanya. Sedangkan dari belakang, siswa itu mengangkat helm dan hendak menghempaskan pada pemuda itu.
Aku terbeliak, namun semua terlambat. Pemuda itu jatuh pingsan sementara siswa tadi langsung kabur dan kembali mengendarai motornya.
Aku hendak menolongnya, tapi aku melihat Jasi ditarik kuat oleh beberapa orang pria bertubuh besar dengan setelan serba hitam. Pria mencurigakan sedang mengancam keselamatan adikku. Aku harus menolongnya.
"JASIII!" Aku berteriak saat mobil hitam besar yang mengangkut adikku sudah mengeloyor menjauh. Pak Supir meringis sakit, dan hal itu memicu kepanikanku. Aku melihat ke arah mobil tadi dan pak Supir.
Lalu aku melihat beberapa pria. "To-tolong, bantu bapak ini, saya harus nyelametin adik saya." Mereka mengerti ucapanku yang disertai kepanikan. Para pria itu menolong pak Supir, lantas aku berlari mengejar.
Beberapa menit aku berlari. Namun pergerakanku kalah cepat dengan laju mobil itu. Aku merogoh saku saat kepanikanku mulai meningkat. Mencari nomor telepon Papah ketika aku mendapatkan ponselku.
Benda pipih itu kutempelkan pada telinga. Aku mendengarkan nada tunggu sambil berjalan mondar-mandir. Lalu mobil ambulans melintas, aku mengabaikannya.
Aku sudah lama menunggu nada tunggu panggilan. Teleponnya tidak terjawab oleh nomor tujuan. Kini aku kembali menghubungi nomor itu, dan mataku melihat dua buah mobil polisi yang melintasiku sambil membunyikan sirene pertanda sedang dalam keadaan darurat.
Beberapa motor melintas agak kebut. Mereka tampak terburu-buru ingin mengetahui apa yang terjadi di ujung jalan, tepat di mana mobil bersirene itu terarah dengan kecepatan tinggi.
Aku mulai memikirkan sesuatu. Wajahku yang panik menampilkan mataku yang kian terbeliak. Aku menaruh ponselku kembali pada saku. Langkahku melaju cepat menuju tempat yang menjadi pusat tujuan banyak orang saat ini.
***
Para warga berkerumun, petugas kepolisian sibuk mencatat tanggal serta waktu kejadian, sementara itu para petugas ambulans kian berlalu-lalang mengangkuti jenazah menggunakan kantong jenazah.
Aku histeris. Kakiku yang melemah menjatuhkan tubuhku hingga mendeprok layu di atas permukaan trotoar. Tangisku pecah, "JASIII!" air mataku meleleh, sementara para warga kian menatapku iba.
Aku terus meraung saat tanganku menyugar rambut dan menariknya kuat. Seakan diriku dan rasa sakit di kepalaku sudah tidak ada artinya dibanding hatiku yang luluh-lantak melihat semua tragedi yang kusaksikan.
"JASIII!" Aku menjerit keras. Salah seorang wanita tua mendekat. Dia mengelus pundakku dan saat aku menoleh, dia bukan orang yang kuinginkan kedatangannya. Aku kembali menjatuhkan wajah. Tertunduk dan menenggelamkan wajah di balik lipatan kedua kakiku.
Aku hancur berkeping.
Rapuh dan lemah. Bagaimana bisa aku seceroboh ini hingga menghilangkan nyawa adik kecilku yang bahkan belum merasakan dewasa. Bagaimana bisa, BODOOH!
Aku memang sangat bodoh saat ini. Semua terjadi di depan pengawasanku, tapi aku gila hingga membahayakan Jasi demi orang lain.
Mamah sering bilang, nyawa seluruh anggota rumah selalu dalam bahaya selama para pesaing perusahaan masih mengintai di luar. Tapi...
Aku seharusnya tidak melakukan kesalahan ini!
__ADS_1
Semua kalimat Mamah itu membuatku semakin gila. Aku mengumpulkan sebanyak-banyaknya napas dan tenaga. Aku menjerit sekuatnya dan mengepalkan tangan sekerasnya. Raunganku menggema, membuat semua pasang mata terarah fokus padaku. Mereka berdesis dan membicarakan keprihatinan mereka terhadapku.
Setelah gemaan yang kuciptakan, aku kian menjatuhkan sorot mataku. Pandanganku melurus menatap mobil gelap yang menghilangkan pemandangan adikku untuk terakhir kalinya.
Memandang terus hingga air mataku membeku senada dengan perasaanku yang hampir mati.
Mati karena semua yang kualami saat ini, adalah akhir dari hidupku sendiri. Dunia bisa melihat ini sebagai kecelakaan, tapi tidak untukku. Sedetik saja, jika mata ini tidak awas untuk Jasi maka aku akan sangat menyesal telah membuangnya. Dan hari ini, beberapa detik kubuang dan hasilnya,
hasilnya mengerikan.
