Dunia Untuk Zahra

Dunia Untuk Zahra
Duka Untuk Jasi, Murka Untuk Zahra


__ADS_3

Beberapa hari terlampau. Zahra sedang memasak di dapur dan yang lain masih bersiap diri untuk menjalankan aktivitas. Seperti yang kita tahu, beberapa hari lalu seluruh anggota keluarga baru kehilangan orang tercinta. Dan sampai sekarang sepertinya tidak ada yang bisa langsung mengikhlaskan.


Sejak kemarin semua hanya melakukan aktivitas dan berdiam diri di kamar setelahnya. Tidak ada sapaan dan tidak juga obrolan. Semua saling berdiaman seakan kepergian Jasi adalah ulah masing-masing.


Kecuali Eyna. Dia berdiam diri pada anggota keluarga lain selain Zahra. Kebisingannya menyelotehi tanpa ampun kepada gadis itu terus menjadi bahkan semakin menjamur. Dia semakin membrutal memberi tugas pada Zahra.


Semua tugas sudah Zahra kerjakan dengan kontan. Dia sampai rela menghabiskan beberapa hari untuk hanya fokus membersihkan seluruh rumah atas perintah keji Mamahnya. Selama dua hari dia tidak sekolah atau belajar di rumah. Yang dia lakukan hanya mencabuti rerumputan kecil di sekeliling pondasi dan membersihkan permukaan dalam kolam renang yang terkuras.


Kekejaman Eyna seakan terluap kering saat kepergian Jasi. Seperti kehadiran Jasi adalah penghalang baginya melampiaskan keegoisannya pada Zahra. Bukan tidak beralasan, dia sendiri yang bilang bahwa, "sekarang Jasi -tamengmu udah gak ada di sini. Siapa pun gak berhak menjauhkan kamu dari amarah saya! Termasuk Roy."


Zahra berada di kakinya. Wanita itu menginjak pergelangan Zahra dengan kakinya yang terbalut sandal dengan kerlipan dan menjulang. Kebayang bukan, bagaimana sakitnya jika sandal tinggi menginjak pergelangan?


Itulah sebabnya, Zahra meringis sakit dengan aduhan perih. Eyna melepaskan kakinya, dia berbalik dan pergi meninggalkan Zahra.


Langkahnya menuju pintu terhenti saat suara Zahra terdengar lunak, "kenapa, Mah? Jasi bukan tameng aku. Kepergian dia jangan jadi alasan Mamah buat semakin menjadi iblis."


Eyna tertawa jahat. Dia kembali mendekat saat giginya mulai bergemelatuk menahan emosi. "Saya adalah iblis buat kamu. Saya menyedihi kepergian Jasi, tetapi kekejian saya ke kamu bukan tanpa alasan." Dia mendekatkan mulut ke telinga Zahra yang sudah berdiri berhadapan dengannya. "Karena kepergian Jasi, adalah karena ulah kamu."


Braag


Zahra kembali terpental saat dirinya dihempaskan kuat menuju gerai dapur. Di sana banyak bahan dan peralatan dapur yang porak-parik kacau karena kejatuhan tubuhnya. Dia mengelus siku yang terasa perih akibat darah segar yang mengucur.

__ADS_1


Eyna mendekatinya. Dia meraih tangan Zahra kasar dan membuat wajah keduanya saling menumbuk. Lantas dia berkata dengan geraman, "kamu tau, kepergian Jasi itu karena ulah kamu yang udah lalai jagain dia. KEMANA KAMU HARI ITUU?! DIA JATUH DARI TANGGA SAMPAI MENINGGAL ITU KARENA KAMU GAK ADA BUAT JAGAIN DIAAA!"


Praang


Beberapa piring terpecah saat Zahra kembali dihempaskan ke arah wastafel cuci piring. Kran air meluruhkan airnya karena senggolan keras dari lengan Zahra. Gadis itu menahan sakit. Eyna semakin membrutal.


Bagaimana tidak emosi, percakapan pokok dari keributan pagi hari ini adalah soal kepergian Jasi. Benar saja, ini semua terjadi karena kelalaian Zahra yang tidak ada untuk menjaganya.


Kejadian hari itu adalah di mana Jasi sudah pulang ke rumah, dia tidak menemukan siapa pun di rumahnya. Alhasil dia hanya bermain sendiri dan tanpa sengaja dia diharuskan melintasi tangga. Tetapi ada yang berbeda pada saat itu, dia berlari di tangga karena mendengar sesuatu di bawah. Terlalu cepat berlari hingga dia memijakki udara dan membuat tubuhnya bergulingan hingga ke lantai dasar.