Aku benar-benar hancur. Bersama dengan itu, perasaanku kian meredup dan mati. Aku membeku dalam situasi ini. Semua berlalu-lalang melintasiku, tapi tatapanku hanya pada posisi awal. Posisi dimana aku mengambil pandangan untuk memandang dunia yang berhenti bergerak. Semua berhenti dan- napas Jasi juga.
"Kak." Suara lembut itu terdengar. Aku tersadar dari ketertegunan, menoleh dan mendapati anak kecil bersama kakaknya. Wajahku kembali teralih bersamaan dengan air mataku yang kembali menetes setelah lama membeku.
Tanganku terkepal, menampakkan semua urat tangan itu muncul ke permukaan. Aku benar-benar marah pada diriku sendiri. Aku mengangkat tanganku yang terkepal, menatapnya dan membuka kepalannya. Aku lantas melayangkan tanganku hendak menampar pipiku sendiri. Jeda.
Gadis itu menahannya. Dia menatapku sambil tersenyum dan mengusap air mataku. Aku menatapnya lama, coba menenangkan diriku dengan ilusi baru yang kulihat. Dia melepaskan tanganku dan memanggil polisi, "Pak! Dia Kakak saya."
Aku tersadar. Ini bukan ilusi, suaranya didengar banyak orang dan aku juga. Aku lantas menutup mulutku yang tadinya ternganga. Aku menelan ludah dan merayapkan jemariku di lengannya. Dia benar-benar nyata. Itu Jasi. Aku memeluknya erat.
"Ka-kamu gak pa-pa? Kamu gak luka, kan? Tangan kamu ada yang sakit? Atau, kaki? Atau, punggung? Mana yang sakit? Kasih tau kakak." Aku melayangkan pertanyaan berantai. Jasi membuka pelukan kami. Dia menatapku sambil tersenyum luas. Menggedik dan menenangkan jiwaku. Aku lantas menghela lega, tanganku kembali menariknya untuk dipeluk.
Sejenak, "kakak kira, kakak gak bakal bisa liat kamu. Kakak gak bisa jaga kamu dan kakak gak bisa ngehadepin orang tua kita. Kakak kira, kakak juga bakal ikut- gak, kamu gak pa-pa." Aku melepaskan pelukan kami. Jasi tertawa aneh. Dia menatap wajahku sambil menutupi mulutnya yang menertawakanku. "Kamu kenapa?" Aku mengernyit sambil mengulas senyum.
"Kakak lucu banget, kalau nangis. Kayak anak kecil- bukan, kayak Meydina. Kakak tau temen aku yang itu? Meydina itu kalau nangis suka jerit-jerit terus omongannya melantur." Dia tertawa terus, membuatku geram dan membuka mulut untuk mengelak, tapi terhenti saat polisi datang.
"Jadi, dia asik kamu?" Polisi itu bertanya dan membuat Jasi mengangguk antusias. "Setelah kami selidiki, dari bukti-bukti yang kami dapat di mobil itu, tidak ada apa pun yang menyatakan bahwa mereka adalah suruhan seseorang."
"Jadi, ini murni penculikan?" Aku bertanya dengan nada lirih. Polisi kemudian menganggukiku, dia tersenyum kala melihat Jasi di sisiku. "Jaga adikmu dengan hati-hati. Daerah ini memang sepi pengendara dan pejalan kaki. Jadi para penculik anak berkeliaran mencari mangsa." Mendengarnya, aku mengangguk sebelum akhirnya aku kembali bangkit dari duduk panjangku.
Polisi itu pergi setelah mengelus puncak kepala Jasi. Aku berjongkok kemudian, dan Jasi tahu maksudku.
***
Telah habis beberapa menit aku berjalan sampai rumah.
Pintu gerbang kecil terbuka. Aku melintasinya saat gadis kecil itu masih berada di gendongan punggungku. Napasku tersengal-sengal, tapi aku tak mau membangunkan Jasi dari tidurnya. Aku memilih terus berjalan sampai menuju ke dalam rumah.
Di dalam tak ada suara aktivitas penghuni rumah. Seperti biasa, Papah dan Mamah pasti masih sibuk di kantor. Sementara, Tina masih sibuk mengikuti les menarinya.
Aku usai menyapu pandangan. Kini langkah kecilku terus melaju. Sampai pada pangkal tangga rumah yang setinggi tiang bendera, aku memutuskan untuk berhenti dan menurunkan Jasi di sana.
__ADS_1
Sempat aku istirahat untuk menyeka peluh. Lalu mengangkat Jasi untuk menggendongnya di dalam pelukanku. Aku melangkah menaiki tangga dengan hati-hati.
***