Menurut pemeriksaan medis sebelum dia tiada, kepalanya tidak mengalami keparahan. Tidak ada saraf yang terganggu dan semua tetap normal. Hanya luka bocor yang diakibatkan kepalanya terbentur lantai yang membuat dia kehabisan banyak darah hingga tak terselamatkan.


Dia menganggap kepergian Jasiadalah ulah Zahra dan gadis itu adalah pelaku. Tidak ada laporan ke kepolisian yang dia buat. Karena hukuman bagi Zahra, hanya dia yang berhak menuntutkan dengan segala kekejamannya.


Dan Zahra baru sadar, bukan karena Jasi dianggap tameng yang menyebabkan Eyna sergap menghardik Zahra. Tetapi karena hal itu, hal di mana dia berpikir penuh bahwa Zahra adalah dalang dari kepergian Jasi.


Kian gadis itu mulai mengerti dia beranjak dari tempatnya dan mendekati sang Mamah. Matanya yang layu memunculkan manik sendu dengan derai air mata yang hampir tumpah. Dia menghaluskan nada dan menatap ke relung mata Eyna. "Aku gak tau lagi harus bilang apa untuk minta maaf ke Mamah. Tapi, kalau Mamah bersedia ngedengerin penjelasan aku sebentar aja, aku pasti bisa ngehadepin semua hukuman Mamah dengan ikhlas."


Eyna memutar wajah. Dia bersedekap dan berkata dengan angkuh, "semua sudah saya ketahui dan semua sudah saya simpulkan. Kamu adalah penyebab dari kepergian Jasi dan kamu adalah pembunuh!"


Zahra menjatuhkan tubuh dan memohon di kaki Eyna. Dia menangis dan meluruhkan segala hasrat yang mau dia keluarkan sejak tadi, "aku minta maaf ke Mamah sebesar-besarnya. Tapi andai Mamah tau, aku gak main-main di luaran sana. Aku nolongin seseorang yang bener-bener butuh pertolongan, dan-"

__ADS_1


Zahra menghentikan kalimatnya saat sepucuk pisau tajam telah bergelayut di punggungnya. Dia terbeliak dan bangkit saat merasakan rayapan pucuk benda tajam itu semakin mengeras.


Benar saja, Eyna sudah bermain-main dengan pisau dapur yang tajam. Zahra mendapatinya sudah mengasah pisau dengan jemari. Gadis itu terbeliak, mulai kacau dan tak tahu lagi harus mengatakan apa untuk menjauhkan hasrat buruk sang Mamah.


Eyna menatap tajam, menyeringai kejam saat dirinya sudaj menjelma senagai iblis atas perbuatannya itu. "Kenapa minta maaf ke saya? Jasi yang kamu lenyapkan, dan kamu cuma akan minta maaf ke Jasi." Nadanya berat.


Zahra gelagapan. Tangannya terangkat memegangi mulut saat dirinya sudah benar-benar tak tahu harus berbuat apa.


Eyna mendekat dan membuat Zahra semakin mundur. Mereka seakan sedang berkejar-kejaran dengan langkah Eyna yang mendekat disusul Zahra menjauh perlahan. Sampai pada gerai dapur. Zahra tidak bisa berkutik saat dirinya sudah di penghujung tempat untuk mundur. Dia berlinangan air mata dengan seluruh tubuh yang bergemetar dasyat.


Eyna mengangkat pisau dan menghentikkan pisau itu di udara. Di detik ke-dua, suara pisau jatuh ke atas lantai terdengar. Zahra membuka mata dan menemukan pisau itu sudah berada di lantai. Menatap Eyna tak percaya. Apa dia dimaafkan?


Tidak, batin Eyna. Dia meraih piring di gerai dapur dan menghempaskannya ke kepala Zahra hingga terpecah di kepala itu.


Seketika suasana menghening. Ruahan ceceran beling mengisi pualam dapur. Eyna terdiam saat menemukan Zahra jatuh pingsan dan Roy yang terbeliak saat mendapati kekacauan baru saja terjadi di dapur itu.


Jika duniaku harus terhenti di detik saat aku merasakan benturan hebat di kepalaku, maka aku hanya ingin meminta satu permintaan pada Tuhan, sadarkan keluargaku dan buat mereka bersedia memakamkan jenazahku. Agar orang tua kandungku bisa menemukan diriku dan merenungi kebodohannya yang membuang bayi kecil tak berdosa hanya karena tuntutan kekufuran. Atau, sadarkan saja orang tua kandungku itu, Ya Allah.


"Datang dari-Mu dan akan kembali hanya kepada-Mu. Terima kedatanganku, Tuhan." Zahra menutup mata usai mengatakannya.


***

__ADS_1


__ADS_2